Konflik Kepentingan: Koalisi Pecah, dan Oposisi Merapat

Konflik Kepentingan: Koalisi Pecah, dan Oposisi Merapat

Oleh: Yusrizal

Dinamika dunia politik di Indonesia terus saja berlangsung. Hal ini tidak terlepas dari skandal bailout Bank Century sebesar 6,7 triliun yang ditenggarai terdapat pelanggaran hukum di dalamnya. Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)pun bereaksi. Dengan menggunakan hak angketnya, DPR membentuk panitia khusus (Pansus) untuk mencari fakta dan data sehubungan dengan bailout tersebut.

Hasilnya sudah kita ketahui bersama. 7 dari 9 fraksi yang ada di Pansus Century memang menemukan pelanggaran hukum dalam bailout Bank Century, sedangkan 2 fraksi lainnya menyatakan bahwa bailout tersebut sudah benar. Menariknya, dari 7 fraksi yang menemukan adanya pelanggaran tersebut, 4 fraksi merupakan koalisi pemerintahan SBY-Budiono.

Jika kita kilas balik kebelakang, dari hasil pemilu Legislatif yang lalu, ditingkat DPR pusat hanya 9 partai yang memiliki fraksi di DPR, yaitu, Demokrat, Golkar, PDIP, PKS, PAN, PPP, PKB, Gerindra dan Hanura. Demokrat sebagai pemenang pemilu legislatif, menggandeng PKS, PAN, PPP dan PKB mengusung SBY-Budiono sebagai capres dan cawapres waktu itu. Golkar dan Hanura mengusung JK-Wiranto pasangan capres dan cawapres serta PDIP dan Gerindra yang mengusung Megawati-Prabowo sebagai capres dan cawapres.

Hasilnya, SBY-Budiono menang dalam pilpres satu putaran waktu itu. Koalisi partaipun dibentuk, guna memuluskan kebijakan pemerintah mendatang di DPR. Peta perpolitikanpun berubah. Golkar yang memang sejak dulu tidak pernah berada di luar pemerintahan, memilih merapat demokrat untuk mendapatkan kursi di kabinet. Sejak saat itu terbentuk dua kubu, koalisi yang terdiri atas Demokrat, Golkar, PKS, PAN, PPP dan PKB; dan opisisi yang terdiri dari PDIP, Gerindra dan Hanura.

Namun sejalan dengan merebaknya kasus Bank Century, yang ditandai dengan pandangan akhir dan rekomendasi pansus yang disertai dengan lobi-lobi yang alot, tidak menutup kemungkinan adanya perubahan peta koalisi dan oposisi.

Sikap keras yang ditunjukkan oleh Golkar dan PKS dalam pansus terutama penyebutan nama Wapres Budiono (waktu itu gubernur BI) dan Sri Mulyani (Ketua KSSK) sebagai orang yang terlibat dan bertanggung jawab, ketika pembacaan pandangan akhir fraksi di pansus, tak pelak membawa pengaruh dalam koalisi. Golkar dan PKS terancam diusir dari koalisi.

Sedangkan dua partai lainnya, PAN dan PPP, yang sebelumnya juga keras dalam pandangan awalnya, mulai melunak ketika pandangan akhir. Kedua partai ini tidak menyebutkan nama orang yang bertanggung jawab terhadap bailout tersebut. PAN dan PPP hanya menyebutkan lembaga yang harus bertanggung jawab. Meskipun tidak menyebutkan nama, namun tetap saja mengarah kepada kedua nama diatas.

Adapun Demokrat dan PKB dari awal memang telah menyatakan bahwa bailout Bank Century tidak melanggar hukum. Demokrat sebagai partai pemerintah, tentu akan berusaha untuk melindungi Wapres Budiono dan Menkeu Sri Mulyani terkait bailout tersebut. Bagaimana dengan PKB? Partai yang satu ini memang merupakan partai yang setia dengan Demokrat dan SBY. Partai yang memilih untuk tidak “neko-neko” dalam pansus. Tidak salah Ruhut Sitompul mengiming-imingkan “hadiah” bagi PKB jika seandainya nanti terjadi resuffle kabinet.

Konflik Kepentingan: Koalisi Pecah, dan Oposisi Merapat

Dari fenomena-fenomena politik yang berjalan sekarang ini, memang tidak menutup kemungkinan koalisi akan pecah. Sikap PKS dan Golkar yang tetap konsisten terhadap temuan pelanggaran hukum dalam bailout Bank Century, merupakan celah untuk pecahnya koalisi. Dari awal PKS dan Golkar tetap berprinsip bahwa koalisi dijalankan untuk mendukung kebijakan pemerintah, namun tidak ada koalisi dalam pelanggaran hukum.

Bagaimana dengan partai oposisi? Adakah kemungkinan partai oposisi ini akan merapat ke pemerintah? Agaknya kemungkinan itu ada. Berawal dari pertemuan Presiden SBY dengan Prabowo beberapa waktu lalu, mengindikasikan adanya kemungkinan bagi Gerindra untuk masuk ke dalam koalisi.

Sinyal mengenai kemungkinan merapatnya oposisi juga dikemukakan oleh Ruhut Sitompul, anggota pansus dari Demokrat. Ruhut yang pernah dikritik karena etika yang kurang baik dalam pansus mengatakan bahwa tidak tertutup kemungkinan untuk PDIP, Gerindra dan Hanura untuk bergabung ke koalisi.

Adanya kemungkinan pecahnya koalisi yang dibentuk oleh Demokrat, serta terbukanya pintu bagi partai oposisi untuk bergabung ke koalisi, mengisyaratkan dinamika perkembangan politik di tanah air dapat berubah 180 derajat. Koalisi merupakan gabungan dari partai-partai politik yang nantinya akan mendukung kebijakan pemerintahan di tingkat parlemen, sedangkan oposisi merupakan partai-partai yang berada di luar pemerintahan yang biasanya berfungsi mengontrol kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Dan partai politik, mesti mengambil salah satu diantara keduanya.

Koalisi biasanya terbentuk karena adanya persamaan tujuan dan kepentingan suatu partai politik yang ditandai dengan deal-deal yang disepakati bersama. Deal-deal politik inilah yang menjadi pengikat suatu partai untuk berkoalisi dengan partai lain. Namun ketika suatu partai tidak lagi menaati deal-deal politik yang disepakati, maka partai tersebut dapat keluar atau dikeluarkan dari koalisi. Selain itu, ketika tujuan dan kepentingan suatu partai tidak lagi terakomodasi dalam koalisi, maka partai tersebut bisa juga keluar atau dikeluarkan dari koalisi.

Konflik kepentingan inilah yang sedang dialami oleh koalisi partai-partai pendukung pemerintahan SBY-Budiono. Apakah PKS dan Golkar akan keluar dari koalisi? Atau justru PDIP, Gerindra dan Hanura yang akan merapat ke koalisi? Barangkali semua akan terjawab setelah rapat paripurna DPR tanggal 2 Maret mendatang.

***

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s