Antara Prita, Luna dan Kebebasan Berpendapat

Antara Prita, Luna dan Kebebasan Berpendapat

Oleh: Yusrizal

“Mulutmu adalah harimaumu, yang akan menerkam dirimu sendiri”. Barangkali pepatah itu, cocok di alamatkan ke artis cantik Luna Maya. Kenapa tidak, Luna dilaporkan oleh pihak wartawan infotainment ke pihak kepolisian. Luna dilaporkan telah mencemarkan nama baik, memfitnah, menghina dan atau perbuatan tidak menyenangkan. Oleh sebab itu, Lina diancam dengan hukuman maksimal 6 tahun penjara dan atau denda maksimal 1 miliar, sesuai dengan pasal 27 ayat 3 Undang-undang ITE.

Dalam akun pribadinya, di situs jejaring sosial twitter Luna menulis; “Jadi bingung kenapa manusia sekarang lebih kaya setan dibandingkan dengan setannya sendiri… apa yang disebut manusia udah jadi setan semua??” Luna juga menulis: “Infotement derejatnya lebih HINA daripada PELACUR, PEMBUNUH !!!! May your soul burn in hell!!” (viva news.com)

Sebelumnya, hal serupa juga dialami oleh Prita Mulyasari. Sekedar mengingatkan, dalam e-mailnya Prita menulis: “Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa kenyawa manusia lainnya, terutama anak-anak, lansia dan bayi. Bila Anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan title Internasional karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat dan suntikan”. Kalimat terakhir berbunyi: “Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini”.(viva news.com)

Begitulah, dalam kehidupan ini kita bebas mengeluarkan pendapat. Kebebasan mengeluarkan pendapat merupakan salah satu hak asasi yang dimiliki oleh manusia. Dalam suatu konfrensi Buruh Internasional di Philadelphia pada tahun 1944, dihasilkan sebuah deklarasi hak asasi manusia. Hasil konfrensi ini kemudian dijadikan sebagai dasar untuk perumusan Deklarasi Universal HAM (DUHAM) yang dikukuhkan oleh PBB dalam Universal Declaration of Human Rights (UDHR) pada tahun 1948. Hak bebas berpikir dan menyatakan pendapat, merupakan salah satu hak yang terdapat di dalamnya.

Di Indonesia sendiri, kebebasan mengeluarkan pendapat diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28 yang berbunyi: Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”. Pasal tersebut kemudian di amandemen dan ditambah satu bab menjadi Bab XA (Hak Asasi Manusia) dengan 10 pasal. Adapun pasal yang mengatur tentang kebebasan mengeluarkan pendapat yaitu pasal 28E ayat 3 yang berbunyi: “setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat”.

Di zaman era teknologi informasi ini, masyarakat seolah menemukan banyak saluran untuk mengemukakan pendapatnya. Internet dengan situs-situs jejaring sosialnya seperti facebook, twitter, friendster, memungkinkan bagi seseorang untuk bebas mengemukakan apa yang dirasakannya. Demikian pula halnya dengan e-mail dan chatting, yang memungkinkan bagi seorang untuk menceritakan perasaannya kepada sahabat-sahabatnya. Media-media seperti inilah yang digunakan oleh orang-orang untuk mengemukakan perasaanya, seperti halnya Luna maya dengan caci makinya di twitter dan Prita Mulyasari dengan keluhannya di e-mail.

Disamping itu, Perkembangan di dunia teknologi juga telah menghasilkan media-media online yang memberikan berita dan informasi yang uptodate. Biasanya media online memberikan ruang komentar bagi pembaca online untuk memberikan pendapat dan tanggapan mengenai suatu berita. Pembaca begitu leluasanya memberikan komentar tentang hal yang terkait dengan berita tersebut. Kritikan yang pedas dan tajam, hujatan, makian atau berupa sanjungan dengan mudah kita berikan terhadap orang yang diberitakan. Lihatlah ketika menghangatnya perseteruan antara Polisi dan KPK beberapa waktu lalu, begitu mudahnya pembaca online memberikan hujatan atau cemoohan kepada pihak kepolisian.

Memang, kebebasan mengemukakan pendapat di alam demokrasi perlu dihormati oleh setiap orang. Tapi ingat, etika juga perlu kita perhatikan, Jangan sampai kebebasan berpendapat itu menyinggung perasaan orang lain, dimana orang lain tersebut juga mempunyai hak asasi yang sama dengan kita. Selain itu, kebablasan ketika mengemukakan pendapat, bisa berujung di kursi pesakitan peradilan.

Seorang Prita Mulyasari yang hanya bermaksud menyampaikan keluhannya kepada sahabat-sahabatnya ketika berobat disebuah rumah sakit saja, bisa dilaporkan ke pihak kepolisian dengan tuduhan mencemarkan nama baik, memfitnah, menghina dan atau perbuatan yang tidak menyenangkan. Memang, begitu banyak dukungan yang diberikan oleh masyarakat terhadap kasus yang dialami oleh Prita, seperti dukungan facebooker, dan koin untuk Prita. Namun hal itu, tetap saja tidak mengubah bahwa seorang prita dengan keluhannya telah membawanya duduk di kursi pesakitan persidangan.

Bagaimana halnya dengan Luna Maya dengan caciannya terhadap kru infotainment? Meskipun diancam dengan jeratan hukum yang sama dengan Prita, namun apa yang dikemukakan oleh Luna Maya dalam twitternya sungguh merupakan bahasa yang tidak pada tempatnya. Kata-katanya begitu kasar dan tidak cocok dikemukakan oleh seorang publik figur seperti Luna maya. Siapapun yang menjadi arah dari ucapan tersebut barangkali akan melakukan hal yang sama dengan pihak infotainment.

Namun, kita juga perlu mencermati, penyebab mengapa seorang Luna sampai mengeluarkan kata-kata seperti itu. Barangkali Luna Maya kesal karena terus di kejar dan dikerubungi oleh wartawan infotainment. Apalagi sempat ada insiden kecil, kepala Alea (anak Ariel) yang terbentur kamera salah satu infotainment.(detikhot.com). Kekesalan itulah yang ditumpahkan oleh Luna Maya melalui tulisannya di twitter.

Jika boleh dikatakan menulis di jejaring sosial seperti facebook, twitter dsb, atau berkirim email dan chatting serta berkomentar di media online sebagai suatu kegiatan komunikasi, ada baiknya kita memperhatikan etika dalam berkomunikasi.  Seorang bijak pernah berkata: “Sebelum berkomunikasi dan bergaul, persiapkan hati kita yang bersih dan tulus. Kalau hati masih kotor dan dipenuhi unsur-unsur negatif, lebih baik kita mengurungkan niat untuk berkomunikasi, karena hasilnya bisa fatal”.

Oleh sebab itu, mari kita kembangkan budaya santun dalam berpendapat. Barangkali apa yang dikatakan Claudius, sang kaisar Romawi  berikut ini bisa menjadi pegangan bagi kita. Claudius mengatakan: “Jangan selalu katakan apa yang kau ketahui, tapi selalu ketahui apa yang kaukatakan”.

***

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s