Menghargai Jerih Payah Orang Lain

Menghargai Jerih Payah Orang Lain

Siang itu, kami bertiga (penulis dengan 2 orang kawan) kami pergi makan ke sebuah rumah makan yang sederhana. Sederhana maksudnya bukanlah rumah makan sederhana yang telah terkenal di kota-kota besar seperti Jakarta. Namun sederhana dalam artian makanan yang disajikan betul-betul apa adanya. Rumah makan ini, -lebih tepat disebut sebagai warung makan- tidak seperti tempat makan lainnya seperti rumah makan atau restoran, hanya meyediakan ikan laut sebagai lauknya. Jika Anda tidak suka ikan laut, jangan pergi kesini !!!  Biasanya ikan laut ini dibuat dalam dua jenis yaitu digoreng dan digulai.

Warung makan ini menyediakan karupuak jariang balado (kerupuk yang terbuat dari jengkol) sebagai pelengkap makan siang, disamping pucuak ubi (daun ubi singkong) sebagai sayurnya.

Begitulah, setelah tiga porsi nasi lengkap dengan lauknya diletakkan di atas meja kami, kami pun mulai makan. Sembari makan, salah seorang kawan meminta tambahan satu piring karupuak jariang balado dan sepiring gulai ikan. Makan siangpun kami lanjutkan.

Selesai makan dan duduk sebentar, kamipun memanggil pelayan warung untuk menghitung berapa jumlah yang harus kami bayar. Ketika pelayan warung itu menghitung satu persatu makanan yang kami makan, penulis mencermatinya. Rupanya harga sepiring karupuak jariang balado Rp. 6000,- rupiah. Setelah membayar semua makanan, kamipun kembali ke kantor.

Dalam perjalanan, iseng-iseng penulis berkata: “mahal ya harga sepiring kerupuk jengkol tadi”.

Seorang teman menjawab dengan enteng: “Murah itu. Coba bayangkan kalo kita  yang memanjat pohon jengkolnya, kemudian kita rebus jengkolnya dan setelah itu kita sendiri yang menumbuknya”.

“Belum selesai itu, kita  juga yang harus menjemurnya sebelum digoreng dan diberi cabe”, demikian teman saya itu menambahkan komentarnya.

Penulispun manggut-manggut mengiyakan apa yang dikatakannya.

***

Cerita di atas hanyalah contoh kecil dimana seringkali tanpa disadari kita telah menganggap remeh jerih payah orang lain. Ketika membeli sesuatu apakah itu berupa makanan, pakaian, atau perlengkapan lainnya, seringkali kita menganggap harga yang ditawarkan terlalu mahal. Akibatnya kitapun merasa enggan untuk membelinya. Jika kita ”terpaksa” membelinya karena merupakan suatu kebutuhan, maka kita akan menawarnya dengan harga yang rendah.

Dalam menilai harga suatu barang/makanan, ada kecenderungan kita hanya memperhatikan produk jadinya saja. Kita sering menghiraukan bagaimana rumit dan sulitnya proses memproduksi barang tersebut. Adakalanya diperlukan waktu yang panjang dalam prosesnya. Kadang-kadang diperlukan juga keterampilan khusus dalam mengerjakannya, yang tidak semua orang memiliki keterampilan tersebut.

Memang, dalam jual beli kita diperbolehkan untuk mengadakan tawar menawar harga. Adalah sifat dasar manusia untuk dapat membeli barang dengan harga yang murah. Hal Itu bisa kita lihat dengan ramainya orang berbelanja ketika sebuah pusat perbelanjaan memberikan potongan harga. Namun, kurang bijak rasanya jika kita menawar dengan harga yang terlalu rendah. Seolah-olah kita kurang menghargai jerih payah dan usaha keras dari orang yang membuatnya.

Oleh sebab itu, mari kita menghargai hasil jerih payah mereka dengan menawar produk mereka dengan harga yang wajar. ®

Melati, 12 Januari 2010

2 Comments

    • menbaca tulisan anda mengigatkan kepada kakek saya.
      begini….
      kakek tidak pernah menawar ketika ada penjual kain sarung menawarkan barangnya, reaksi atas apa yang di lakukan kakek datang dari nenek, bapak, dan menantunya. yang lebih heran lagi si penjual juga meyarankan agar kakek juga menawar,
      wal hasil….
      setiap penjual kain saring tidak pernah lagi menjual dengan harga tinggi bahkan ia selalu memberikan harga spesial.
      dan …..
      “saya merasa kehilangan kakek, bukan karna ia sering membeli barang-barang dagangan saya, tpi karna ketulusannya” ujar pedagang saat mendengan perjelasan paman bahwa kakek dah meninggal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s