Dikotomi Keberadaan “Si Buah Hati”

Dikotomi Keberadaan “Si Buah Hati”


Baru-baru ini kita mendengar kasus penculikan bayi di Puskesmas Kembangan, Jakarta Barat. Adalah Suryani Indah Sari (34 th) yang menjadi tersangka dalam kasus ini. Suryani yang merupakan bidan kontrak yang baru bekerja 1,5 tahun di Puskesmas Kembangan tersebut melakukan penculikan terhadap bayi milik keluarga Murtanti. Hal ini dilakukannya pada saat ia tengah cuti dari pekerjaannya.

Suryani yang pernah hamil dan mengalami keguguran diduga melakukan penculikan dengan motif ingin memiliki anak. “Saya menculik sama sekali tidak ada niat untuk menjualnya. Tapi saya sungguh-sungguh ingin merawatnya, menjaganya, dan menyayanginya. Karena saya tidak memiliki anak”, demikian keterangannya saat ditanya oleh pihak yang berwajib. Suryani mengatakan sudah tiga tahun menikah dan belum juga dikaruniai anak. Suryani juga mengaku bahwa suami dan keluarganya tidak tahu menahu tentang kasus tersebut. (Detik.com)

Menyimak kasus penculikan diatas, kita bisa melihat begitu kuatnya keinginan seorang Suryani untuk memiliki anak. Sudah tiga tahun menikah dan belum juga dikaruniai anak, membuat Suryani kalap dan nekat menculik bayi milik orang lain. Apalagi sebelum melakukan penculikan tersebut Suryani sempat mengalami keguguran.

Hal yang bertentangan justru semarak terjadi belakangan ini. Sering kita baca di media cetak, atau kita lihat dan dengar di media elektronik kabar yang mengerikan tentang keberingasan orang tua yang membunuh anaknya. Salah satunya adalah kasus pembunuhan bayi oleh ibu kandungnya sendiri.

Adalah Sempuni, ibu dengan tiga orang anak yang tega melakukannya. Diduga karena desakan ekonomi, Semputi nekat membunuh anak kandungnya sendiri yang baru dilahirkannya. Perempuan asal Wonokerto, Kecamatan Gucialit, Lumajang itu kini menjadi tahanan Mapolsek Klakah.

Kasus pembunuhan terungkap setelah adanya laporan kepala desa wonokerto yang kehilangan salah satu warganya yang dalam kondisi hamil tua. Setelah melakukan pencarian, polisi menemukan Semputi di desa dusun Gunung Dulang Barat, Kecamatan klakah. Ketika ditanyai kehamilannya, Sempunipun mengakui bahwa dia telah membunuh bayinya tersebut pada tanggal 26 Desember 2009 di sungai dekat rumah kontrakkannya. Kemudian sang balitapun di kubur di belakang rumah. (DetikSurabaya)

Berbeda dengan kasus Suryani di atas yang begitu menginginkan keberadaan seorang anak di tengah keluarganya, Sempuni justru tidak menginginkan lagi kehadiran “buah hati” dalam keluarganya. Meskipun Suryani membunuh anaknya tersebut karena desakan ekonomi, tapi hal itu menyiratkan bahwa pada dasarnya ia memang tidak menghendaki kehadiran si bayi.

Dikotomi antara Suryani dengan kasus penculikan bayi, dan Sempuni dengan kasus pembunuhan bayi, sedikit banyak tentu akan menyita perhatian kita. Kedua kasus ini semakin menarik karena yang menjadi objeknya sama, yaitu kehadiran seorang bayi. Disatu sisi kehadiran bayi sangat di nanti-nantikan, di sisi lain justru sebaliknya. Bagi Suryani kehadiran seorang bayi adalah berkah yang sangat ditunggu, namun bagi Sempuni merupakan suatu beban yang akan dipikul.

Setidaknya ada tiga hal yang menjadi perhatian penulis sekaligus pelajaran bagi kita semua berkaitan dengan dikotomi dua kasus diatas. Pertama, kurangnya rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan. Hal ini terjadi karena kita terlalu memikirkan apa yang tidak kita miliki ketimbang apa yang telah kita miliki. Suryani terlalu memikirkan kehadiran seorang anak dalam keluarganya, sehingga ia lupa bahwa ia telah memiliki nikmat dalam bentuk yang lain. Sedangkan sempuni terlalu memikirkan bagaimana kehidupan keluarganya nanti setelah kelahiran si bayi. Ia lupa bersyukur atas berkah yang diberikan oleh Tuhan berupa anak, dimana tidak semua keluarga bisa mendapatkannya.

Kedua, paradigma berpikir yang sempit. Menurut penulis, baik Suryani maupun Sempuni memiliki kerangka berpikir yang sempit. Kenapa penulis berpendapat demikian? Kasus penculikan bayi yang dilakukan oleh Suryani sebenarnya tidak perlu terjadi jika saja dia berpikir lebih luas. Belum adanya si buah hati dalam keluarga, sebenarnya bisa disikapi dengan lebih bijak. Disamping berusaha terus untuk berobat, dia dan suaminya bisa juga mengadopsi seorang anak. Anak ini bisa berasal dari keluarga besar, bisa juga diadopsi dari panti asuhan atau rumah sakit. Barangkali hal inilah yang dilakukan oleh keluarga-keluarga lain yang belum juga dikaruniai anak.

Demikian juga kasus Sempuni. Dia tentu tidak akan membunuh bayinya, jika saja ia tidak berpikiran sempit. Dia hanya memikirkan bagaimana susahnya nanti ekonomi keluarganya setelah kelahiran anak keempatnya ini. Padahal setiap kelahiran seorang anak akan membawa berkah bagi orangtuanya. Bukankah Tuhan menjamin rezki setiap makhluk yang diciptakannya? Meskipun nanti ekonomi keluarganya morat-marit, anak yang dilahirkannya tersebut bisa saja dibesarkan oleh keluarganya yang lain. Setidaknya ia bisa menitipkan anaknya kelak di panti asuhan supaya bisa diadopsi oleh keluarga lain yang tidak memiliki anak.

Ketiga, kurangnya komunikasi dan dukungan dari keluarga. Hal ini bisa kita lihat dari kejadian dua kasus di atas. Suryani mengaku bahwa apa yang telah dilakukannya, tidak diketahui oleh suami dan keluarganya. Sedangkan Sempuni menghilang dari rumahnya ketika ia sedang hamil besar. Keluargapun tidak mengetahui keberadaannya sebelum kasus menghilangnya dilaporkan oleh kepala desa ke kepolisian setempat.

Dikotomi kasus keberadaan si buah hati ini, memang terasa menyakitkan bagi sebagian kita. Apalagi yang menjadi objek adalah bayi yang tidak berdosa. Semoga kita semua mau dan mampu belajar dari dikotomi kasus ini, sehingga kedepan kita tidak lagi mendengar kasus-kasus seperti ini.

*****

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s