Sebuah renungan

Pertanyaan Seorang Gadis setelah Kematian Ayahnya

imagesSeorang gadis menangis tersedu karena ditinggal wafat sang Ayah. Di antara sedu sedan tangisnya, terdengar suara lirih:

“Wahai Ayahku, engkau telah kukafani dengan sebungkus kafan, tetapi masihkah engkau menggunakan kafan itu besok? Aku telah meletakkan tubuhmu yang segar bugar dalam kubur, masih bugarkah tubuhmu atau sudah digerogoti cacing?”

“Ayahku, orang alim mengatakan bahwa setiap hamba akan ditanya tentang imannya. Di antara mereka ada yang menjawab, tetapi ada pula yang membisu. Apakah ayah nanti bisa menjawab atau hanya membisu?”

“Ayahku, orang alim berkata bahwa kuburan itu bisa menjadi lebih luas atau malah menjadi lebih sempit. Bagaimanakah kuburan ayah nanti, lebih luaskan atau malah bertambah sempit?”

“Ayahku, orang alim pun berkata bahwa ada kain kafan orang yang meninggal yang diganti dengan kain kafan dari surga dan ada pula yang diganti dengan kain kafan dari api neraka. Kain kafan dari manakah yang Ayah gunakan sekarang, dari surgakah atau dari neraka?”

“Ayahku, orang alim berkata bahwa kuburan itu merupakan secuil taman dari taman-taman di surga, tetapi juga merupakan sebuah lubang dari lubang di neraka. Yang aku pikirkan, bagaimanakah kuburan ayah sekarang, taman surga ataukah lubang neraka?”

“Ayahku, orang alim berkata bahwa liang kuburan bisa menghangati si mayat dengan memeluknya bagaikan pelukan seorang ibu kepada anaknya, tetapi juga bisa menjadi lilitan erat yang meremukkan tulang-tulang si mayat. Bagaimanakah keadaan tubuh ayah sekarang? Pelukan manakah yang ayah rasakan?”

“Ayahku, orang alim berkata bahwa orang yang dikebumikan itu ada yang menyesal mengapa dulu semasa hidupnya tidak memperbanyak amal kebaikan, tetapi malah mengumbar maksiat. Yang ingin aku tanyakan, apakah ayah termasuk orang yang menyesal karena perbuatan maksiat ataukah menyesal karena terlalu sedikit melakukan amal kebaikan?”

“Ayahku, dahulu setiap aku memanggil namamu tentu engkau akan menjawab, tetapi kini engkau kupanggil-panggil tak mau menjawab. Kini engkau telah berpisah denganku dan tak akan bersuakembali sampai datangnya hari kiamat. Semoga Allah tidak menghalangi perjumpaanku denganmu.”

Sumber: Abdurrahim dan Fawwaz dalam Asmaul Husna Effects

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s