Antara Baju Sapatagak dan Kebesaran hati

sebuah cerpen perdanaku…

Antara Baju Sapatagak dan Kebesaran hati

Oleh: Yusrizal firzal

Siang itu udara terasa panas. Teriknya sinar mentari serasa hendak membakar kulit ini. Malas rasanya keluar rumah. Kalau saja tidak ada undangan baralek, mungkin Aku tidak akan keluar rumah. Mendingan membaca buku atau online daripada kepanasan di luar. Apalagi yang mengundang ini adalah bakoku. Seandainya saja bulan ini bukan bagian dari musim penghujan, mungkin aku akan berpikir untuk berangkat agak sorean. Belakangan ini, cuaca cepat berubah. Langit bisa saja mendadak gabak di siang menjelang sore, meskipun paginya cewang kelihatan di langit.

Aku bersama isteri dan anakku telah siap untuk berangkat. Amplop sudah diisi, termasuk amplop titipan da Yud, kakakku yang sekarang merantau di Muaro Bungo, Jambi. Tidak jauh-jauh amat sih, tapi karena baru dua minggu kemarin pulang ke Padang, jadi dia memutuskan untuk tidak pulang dan hanya menitipkan amplopnya kepadaku.

Yang baralek ini adalah keluarga kakak ayahku. Yang menjadi Anak Daro adalah Reno, putri bungsunya. Sedangkan Marapulainya, Aku lupa namanya. Apalagi nama keluarganya, sama sekali aku tak tahu. Yang Aku ingat pekerjaannya sebagai satpam di salah satu rumah sakit di kota Padang. Ya, hanya itu yang Aku ingat. Padahal sewaktu kakak ayahku itu datang ke rumahku untuk mengundang, dia banyak bercerita tentang calon minantunya itu.

***

“Lah siap Ai? Capeklah pai awak lai. Beko hangek bana hari lai”, kataku memanggil isteriku dari luar.

“Tunggu sabanta da. Ai mancek kompor dulu ko ha”. Begitu jawabnya dari dalam rumah. Sebenarnya namanya Firdawati dan biasa dipanggil Wat. Namun karena ke dirinya dia biasa menggunakan Ai, maka jadilah panggilannya Ai. Orang sekomplekpun memanggilnya Ai.

Utiah, begitu kami biasa memanggilnya adalah kakak perempuan dari ayahku. Dia memiliki satu orang anak laki-laki dan empat orang anak perempuan. Anaknya yang pertama perempuan. Yusna namanya. Sampai sekarang dia belum menikah. Begitu juga dengan Arman, anak kedua sekaligus satu-satunya anak laki-lakinya. Arman ini sedikit kuper. Ia lebih senang tinggal di dalam rumah, dibanding bergaul dengan teman-teman sebayanya. Setiap ada acara keluarga, dia tidak pernah kelihatan. Selalu saja berdiam dalam kamarnya. Entah apa kegiatannya dalam kamarnya tersebut. Namun satu hal positif darinya adalah setiap kali azan berkumandang di masjid dekat rumahnya, dia selalu bergegas untuk memenuhi kewajiban sholatnya.

Anak ketiga utiah bernama Eti. Saat ini ia telah berkeluarga dan memiliki dua putri kecil yang manis dan imut. Dibawah Eti, ada Yet. Dia juga telah berkeluarga dan memiliki satu orang putri. Meskipun Eti lebih tua, namun Yet lah yang pertama baralek dalam keluarga besar utiah. Kemudian Reno, sibungsu yang menjadi Anak daro dalam alek yang akan kami turuik.

***

Sebo sudah terpasang di kepala, kacamata hitam juga sudah terpasang di tempatnya, sebagai tanda bahwa anakku sudah siap untuk berangkat.

“Ayah, buliah abang baok bukuko”? Begitu tanya Habib anakku yang baru berumur dua setengah tahun. Sejak kecil Aku memang membiasakan dirinya dengan buku. Semoga dia  memiliki hobi membaca ketika besar nanti.

Sambil menganggukkan kepala, Aku mengangkatnya ke atas jok sepeda motorku. Isteriku juga telah selesai dengan “pemeriksaan singkat”nya. Setelah mengunci pintu dan jendela, Kamipun berangkat menuju tempat pesta.

Aku masih ingat cerita Ayah tentang keluarga Utiah. Dulunya, Yusna anak tertua tidak mau dilangkahi menikah oleh adik-adiknya. Takut dengan pameo orang Minang. Ada sebuah pameo di Minang, kalau adik menikah terlebih dahulu sebelum kakaknya, maka sang kakak akan sulit mendapat jodoh. Jika kakak yang dilangkahi adalah laki-laki, tidak begitu masalah. Namun akan jadi masalah jika kakaknya perempuan. Barangkali itulah yang menyebabkan Arman, tidak terlalu mempermasalahkannya. Apalagi dia memang tidak peduli dengan acara apapun di sekitarnya.

Namun entah mengapa belakangan sikap Yusna menjadi melunak. Dia mau saja dilangkahi menikah oleh adik-adiknya, berturut-turut. Mulai dari Yet yang juga melangkahi Eti, disusul oleh Eti yang menikah beberapa tahun kemudian. Dan sekarang, giliran sibungsu.

Bisa saja ini terjadi karena desakan dari keluarga besar bakoku, termasuk ayahku sebagai mamak, yang tidak ingin semua keluarga utiah gagal menikah karena sikap keras kepala Yusna yang tidak mau “dilangkahi”. Atau memang atas kesadaran dan kebesaran hatinya. Melihat dirinya yang belum juga ada jodoh, dan adik-adiknya yang juga sudah memasuki usia yang pantas untuk menikah, membuka pintu hatinya untuk mau “dilangkahi”.

***

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya kami sampai di tempat pesta. Kami disambut oleh Pak Etek, suami utiah dan salah seorang minantunya. Utiah tidak kelihatan, barangkali lagi sibuk di dalam untuk persiapan manjapuik marapulai. Setelah sedikit berbasa-basi, sambil isteri mengisi buku tamu dan memasukkan amplop ke rumah adat, kamipun dipersilahkan makan.

Aku terpaksa bergantian mengambil makanan dengan isteri, karena Habib terlanjur rewel dan tidak mau turun dari gendonganku. Ahh.. biasalah anak-anak. Barangkali karena kepanasan di atas motor, atau matanya yang sudah mengantuk. Namun kerewelannya berhenti ketika disuguhi permen oleh istriku.

“Makasih yo Nda”! begitu jawabnya polos. Senang sekali rasanya hati ini, mendengar ucapannya. Setelah mendapatkan permen dari bundanya, Habibpun mau disuruh duduk dekat bundanya yang sedang makan. Giliran Aku yang mengambil makanan.

Aku melihat kesekeliling, tamu yang datang belum banyak. Hanya beberapa meja saja yang nampaknya telah terisi. Memang kalau jam-jam begini, biasanya tamu yang datang ke pesta perkawinan belumlah banyak. Biasanya akan membludak setelah sholat Zhuhur. Entah karena kebiasaan, atau karena para tamu tersebut sudah janjian sebelumnya. Namun yang pasti, waktu itu memang merupakan jam makan siang yang pas.

Di depan rumah, Aku lihat utiah sedang berbincang dengan seorang sumandan yang orangnya aku kenal. Dia adalah anak bungsu dari kakak laki-laki ayahku yang sudah lama meninggal. Dia baru saja baralek beberapa bulan yang lalu. Benar perkiraanku, rupanya utiah lagi sibuk mengurusi mereka yang akan manjapuik marapulai.

Pandangan mataku kemudian tertuju kepada sosok seseorang yang sedang mondar-mandir keluar masuk rumah. Dia begitu sibuk. Kadang mengantar makanan dari dalam rumah ke atas meja presediner, tempat makanan tamu. Sesekali dia juga terlihat mengerjakan hal yang lain. Dialah Yusna, anak tertua dari utiah. Dilihat dari sibuknya dia mengurusi pesta perkawinan adik bungsunya, tidak kelihatan dia enggan dengan pernikahan adiknya. Dia kelihatan begitu bersemangat untuk maabehan alek.

Aku jadi berpikir, barangkali karena alasan yang kedua dia mau dilangkahi menikah oleh adik-adiknya. Ya… kebesaran hati seorang kakak. Barangkali karena dia tidak mau adik-adiknya bernasib sama seperti dirinya menjadi perawan tua. Dia mungkin menyadari kalau dia tidak memberi izin kepada adiknya, adiknya juga akan bernasib sama dengan dia. Padahal adiknya sudah punya jodoh, sedangkan dia belum ada.

Selesai makan, Akupun mengajak istri dan anakku untuk masuk ke dalam rumah, untuk memberi selamat kepada Anak daro yang masih sendiri, karena Marapulai masih dijemput ke rumah orang tuanya.

Setelah menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan keluarga bakoku yang lain, kamipun pamit untuk pulang. Aku pun bersalaman dengan utiah, pak Etek, anak dan menantunya. Hanya Yusna yang tidak kusalami, karena Aku memang tidak melihat dia. Barangkali dia lagi sibuk di dapur mengurusi makanan untuk para tamu.

***

Sudah tiga kali Yusna dilangkahi oleh adik-adiknya. Artinya sudah tiga kali juga dia sepatutnya mendapatkan baju sapatagak. Tradisi Minang mengajarkan kalau ada seorang adik yang melangkahi kakaknya untuk menikah, maka dia harus membelikan baju sapatagak untuk kakaknya tersebut.

Ahh… aku tidak mau memikirkan hal itu. Dapat atau tidaknya Yusna baju sapatagak, bukanlah urusanku. Tapi satu hal yang aku ambil pelajaran dari Yusna, yaitu kebesaran hati. Ya… kebesaran hati seorang kakak untuk mau dilangkahi oleh adiknya untuk menikah. Kebesaran hati untuk siap menjadi bahan pembicaraan orang lain. Kebesaran hati untuk bermain dan mengasuh anak-anak dari adik-adiknya.

Aku hanya bisa berdoa, semoga Anis mendapatkan jodoh yang cocok secepatnya. Amin…

Kamipun berlalu ditengah teriknya matahari yang serasa membakar kulit ini.

***

Melati, 10 Januari 2010

Penulis adalah penikmat sastra dan

Staf ADM di FBSS Universitas Negeri Padang

Cerpen ini dimuat di Harian Haluan Edisi Minggu, 2 Mei 2010

Keterangan:

Baju Sapatagak: Satu stel pakaian lengkap hingga sepatu sebagai denda melangkahi kakak untuk menikah, dimana si kakak belum menikah.

Baralek: Pesta pernikahan

Bako: Keluarga dari pihak ayah

Gabak: Awan hitam sebagai tanda hari akan hujan

Cewang: awan putih tipis sebagai tanda hari cerah

Minantu: Menantu

Anak daro: Mempelai wanita

Marapulai: Mempelai pria

Manjapuik Marapulai: salah satu acara adat di Minangkabau, dimana mempelai pria dijemput dari rumah orang tuanya.

Rumah adat: sebuah kotak yang berbentuk rumah adat Minangkabau, sebagai tempat untuk tamu yang membawa amplop untuk tuan rumah yang punya pesta

Sumandan: pengiring kedua mempelai yang biasanya berjumlah empat orang. Dua orang dari pihak mempelai wanita, dan dua orang dari pihak mempelai pria

Maabehan alek: mengurusi pesta sampai selesai

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s