Pentingnya Mengetahui Gaya Belajar Peserta Didik

Tulisan ini telah pernah di posting sebelumnya. setelah diedit kembali dan dikirimkan ke media cetak, alhamdulillah tulisan ini dimuat di Harian Haluan edisi Senin, 22 Maret 2010.

Pentingnya Mengetahui Gaya Belajar Peserta Didik

Oleh : Yusrizal, S.Pd.

Mengapa sebagian peserta didik senang belajar dalam keadaan tenang, damai dan tidak berisik, sedangkan sebagian yang lain justru senang belajar dalam suasana hiruk pikuk yang diiringi dengan setelan musik yang begitu keras? Mengapa sebagian peserta didik lebih senang mendengar ceramah guru yang menerangkan pelajaran di depan kelas, sedangkan sebagian yang lain justru lebih senang jika pelajaran itu dicatatkan di papan tulis atau didiskusikan dalam kelas?

Fenomena-fenomena di atas sering kita jumpai dalam kegiatan pendidikan sehari-hari. Salah satu faktor utama yang menyebabkan perbedaan diantara peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran adalah gaya belajar yang mereka miliki. Peserta didik sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, memiliki keunikan masing-masing dalam mengikuti proses pembelajaran. Mereka memiliki gaya belajar yang tersendiri yang membedakannya dengan peserta didik lainnya. Minat dan bakat yang mereka miliki, pengalaman hidup yang mereka dapatkan, hobi yang mereka gemari, merupakan beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan gaya belajar diantara mereka.

Secara umum gaya belajar diartikan sebagai kombinasi dari bagaimana informasi diserap, diatur serta diolah. Jadi, gaya belajar seseorang merupakan kombinasi dari bagaimana ia menyerap suatu informasi, kemudian mengatur dan mengolah informasi tersebut. (DePorter:2002)

Jika kita kaitkan dengan dunia pendidikan, gaya belajar berarti kemampuan kombinasi yang dimiliki oleh seorang peserta didik untuk menerima, menyerap, mengatur dan mengolah materi pelajaran yang diterimanya selama proses pembelajaran.

Tiga Jenis Gaya Belajar

Sebuah penelitian ekstensif, khususnya di Amerika Serikat, yang dilakukan oleh Profesor Ken dan Rita Dunn dari universitas St. John di Jamaica, New York, dan para pakar pemrograman Neuro Linguistik seperti, Richard Bandler dan John Grinder dan michael Grinder, telah mengidentifikasi tiga gaya belajar(Rose:2003)

Pertama, Visual. Gaya belajar seperti ini lebih mengutamakan kekuatan penglihatan (mata). Belajar melalui melihat sesuatu. Orang dengan gaya belajar visual menyukai gambar, diagram, pertunjukkan, peragaan, pemutaran film atau video sebagai media pembelajaran.

Ada beberapa kharakteristik dari pembelajar visual, yaitu: suka membaca; menonton televisi, film; menerka teka-teki atau mengisi TTS; lebih suka membaca ketimbang dibacakan; lebih suka memperhatikan ekspresi wajah ketika berbicara dengan orang lain; mengingat orang melalui penglihatan(tak pernah melupakan wajah); memiliki aktivitas kreatif seperti menulis, menggambar, melukis, merancang, melukis di udara dan cenderung berbicara cepat, tetapi mungkin cukup pendiam di dalam kelas.

Kedua, Auditori. Gaya belajar Auditory lebih mengutamakan kekuatan pendengaran (telinga) Belajar melalui mendengarkan sesuatu. Orang dengan gaya belajar auditory lebih menyukai kaset audio, ceramah perkuliahan, diskusi, debat dan instruksi dalam proses belajar mengajar.

Kharakteristik pembelajar auditori yaitu: suka mendengar radio, musik, sandiwara, drama, debat; lebih suka cerita yang dibacakan kepadanya dengan berbagai ekspresi; memiliki aktivitas kreatif seperti: menyanyi, mendongeng, mengobrol apa saja, bermain musik, membuat cerita lucu, berdebat, berfilosofi; berbicara dengan kecepatan sedang; suka bicara bahkan dalam kelas.

Ketiga, Kinestetik. Gaya belajar kinestetik lebih mengutamakan keterlibatan aktivitas fisik secara langsung. Belajar melalui aktivitas fisik. Media pembelajaran yang disukai antara lain bermain peran, kunjungan wisata, lebih menyukai pelajaran praktek ketimbang teori.

Ada beberapa kharakteristik dari gaya belajar kinestetik, yaitu menyukai kegiatan aktif, baik sosial maupun olahraga, seperti menari dan lintas alam; memiliki aktivitas kreatif seperti kerajinan tangan, berkebun, menari, berolahraga; berbicara agak lambat; dalam keadaan diam selalu merasa gelisah; tidak bisa duduk tenang, dan suka melakukan urusan seraya mengerjakan sesuatu.

Seseorang peserta didik bisa saja memiliki sebagian kharakteristik pelajar visual, auditori dan kinestetik sekaligus. Artinya, dia bisa saja menjadi pelajar visual, sekaligus menjadi pelajar auditori; atau pelajar kinestetik yang juga mampu untuk belajar secara visual. Peserta didik bisa menggunakan salah satu gaya belajar dalam menyerap pelajaran, atau menggunakan kombinasi diantara ketiga gaya belajar tersebut. Namun, tentu saja ada suatu kecenderungan dalam diri peserta didik, gaya belajar mana yang lebih sesuai dengan mereka.

Setidaknya ada tiga pihak yang perlu memiliki pengetahuan tentang gaya belajar ini. Pertama, guru. Dengan mengetahui gaya belajar peserta didiknya, guru bisa memilih metode mengajar dan media pendidikan yang cocok bagi peserta didiknya. Dalam hal ini, dituntut kreativitas guru dalam memvariasikan metode mengajar dan dalam hal pemilihan media pendidikan. Dengan demikian, diharapkan perbedaan gaya belajar diantara peserta didik mampu diakomodir dengan baik.

Kedua, orang tua. Bagi orang tua dengan mengetahui gaya belajar anaknya, memungkinkan bagi mereka untuk menyediakan fasilitas belajar yang sesuai dengan gaya belajar anak-anak mereka di rumah. Hal ini bisa dilakukan dengan menyediakan buku-buku serta gambar bagi anak dengan gaya belajar visual, menyediakan kaset-kaset pelajaran dan sering berdiskusi dengan anak yang bergaya belajar auditori, dan menyediakan alat-alat praktek bagi anak yang kecenderungan bergaya belajar kinestetik.

Ketiga, peserta didik. Dengan mengetahui gaya belajar sendiri, peserta didik bisa menciptakan suasana yang disenanginya untuk belajar. Apakah itu dengan menyetel musik, berdiskusi dengan teman atau orang tua, dan lain sebagainya. Dengan demikian diharapkan motivasi belajar peserta didik bisa meningkat.

***

Penulis adalah Staf ADM di FBSS UNP Padang

8 Comments

    • Mengajar itu seperti bertualang. Pengajar tidak mungkin mampu mengkover semua objek petualangan sekali jalan dan pengajar juga tidak mungkin mampu menyatukan semua gaya belajar ke dalam satu teknik pembelajaran dalam satu sesi. Yang penting dilakukan hanya melakukan variasi model pembelajaran yang memperlihatkan shift mengakomodasi semua gaya belajar dari waktu ke waktu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s