Apa Susahnya Mengucapkan Terima kasih???

Apa Susahnya Mengucapkan Terima Kasih??

By Yusrizal, S.Pd.

Anakku Habib, baru saja dibikini susu oleh Bundanya. “Ini sayang susunya, Hayoo.. bilang apa sama Bunda? Anakku pun menjawab: “Terima kasih bunda”! Dilain waktu, Habib dikasih sama neneknya sebuah balon. Lantas Bundanya berkata: “Hayoo bilang apa sama neneknya”?  “Makasih ya nek”! demikian jawab si habib kecil.

Barangkali hal seperti diatas, sudah sering kita dengar bahkan kita lakukan. Kita begitu bersemangat untuk mengajarkan si kecil untuk berterima kasih kepada orang-orang yang telah memberinya sesuatu. Kita ingin agar anak kita tumbuh menjadi anak yang mau berterima kasih jika diberi sesuatu maupun dibantu oleh orang lain. Bangga rasanya jika sang anak spontan mengucapkan terima kasih pada saat si nenek, atau yang lain memberikan suatu hadiah. Atau pada saat bolanya jatuh ke selokan, kemudian ada kawannya yang mengambilkan bola tersebut, dengan spontan dia berkata“makasih ya kak”!

Bagaimana dengan kita yang telah dewasa ini? Masihkah kita mengucapkan terima kasih pada seseorang yang telah memberikan sesuatu pada kita? Masihkan kita berterima kasih ketika seseorang telah membantu kita dalam menghadapi suatu masalah? Barangkali untuk dua hal diatas, jawaban kita tentu kita masih mengucapkan terima kasih. Tidak logis rasanya jika orang memberi kitasuatu hadiah, kemudian kita tidak berterima kasih. Mustahil rasanya jika kita tidak berterima kasih kepada orang yang telah membantu kita menyelesaikan masalah.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita pernah berterima kasih kepada petugas SPBU yang telah mengisi bahan bakar untuk kendaraan kita? Apakah kita pernah berterima kasih kepada kasir yang sudah menghitung belanjaan kita di supermarket? Pernahkah kita berterima kasih kepada cleaning servis yang telah membersihkan ruang kerja kita di kantor? Kalau kita seorang atasan, pernahkan kita berterima kasih kepada bawahan yang telah melaksanakan pekerjaan dengan baik?

Jawaban dari pertanyaan tersebut tergantung kepada kita sendiri. Jika sudah, alhamdulillah. Berarti kita telah menghargai jerih payah maupun hasil kerja seseorang, apapun bentuk pekerjaannya. Jika belum, apa salahnya kita mengucapkan terima kasih. Memang mengisi bbm merupakan tugas dari petugas SPBU, memang menghitung jumlah belanja konsumen adalah tugas kasir, membersihkan ruangan kerja memang tugas cleaning servis. Tapi apa salahnya kita berterima kasih atas apa yang telah mereka lakukan kepada kita? Mengapa kita begitu berat berterima kasih atas jasa yang telah mereka keluarkan kepada kita, meskipun mereka memang digaji untuk itu. Namun hargailah hasil kerja mereka dengan berterima kasih kepada mereka.

Bagaimana dalam keluarga? Pernahkah kita sebagai suami berterima kasih kepada istri yang telah membuat masakan lezat buat kita, atau secangkir teh hangat saat kita sarapan pagi? Sebaliknya, pernahkah kita sebagai seorang istri berterima kasih kepada suami yang pada saat pulang kerja masih sempat membawakan martabak Bandung atau makanan lainnya. Begitu juga dengan kegiatan di rumah tangga lainnya, apakah itu merapikan taman rumah, dan lain sebagainya.

Ada suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka yang mana kita telah berterima kasih kepada mereka. Dalam Ilmu Psikologi, ucapan terima kasih yang diterima seseorang dapat meningkatkan semangat kerja orang tersebut. Petugas di SPBU, kasir supermarket, cleaning servis, bawahan maupun orang lain dengan profesi apapun akan bersemangat dalam bekerja jika pekerjaannya dihargai orang lain. Apalagi dalam rumah tangga. Suami yang sering berterima kasih kepada istrinya atas apa yang telah dilakukannya, akan membuat si istri bertambah sayang dan lebih bersemangat dalam melakukan hal lainnya dalam keluarga.

Dan yang lebih penting adalah berterima kasih kepada Allah SWT. Berterima kasih kepada Allah biasa kita sebut dengan bersyukur. Perbanyaklah bersyukur kepada Allah SWT, niscaya Dia akan menambah nikmat buat kita, apakah itu nikmat Iman, Islam, kesehatan, maupun nikmat berupa harta benda. Amin…

*****

Padang, 6 Okt 2009

1 Comment

  1. Ping balik: Si Bapak yang mengalirkan air tergenang di jalan « Yusrizalfirzal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s