Kepemimpinan Resonansi

Kepemimpinan Resonansi

(Kepemimpinan berdasarkan Kecerdasan emosional)

Oleh Yusrizal, S.Pd,

Sebagaimana yang penulis kemukakan pada tulisan sebelumnya, (baca kecerdasan emosional) kecerdasan emosional dua kali lebih penting dari pada kecerdasan intelektual. Hal ini juga berlaku bagi kepemimpinan dalam manajemen. Seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi, mempunyai perencanaan yang bagus, visioner, namun tidak cakap dalam mengelola emosi, tidak ada artinya. Untuk itu, dalam tulisan kali ini, penulis akan mencoba untuk mengemukakan tentang kepemimpinan yang berdasarkan kecerdasan emosi. Pendekatan seperti ini biasa juga disebut sebagai kepemimpinan resonansi.

Dalam ilmu fisika, resonansi diartikan sebagai peristiwa bergetarnya suatu benda karena getaran benda lain. Artinya ada kesamaan antara kedua benda tersebut, yaitu sama-sama bergetar. Jika dikaitkan dengan kepemimpinan, resonansi yang dimaksud disini adalah bagaimana pemimpin mampu merasakan juga apa yang dirasakan oleh pengikutnya/bawahnnya. Pemimpin resonansi mampu memahami dan berempati terhadap apa yang dirasakan oleh bawahannya.

Seberapa baik pemimpin mengelola dan mengarahkan perasaan-perasaan bawahannya, tergantung kepada tingkat kecerdasan emosinya. Bagi pemimpin yang cerdas secara emosi, resonansi akan terjadi secara alamiah. Untuk itu, ada 4 kopentensi dasar yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin resonan ini:

  1. Kesadaran diri
  • Kecerdasan diri emosi

Pemimpin yang memiliki kesadaran diri yang emosi yang tinggi bisa mendengarkan tanda-tanda dalam diri mereka sendiri, mengenali bagaimana perasaan mereka mempengaruhi diri dan kinerja mereka. Pemimpin ini bisa tegas dan otentik, mampu bicara terbuka tentang emosinya atau dengan keyakinan tentang visi yang membimbing mereka.

  • Penilaian diri yang akurat

Pemimpin dengan kesadaran diri yang tinggi secara khas akan tahu keterbatasan dan kekuatannya. Penilaian diri yang akurat membuat seorang pemimpin tahu kapan harus meminta bantuan dan dimana ia harus memusatkan perhatian untuk menumbuhkan kekuatan kepemimpinan yang baru.

  • Kepercayaan diri

Mengetahui kemampuan dengan akurat, memungkinkan pemimpin untuk bermain dengan kekuatannya. Pemimpin yang percaya diri dapat menerima tugas yang sulit. Pemimpin seperti ini seringkali memiliki kepekaan kehadiran dirinya, suatu keyakinan diri yang membuat mereka menonjol di dalam kelompok.

  1. Pengelolaan diri
  • Pengendalian diri

Pemimpin yang memiliki kendali diri emosi akan menemukan cara-cara untuk mengelola emosi mereka yang sedang terganggu dari dorongan-dorongan diri, bahkan mampu menyalurkannya dalam cara-cara yang bermanfaat.

  • Transparansi

Pemimpin seperti ini secara terbuka mengakui kesalahannya, ia mengkonfrontasi perilaku yang tidak etis, pada orang lain, dan bukannya pura-pura tidak melihatnya.

  • Kemampuan menyesuaikan diri

Pemimpin yang bisa menyesuaikan diri bisa menghadapi berbagai tuntutan tanpa kehilangan fokus atau energi mereka. Pemimpin ini fleksibel dalam menyesuaikan diri dengan tantangan baru, cekatan dalam menyesuaikan perubahan yang cepat, dan berpikiran gesit ketika menghadapi data baru.

  • Prestasi

Pemimpin yang memiliki kekuatan prestasi memiliki standar pribadi yang tinggi yang mendorong mereka untuk terus mencari perbaikan kinerja, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang yang dipimpinnya. Ciri dari prestasi adalah terus belajar dan mengajar cara-cara untuk melakukan segala sesuatu dengan lebih baik.

  • Inisiatif

Pemimpin mampu menangkap kesempatan bahkan menciptakan peluangm bukan hanya menunggu. Pemimpin seperti ini tidak ragu menerobos halangan atau bahkan menyumpang dari aturan, jika diperlukan untuk menciptakan kemungkinan yang lebih baik untuk masa depan.

  • Optimisme

Pemimpin yang optimis bisa tetap bertahan ditengah kepungan, melihat kesempatan, bukan ancaman di dalam kesulitan. Pemimpin ini melihat orang lain secara positif, mengharap yang terbaik dari mereka.

  1. Kesadaran sosial
  • Empati

Pemimpin yang memiliki empati mampu mendengarkan berbagai tanda emosi, membiarkan diri merasakan emosi yang dirasakan. Pemimpin mendengarkan dengan cermat dan bisa menangkap sudut pandang orang lain. Dengan berempati, pemimpin bisa berelasi dengan baik dengan orang-orang dari berbagai latar belakang yang berbeda.

  • Kesadaran berorganisasi

Pemimpin yang memiliki kesadaran sosial yang tinggi bisa cerdas secara politis, mampu mendeteksi jaringan kerja sosial yang krusial da membaca adanya relasi-relasi yang penting.

  • Pelayanan

Pemimpin yang memiliki kompetensi pelayanan yang tinggi mampu menumbuhkan iklim emosi yang membuat orang-orangnya berkontak langsung dengan pelanggan, akan menjaga relasi di jalan yang benar. Pemimpin seperti ini memantau secara kontinu kepuasan pelanggan.

  1. Pengelolaan relasi
  • Inspirasi

Pemimpin yang menginspirasi akan menciptakan resonansi serta menggerakkan orang dengan visi yang menyemangati atau misi bersama.

  • Pengaruh

Pemimpin yang mahir mempengaruhi akan memiliki kemampuan membujuk, dan melibatkan orang lain dalam otgansasi, ketika menghadapi suatu kelompok.

  • Mengembangkan orang lain

Pemimpin ini mampu menumbuhkan kemampuan orang lain dengan menunjukkan minat yang murni kepada orang yang dibantunya. Mereka mampu memahami tujuan-tujuan, kekuatan serta kelemahan orang yang dibantunya.

  • Katalisator perubahan

Pemimpin ini mampu mengenali kebutuhan akan perubahan, menantang status quo, dan memenangkan aturan baru. Mereka mampu menemukan cara-cara praktis untuk mengatasi hambatan dalam perubahan.

  • Pengelolaan konflik

Pemimpin yang pandai mengelola konflik, mampu untuk mengumpulkan semua pihak, mengerti sudut pandang yang berbeda, kemudian mencari jalan keluar bersama yang disepakati oleh pihak yang bertikai.

  • Kerja tim dan kolaborasi

Pemimpin yang mampu bermain dalam tim akan menumbuhkan suasana kekerabatan yang ramah sekaligus memberikan contoh memberikan penghargaan, sikap bersedia membantu, dan bekerja sama. Mereka meluangkan waktu untuk menumbuhkan dan mempererat relasi yang akrab, lebih jauh dari sekedar kewajiban pekerjaan.

Dengan memiliki empat kompetensi dasar tersebut, diharapkan pemimpin mempunyai kecakapan emosi yang baik. Kecakapan emosi inilah yang pada gilirannya nanti akan diaplikasikan dalam melaksanakan tugas kepemimpinan nantinya. Pemimpin akan lebih peka terhadap perasaan dan harapan-harapan bawahannya. Di bawah bimbingan pemimpin yang cerdas emosi, orang-orang akan merasakan tingkat kenyamanan yang saling menguntungkan. Mereka saling berbagi ide, dan saling belajar satu sama lain. Disamping itu, mereka membuat keputusan bersama dan berkomitmen untuk meyelesaikan tugas bersama.

*****

Diolah dari : Buku Kepemimpinan berdasarkan kecerdasan emosional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s