Mengenal Gaya Kepemimpinan

Mengenal Gaya Kepemimpinan

Oleh: Yusrizal, S.Pd.

Gaya kepemimpinan adalah suatu cara yang digunakan pimpinan dalam berinteraksi dengan bawahannya. Pada umumnya, dikenal lima macam gaya kepemimpinan (Nasution:2001), yaitu:

1. Kepemimpinan Otokratis

Kepemimpinan otokratis biasa disebut juga dengan kepemimpinan diktator atau direktif. Gaya kepemimpinan seperti ini dalam mengambil keputusan, tidak melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan karyawan. Artinya, pemimpin langsung mengambil keputusan sesuai dengan apa yang diinginkannya. Mereka menentukan apa yang harus dikerjakan oleh karyawan dan mengharapkan karyawan mematuhinya. Karyawan dalam hal ini harus menerima dan melaksanakan apa yang menjadi keputusan pimpinan.

Gaya kepemimpinan seperti ini sering mendapat kritikan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu gaya kepemimpinan otokratis tidak akan efektif diterapkan dalam jangka panjang.

2. Kepemimpinan Demokratis

Kepemimpinan demokratis ini dikenal juga dengan istilah kepemimpinan konsultatif atau konsensus. Pimpinan yang memakai gaya demokratis ini melibatkan karyawan dalam mengambil keputusan, yang pada gilirannya nanti harus melaksanakan keputusan tersebut. Karyawan diminta untuk memberikan ide-ide atau masukan tentang suatu masalah, namun yang mengambil keputusan tetap pimpinan.

Kelemahan gaya kepemimpinan ini adalah bahwa keputusan yang diambil tidak selalu merupakan keputusan yang tepat. Bisa jadi keputusan yang diambil merupakan keputusan yang disukai, walaupun dinilai kurang tepat.

3. Kepemimpinan Partisipatif

Kepemimpinan partisipatif dikenal juga dengan istilah kepemimpinan terbuka, bebas, atau nondirective. Dalam gaya kepemimpinan partisipatif, pimpinan hanya sedikit memegang kendali dalam proses pengambilan keputusan. Pimpinan hanya menyajikan informasi mengenai suatu permasalahan dan memberikan kesempatan pada karyawan untuk mengembangkan strategi dan pemecahannya. Tugas pimpinan mengarahkan tim kepada tercapainya konsensus.

Asumsi yang mendasari gaya kepemimpinan ini adalah bahwa para karyawan akan lebih siap menerima tanggung jawab terhadap solusi, tujuan dan strategi dimana mereka diberdayakan untuk mengembangkannya. Adapun kritikan terhadap gaya kepemimpinan ini adalah pembentukan konsensus yang banyak membuang waktu dan hanya berjalan bila semua orang yang terlibat memiliki komitmen terhadap kepentingan utama organisasi.

4. Kepemimpinan Berorientasi pada Tujuan

Gaya kepemimpinan seperti ini disebut juga kepemimpinan berdasarkan hasil atau sasaran. Pimpinan yang menganut gaya seperti ini meminta anggota tim untuk memusatkan perhatiannya hanya pada tujuan yang akan dicapai. Yang menjadi pokok bahasan dalam pendekatan ini hanya strategi yang dapat menghasilkan kontribusi nyata dan dapat diukur dalam mencapai tujuan organisasi. Adapun faktor kepribadian, dan faktor lainnya yang tidak berhubungan dengan tujuan organisasi, cenderung diabaikan. Kelemahan dari pendekatan ini adalah memiliki fokus yang terlampau sempit, dan seringkali berfokus pada perhatian yang keliru.

5. Kepemimpinan Situasional

Gaya kepemimpinan ini dikenal pula sebagai kepemimpinan tak tetap atau kontigensi. Asumsi dasarnya adalah bahwa tidak ada satu gaya kepemimpinan pun yang tepat bagi setiap pimpinan. Gaya kepemimpinan situasional menerapkan suatu gaya tertentu berdasarkan pertimbangan atas berbagai faktor seperti: pemimpin, pengikut, dan situasi (struktur tugas, peta kekuasaan dan dinamika kelompok).

*****

Sumber: Nasution, M.N.,2001.Manajemen Mutu Terpadu. Jakarta:Ghalia Indonesia.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s