Ruhut Sitompul dan Irreversible-nya Komunikasi

Ruhut Sitompul dan Irreversible-nya Komunikasi

Oleh: Yusrizal

Dahulu, Ketika Anda ditanya dimana Anda sering mendengar dan melihat orang bicara kasar dan kotor? Barangkali kita akan menjawab di pasar. Namun jika pertanyaan ditanyakan sekarang, barangkali jawaban kita tidak hanya pasar, tetapi juga di ruang sidang Dewan yang terhormat.

Jika Anda diberi pertanyaan lagi, siapa yang biasa mengucapkan kata-kata kasar dan kotor? Sudah pasti jawabannya adalah preman-preman di pasar. Namun jika pertanyaan itu ditanyakan beberapa hari belakangan ini, kita akan mendapat tambahan jawaban. Tidak hanya preman pasar yang biasa mengucapkan kata-kata kasar dan kotor. Anggota Dewan yang terhormatpun mulai terbiasa mengucapkannya.

Ya.. belakangan ini masyarakat Indonesia disuguhi beberapa “dagelan politik”. Salah satu diantaranya adalah perseteruan antara Ruhut Sitompul (fraksi Demokrat) dengan Gayus Lumbun (Fraksi PDIP yang juga wakil ketua Pansus Century) dalam rapat Pansus Bank Century yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Melalui stasiun televisi, kita bisa melihat terjadinya adu mulut diantara mereka yang diselingi dengan kata-kata kasar. Bahkan anggota Pansus lainnya juga ikut tertawa, seolah mereka mendapatkan selingan dalam kepenatan mengikuti rapat Pansus tersebut.

Jika kita tilik kebelakang, sebelum Ruhut Sitompul kita juga pernah disuguhi hal serupa oleh Luna maya, seorang selebritis papan atas di negeri ini. Berbeda dengan Ruhut, Luna tidak secara lisan mengucapkan kata-kata kotor. Melalui tulisannya di Twitter, sebuah situs jejaring sosial, Luna begitu mudahnya menuliskan kata-kata kasar dan kotor. Yang menjadi sasarannya waktu itu adalah pekerja infotaiment.

Lantas, mengapa hal tersebut dibesar-besarkan? Bukankah sudah biasa di negeri ini, dengan kemajemukan masyarakat dan berbagai latar belakang kepentingan yang berbeda, orang-orang berkata kasar dan kotor?.

Barangkali jika yang beradu mulut dan mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor tersebut adalah seorang preman, tidak akan masalah. Paling-paling hanya terjadi keributan dipasar. Bagaimana jika yang berkata kasar dan kotor itu adalah seorang anggota Dewan yang terhormat yang notabenenya mewakili berbagai lapisan masyarakat? Atau seorang selebritis papan atas yang memiliki banyak fans?

Hal tersebut tentu saja akan menghasilkan dampak yang cukup besar. Anggota Dewan dengan kehormatannya dan artis dengan sepak terjangnya, merupakan salah satu konsumsi publik. Hal-hal seperti itu sering diekpos di berbagai media televisi apakah itu melalui berita maupun infotaiment. Masalahnya adalah tidak semua penonton televisi tersebut merupakan orang yang telah dewasa. Baik dewasa dalam pikiran, apalagi dewasa dalam segi umur. Bisa kita tebak apa yang akan terjadi. Mereka akan cenderung untuk meniru hal-hal yang negatif tersebut.

Mungkin kita masih ingat peristiwa masa kecil. Ketika kita berucap kata-kata kasar dan kotor, orang tua akan segera memarahi kita. Mulutpun menjadi sasaran untuk diolesi cabe. Kena tamparan di muka juga merupakan hukuman yang sering kita terima ketika berucap kata-kata kasar dan kotor. Kepedasan dan rasa sakit karena tamparan itulah yang membuat kita jera.

Kembali kepada permasalahan Ruhut Sitompul, akan kah ketua umum partai Demokrat yang merupakan Presiden RI “mengolesi mulut Ruhut Sitompul dengan cabe”? Akankah SBY memberikan “tamparan” kepada salah satu kadernya tersebut, sehingga membuatnya jera?

Salah satu prinsip komunikasi adalah bahwa komunikasi itu bersifat Irreversible (Deddy Mulyana:2007) Artinya, dalam komunikasi sekali kita mengirimkan pesan, kita tidak dapat mengendalikan pengaruh pesan tersebut bagi khalayak, apalagi menghilangkan efek pesan tersebut sama sekali. Jika kita analogikan seperti peluru yang ditembakkan dari sepucuk pistol atau seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya. Kita tidak bisa menarik kembali peluru atau anak panah yang telah ditembakkan atau dilepaskan tersebut.

Kata-kata kasar yang telah diucapkan oleh Ruhut Sitompul laksana sebuah peluru atau anak panah yang telah di tembakkan/lepaskan. Ruhut tidak bisa mengendalikan pengaruh kata-kata kasarnya tersebut bagi masyarakat. Meskipun Ruhut Sitompul telah bersalaman kembali dengan Gayus Lumbun sebelum rapat Pansus pada hari berikutnya dimulai, atau walaupun Ruhut nantinya meminta maaf atas kata-katanya tersebut, namun efek dari ucapannya tersebut tidak bisa dihilangkan. Persepsi masyarakat bahwa Ruhut Sitompul adalah anggota dewan yang terhormat yang pernah berucap kata-kata kasar, tidak bisa dihilangkan.

Kedepan, kita hanya bisa berharap agar para pemimpin bangsa ini hati-hati dalam berucap. Sebagai pemimpin, mereka akan di tiru dan diikuti oleh pengikutnya. Jika pemimpinnya saja sering berucap kata-kata kasar, bagaimana dengan pengikutnya? Kasihan generasi muda bangsa ini jika mereka tidak lagi memiliki contoh teladan. Benar kata seorang bijak: “Tugas paling berat anak-anak masa kini adalah mempelajari tata krama tanpa bisa melihat contohnya”. Semoga hal ini bisa disadari oleh para pemimpin bangsa ini.

4 Comments

  1. Ping balik: Berfikir Sebelum Bicara « Blognya Cahyo Setiadi

  2. pak rohut orangnya hebat, kritis dan perduli. cuma ada hal yang tidak bagus untuk bapak lanjutkan. yaitu bicara kotor di sidang yang terhormat. hal ini hanya bisa menjatuhkan citra bapak di depan publik. belum terlambat untuk memperbaiki semuanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s