Menanti Kejujuran Pelaksanaan Ujian Nasional

Menanti Kejujuran Pelaksanaan Ujian Nasional

Alkisah, di Tiongkok kuno ada sebuah kerajaan yang besar dan makmur. Kerajaan ini dipimpin oleh Raja yang adil dan bijaksana. Seluruh rakyatnya sangat mencintainya. Namun sayangnya, Raja ini tidak dikaruniai seorang putera mahkota.

Setelah dibicarakan dengan perdana menterinya, maka Raja bermaksud untuk mengadakan sayembara untuk mencari penerus tahtanya. Segera semua rakyatnya dikumpulkan di istana untuk memberitahukan perihal sayembara tersebut.

“Besok pukul 10 pagi saya akan memberikan kepada setiap anak di seluruh negeri satu biji bunga. Barang siapa yang bisa menghasilkan bunga paling indah, maka saya akan mendidiknya untuk menjadi putera mahkota kerajaan ini. Kelak dialah yang akan menggantikanku,” demikian titah sang Raja. Rakyatpun kembali ke rumahnya masing masing dan tidak sabar menunggu datangnya hari esok.

Keesokan harinya orang tua yang membawa anak-anaknya telah berkumpul di lapangan istana. Tepat pukul 10 pagi, setiap anak bergilir naik ke podium untuk menerima masing-masing biji bunga dari Raja. Setelah selesai membagikan biji bunga tersebut, raja kemudian berkata: “Dua bulan lagi bawalah bunga ini ke istana, siapa yang paling indah dialah pemenangnya.”

Tepat dua bulan pada hari yang telah ditentukan, tibalah saatnya pemilihan bunga yang paling indah. Anak-anak dari pelosok negeri sudah berbaris rapi di depan istana sambil membawa pot berisi bunga beraneka macam warna yang indah bentuknya. Melihat begitu banyaknya bunga yang indah, perdana menteri berpikir bahwa raja akan kesulitan menentukan pemenangnya.

Tetapi Raja tidak begitu berminat dengan membandingkan bunga mana yang terindah. Raja terus saja berjalan mengitari anak-anak tersebut sambil bergumam sesekali. Saat itulah datang seorang anak yang ditemani ibunya. Dia hanya membawa pot yang berisi tanah. Ketika raja mendatangi anak tersebut, dia menanyakan alasan dia terlambat dan mengapa hanya pot yang berisi yang dibawanya.

“Mohon maaf baginda Raja, hamba terlambat karena ragu-ragu untuk menunjukkan biji bunga milik hamba yang tidak bisa bertunas dan tumbuh seperti milik teman-teman lainnya. Padahal hamba sudah merawatnya setiap hari. Sebenarnya hamba tidak ingin hadir disini, namun karena dorongan ibu hamba, akhirnya hamba memutuskan untuk hadir. Inilah hasil hamba selama dua bulan ini,” begitu jawab si anak sambil menyodorkan pot berisi tanah kepada Raja.

Mendengar jawaban anak tersebut, banyak orang menertawainya, namun Raja justru tersenyum puas dan berkata: “Tadi setelah melihat bunga-bunga ini saya mengira bakal gagal menemukan penggantiku. Tapi ternyata sekarang saya telah menemukannya”.

“Tapi bukankah Baginda Raja mengatakan akan memilih siapa yang bisa menghasilkan bunga yang paling indah?”, sahut beberapa orang tua disana.

Raja tersebut tertawa dan berkata: “Memang benar saya telah berkata begitu, tetapi itu hanyalah untuk menguji calon penerusku. Mana bisa menentukan penerus kerajaan hanya dengan menggunakan sayembara bunga terindah seperti ini. Yang saya cari dalam sayembara ini adalah kejujuran hati. Sesungguhnya biji-biji bunga tersebut telah saya rebus terlebih dahulu. Jadi mana mungkin dapat bertunas dan berbunga. Hanya anak inilah yang benar-benar menunjukkan hasil dari biji bungaku dulu. Jadi bukankah dia anak yang paling jujur dan dapat dipercaya? Bukankah pantas jika dia yang akan menjadi penerus tahta kerajaan ini?”

Cerita diatas barangkali pernah kita baca dan dengar. Bahkan mungkin sering kita bacakan sebagai dongeng sebelum tidur buat anak-anak. Atau waktu dulu orang tua yang membacakannya untuk kita sebelum tidur. Memang, membaca atau mendengar cerita dongeng merupakan suatu hal yang mengasyikkan sekaligus merupakan ajang edukasi yang menyenangkan bagi anak-anak. Dan cerita diatas mengedukasi anak-anak kita untuk memiliki sikap jujur dalam kehidupan sehari-hari.

Lantas bagaimana dengan dunia pendidikan kita sekarang ini? Sudahkah lembaga pendidikan formal seperti TK dan SD sebagai lembaga pendidikan dasar; serta SMP dan SMU/SMK sebagai lembaga pendidikan menengah mengedepankan pendidikan kejujuran bagi peserta didik?

Secara eksplisit, barangkali kita tidak akan menemukan mata pelajaran pendidikan kejujuran di kurikulum sekolah. Namun secara implisit pendidikan kejujuran itu diintegrasikan ke dalam mata pelajaran lain seperti PPKN dan Agama. Syukur-syukur kalau disekolah tersebut ada mata pelajaran Budi Pekerti.

Kita tentu patut menghargai jasa guru-guru yang dalam proses belajar mengajar tidak saja mengedepankan ranah kognitif dan psikomotorik saja. Lebih dari itu, kita berharap guru-guru juga menekankan ranah afektif dalam proses belajar mengajar. Meskipun mata pelajaran yang diajarkan Matematika, Fisika, atau Bahasa, namun guru diharapkan juga memasukkan nilai-nilai afektif dalam mata pelajaran tersebut. Dan salah satu nilai-nilai afektif tersebut adalah kejujuran.

Namun semenjak adanya Ujian Nasional, yang menjadi dasar kelulusan bagi peserta didik, nilai kejujuran ini semakin diabaikan. Setiap pelaksanaan UN, sekolah akan berusaha meluluskan peserta didiknya sebanyak mungkin. Bahkan kalau bisa mencapai seratus persen. Untuk mencapai kelulusan berbagai usahapun dilakukan. Guru-guru yang tidak mengawas sewaktu ujian disuruh datang ke sekolah untuk membantu siswa dalam menjawab pertanyaan yang ada dalam UN. Siswa yang pandai diminta untuk membantu teman-temannya yang lain dalam menjawab soal.

Apapun bentuk pelanggaran dan penyelewengan terhadap pelaksanaan UN, yang jelas hal tersebut telah mencederai pendidikan kejujuran bagi peserta didik. Dunia pendidikan yang seharusnya mendidik peserta didik untuk bersikap jujur, justru menjadi ajang untuk mendidik mereka untuk tidak jujur. Pelaksanaan UN yang hanya beberapa hari, mampu merusak kejujuran siswa yang telah dididik bertahun-tahuin.

Kedepan kita berharap pemerintah mau mempertimbangkan kembali UN sebagai syarat kelulusan siswa. UN boleh tetap diadakan, namun hanya sekedar untuk melihat standar pendidikan di suatu daerah. Untuk standar kelulusannya, serahkan kembali kepada guru dan sekolah. Karena pihak inilah yang lebih mengetahui layak atau tidaknya peserta didik mereka lulus ujian. Dengan demikian diharapkan tidak lagi ada kecurangan yang “sistemik” dalam pelaksanaan ujian nasional. Dan kita bisa berharap kejujuran dalam diri peserta didik bisa tumbuh subur, untuk masa depan yang lebih baik.

***

1 Comment

  1. Penetapan UN sebagai standar kelulusan dengan alasan untuk menyama ratakan standar pendidikan, belum siap untuk diterapkan di Indonesia, dikarenakan fasilitas pendidikan belum dapat dirasakan secara merata oleh seluruh anak didik,selain itu alasan ekonomi juga menjadi masalah yang tidak dapat dipandang sebelah mata.

    Coba lihat kasus ini:
    Anak didik dengan kemampuan ekonomi terbatas yang sehari-harinya tidak dapat belajar secara maksimal dikarenakan tidak mampu sekolah di sekolah favorit, bahkan mungkin mereka tidak mempunyai waktu yang cukup untuk belajar dikarenakan harus membantu orang tuanya mencari nafkah. Bayangkan jika mereka disuruh bersaing dalam sebuah standar Ujian Negara dengan anak didik dari keluarga tingkat ekonomi atas yang dapat sekolah di tempat favorit, punya waktu belajar yang cukup, bahkan mendapat pendidikan non formal lainnya.

    Melihat contoh kasus di atas, mungkin seharusnya kita bertanya, masuk akalkah itu? Apakah Standar Kelulusan hanya didasarkan beberapa bidang studi UN semata? Lalu bagaimana dengan bidang studi lainnya? Atau mungkin ada tujuan lain dari sekedar menyama ratakan standar pendidikan di Indonesia melalui UN. Beberapa orang bahkan menyebutkan ini cuma “proyek” lain dari pemerintah di dunia pendidikan, karena sudah menjadi rahasia umum praktek kecurangan masih berjalan dengan indahnya pada penyelenggaraan UN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s