Menjadi Manusia Pembelajar

Menjadi Manusia Pembelajar

Oleh: Yusrizal

“Tidak ada manusia yang tidak butuh belajar, sekalipun dia dekat dengan kematian”. Demikian ungkapan bijak yang pernah dilontarkan oleh ilmuwan besar Albert Einstein. Ungkapan ini ditulis oleh salah satu organisasi kemahasiswaan dalam sebuah mading di kampus, sehubungan dengan menyambut hari Pendidikan Nasional.

Esensi dari ungkapan bijak tersebut menyadarkan kita akan pentingnya belajar. Belajar bukan hanya sebagai suatu kewajiban, melainkan juga sebagai suatu kebutuhan. Layaknya kebutuhan hidup, belajarpun merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi. Meskipun manusia tersebut sudah berusia lanjut. Hanya kematianlah yang bisa menghentikan seseorang untuk belajar.

Jauh sebelum Albert Einstein mengeluarkan kalimat bijak tersebut, Nabi  Muhammad SAW dalam sebuah hadistnya mengatakan: ”tuntutlah ilmu dari buayan hingga ke liang kubur”. Dengan redaksi yang sedikit berbeda, agamapun menyuruh umat manusia untuk selalu belajar (menuntut ilmu). Tidak pandang usia, apakah bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa maupun orang-orang yang sudah berusia lanjut. Lagi-lagi hanya kematian yang menjadi batas seseorang untuk berhenti belajar.

Permasalahannya adalah mengapa bagi sebagian orang, belajar merupakan suatu hal yang sulit? Bahkan menjadi momok yang menakutkan? Lihatlah, ketika anak-anak disuruh untuk belajar, mereka malah enak-enakan bermain. Padahal orang tua mereka telah menyediakan buku-buku pelajaran, yang kadangkala untuk membelinya orang tua harus berhutang kepada tetangga. Perhatikan juga siswa-siswa yang cabut dari sekolah karena malas belajar dengan mata pelajaran tertentu atau bosan belajar dengan guru tertentu.

Fenomena lain yang penulis lihat adalah adanya keengganan orang-orang yang telah bekerja apakah itu di intansi pemerintah atau swasta untuk melanjutkan studi ke tingkat yang lebih tinggi seperti kuliah S1 atau S2. Disamping alasan biaya, faktor usia merupakan alasan klise yang sering dikemukakan. ”Buat apa lagi melanjutkan studi, bagi kami-kami yang sudah tua dan hampir pensiun ini,”demikian kira-kira kata mereka.

Menjadi Manusia Pembelajar

Belajar berasal dari kata ajar yang dalam KBBI berarti berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, dan berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Dalam teori belajar behavioristik, seseorang dikatakan telah belajar sesuatu jika ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku.

Kenapa seseorang harus terus belajar? Jawabannya karena orang tersebut memiliki impian dan cita-cita yang ingin diraihnya. Lantas bagaimana hubungan antara belajar dengan meraih impian dan cita-cita?

Dalam bahasa yang bijak, seseorang pernah berkata: ”Sebuah layang-layang supaya bisa terbang tinggi harus menentang angin, bukan mengikutinya. Begitu juga dengan impian dan cita-cita yang harus diterbangkan ke atas cakrawala. Kita perlu menentangnya dengan belajar dan berusaha. Bukan dengan angan semata.” Artinya impian dan cita-cita yang dimiliki tidak akan didapat hanya dengan berangan-angan semata, tetapi dengan berusaha keras dan selalu belajar.

Dari beberapa buku motivasi yang pernah penulis baca, suatu hal yang menjadi perhatian penulis adalah bahwasanya salah satu syarat utama untuk berhasil dan sukses dalam kehidupan yaitu keluar dari zona nyaman yang kita miliki sekarang. Hidup senang tanpa kesulitan, semua berjalan sesuai dengan keinginan, merupakan beberapa bentuk dari zona nyaman. Untuk meraih kesuksesan, kita harus lepaskan semua hal itu dan harus lebih giat dalam berusaha, demikian tulis sebagian besar motivator dalam buku-buku mereka.

Demikian halnya dengan belajar. Untuk sukses dalam belajar, kita juga harus keluar dari zona nyaman. Disiplinkan diri untuk selalu belajar dan terus belajar apapun. Manusia pembelajar merupakan orang yang tangguh dan mampu memaksa dirinya untuk terus belajar, meskipun dia harus keluar dari zona nyaman yang dia miliki.

Untuk lebih memotivasi diri untuk mau belajar, maka carilah manfaat dari apa yang akan kita pelajari. Kekuatan AMBAK (Apa Manfaat BAgiKu), demikian Quantum Learning menyebutnya. Dengan mengetahui manfaat dari apa yang dipelajari, minat untuk mempelajari hal itu akan tumbuh dengan sendirinya. Ketika minat untuk belajar sesuatu telah tumbuh, maka motivasi belajar akan terjaga.

Mengenali dan mengetahui gaya belajar merupakan faktor penting lainnya yang harus menjadi perhatian kita. Seorang pembelajar harus bisa mengidentifikasi dirinya apakah dia memiliki kecenderungan gaya belajar visual, auditori atau kinestetik. Dengan demikian, diharapkan sang pembelajar tersebut dapat lebih cepat dan mudah untuk menyerap informasi baru.

Dalam bukunya Menjadi Manusia Pembelajar, Andrias Harefa mengemukakan kharakteristik dari manusia pembelajar, yaitu: 1. Secara sadar mau menerima tanggung jawab atas hidupnya, atas sikap dan perbuatannya.  2. Secara sadar selalu mengembangkan inisiatif untuk mencari dan mengenali dirinya itu apa dan siapa. 3.Secara sadar menumbuhkan keberanian untuk jujur menyatakan keunikannya sebagai pribadi. 4. Memberikan dirinya dipandu ‘dari dalam’ (inside out) oleh nilai-nilai yang sesuai dengan keyakinannya. 5. Memiliki constructive discontent (ketidakpuasan yang konstruktif), yang mendorongnya untuk belajar seumur hidup guna meningkatkan kualitas kemanusiaannya. 6. Ia tak suka mengidentifikasikan dirinya dengan hal-hal yang bukan dirinya.

Belajar bukanlah suatu hal yang sulit. Kita bisa belajar apa saja, dimana saja, dengan siapa saja dan kapan saja. Selagi kita memiliki niat yang kuat untuk menjadi seorang pembelajar, hambatan apapun akan bisa kita atasi. Mari kita peringati hari Pendidikan Nasional ini dengan menanamkan niat untuk menjadi seorang manusia pembelajar. Selamat Hari Pendidikan Nasional!

***

Penulis adalah Staf ADM di FBSS UNP Padang

About these ads

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s