Ujian Nasional VS Pemerataan Pendidikan

Ujian Nasional VS Pemerataan Pendidikan

Oleh: Yusrizal

Semenjak minggu yang lalu hingga beberapa hari kedepan dunia pendidikan di tanah air kita di sibukkan dengan kegiatan Ujian Nasional (UN). Dimulai dari UN untuk tingkat pendidikan menengah atas, dilanjutkan dengan UN untuk tingkat pendidikan menengah pertama dan diakhiri dengan UN untuk tingkat pendidikan dasar.

Meskipun banyak ditentang oleh berbagai pihak, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional tetap bersikukuh melaksanakan UN. Pemerintah berpandangan bahwa untuk meningkatkan standar mutu pendidikan, diperlukan suatu standar penilaian yang sama untuk tingkat nasional. Pemerintah juga mengaitkan hasil UN sebagai standar kelulusan peserta didik di suatu tingkat pendidikan.

Munculnya polemik pelaksanaan UN, tak terlepas dari ketidakmerataan di dunia pendidikan. Banyak kalangan menilai pemerintah melakukan suatu kesalahan dengan menjadikan UN sebagai standar kelulusan peserta didik. Satu sisi pemerintah menerapkan suatu standar kelulusan yang sama bagi semua peserta didik untuk suatu tingkat pendidikan. Namun di sisi lain, pemerintah belum mampu memberikan pemerataan pelayanan yang sama bagi semua peserta didik.

Ketidakmerataan ini setidaknya bisa kita lihat dari tiga hal. Pertama Sarana pendidikan. Sarana pendidikan merupakan seluruh barang atau benda yang digunakan secara langsung untuk menunjang proses belajar mengajar di dunia pendidikan. Meja, kursi, kapur, spidol, papan tulis, alat peraga, media pendidikan, labor bahasa, merupakan bentuk-bentuk dari sarana pendidikan.

Jika kita perbandingkan sarana pendidikan di sekolah-sekolah yang ada di daerah perkotaan dengan sekolah-sekolah di daerah pedesaan, kita akan melihat perbedaan yang signifikan. Alat peraga dan media pendidikan yang digunakan di sekolah perkotaan jauh lebih modern dan uptodate. Penggunaan LCD dan Portable Computer (Laptop) oleh guru dalam proses belajar mengajar, yang pada gilirannya mampu meningkatkan motivasi belajar siswa, merupakan salah satu bentuk penggunaan media pendidikan di daerah perkotaan.

Lantas bagaimana dengan sekolah-sekolah di daerah pedesaan? Jangankan untuk menggunakan media pendidikan seperti itu, aliran listrikpun kadang-kadang tidak ada. Peserta didik ”dipaksa puas” untuk belajar dengan menggunakan buku bacaan tanpa adanya media pendidikan lainnya.

Kedua, Prasarana Pendidikan. Prasarana pendidikan merupakan barang atau benda yang tidak secara langsung menunjang proses belajar mengajar dalam dunia pendidikan. Adapun yang termasuk prasarana pendidikan antara lain, gedung sekolah, ruangan kelas, halaman sekolah, WC, jalan ke sekolah, dan sebagainya.

Sehubungan dengan prasaran pendidikan ini, kita juga masih menemukan ketidakmerataan diantara sekolah-sekolah yang ada di daerah perkotaan dengan sekolah-sekolah di daerah pedesaan. Pada sekolah-sekolah di perkotaan kita bisa melihat gedung-gedung sekolah yang baik, ruangan kelas yang nyaman dilengkapi dengan kipas angin, dan didukung oleh sarana transportasi yang mudah dan lancar.

Bandingkan dengan sekolah-sekolah di daerah pedesaan, yang identik dengan gedung sekolah yang rusak dan atap yang bocor. Belum lagi sarana transportasi yang kadang-kadang tidak ada, sehingga menyebabkan peserta didik harus berjalan berkilo-kilo meter untuk ke sekolah.

Keberadaan jaringan internet (sebagai pra sarana sekaligus sumber belajar) yang mampu menjangkau seluruh daerah perkotaan, semakin menegaskan ketidakmerataan prasarana pendidikan di tanah air kita. Peserta didik yang tinggal di kota dengan mudahnya mengakses internet untuk mencari bahan pelajaran. Sedangkan bagi mereka yang tinggal di pedesaan, mereka hanya pernah mendengar dan mengerti apa itu internet, tanpa pernah memiliki kesempatan untuk mengaksesnya.

Ketiga, Kualitas Guru. Ketidakmerataan dari segi kualitas guru ini, lebih ditekankan kepada kesempatan guru untuk meningkatkan kualitasnya. Guru-guru di daerah perkotaan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasannya. Ini bisa dilakukan dengan mengikuti seminar-seminar, berdialog dengan ahli pendidikan, berdiskusi dengan teman sejawat melalui MGMP, dan mengakses internet untuk mendapatkan teori teori dan bahan-bahan pembelajaran yang mutakhir.

Hal-hal tersebut tidak semuanya bisa dilakukan oleh guru-guru yang tinggal di pedesaan. Bertanya dengan teman sejawat melalui kegiatan MGMP, merupakan suatu hal yang mungkin bisa dilakukan oleh guru tersebut untuk meningkatkan kualitas dirinya. Sedangkan meningkatkan kualitas dengan mengikuti seminar dan menambah pengetahuan melalui internet, barangkali tak pernah terpikirkan oleh mereka.

Tinjau kembali

Dari ketiga indikator di atas, kita bisa melihat ketidakmerataan pendidikan antara perkotaan dengan pedesaan. Perbedaan sarana, prasarana pendidikan, kualitas guru antara sekolah di perkotaan dengan sekolah dipedesaan membuka mata kita bahwasanya pemerataan pendidikan di negara kita belum mampu diwujudkan oleh pemerintah. Ironis memang, jika pemerintah masih bersikeras untuk mempertahankan UN sebagai standar kelulusan peserta didik secara nasional di tengah ketidakmerataan pendidikan di tingkat nasional.

Kedepan kita berharap pemerintah mau mempertimbangkan kembali UN sebagai syarat kelulusan peserta didik. UN boleh tetap diadakan, namun hanya sekedar untuk melihat standar pendidikan di suatu daerah. Untuk standar kelulusannya, serahkan kembali kepada guru dan sekolah. Karena pihak inilah yang lebih mengetahui layak atau tidaknya peserta didik mereka lulus ujian. Dengan demikian diharapkan tidak lagi ada kecurangan yang “sistemik” dalam pelaksanaan ujian nasional. Dan kita bisa berharap kejujuran dalam diri peserta didik bisa tumbuh subur, untuk masa depan yang lebih baik.

***

Penulis adalah Staf ADM di FBSS UNP Padang

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s