Si Bapak yang mengalirkan air tergenang di jalan

Si Bapak yang Mengalirkan air tergenang di jalan.

Pagi ini seperti biasa sebelum ke kantor, penulis mengantarkan isteri dahulu ke sekolah tempat dia mengajar. Dalam perjalanan ke sekolah tersebut, penulis melihat suatu pemandangan yang menakjubkan. Karena semalam hari hujan, mengakibatkan beberapa ruas jalan tergenang air. Salah satunya adalah jalan menuju ke sekolah tempat isteri penulis mengajar. Penulis melihat seorang bapak lagi sibuk mengalirkan air yang tergenang di jalan. Kebetulan di kiri dan kanan jalan tersebut tumbuh rumput liar yang menghambat air untuk masuk ke selokan. Si bapak sibuk dengan cangkulnya membuat jalur agar air yang tergenang tersebut dapat mengalir ke selokan.

Pembaca yang budiman, mungkin bagi sebagian kita hal tersebut hanyalah masalah kecil yang sudah biasa kita lihat. Namun bagi penulis ada suatu hikmah yang dapat kita petik. Ternyata masih ada diantara kita yang memiliki nurani untuk berbuat kebaikan. Walaupun apa yang dilakukan oleh si bapak merupakan hal yang kecil, namun hal itu menghasilkan dampak yang luar biasa. Bayangkan saja seandainya kita lewat di jalan yang tergenang air. Kadang terpaksa kita membuka sepatu atau sandal. Belum lagi ancaman kecipratan air dari pengendara mobil dan motor yang seenaknya saja ngebut di jalan yang penuh dengan genangan air.

Baca lebih lanjut

Bayangkan Hal Positif

Bayangkan Hal Positif

Sebagaimana kebiasaannya, Nasiruddin Hoja bersantai riya menyusuri jalan kota. Tak lama setelah mengayunkan langkahnya, Nasiruddin Hoja berpapasan dengan narapidana yang sedang di belenggu kedua tangannya. Rantai besar dan panjang melilit kuat ditangan, bahkan terlihat sangat berat menjadi beban bagi sang narapidana. Nyata sekali, narapidana itu terlihat murung dan sedih hati.

Melihat hal itu, Nasiruddin Hoja segera menghampiri tahanan itu. Ia langsung berkata kepadanya, “Mengapa engkau bersedih wahai sobat? Janganlah engkau senantiasa merenungkan nasib sial di depanmu. Bayangkan seandainya rantai ini lepas dari kedua tanganmu, kau bisa menjualnya dengan harga mahal bukan? Nah, bukankah dengan memakai rantai ini berarti kau mendapatkan keberuntungan tinggi?”

Mendengar kata-kata Nasiruddin Hoja, si narapidana yang tadinya bermuram durja, lantas mengulas senyum di bibirnya. Ia tak lagi murung karena merana.

*****

Hikmah:

  1. Berpikir positif banyak manfaatnya, diantaranya meringankan beban kehidupan. Orang yang berpikir positif senantiasa riang gembira, meskipun banyak masalah yang dihadapinya. Dia selalu optimis dengan kehidupannya, meski segudang aral melintang di hadapannya. Berbagai kegagalan yang melanda disikapi sebagai kesuksesan yang tertunda.
  2. Berpikir positif merupakan ajaran agama Islam, sesuai dengan perintah Ilahi. Islam mengajarkan hidup harus optimis, jangan pernah putus asa dari rahmat Allah SWT.
  3. Allah Maha Tahu tentang kekuatan hambanya dalam menerima cobaan dan bencara, sehingga ukuran cobaan pada setiap hamba berbeda. Dia sesuaikan dengan kapasitas dan kemampuan hamba-Nya tersebut.
  4. Segala kesulitan dan hambatan dalam hidup perlu disikapi dengan penuh kesabaran. Yakini bahwa Allah SWT punya rencana sendiri setelah sekian banyak cobaan dalam hidup ini.Karena Allah SWT memang menjanjikan, sesungguhnya setelah kesulitan itu kemudahan, maka sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan.
  5. Dalam kehidupan ini kita perlu mengembangkan usaha dan doa. Berusaha karena memang seharusnya, karena Allah tidak akan mengubah nasib seorang hamba sebelum ia berusaha untuk mengubah nasibnya sendiri. Berdoa memang seharusnya, karena penentu segala keberhasilan usaha kita hanya Allah SWT.

Sumber: Buku Seri Kisah Jenaka Sarat Makna, Jilid 3. Karangan Dhurorudin Mashad

Nama Tuhan Disalahgunakan

Nama Tuhan Disalahgunakan

Suatu hari, Nasiruddin Hoja membuka tabungannya. Setelah di hitung, ternyata jumlah uang yang ada sudah cukup untuk beli sebuah baju baru. “Hitung-hitung, untuk baju lebaran,” demikian pikirnya.

Dengan roman penuh kegembiraan ia langsung menuju  ke rumah penjahit yang tak jauh dari rumahnya, yang sekaligus menyediakan kainnya. “Assalamu’alaikum,” sapa Nasiruddin ramah kepada penjahit yang telah dikenalnya. Muka Nasiruddin tampak cerah tanda hati sedang bahagia.

“Wa’alaikum salam,” jawab si penjahit tak kalah ramah. “Wah, tumben ke sini, ada perlu apa?” lanjut si tukang jahit juga dengan wajah cerah.

“Aku mau bikin baju,” kata Nasiruddin dengan wajah berseri-seri.

Singkat kata, terjadi kesepakatan harga kain sekaligus ongkosnya. Lantas tukang jahit mengukur badan Nasiruddin Hoja. Setelah diukur segalanya, tukang jahit lalu berkata: “Kembalilah engkau ke sini dalam waktu seminggu lagi. InsyaAllah bajumu nanti sudah selesai dijahit.”.

Terpaksa Nasiruddin selama seminggu harus menahan diri kendati maksud hati ingin segera mengenakan baju barunya. Tepat seminggu, Nasiruddin menemui tukang jahit, bermaksud mengambil baju yang sedang dijahit.

“Maaf, bajumu belum selesai. Tapi InsyaAllah dua hari lagi sudah jadi,” kata penjahit kepada tamunya.

Nasiruddin kembali menahan diri, menunggu dua hari lagi. Setelah dua hari, Nasiruddin datang lagi, tetapi…

“Sekali lagi saya minta maaf, bajumu belum jadi,” kata si tukang jahit, “sedikit lagi rampung. Cobalah besok datang lagi. InsyaAllah, bajumu betul-betul akan jadi.”

Nasiruddin yang dongkol langsung menimpali: “Berapa lagi waktu untuk menyelesaikan bajuku, seandainya Allah tidak turut campur dalam urusanmu?”

*****

Hikmah:

  1. Segala kejadian dia alam semesta, termasuk apapun yang menimpa diri kita, hakikatnya adalah hasil dari campur tangan kekuasaan dan kehendak Allah SWT. Tak ada sesuatu apapun yang bisa lepas dari campur tangan-Nya.
  2. Jika kita telah memahami hal yang diatas, maka setiap urusan dan segala rencana maupun keinginan kita, perlu disandarkan kepada Allah SWT sebagai Penentunya.InsyaAllah merupakan kata yang tepat di setiap kita membuat kesepakatan atau perjanjian, seperti undangan pesta, pertemuan dan sebagainya.
  3. Jangan main-main dalam menggunakan kalimat InsyaAllah tersebut. Jika kita di undang ke suatu pesta, namun sejak awal kita telah memutuskan untuk tidak akan datang, maka jangan katakan InsyaAllah saya akan datang, karena hal itu merupakan kebohongan yang ditutupi dengan kalimat suci. Lebih baik katakan saja, “maaf saya tidak bisa datang”.
  4. Ucapan InsyaAllah merupakan suatu refleksi atas keyakinan kita bahwa segala sesuatu Allah sebagai penentunya. Sebagai manusia, kita hanya perencana dan berusaha. Manusia harus berusaha seoptimal mungkin untuk menepati janjinya, namun pada saat yang sama menyandarkan hasil dan ketentuannya kepada Allah SWT.

Sumber: Buku Seri Kisah Jenaka Sarat Makna, Jilid 1. Karangan Dhurorudin Mashad

Meruntuhkan Kesombongan

Meruntuhkan Kesombongan

Dahulu kala hiduplah seorang anak muda yang bangga pada dirinya, bahkan cenderung angkuh lagaknya. Sikap seperti ini muncul akibat kecemerlangan otak pikirannya. Anak muda itu memang cerdas, cerdik, lihai, bahkan cenderung licik tabiatnya. Akibat kehebatannya, ia mengklaim, bahkan bernada menantang kepada siapa saja bahwa dirinya orang hebat, tak bisa ditipu oleh siapapun juga.

Kabar tentang sikap sombong ini sempat terdengar oleh Nasiruddin Hoja. Merasa penasaran, namun dengan niat menyadarkan, Nasiruddin Hoja segera menemui sang pemuda yang arogan. Suatu hari, tanpa disengaja Nasiruddin berpapasan dengan sang pemuda di perempatan jalan. Kontan, dia memanggil sang pemuda dengan teriakan, “Hai anak muda!” seru Nasiruddin sambil melambaikan tangan.

Pemuda itu lantas menghentikan langkahnya, apalagi dia tahu bahwa yang memanggil adalah Nasiruddin Hoja yang terbilang hebat dinegerinya.

Setelah Nasiruddin berada di hadapan sang pemuda, ia berkata: ”Aku mendengar kabar, engkau mengklaim diri sebagai pemuda hebat tak terkira.”

“Benar,” kata sang pemuda singkat, penuh dengan rasa percaya diri bahkan cenderung tinggi hati.

“Aku juga mendengar berita, engkau menantang siapa saja untuk mampu menipumu,” kata Nasiruddin dengan nada menyelidik.

“Itu juga benar,” kata sang pemuda dengan pongah gayanya.

“Oke, kalau begitu tunggu aku disini, ditempat ini. Sebentar lagi aku pasti akan memperlihatkan bukti bahwa aku adalah orang yang mampu menipumu, aku adalah orang yang mampu meruntuhkan kesombonganmu,’ kata Nasiruddin sambil beranjak pergi, meninggalkan sang pemuda.

”Baiklah, kita buktikan nanti, aku akan menunggumu di sini sampai engkau kembali,” jawab anak muda yang merasa dirinya tertantang oleh Nasiruddin Hoja.

Setelah menunggu menit demi menit, jam demi jam, Nasiruddin belum menampakkan batang hidungnya. Rasa jenuh, jengah dan marah mengganjal hati si pemuda tadi. Dalam hati ia berkata:”Mana itu manusia aneh yang berani menantangku tadi? Mungkin ia tak percaya diri untuk berhadapan denganku, sang manusia hebat ini.’ Itulah rasa sombong yang sempat menyemburat di hati sang pemuda tadi.

Ditengah kegelisahan waktu penantian, seorang kawan kebetulan lewat di hadapannya, sambil berkata heran, “sejak tadi kuperhatikan kau berdiri disini, di perempatan ini. Sobat, apa yang engkau cari? Atau siapa yang engkau nanti?”

Setelah mendengar cerita si anak muda, sang kawan langsung tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya, sembari ia berkata: “Kamu tolol sobat! Kamu telah di kibuli Nasiruddin Hoja.”

Mendengar informasi ini kontan muka sang pemuda memerah akibat malu campur aduk dengan rasa marah. Ia pun buru-buru berlalu dengan sedikit rasa malu akibat ketahuan berhasil menipu.

*****

Hikmah:

  • Satu-satunya zat yang boleh sombong adalah Allah SWT karena hanya Dia Zat Tunggal yang paling utama, paling sempurna, paling berkuasa, paling tahu segalanya, paling semuanya.
  • Sombong merupakan suatu sifat yang sangat buruk jika dimiliki oleh manusia, oleh sebab itu jauhilah sikap sombong.
  • Mari kita gunakan ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk. Artinya, semakin tinggi ilmu yang kita miliki, hendaknya kita semakin rendah hati.
  • Keta harus menyadari bahwa diatas langit masih ada langit. Sehebat-hebatnya kita, masih ada yang lebih hebat dan utama dari kita. Dengan demikian kita dapat tercegah dari sifat sombong, ujub, takabur, arogan dan sifat tercela lainnya.

Sumber: Buku Seri Kisah Jenaka Sarat Makna, Jilid 1. Karangan Dhurorudin Mashad

Nantikan kisah berikutnya…

Kisah Karpet …

Kisah Karpet …

Ada seorang ibu rumah tangga yang memiliki 4 anak laki-laki. Urusan belanja, cucian, makan, kebersihan & kerapihan rumah dapat ditanganinya dengan baik. Rumah tampak selalu rapih, bersih & teratur dan suami serta anak-anaknya sangat menghargai pengabdiannya itu.

Cuma ada satu masalah, ibu yang pembersih ini sangat tidak suka kalau karpet di rumahnya kotor. Ia bisa meledak dan marah berkepanjangan hanya gara-gara melihat jejak sepatu di atas karpet, dan suasana tidak enak akan berlangsung seharian. Padahal, dengan 4 anak laki-laki di rumah, hal ini mudah sekali terjadi terjadi dan menyiksanya.

Atas saran keluarganya, ia pergi menemui seorang psikolog bernama Virginia Satir, dan menceritakan masalahnya.

Setelah mendengarkan cerita sang ibu dengan penuh perhatian, Virginia Satir tersenyum & berkata kepada sang ibu:

“Ibu harap tutup mata ibu dan bayangkan apa yang akan saya katakan” Ibu itu kemudian menutup matanya.

“Bayangkan rumah ibu yang rapih dan karpet ibu yang bersih mengembang, tak ternoda, tanpa kotoran, tanpa jejak sepatu, bagaimana perasaan ibu?” Sambil tetap menutup mata, senyum ibu itu merekah, mukanya yang murung berubah cerah. Ia tampak senang dengan bayangan yang dilihatnya.

Virginia Satir melanjutkan; “Itu artinya tidak ada seorangpun di rumah ibu. Tak ada suami, tak ada anak-anak, tak terdengar gurau canda dan tawa ceria mereka.

Rumah ibu sepi dan kosong tanpa orang-orang yang ibu kasihi”.

Seketika muka ibu itu berubah keruh, senyumnya langsung menghilang, napasnya mengandung isak.

Perasaannya terguncang. Pikirannya langsung cemas membayangkan apa yang tengah terjadi pada suami dan anak-anaknya.

“Sekarang lihat kembali karpet itu, ibu melihat jejak sepatu & kotoran di sana, artinya suami dan anak-anak ibu ada di rumah, orang-orang yang ibu cintai ada bersama ibu dan kehadiran mereka menghangatkan hati ibu”.

Ibu itu mulai tersenyum kembali, ia merasa nyaman dengan visualisasi tsb.

“Sekarang bukalah mata ibu” Ibu itu membuka matanya

“Bagaimana, apakah karpet kotor masih menjadi masalah buat ibu?”

Ibu itu tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

“Aku tahu maksud anda” ujar sang ibu, “Jika kita melihat dengan sudut yang tepat, maka hal yang tampak negatif dapat dilihat secara positif”.

Sejak saat itu, sang ibu tak pernah lagi mengeluh soal karpetnya yang kotor, karena setiap melihat jejak sepatu disana, ia tahu, keluarga yg dikasihinya ada di rumah.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Virginia Satir adalah seorang psikolog terkenal yang mengilhami Richard Binder & John Adler untuk menciptakan NLP (Neurolinguistic Programming) . Dan teknik yang dipakainya di atas disebut Reframing, yaitu bagaimana kita ‘membingkai ulang’ sudut pandang kita sehingga sesuatu yang tadinya negatif dapat menjadi positif, salah satu caranya dengan mengubah sudut pandangnya.

*****

Sumber: dari milis tetangga

Kadang Harus Mengalah …

Kadang Harus Mengalah …

Gara-gara tidak mengikuti kemauannya untuk masuk ke arena bermain pada mall yang kami kunjungi, si kecil ngambek (marah) tidak mau makan ikut siang. Bukan cuma itu, saat kami sekeluarga duduk mengelilingi sebuah meja makan di restaurant cepat saji, dia malah memisahkan diri duduk di meja lain dengan tangan dilipat di atas meja dan bibir mungilnya maju beberapa centimeter ke depan.

Saya mencoba membujuknya dengan melambaikan tangan memanggilnya untuk duduk dikursi sebelah saya yang sengaja dikosongkan tapi dia hanya menggelengkan kepala dengan mata dan raut wajah yang masih terlihat marah. Saya kemudian pura-pura marah juga dengan mengangkat bahu dan berusaha tidak lagi memperhatikan dia dengan bercanda bersama kakak-kakaknya. Seringkali saya meliriknya dan melihat dia juga mencuri pandang ke arah kami dengan kesal.

Terlihat serombongan tamu memasuki restaurant dan melangkah menuju meja yang diduduki si kecil. Saya tersenyum dan yakin ini kesempatan baik bagi saya membujuk si kecil namun ternyata lambaian tangan saya diacuhkannya, dia melangkah ke meja kosong lain di samping meja kami masih dengan wajah kesalnya.

Kali ini saya mengalah dan melangkah mendekatinya kemudian duduk berjongkok di hadapannya menatap wajahnya. Terlihat ada sedikit air di sudut matanya yang pasti dengan usaha keras ditahankannya agar tidak jatuh…saya langsung merasa iba dan menyesal tidak mendekatinya sedari tadi.

Kadang tanpa disadari kekerasan hati saya pun menahan saya untuk tidak bertindak lebih bijak walau semua itu dimaksudkan untuk mendidiknya agar jadi anak shaleh. Selaku orang tua kita tentu tidak selalu harus menuruti kehendak anak dan memenuhi semua apa-apa yang dimintanya, demikian pendapat saya. Tapi bagaimana cara kita menyikapi tentu masing-masing berbeda.

“ke sana yuk, kita makan bareng sama teteh dan mama. Tuh makanannya udah datang. Ade suka sop buntut kan? Di sini enak lho..” saya mencoba membujuk sambil memegang tangannya.

Dia menolak sentuhan saya dan makin memanjangkan bibirnya seolah menandakan dia sangat marah.

Hal itu justru membuat saya tersenyum, wajahnya menjadi sangat lucu. Saya ingin tertawa namun jika saya sampai tertawa di depannya saat ini, bisa dipastikan dia akan bertambah marah.

“Ade tau ga kalo mama sayang banget sama ade? Mama suka sedih kalo ade ga mau makan…. ”

Sebisa mungkin saya perlihatkan wajah sedih untuk mengetuk nurani anak-anaknya. Sentuhan saya tidak ditolaknya lagi namun masih terasa dia mengeraskan badannya dan kaku. Saya langsung memeluknya dan menggendongnya menuju kursi. Saya putuskan untuk memangkunya dan membiarkan kursi disebelah saya kosong.

Saya kembali becanda dengan kakaknya dan sesekali menciumi kepala si kecil sambil memeluknya. Saya bisa melihat dengan lebih jelas bahwa matanya semakin berkaca-kaca. Saya memeluknya dan membisikan kata-kata sayang ditelinganya, membisikan permohonan maaf karena sudah mengecewakannya. Runtuh sudah pertahanannya, airmata meleleh di pipinya dan dia memeluk leher saya kuat-kuat sambil berbisik…

“Maapin ade.. maapin ade..”

Begitulah selalu. Setiap kali saya berkeras dengan keinginan saya dan dia berkeras dengan keinginannya, seringkali kami malah semakin marah satu sama lain dan saling menghindari. Namun ketika saya sudah bisa menguasai keadaan, mengontrol emosi saya dan berpikir lebih jernih, saya biasanya memilih jalan lunak dan selalu berhasil.

Dalam hidup, seringkali kita memang harus mengalahkan ego diri untuk bisa mencapai hasil terbaik dan mencapai kata mufakat. Sebagai orang tua kita merasa memiliki kuasa atas anak-anak kita, sebagai pejabat kita merasa memiliki kuasa atas bawahan kita, sebagai suami kita merasa memiliki kuasa lebih tinggi dibanding isteri, begitu seterusnya.

Namun terlepas dari apa pun yang kita sandang pada diri kita, sebenarnya ego diri kita lah yang harus kita kuasai. Bukan hal-hal diluar diri kita yang sulit kita kendalikan. Apapun yang terjadi di lingkungan kita, situasi dan kondisi yang ada di sekitar kita, tetaplah kita harus bisa menguasai diri kita terlebih dahulu.

Setelah kita bisa mengendalikan diri dan menjernih hati serta pikiran, insyaAllah apapun yang ada bisa kita terima dengan baik walaupun itu mungkin tidak sesuai dengan harapan kita. Dan hidup akan menjadi lebih mudah kita jalani walau rintangan pasti akan selalu ada menghadang.

*****

Sumber: dari milis tetangga

Bocah Pembeli Es Krim

Bocah Pembeli Es Krim

Minggu siang di sebuah mal. Seorang bocah lelaki umur delapan tahun berjalan menuju ke sebuah gerai tempat penjual eskrim. Karena pendek, ia terpaksa memanjat untuk bisa melihat si pramusaji. Penampilannya yang lusuh sangat kontras dengan suasana hingar bingar mal yang serba wangi dan indah.

“Mbak sundae cream harganya berapa?” si bocah bertanya.

“Lima ribu rupiah,” yang ditanya menjawab.

Bocah itu kemudian merogoh recehan duit dari kantongnya. Ia menghitung recehan di tangannya demngan teliti. Sementara si pramusaji menunggu dengan raut muka tidak sabar. Maklum, banyak pembeli yang lebih “berduit” ngantre di belakang pembeli ingusan itu.

“Kalau plain cream berapa?”

Dengan suara ketus setengah melecehkan, si pramusaji menjawab, “Tiga ribu lima ratus”.

Lagi-lagi si bocah menghitung recehannya, ” Kalau begitu saya mau sepiring plain cream saja, Mbak,” kata si bocah sambil memberikan uang sejumlah harga es yang diminta. Si pramusaji pun segera mengangsurkan sepiring plain cream.

Beberapa waktu kemudian, si pramusaji membersihkan meja dan piring kotor yang sudah ditinggalkan pembeli. Ketika mengangkat piring es krim bekas dipakai bocah tadi, ia terperanjat. Di meja itu terlihat dua keping uang logam limaratusan serta lima keping recehan seratusan yang tersusun rapi.
Ada rasa penyesalan tersumbat dikerongkongan. Sang pramusaji tersadar, sebenarnya bocah tadi bisa membeli sundae cream. Namun, ia mengorbankan keinginan pribadi dengan maksud agar bisa memberikan tip bagi si pramusaji.

Pesan moral yang dibawa oleh anak tadi: setiap manusia di dunia ini adalah penting. Di mana pun kita wajib memperlakukan orang lain dengan sopan, bermartabat, dan dengan penuh hormat.

*****

Sumber: dari milis tetangga