Nama Tuhan Disalahgunakan

Nama Tuhan Disalahgunakan

Suatu hari, Nasiruddin Hoja membuka tabungannya. Setelah di hitung, ternyata jumlah uang yang ada sudah cukup untuk beli sebuah baju baru. “Hitung-hitung, untuk baju lebaran,” demikian pikirnya.

Dengan roman penuh kegembiraan ia langsung menuju  ke rumah penjahit yang tak jauh dari rumahnya, yang sekaligus menyediakan kainnya. “Assalamu’alaikum,” sapa Nasiruddin ramah kepada penjahit yang telah dikenalnya. Muka Nasiruddin tampak cerah tanda hati sedang bahagia.

“Wa’alaikum salam,” jawab si penjahit tak kalah ramah. “Wah, tumben ke sini, ada perlu apa?” lanjut si tukang jahit juga dengan wajah cerah.

“Aku mau bikin baju,” kata Nasiruddin dengan wajah berseri-seri.

Singkat kata, terjadi kesepakatan harga kain sekaligus ongkosnya. Lantas tukang jahit mengukur badan Nasiruddin Hoja. Setelah diukur segalanya, tukang jahit lalu berkata: “Kembalilah engkau ke sini dalam waktu seminggu lagi. InsyaAllah bajumu nanti sudah selesai dijahit.”.

Terpaksa Nasiruddin selama seminggu harus menahan diri kendati maksud hati ingin segera mengenakan baju barunya. Tepat seminggu, Nasiruddin menemui tukang jahit, bermaksud mengambil baju yang sedang dijahit.

“Maaf, bajumu belum selesai. Tapi InsyaAllah dua hari lagi sudah jadi,” kata penjahit kepada tamunya.

Nasiruddin kembali menahan diri, menunggu dua hari lagi. Setelah dua hari, Nasiruddin datang lagi, tetapi…

“Sekali lagi saya minta maaf, bajumu belum jadi,” kata si tukang jahit, “sedikit lagi rampung. Cobalah besok datang lagi. InsyaAllah, bajumu betul-betul akan jadi.”

Nasiruddin yang dongkol langsung menimpali: “Berapa lagi waktu untuk menyelesaikan bajuku, seandainya Allah tidak turut campur dalam urusanmu?”

*****

Hikmah:

  1. Segala kejadian dia alam semesta, termasuk apapun yang menimpa diri kita, hakikatnya adalah hasil dari campur tangan kekuasaan dan kehendak Allah SWT. Tak ada sesuatu apapun yang bisa lepas dari campur tangan-Nya.
  2. Jika kita telah memahami hal yang diatas, maka setiap urusan dan segala rencana maupun keinginan kita, perlu disandarkan kepada Allah SWT sebagai Penentunya.InsyaAllah merupakan kata yang tepat di setiap kita membuat kesepakatan atau perjanjian, seperti undangan pesta, pertemuan dan sebagainya.
  3. Jangan main-main dalam menggunakan kalimat InsyaAllah tersebut. Jika kita di undang ke suatu pesta, namun sejak awal kita telah memutuskan untuk tidak akan datang, maka jangan katakan InsyaAllah saya akan datang, karena hal itu merupakan kebohongan yang ditutupi dengan kalimat suci. Lebih baik katakan saja, “maaf saya tidak bisa datang”.
  4. Ucapan InsyaAllah merupakan suatu refleksi atas keyakinan kita bahwa segala sesuatu Allah sebagai penentunya. Sebagai manusia, kita hanya perencana dan berusaha. Manusia harus berusaha seoptimal mungkin untuk menepati janjinya, namun pada saat yang sama menyandarkan hasil dan ketentuannya kepada Allah SWT.

Sumber: Buku Seri Kisah Jenaka Sarat Makna, Jilid 1. Karangan Dhurorudin Mashad

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s