Membangkitkan Budaya “Lapar Menulis”

Membangkitkan Budaya “Lapar Menulis”

Suatu ketika Putu Wijaya, penulis yang juga sutradara, diwawancarai oleh seorang wartawan. Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh wartawan itu adalah “Bagaimana Bung Putu bisa selalu menulis?” Dengan entengnya, Penulis yang telah meluncurkan “Klop” buku kumpulan cerpen terbarunya, menjawab: “Gampang, Din!”

Wartawan yang bernama Zaenuddin itu semakin bersemangat bertanya, “Apa itu Bung?”. “Selalu lapar, tepatnya lapar menulis..” Demikian lanjut dramawan yang identik dengan topi ini.

Petikan wawancara ini secara tak sengaja penulis temukan di salah satu situs webblog.”Timbulkan lapar menulis”, demikian judul artikel yang diposting beberapa tahun yang lalu itu. Judul yang rada nyeleneh ini mengingatkan penulis akan kekhawatiran yang pernah dilontarkan oleh Harris Efendi Thahar, cerpenis yang juga staf pengajar di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Padang. Dalam orasi ilmiah pengukuhan guru besarnya yang bertajuk  Merangkai Kata Membangun Indonesia: Membenahi Pembelajaran Menulis di Sekolah,” beberapa waktu lalu, ”Si Padang” menyatakan kegundahannya.

Baca lebih lanjut