Pikiran sebagai Sumber Kebahagiaan Hakiki

Tulisan ini merupakan tulisan akhir tahun penulis…

semoga tahun depan, penulis bisa menghasilkan tulisan yang lebih baik lagi…

Pikiran sebagai Sumber Kebahagiaan Hakiki

“ Anda bahagia jika dalam pandangan Anda tidak ada bedanya hidup dan mati, penjara atau istana, miskin dan kaya, racun dan madu”

(Anonym)

Sebuah survey yang menarik pernah dilakukan oleh Yayasan Indonesia Bahagia (YIB). Survey ini dilakukan untuk melihat tingkat kebahagiaan warga Jakarta. Hasilnya, rasa bahagia warga Jakarta dianggap masih dibawah rata-rata. (vivanews.com)

Dari hasil survey tersebut didapatkan bahwa indeks kebahagiaan masyarakat Jakarta hanya 3,16 persen. Nilai ini dikategorikan rendah sebab masih berada dibawah rata-rata nilai 4 yang diartikan bahagia, serta 5 yang diartikan sangat bahagia.

Survey itu sendiri diselenggarakan dengan teknik wawancara terhadap 500 orang warga Jakarta sebagai responden. Responden ini dipilih secara acak dengan menggunakan teknik penarikan acak bertingkat (multiple random sampling). Adapun margin errornya lebih kurang 5 % pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Adapun variabel independen yang berada diatas nilai rata-rata indeks ini adalah pendidikan tinggi, sedangkan variabel lain seperti usia, status ekonomi, gender dan agama yang dianut berada dibawah nilai rata-rata indeks. Artinya, hanya mereka yang memiliki pendidikan tinggi yang hidup di Jakarta yang cenderung memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih baik ketimbang warga lainnya.

Menyimak kesimpulan dari survey yang dilakukan oleh YIB, bahwasanya orang yang berlatar pendidikan tinggi memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih baik, barang kali berhubungan dengan paradigma seseorang. Paradigma menurut Stephen R. Covey, adalah cara kita melihat dunia -bukan berkaitan dengan pengertian visual dari tindakan melihat, melainkan berkaitan dengan persepsi, mengerti dan menafsirkan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, memungkinkan bagi orang tersebut untuk mempersepsikan dan menafsirkan arti sebuah kebahagiaan.

Kebahagiaan berasal dari kata bahagia. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, bahagia berarti keadaan atau perasaan senang tenteram dan bebas dari segala yang menyusahkan. Seorang bijak pernah berkata: “kita bahagia ketika apa yang ada di dalam diri sesuai dengan sesuatu di luar kita”. Kebahagiaan akan kita rasakan tatkala apa yang menjadi keinginan kita mampu kita raih dan kita dapatkan.

Meraih kebahagiaan merupakan tujuan hidup semua manusia. Siapapun dia, apapun latar belakang pendidikannya, apapun pekerjaannya, apapun agama dan kepercayaan yang dianutnya, semuanya pasti menginginkan kebahagiaan. Kebahagiaan seorang pelajar/mahasiswa adalah tatkala berhasil dalam pendidikan dengan nilai yang tinggi, seorang pedagang akan bahagia, jika dagangannya laris. Begitulah, tidak ada seorangpun di dunia ini yang tidak menginginkan kebahagiaan.

Sebagian kita mungkin berpendapat bahwa uang dapat mendatangkan kebahagiaan. Memang tidak bisa kita pungkiri dengan uang kita bisa membeli semua kebutuhan dan keinginan. Dengan terpenuhinya kebutuhan dan keinginan itulah yang menyebabkan kita bahagia. Namun uang bukanlah satu-satunya sumber kebahagiaan. Franklin D. Roosevelt mengatakan: Kebahagiaan bukan terletak pada pemilikan uang semata; kebahagiaan terletak pada kegembiraan pencapaian, pada getaran upaya kreatif.

Pertanyaannya adalah darimana sumber kebahagiaan tersebut? Aidh Al Qarni dalam bukunya yang fenomenal berjudul La Tahzan, menyatakan bahwa ada enam sumber kebahagiaan, yaitu amal salih, istri yang salihah, rumah yang luas, penghasilan yang baik, akhlak yang baik dan penuh kasih kepada sesama dan terhindar dari impitan utang dan sifat boros.

Menarik apa yang dikemukakan oleh Aidh Al Qarni diatas. Beliau meletakkan amal salih sebagai sumber kebahagiaan yang utama sebelum sumber-sumber kebahagiaan lainnya termasuk penghasilan yang baik. Melakukan suatu kebaikan memang akan mendatangkan kebahagiaan bagi orang yang melakukannya. “Lakukan kebaikan setiap hari walau sederhana, nscaya hati Anda akan bahagia”, begitu kata orang bijak. Dengan bahasa yang sedikit berbeda, Albert Schweitzer mengatakan: “Satu hal yang saya ketahui: orang-orang diantara Anda yang akan sungguh-sungguh bahagia hanyalah mereka yang telah mencari dan menemukan cara untuk melayani”. Melayani yang dimaksud disini adalah melakukan kebaikan kepada orang lain.

Selain enam sumber yang dikemukakan oleh Aidh Al Qarni diatas, melakukan suatu kegiatan yang menjadi hobi, bagi sebagian orang merupakan sumber kebahagiaan tersendiri. Bagi mereka yang hobi memancing, betapapun panasnya terik matahari membakar kulit, tidak akan membuat mereka beranjak dari tempat memancingnya. Bagi pendaki gunung ada kebahagiaan tersendiri begitu sampai di puncak, meskipun badan letih dan kaki terasa pegal. Bagi mereka yang hobi menulis, adalah suatu kebahagiaan jika hasil karyanya diterbitkan di media cetak dan dibaca oleh banyak orang.

Dari begitu banyak hal yang menjadi sumber kebahagiaan, namun sumber kebahagiaan yang hakiki adalah pikiran kita. Tepatnya bagaimana kita mampu mengendalikan pikiran. Adanya berbagai macam keinginan yang bersumber dari pikiran, seringkali menjauhkan kita dari kebahagiaan. Ketika kita berhasil mendapatkan suatu keinginan, kebahagiaan akan terasa. Namun itu hanya sementara, karena begitu keinginan yang baru muncul, maka kebahagian tersebut akan lenyap. Barangkali kita perlu belajar dari Maxim Gorky, seorang penulis dari Rusia yang mengatakan: “Kebahagiaan selalu tampak kecil saat Kau genggam ditanganmu. Lepaskanlah, seketika kau akan menyadari betapa besar dan berharganya dia”.

Penulis ingin menutup tulisan ini dengan apa yang dikemukakan oleh Dale Carnegie: “Kebahagiaan tidak bergantung pada siapa Anda atau apa yang Anda Punyai; kebahagiaan bergantung pada apa yang Anda pikirkan”.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s