Kecerdasan Emosional

Kecerdasan Emosional

oleh: Yusrizal, S.Pd.

Penulis buku kecerdasan emosional, Daniel Golemen memaparkan suatu penelitian yang menakjubkan yang dimulai oleh ahli psikologi Walter Mischel pada tahun 1960-an. Penelitian ini dilakukan di Taman Kanak-kanak di kampus Stanford University dengan melibatkan anak-anak para pengajar di Stanford, putra-putri mahasiswa pascasarjana dan anak pegawai lainnya. Mereka menyebut penelitian ini dengan tes Marshmallow. Tes ini diberikan kepada anak-anak yang berusia empat tahun dengan memberikan suatu tantangan yang menggiurkan bagi mereka. Peneliti mengajukan semacam pilihan kepada anak-anak tersebut. Jika mereka mau menunggu peneliti sampai menyelesaikan tugasnya, maka masing-masing mereka akan diberi dua bungkus marshmallow (sejenis permen) sebagai hadiah. Tetapi jika mereka tidak mau menunggu, mereka akan diberi sebungkus, dan mereka akan memperolehnya saat itu juga.

Beberapa anak umur empat tahun itu mampu menahan dorongan hati mereka untuk segera mendapatkan marshmallow dari peneliti. Mereka mampu menunggu peneliti menyelesaikan tugasnya dan mencoba melewati godaan dengan cara bernyanyi, berbicara sendiri, main bahkan berusaha untuk tidur sehingga mereka tidak terlalu memikirkan marshmallow yang diiming-imingkan itu. Tetapi anak-anak lain yang lebih menurutkan dorongan hati, segera saja menyambar marshmallow yang diiming-imingkan tersebut, walaupun hanya sebungkus, sebelum peneliti meninggalkan mereka untuk bertugas.

Pada saat anak-anak yang mengikuti tes marshmallow dilacak dua belas hingga empat belas tahun kemudian, terlihat perbedaan emosional dan tingkat sosial yang menyolok diantara dua kelompok anak-anak tersebut. Mereka yang mampu menahan dorongan hati untuk mendapatkan dua bungkus marshmallow tumbuh menjadi remaja yang memiliki kecakapan sosial yang baik. Mereka mempunyai rasa empati yang tinggi terhadap orang lain. Mereka tidak mudah putus asa atau menyerah terhadap permasalahan yang mereka hadapi, bahkan mereka mencari dan siap untuk menghadapi tantangan. Rasa percaya diri dan yakin akan kemampuan, tumbuh subur dalam pribadinya. Mereka menjadi remaja yang dapat dipercaya dan diandalkan.

Hal yang ironi justru terjadi pada kelompok anak-anak yang tergoda dengan marshmallow. Mereka kurang memiliki kecakapan sosial. Mereka sering menjauhi hubungan sosial dengan orang lain, mudah putus asa, lebih mudah iri hati. Mereka menanggapi gangguan dari luar dengan kasar dan dengan cara yang berlebihan. Mereka tidak memiliki rasa percaya diri dan ragu dalam menghadapi suatu permasalahan. Mereka menganggap dirinya tidak berharga, mudah terkalahkan, dan tidak dapat dipercaya oleh orang lain.

Penelitian ini merupakan salah satu dari berbagai bentuk penelitian yang mengacu kepada kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional (EQ) menurut Goleman merupakan seperangkat kemampuan yang dimiliki oleh manusia seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, dan bertahan menghadapi frustasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir; berempati dan berdoa. Mereka yang memiliki kecerdasan emosional mampu untuk mengelola emosi yang dimilikinya dengan baik. Mereka ini tidak mengenal putus asa, karena mereka memiliki kemampuan untuk memotivasi diri mereka. Mereka mampu mengelola emosi dalam pergaulan, termasuk di dalamnya rasa empati yang tinggi terhadap penderitaan orang lain.

EQ dua kali lebih penting dari IQ

Sebelum EQ di kenal luas oleh masyarakat, banyak di antara kita menganggap bahwa IQ adalah segala-galanya. Keberhasilan seseorang diukur dan ditentukan oleh tingkat IQ yang dimilikinya. Anastasi dan Willerman menyatakan bahwa dalam setiap kegiatan yang menuntut prestasi, baik itu prestasi belajar, prestasi kerja, olah raga, seni dan sebagainya, intelegensi memegang peranan yang sangat penting. Kita semua setuju bahwa pelajar/mahasiswa yang memiliki IQ yang tinggi akan lebih mudah dalam menerima pelajaran dibandingkan dengan mahasiswa yang IQnya rendah. Staf pengajar dan staf administrasi yang ber IQ tinggi akan mudah dalam melaksanakan tugasnya masing-masing jika dibandingkan dengan staf pengajar dan staf administrasi yang ber IQ rendah. Demikian pula halnya dengan bidang kerja lainnya.

Tetapi hal itu bukanlah satu-satunya kunci seseorang dalam meraih keberhasilan dalam kehidupannya. Keberhasilan pelajar/mahasiswa dalam belajar, staf pengajar dalam mengajar dan staf administrasi dalam bekerja, tidak saja ditentukan oleh IQ yang mereka miliki. Hal itu juga dipengaruhi oleh kemampuan mereka dalam mengelola emosi. Seseorang yang memiliki IQ yang sedang, namun mampu mengelola emosinya dengan baik, akan lebih berhasil dibanding dengan orang yang ber IQ tinggi, namun tidak mampu mengelola emosinya dengan baik. Pelajar/mahasiswa yang ber IQ sedang namun mampu mengelola emosi dengan baik, akan lebih berhasil dalam belajar dibandingkan dengan pelajar/mahasiswa yang ber IQ tinggi tetapi tidak mampu mengelola emosinya. Mereka cenderung egois dan mau menang sendiri dan kurang memiliki rasa sosial. Hal tersebut menunjukkan kepada kita bahwa kecerdasan emosional(EQ) yang dimiliki seseorang, dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelaktual (IQ)nya.

Pengelolaan Emosi

Ada beberapa indikator yang dapat menunjukkan bahwa seseorang telah mampu mengelola emosinya. Pertama, kesadaran diri. Seseorang yang memiliki kesadaran diri mengetahui kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dan mampu menerima kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya. Hal ini dijadikan sebagai panduan untuk mengambil keputusan terhadap diri sendiri, sekaligus sebagai tolok ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat.

Kedua, pengaturan diri. Seseorang dapat dikatakan mampu mengatur dirinya jika dia memiliki kepekaan terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran. Disamping itu, pada saat dia mendapat tekanan emosi, dia mampu untuk pulih dan keluar dari tekanan tersebut.

Ketiga, motivasi. Adanya kemampuan kita untuk menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun kita menuju sasaran, dan membantu kita dalam mengambil inisiatif untuk bertindak secara efektif, menunjukkan bahwa kita memiliki motivasi. Adanya motivasi ini memungkinkan bagi seseorang untuk mampu bertahan dalam menghadapi kegagalan dan frustasi dalam kehidupan.

Keempat, empati. Mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain dan memahami cara pandang dan cara berpikir orang lain menunjukkan seseorang itu memiliki empati. Pelajar/mahasiswa yang mampu merasakan kesulitan yang dihadapi temannya dan membantunya untuk mengatasi kesulitan tersebut, berarti dia telah berempati. Disamping itu, dia mampu memahami cara pandang dan cara berpikir baik temannya, guru/dosennya yang mengajarnya. Dia tidak terlalu cepat menyalahkan teman yang memiliki cara pandang dan cara berpikir yang berbeda dengannya. Hal ini akan menumbuhkan rasa saling percaya di antara dia dengan temannya, dan mampu menyelaraskan dirinya dengan bermacam-macam orang yang memiliki cara pandang dan cara pikir yang berbeda.

Kelima, keterampilan sosial. Hal ini berkaitan dengan kemampuan untuk berempati. Seseorang yang memiliki keterampilan sosial mampu menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan mampu membaca dengan cermat situasi dan jaringan sosial kemasyarakatan yang ada. Pelajar/mahasiswa yang mampu menahan sikap individualis, mampu berempati, mampu mengembangkan sikap tenggang rasa, solidaritas dana mau bekerja sama dengan orang lain, menunjukkan bahwa dia memiliki keterampilan sosial. Adanya keterampilan sosial ini sangat memungkin bagi mereka untuk lancar berkonsultasi dengan guru/dosen, lancar berinteraksi dengan mahasiswa lain, mampu mengembangkan sikap kepemimpinan, mampu menyelesaikan suatu perselisihan dan bekerjasama dengan orang lain dalam suatu tim.

Kelima indikator diatas, dapat kita jadikan sebagai barometer untuk mengukur kemampuan kita dalam mengelola emosi. Jika kelima indikator tersebut telah menjadi milik kita, maka kita akan mampu mengelola emosi dengan baik. Jika belum, marilah kita berusaha untuk melatih diri untuk mengelola emosi dengan baik. Karena, pada dasarnya kecerdasan emosional merupakan  suatu kecakapan yang dapat dimiliki oleh siapa saja jika ia mau dan mampu untuk melatihkan indikator-indikator tersebut. Mudah-mudahan kita semua mampu memiliki kecerdasan emosional dan sukses dalam kehidupan.

Tulisan ini pernah di muat di SKK Ganto, UNP Padang

About these ads

2 Comments

  1. Ping-balik: Kepemimpinan Resonansi « Yusrizalfirzal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s