Memaksimalkan kelebihan yang kita miliki

Memaksimalkan kelebihan yang kita miliki

“Siapapun diri  Anda, Jadilah yang terbaik”.

(Abraham Lincoln)

Suatu ketika sebuah mobil berangkat ke luar kota. Ia membawa keluarga pemiliknya yang berjumlah delapan orang. Berhubung hari libur, keluarga ini hendak menghabiskan liburannya di luar kota. Setelah selesai dengan segala persiapannya, maka mobilpun mulai berjalan meninggalkan rumah dan memasuki kawasan jalan raya.

Ditempat yang lain, sebuah motor juga bersiap-siap hendak membawa pemiliknya pergi berlibur keluar kota. Tidak seperti si mobil yang membawa delapan orang penumpang, si motor hanya membawa tiga orang penumpang; suami, istri dan anak mereka. Rupanya mereka juga memiliki tujuan yang sama dengan keluarga yang dibawa oleh si mobil.

Secara tidak sengaja, mereka bertemu disuatu persimpangan lampu merah. Simobilpun berkata: “ Mau kemana kamu motor, keluar kota ya? Kulihat tuanmu memakai jaket tebal dan membawa tas.”

“Iya nih mobil, mereka hendak pergi liburan di Bukittinggi. Anaknya mau melihat hewan-hewan yang ada di kebun binatang”. Jawab si motor. “Kalau kamu mau kemana, rame sekali penumpang mu? Si motor balik bertanya.

“Wah kalau begitu, kita punya tujuan yang sama dong. Tuanku juga mau mengajak keluarga besarnya ke kebun binatang di bukittinggi”. Jawab si mobil. “Udah dulu ya motor, lampu sudah hijau nih. Semoga kita bertemu disana ya…”

Begitulah merekapun berjalan beriringan dengan mobil berada di depan motor. Menjelang memasuki daerah pinggiran kota, si mobil mulai meninggalkan si motor. Dengan kecepatan yang dimilikinya, simobil berlari dengan kecepatan penuh dan mendahului mobil-mobil yang lain yang berada didepannya. Adapun si motor, juga berlari dengan kecepatan penuh, namun tidak secepat simobil. Ia jauh tertinggal di belakang si mobil.

Namun, suatu ketika si mobil terpaksa menurunkan kecepatannya. Rupanya ada beberapa buah truk yang penuh muatan yang berjalan beriringan dengan pelan. Si mobilpun terpaksa berjalan dengan pelan mengikuti iringan truk tersebut. Dia kesulitan untuk mendahului truk-truk tersebut karena dari arah berlawanan juga banyak kendaraan yang melintas.

Lama kelamaan, si mobilpun disusul oleh si motor. Karena kecil, dengan gesitnya motor mampu mendahului kendaraan yang berjalan pelan yang berada didepannya, termasuk juga si mobil tadi. Sekarang, giliran si motor yang berada di depan si mobil.

Setelah berhasil mendahului iringan truk, mobil dengan kecepatannya kembali berlari dengan kencang. Tidak berapa lama kemudian merekapun berpapasan kembali. Si mobil kembali mendahului si motor.

Ketika bertemu dengan pasar tumpah, lagi-lagi si mobil kembali terpaksa berjalan pelan. Si motorpun mampu menyusulnya. Bahkan dengan kelihaian dan kegesitannya, motor mampu mendahului lagi si mobil yang terkena macet di pasar tumpah.

Demikianlah, si mobil dan si motor saling mendahului untuk mencapai tujuannya. Walaupun pada akhirnya si mobil dan si motor sampai ditempat tujuannya dengan waktu yang tidak jauh berbeda.

Apa pelajaran yang dapat kita peroleh dari cerita diatas? Ya.. motor dengan kelihaian yang dimilikinya karena berbadan kecil, menyalip di kemacetan jalan raya, mampu mengimbangi kecepatan mobil untuk sampai di tempat tujuan. Motor mampu memanfaatkan kelebihannya untuk mengimbangi mobil yang memiliki kecepatan diatas kecepatannya.

Begitu juga dengan kita. Allah SWT menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Daripada kita mengeluh terhadap kekurangan, lebih baik kita berfokus kepada kelebihan yang kita miliki. Manfaatkanlah kelebihan itu dengan semaksimal mungkin untuk meraih kesuksesan. Seorang bijak pernah berkata: “Lakukan yang terbaik yang bisa Anda lakukan, dengan segenap kemampuan, dengan cara apapun, dimanapun, kapanpun, kepada siapapun, sampai Anda sudah tidak lagi mampu melakukannya”.

Bagaimanakah caranya agar kita tahu kelebihan-kelebihan yang kita miliki? “Kenalilah dirimu sendiri”. Begitu ucapan Socrates, seorang filsuf dari Yunani. Tidak ada seorangpun yang lebih tahu tentang diri kita kecuali kita sendiri. Dengan mengenali diri sendiri, kita mampu mengidentifikasi kelebihan/potensi yang kita miliki.

Terakhir, jadilah diri sendiri. Jangan coba-coba untuk meniru atau menjadi orang lain. Aidh Al Qarni, penulis buku best seller La Tahzan pernah berucap: “Larut dalam kepribadian orang lain pada hakekatnya adalah bunuh diri. Memakai baju kepribadian orang lain adalah pembunuhan yang direncanakan.

Semoga kita semua bisa memanfaatkan kelebihan yang kita miliki dengan semaksimal mungkin…
Salam Sukses!!

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s