Si Malin

Ini merupakan cerpen kedua yang kutulis… semoga lebih baik dari yang pertama.

Si Malin

cerpen by Yusrizal

Pagi itu, Malin masih saja terpaku di kursi bambu depan rumahnya. Ditemani secangkir cappuccino hangat dan sepiring kue bolu buatan isterinya. Dia terus saja memandang ke sepeda motornya, yang kondisinya cukup memperhatinkan.

Tutup rantai yang terpaksa dibuka karena selalu mengeluarkan suara gaduh beradu dengan rantai. Kedudukannya tidak lagi pas. Baut-baut kap depan sudah banyak yang lepas. Tutup bodi samping kiri dan kananpun telah patah. Meskipun masih terpasang, namun akan berayun ketika melewati jalan yang tidak rata.

Sesaat kemudian, diminumnya cappuccino barang seteguk dan diraihnya sepotong kue. Dia lalu berdiri mendekati motor yang hampir delapan tahun lamanya mengantarkan dia kemanapun akan pergi.

“Gara-gara jalan itu, parah motorku jadinya” Demikian lirih suaranya.

Malin masih ingat alasan dia membeli rumah di komplek yang letaknya kira-kira satu kilometer dari jalan By pass tersebut. Komplek perumahan itu dekat dari rumah sakit, dimana isterinya pernah bekerja disitu. Suasana yang hening dan jauh dari jalan raya turut meyakinkan dirinya. Jalan tanah dan berbatu yang harus dilalui untuk keluar masuk komplek diabaikannya. Lambat laun, tentu jalan itu juga akan diaspal, demikian pikirnya waktu itu.

Kini, sudah lebih empat tahun Malin tinggal disana dengan isteri dan seorang anaknya. Kadang-kadang timbul kekesalan di hatinya melihat kondisi jalan Kurao Kapalo Banda yang belum juga di perbaiki. Seperti saat ini, ketika Malin memperhatikan kondisi motornya.

***

Ditelannya potongan terakhir kue bolu yang ada ditangannya. Sesaat kemudian Malin jongkok sambil memegang tutup bodi yang patah. Otaknya berpikir bagaimana caranya agar tutup bodi yang patah itu tidak lebih parah. Pernah dicobanya dengan membuat lubang diantara tutup bodi untuk kemudian di sambung dengan kawat. Namun tidak tahan lama. Tutup bodi kembali patah. Tidak kuat menahan guncangan di jalan kurao kapalo banda itu.

Pikirannya kembali melayang tentang jalan Kurao Kapalo Banda itu. Dia masih ingat, waktu itu getol-getolnya kampanye pemilu legislatif tahun 2009. Beberapa caleg dan tim suksespun masuk ke komplek untuk mencari dukungan suara. Dan salah satu jargon dari mereka adalah berusaha untuk memperbaiki jalan itu.

Namun, setelah pemilu usai dan celeg yang lolos sudah duduk di kursi empuknya, jalan Kurao Kapalo Banda tetap saja seperti itu. Bahkan ketika wakil walikota datang ke komplek kami untuk acara Majelis Taklim, pernah berjanji akan segera mengaspal jalan itu.  Namun, tetap saja jalan itu tak berubah sampai sekarang. Paling-paling hanya timbunan pasir kerikil saja yang bertambah.

***

Malin kembali duduk di kursi bambunya. Diseruputnya lagi cappuccinonya barang seteguk. Sepotong bolu diambilnya kemudian dimasukkan ke mulutnya. Sambil mengunyah, dia teringat ketika temannya datang berlebaran ke rumahnya tahun lalu. Dia  sedikit mengeluhkan jalan menuju ke rumahnya.

“Baa jalan kasiko tu Malin, sakik pinggang wak deknyo”. Demikian keluhnya.

Hampir setiap keluarga dan teman-teman yang baru sekali bertamu ke rumahnya, selalu saja membuka pembicaraan dengan mengeluhkan jalan ke rumahnya. Mengingat hal itu, Malinpun tersenyum geli.

Kalau sudah begitu, biasanya Malin hanya menjawab enteng, “Angku baru sakali ko lewat jalan tu lah sakik lo pinggang, apo lai kami yang tingga di komplek ko, yang satiok hari lewat jalan tu.”

***

“Eee… udah bangun ya sayang, ayo sini ayah pangku.” Si Habib kecil baru saja bangun dan mendekati Malin. Segera saja dipangkunya anaknya itu.

Habib lahir dan dibesarkan di rumahnya sekarang ini. Malin masih ingat, ketika dia baru menempati rumahnya. Dia dan isterinya diantar oleh keluarga besarnya. Waktu itu ada kekuatiran dari kakak isterinya melihat jalan Kurao Kapalo Banda yang rusak itu.

“Mungkin ndak ya, kalian akan mendapat anak di sini, jalannya saja rusak parah seperti itu.” Demikian kira-kira katanya waktu itu.

“Kalau masalah itu, Tuhan yang punya kuasa. Bagaimana dengan tetangga yang sudah lama tinggal disini, mereka juga bisa memiliki anak.” Begitu jawab Malin dengan optimis.

***

“Udah nak ya, ayah mau siap-siap dulu. Ayah mau berangkat kerja”. Malin menurunkan Habib dari pangkuannya setelah bergelut beberapa waktu. Setelah menghabiskan cappuccinonya, Malin segera bersiap pergi kerja.

Setelah pamit kepada anak dan isterinya, Malinpun mengendarai motornya dengan pelan melalui jalan kurao kapalo banda itu. Seperti biasanya, setiap warga yang kebetulan dijumpainya di jalan ia sapa dengan senyuman. Ia pun memberikan tumpangan ke seorang pelajar yang hendak pergi sekolah.

“Ah barangkali ini hikmah dari belum diaspalnya jalan ini. Aku masih sempat menyapa orang-orang disepanjang jalan Kurao Kapalo Banda ini. Aku juga bisa memberi tumpangan kepada orang yang jalan kaki ke jalan By pass.” Demikian pikir Malin dalam hati.

Setelah menurunkan pelajar yang menumpang tadi di simpang jalan By Pass, Malinpun tancap gas meluncur dengan kencang menuju kantornya.

***

Labor Bahasa, 17 Maret 2010

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s