Menyikapi Ketidaksempurnaan

Menyikapi Ketidaksempurnaan

Suatu ketika seorang biksu mendirikan sebuah tembok dalam wiharanya. Kelihatannya gampang membuat tembok dengan batu bata, tinggal tuangkan seonggok semen, sedikit ketok sana, sedikit ketok sini. Ketika si biksu mulai memasang batu bata, dia ketok satu sisi untuk meratakannya, tetapi sisi lain malah jadi naik. Lalu ia ratakan sisi yang naik itu, batu batanya malah jadi melenceng. Kemudian ia ratakan kembali, sisi yang pertamanya jadi terangkat lagi, demikian seterusnya.

Dengan penuh kesabaran dan memakan banyak waktu, sibiksu berusaha memastikan memasang setiap batu bata dengan sempurna. Ia pasang satu persatu batu bata tersebut, tanpa mempedulikan banyaknya waktu yang habis. Akhirnya, tembok batu bata itupun selesai. Sibiksu berdiri dibalik tembok batu batu itu dan mengagumi hasil karyanya. Saat itulah ia melihat dua buah batu bata yang terpasang miring. Mereka terlihat kelihatan jelek sekali dan merusak keseluruhan tembok yang lain.

Saat itu semennya sudah mengeras dan tidak mungkin untuk memperbaiki dua batu bata yang miring tersebut. Akhirnya sibiksu bertanya dan meminta pendapat kepada kepala wihara, apakah ia boleh membongkar kembali tembok yang sudah mengeras tersebut. Si biksupun kesal dan hatinya gundah gulana. Kepala wihara mengatakan tidak perlu membongkar kembali tembok itu, biarkan saja tembok itu seperti apa adanya.

Demikianlah, hari berganti hari, bulan berganti bulan. Setiap ada pengunjung yang datang ke wihara tersebut, sibiksu selalu berusaha menghindarkan pengunjung untuk melewati tembok batu bata yang dibuatnya. Ia tidak suka orang lain melihat tembok tersebut. Pada suatu hari, ketika ia berjalan dengan seorang pengunjung, tak sengaja pengunjung tersebut melihat tembok batu bata tersebut dan berkomentar: “itu tembok yang indah”.

Si biksu terkejut dan bertanya, “Pak, apakah kacamata Anda tertinggal di mobil? Tidakkah Anda melihat dua batu bata yang terpasang miring dan kelihatan jelek?

Sipengunjung menjawab: “Ya, saya bisa melihat dua batu bata jelek itu, namun saya juga bisa melihat 998 batu batu yang bagus”.

Demikianlah, si biksu tertegun mendengar jawaban dari pengunjung tersebut. Untuk pertama kalinya ia mampu melihat batu bata-batu bata lainnya selain dua batu bata jelek itu.

Saudaraku, apa yang dialami oleh si biksu dalam cerita diatas, barangkali pernah juga kita alami dan rasakan. Mungkin saja kejadian dalam cerita diatas, sama persis dengan apa yang kita alami. Ketika kita membangun dinding rumah, ternyata ada beberapa bata yang miring atau menyembul keluar, dan itu kelihatan jelek sekali. Atau mungkin saja ketika kita selesai mengecat rumah, kemudian baru kita sadari ada noda lemak di salah satu bagiannya. Mungkin juga terjadi ketika kita merapikan taman bunga di halaman. Ketika kita selesai memangkas pohon-pohon kecil, baru kita sadari ternyata ada di salah satu bagiannya terpotong agak pendek sehingga kelihatan jelek.

Itulah, batu bata yang terpasang miring dan menyembul keluar, noda lemak di salah satu bagian dinding dan pohon kecil yang terpotong pendek di taman, selalu menjadi penyesalan bagi kita. Kita jadi kehilangan selera untuk melihat bagusnya cat rumah kita pada saat melihat ada noda lemak disebagiannya. Kita terus saja memperhatikan jeleknya pohon yang terpotong pendek di taman. Padahal, disekitar pohon yang terpotong pendek tersebut terdapat susunan bunga dan pohon kecil lainnya yang kelihatan asri dan menyejukkan.

Belakangan ini, sering kita dengar berita bunuh diri yang dilakukan oleh saudara-saudara kita. Ada yang lompat dari lantai IV pusat perbelanjaan, dari fly over jalan raya dan sebagainya. Berbagai motif bisa saja melatar belakangi mereka untuk mengambil tindakan bunuh diri. Mulai dari desakan ekonomi, pertikaian rumah tangga, korban perkosaan, hingga diputus oleh sang pacar. Tapi inti dari semua itu adalah, mereka tidak mau menerima kekurangan-kekurangan yang ada pada diri mereka.

Sebenarnya kita semua ini memiliki kekurangan. Tidak ada manusia yang terlahir sempurna. Nah, bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap kenyataan ini? Group band D’Massiv memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita lewat lagunya yang berjudul Jangan Jenyerah:

“Tak ada manusia yang terlahir sempurna. Jangan kau sesali segala yang telah terjadi. Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat. Seakan hidup ini tak ada artinya lagi. Syukuri apa yang ada, hiduplah adalah anugerah, Tetap jalani hidup ini melakukan yang terbaik.”

“Tuhan pastikan menunjukkan kebesaran dan kuasanya bagi hambanya yang sabar tanpa kenal putus asa”

“Jangan menyerah.. jangan menyerah.. jangan menyerah… “

Kadang-kadang kita hanya senang mendengar lagu karena irama musiknya atau syairnya yang mengandung makna cinta. Sering kali kita melupakan makna di balik syair lagu tersebut. Oleh sebab itu, mari kita ambil pelajaran dari ketidak sempurnaan kita dengan memperbanyak rasa syukur kepada Allah SWT.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s