Berpikir kreatif

Berpikir Kreatif

oleh: Yusrizal, S.Pd.

Ada suatu kisah menarik yang pernah dialami oleh seorang ilmuwan besar Einstein. Einstein pernah ditanya oleh seseorang, ada berapa kaki (sekitar30 cm) dalam suatu mil. Einstein menjawab,” Saya tidak tahu. Mengapa saya harus mengisi otak saya dengan fakta yang dapat saya temukan dalam waktu dua menit di dalam buku acuan yang standar”. Dari jawaban yang diberikan oleh ilmuwan besar tersebut menyiratkan kepada kita semua tentang suatu pelajaran yang esensial. Einstein mengajarkan kepada kita bahwa lebih penting menggunakan otak kita untuk berfikir daripada menggunakannya sebagai gudang fakta. Dengan kata lain, otak yang dianugerahi oleh Allah SWT kepada kita, akan lebih penting dan bermakna jika digunakan sebagai alat untuk berfikir, daripada sebagai alat untuk menghafal, yang pada gilirannya nanti akan membuat otak seperti gudang tempat penyimpanan fakta.

Terlepas dari apa yang dikemukakan oleh Einstein di atas, kita semua setuju bahwa berpikir memang lebih penting dari pada sekedar menghafal. Berfikir berarti kita menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu, menghafal merupakan usaha untuk memasukkan ke dalam ingatan. Berfikir memiliki aspek yang lebih luasdan makna yang lebih dalam dari pada menghafal. Dengan menghafal kita tidak dapat memecahkan suatu permasalahan., tetapi permasalahan tersebut hanya dapat dipecahkan dengan jalan berfikir. Suatu hal yang esensial adalah bagaimana kita dapat mempergunakan otak untuk berfikir dengan lebih kreatif. Adanya kreativitas berpikir, akan sangat membantu dalam menyelesaikan suatu permasalahan, dengan berbagai alternatif penyelesaian masalah yang disediakan.

Berpikir kreatif berarti menemukan cara-cara baru yang lebih baik untuk melakukan aktivitas apa saja, salah satunya adalah belajar. Mahasiswa yang mampu berpikir kreatif, tidak akan jenuh dan bosan dalam mengikuti perkuliahan. Mereka memiliki cara-cara atau kiat-kiat tertentu dalam belajar, sehingga belajar yang pada dasarnya merupakan seuatu kegiatan yang sangat membosankan dan menyakitkan dapat mereka robah menjadi suatu kegiatan yang sangat menyenangkan (baca: Quantum Teaching). Hal inilah yang membuat motivasi mereka untuk belajar tetap terjaga.

Berpikir kreatif bukanlah kemampuan yang dapat dimiliki hanya dengan mempelajari teorinya saja. Kemampuan ini akan menjadi miliki kita jika kita sering berlatih menggunakannya. Ada beberapa hal yang dapat kita pedomani dalam melatih diri untuk berpikir kreatif. Pertama, yakinkan diri kita bahwa sesuatu dapat dilakukan. Ini berarti bahwa apapun aktivitas yang akan kita lakukan, kita harus percaya bahwa aktivitas itu dapat kita lakukan. Sebagai mahasiswa, kita harus percaya bahwa kita dapat mengikuti perkuliahan dengan baik. Jika dalam diri kita timbul kepercayaan seperti itu, maka dengan sendirinya pikiran kita akan mencari cara untuk melakukannya. Akan ada hal-hal baru dalam menghadapi perkuliahan, yang selama ini belum terpikirkan oleh kita. Kepercayaan itu akan timbil jika dalam berinteraksi dengan orang lain, kita tidak lagi menggunakan kata-kata “tidak mungkin”, “tidak akan berhasil”,”tidak dapat dikerjakan”, ” tidak ada gunanya mencoba” dan lain sebagainya. Cobalah untuk selalu berpikir positif dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua jangan biarkan cara berfikir tradisional melumpuhkan pikiran kita. Berpikir tradisional yang dimaksud disini adalah cara berpikir yang terpaku kepada hal-hal yang suadah ada sebelumnya dan tidak boleh dilanggar. Mereka yang memiliki cara berpikir tradisional ini merasa takut untuk menemukan cara-cara baru dalam mengatasi suatu masalah, karena hal tersebut akan bertentangan dengan tradisi yang sudah ada sebelumnya. Contoh nyata yang selama ini kita lihat di perkuliahan adalah fenomena “dosen killer”. Kita kadang-kadang terlalu cepat memberi cap seorang dosen dengan sebutan killer hanya karena mendapat nilai rendah sewaktu mengambail mata kuliah terdahulu dengannya, atau informasi dari senior yang mengatakan bahwa dosen itu killer. Padahal, mungkin saja cara belajar kita yang salah, atau kemampuan kita memang begitu adanya. Namun karena sudah menjadi tradisi, maka dosen yang memberikan nilai jelek, yang kesannya menghambat mahasiswa untuk cepat selesai kuliah, biasanya dicap sebagai dosen killer.

Cara berpikir tradisional seperti ini jelas bertentangan dengan berpikir kreatif. Berpikir kreatif menuntut kita untuk dapat menemukan cara-cara baru yang lebih baik dalam melakukan suatu aktivitas. Disisi lain, berpikir tradisional justru mengikat kita dengan hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Oleh sebab itu, bagi kita yang ingin memiliki kemampuan berpikir kreatif, maka hapuskanlah cara berpikir tradisional ini. Hapuskanlah dalam pikiran kita bahwa kita sedang belajar dengan dosen killer, dan tuntunlah pikiran kita untuk menemukan cara-cara yang lebih baik dalam mengikuti perkuliahan dengan dosen yang sudah terlanjur dicap “killer” tersebut.

Ketiga, bertanyalah kepada diri setiap hari, “bagaimana saya dapat bekerja dengan lebih baik dan lebih banyak?” Hal ini berkaitan erat dengan tindakan perbaikan diri. Sebagai mahasiswa, tiap hari sebelum mengikuti perkuliahan, luangkan waktu beberapa menit untuk berpikir” bagaimana saya dapat mengikuti perkuliahan ini dengan lebih baik dan lebih banyak belajar hari ini”. Tanyakan, “ apa yang dapat saya lakukan untuk orang tua di kampung yang telah membiayai perkuliahan saya?”. “Bagaimana saya dapat meningkatkan kopetensi akademik yang saya miliki?” cobalah latihan sederhana ini dan kita akan menemukan cara-cara kreatif yang memandu kita mendapatkan keberhasilan.

Keempat, bentangkan pikiran anda dengan bertanya dan mendengarkan orang lain. Bergaul dengan orang lain akan membantu untuk mendapatkan gagasan baru dan cara baru untuk mengerjakan sesuatu yang tidak pernah terpikir oleh kita sebelumnya. Hal ini sesuai dengan pepatah Bangsa Jepang : “tak seorangpun dari kita sepintar kita semua”. Pepatah ini memberikan makna bahwa hasil pemikiran bersama jauh lebih baik dan lebih variatif dibandingkan dengan hasil pikiran sendiri. Seseorang dalam mencapai keputusan kreatif, perlu mendapatkan bahan mentah berupa gagasan dan saran dari orang lain. Gagasan dan saran orang lain ini akan membantu menyalakan gagasan kita sendiri sehingga pikiran kita menjadi lebih kreatif.

Untuk dapat mencapai taraf berpikir kreatif memang bukanlah hal yang mudah, bukan pula suatu hal yang muskil. Niat yang tulus dan latihan yang terus menerus, merupakan dua hal yang menjadi anak tangga untuk mencapai taraf berpikir kreatif. Sebagai mahasiswa, sepatutnya melatih diri agar mampu berpikir kreatif. Kemampuan ini tidak saja membantu dalam menyelesaikan perkuliahan yang diikuti, tetapi juga merupakan suatu kemampuan yang akan terus teraplikasi dalam kehidupan dimasa mendatang.

Tulisan ini pernah di terbitkan di Tabloid Ganto, UNP Padang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s