Etika Pansus Century dan Persepsi Masyarakat

Etika Pansus Century dan Persepsi Masyarakat

Etika Pansus Bank Century dipertanyakan, kenapa demikian? Setidaknya hal ini bisa kita lihat dari  tanggapan berbagai kalangan. Mantan Ketua Pimpinan Muhammadiyah Ahmad Syafi’i Maarif berpendapat bahwa cara Pansus Century dalam memeriksa saksi-saksi tidaklah beretika. “Mereka kan saksi, bukan pesakitan. Harusnya sebagai saksi (Pansus) menggali sebanyak-banyaknya, bukan semacam diinterogasi seperti itu,” demikian katanya. Dia juga menyayangkan cara anggota Pansus memberikan pertanyaan kepada saksi yang terkesan mendebat saksi. Bahkan di antara anggota Pansus juga terjadi perdebatan satu sama lain dalam pemeriksaan itu. (kompas.com)

Senada dengan Syafi’i Maarif, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD berpendapat bahwa dalam pemeriksaan pejabat-pejabat yang diundang untuk memberikan penjelasan, Pansus perlu mengedepankan etika. “Terkait proses yang terjadi di Pansus DPR, anggota dewan seharusnya memahami posisi pejabat yang diundang. Mereka yang hadir di rapat Pansus seperti wakil presiden, tidak seharusnya diperlakukan sebagai terdakwa”, demikian tanggapannya. Lebih lanjut dia mengatakan presiden dan wakil presiden adalah simbol negara, maka perlakuan kepada mereka juga harus memperhatikan etika bernegara. Anggota dewan hendaknya tidak terjebak dalam perilaku politik yang tidak etis.(ANTARA News)

Bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)pun merasa kecewa dengan etika Pansus Century ini. Kekecewaan presiden tersebut disampaikannya di sela-sela rapat paripurna dengan para menteri yang membahas 75 hari kinerja pemerintahan.

Usai rapat paripurna tersebut, Menkominfo Tifatul Sembiring mengatakan: “Hal lain yang disampaikan oleh Presiden adalah mengenai etika dan akhlak di dalam pansus. Beliau prihatin sekali terhadap perkembangan dan perilaku beberapa anggota pansus yang kurang etis bertanya dan sebagainya.”

“Orang-orang yang dipanggil itu bukan tersangka. Di pengadilan pun ketika seorang ditanya ada tata kramanya, kalau ditanya itu diselesaikan dulu jawabannya, ini seolah-olah ada seseorang yang jadi terdakwa dengan 20 hakim lebih. Baru dijawab sudah dicecar lagi, padahal belum selesai,” demikian Tifatul menambahkan. (Detiknews.com)

Sebagaimana yang telah kita ketahui, Pansus Century ini telah melakukan pemanggilan terhadap sejumlah pejabat tinggi seperti Pimpinan PPATK, Pimpinan BPK, Pimpinan BI termasuk Budiono yang sekarang ini menjabat Wakil Presiden, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Raden Pardede, Marsilam Simajuntak serta sejumlah pejabat tinggi lainnya. Pemanggilan ini terkait dengan kasus pengucuran dana talangan Rp. 6,7 triliun untuk Bank Century.

Masalah etika Pansus Century ini memang sempat menghangat beberapa waktu yang lalu. Tanggapan atas etika Pansus Century ini tidak hanya terjadi di kalangan pejabat atau politisi semata. Pro dan kontra terhadap Pansuspun terjadi di masyarakat luas. Hal ini bisa kita lihat dari berbagai tanggapan dan pendapat masyarakat di berbagai media online.

“Saya sebagai orang awam, sangat prihatin lihat tingkah laku para wakil rakyat di sidang-sidang Pansus Century. Saya himbau agar para wakil rakyat lebih intelek dalam bersikap, berbicara, maupun berperilaku. Kalian orang beragama, bukan orang-orang kafir, ingat pepatah ‘mulutmu adalah harimaumu’ salam,” demikian salah satu tanggapan dari masyarakat.

Beragamnya komentar masyarakat melalui media on line, menyiratkan bahwa pada dasarnya masyarakat memiliki persepsi yang berbeda dalam menyikapi suatu permasalahan. Persepsi itu sendiri dapat diartikan sebagai proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur, dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti. (Kotler:2000).

Setidaknya ada empat faktor yang mempengaruhi seseorang dalam mempersepsi suatu hal, yaitu : Pertama, Kebutuhan. Seseorang cenderung mempersepsikan sesuatu berdasarkan kebutuhannya pada saat ia menerima dan menginterpretasikan sebuah informasi. Seseorang dapat saja bersikap skeptis terhadap suatu permasalahan, jika dia melihat masalah tersebut tidak berhubungan dengan pemenuhan kebutuhannya.

Kedua, pengalaman masa lalu. Sebagai hasil dari proses belajar, pengalaman akan sangat mempengaruhi seseorang dalam mempersepsikan sesuatu. Dalam melihat sebuah permasalahan, seseorang cenderung untuk menyikapinya dengan pengalamannya ketika menghadapi permasalahan yang relatif sama di masa lalunya.

Ketiga, Emosi. Bagaimana keadaan emosi seseorang akan mempengaruhinya dalam menerima dan mengolah informasi yang ada. Penulis buku Kecerdasan Emosional, Daniel Goleman mengemukakan bahwa emosi merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Adanya perasaan amarah, kesedihan, rasa takut, jengkel, malu, terkejut dan lain sebagainya, akan mempengaruhi seseorang dalam menerima dan menginterpretasi suatu permasalahan

Keempat, Impresi. Dalam KBBI impresi berarti efek atau pengaruh yang dalam terhadap pikiran atau perasaan. Adanya Stimulus yang salient / menonjol akan lebih dahulu mempengaruhi persepsi seseorang. Itulah sebabnya seseorang yang di tuduh melakukan suatu kejahatan, sering menggunakan media massa baik cetak atau elektronik untuk mengklarifikasi permasalahannya tersebut untuk “menggiring” opini publik.

Terlepas dari pro dan kontra terhadap Pansus Century tersebut, barangkali kita semua sepakat untuk mendahulukan etika dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Dengan menggunakan etika, semua yang terlibat dalam suatu permasalahan akan merasa di hargai dan dihormati. Permasalahanpun akan dapat diselesaikan dengan lebih baik. Kedepan kita berharap Dinas pendidikan lebih memperhatikan pendidikan etika bagi peserta didik. Dengan demikian kita bisa berharap bangsa dan negara ini akan dipimpin oleh generasi yang beretika di kemudian hari.

***

4 Comments

  1. Kalo di dewan yang terhormat etikanya begitu, berarti itulah cerminan bangsa. Tentu tidak mungkin disalahkan mahasiswa atau demo dengan cara yang keras dan anarkis. toh dewan terhormat juga mempertontonkan hal yang sama.
    Selain itu pola ancam-mengancam juga dipertontonkan, supaya semua sesuai keinginan penguasa.
    Semoga kebenaran tetap terungkap, walaupun terancam tanpa jabatan.

    H. A. Sutan Zainuddin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s