Perjanjian Suci

Cerpen keempat ku ini kupersembahkan buat mereka yang merasa telah Durhaka kepada kedua orang tuanya…..

Perjanjian Suci

Oleh: Yusrizal Firzal

”Bila Izrail datang memanggil

Jasad terbujur di pembaringan

Seluruh tubuh akan menggigil

Sekujur badan kan kedinginan”

Syair nasyid yang sering didendangkannya saat mengaji di Madrasah waktu itu, kembali terngiang dalam ingatannya. Diiringi tingkah rebana dan gemerincing rafai, Johan kecil bersama dengan kawan-kawannya larut dalam nyanyian nasyid. Ya… salah satu mata pelajaran di Madrasah.

”Oh… dimanakah aku kini. Mengapa semua menjadi gelap. Mengapa pula bait-bait nasyid itu yang teringat oleh ku. Eh.. apa pula ini. Mengapa aku merasa kedinginan”

Rasa dingin yang sangat membuat Johan menggigil.

” Mengapa bait-bait nasyid itu persis seperti apa yang aku rasakan sekarang? Dingin dan menggigil. Oh… Apakah itu berarti aku akan….  Oh tidak!!!”

Johan berteriak sekeras-kerasnya.

”Jangan sekarang ya Izrail… Aku belum mau mati”

Sambil terisak, Johan terus saja berteriak. Namun tak seorangpun mendengar teriakannya itu.

***

Seorang ibu masih saja duduk di atas kursi bulat yang alasnya terbuat dari kayu dan disangga empat buah kaki yang terbuat dari besi. Sesekali dia berdiri dekat jendela dan menatap keluar. Orang-orang berlalu lalang, sibuk dengan urusannya masing-masing.

Kadang dia melihat beberapa orang dengan pakaian putih-putih berjalan sambil mendorong tempat tidur beroda. Diatasnya terbaring seseorang yang seolah tidur, namun dari hidungnya keluar selang yang terhubung dengan botol yang berisi cairan bening. Dibelakang mereka, ada beberapa orang yang mengikutinya.

”Mungkin baru dioperasi” demikian gumamnya.

Sesaat pikirannya melayang. Ditatapnya wajah anaknya. Baru kemarin anaknya yang tidur diatas tempat tidur beroda itu. Persis seperti apa yang dilihatnya saat ini. Dia dan suaminya serta Tika, anak bungsu mereka mengikuti perawat yang mendorong brangkar dari ruang operasi. Hingga sampai ke ruangan ini.

Ruangan yang penuh sesak dengan pasien-pasien yang dalam keadaan kritis. Disebelah kanan tempat tidur anaknya, seorang laki-laki tua yang menderita serangan jantung. Nafasnya hanya tinggal satu-satu. Di sebelah kiri, ada bapak paruh baya yang tadi malam berteriak kesakitan. Hasil diagnosa dokter dia mengidap kanker otak. Sudah beberapa malam ini dia berteriak histeris, demikian cerita yang didengar si ibu dari penunggu pasien lainnya.

Si ibu kembali menoleh keluar jendela. Kali ini dia melihat orang yang berjalan tergesa-gesa sambil membawa bantal dan termos air panas. Dari wajah orang itu terpancar kegelisahan dan kecemasan.

”Bertambah satu lagi penghuni rumah sakit ini” kembali dia bergumam.

Dia kembali teringat saat pertama kali anaknya di antar ke ruangan Emergency ini. Setelah anaknya dipastikan diinapkan diruangan ini, kemudian dia dan Tika pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan segala keperluan untuk di rumah sakit. Suaminyalah yang menemani Johan di rumah sakit.

Tidak lama dia di rumah. Setelah menyiapkan makanan dan keperluan untuk di rumah sakit, segera ia berangkat. Ia begitu tergesa-gesa untuk segera sampai ke ruangan tempat Johan di rawat. Persis seperti orang yang dilihatnya itu.

Bosan melihat ke luar jendela, ia kembali duduk di kursi disamping tempat tidur Johan. Johan yang masih belum sadarkan diri. Dipandangnya sekali lagi wajah anaknya. Wajah yang sebelumnya gagah, kini penuh goresan dan kepala yang dililit perban. Tanpa terasa, buliran air mata jatuh membasahi pipinya. Hati kecilnya berkata: ” Ibu tetap menyayangimu nak. Apapun yang telah terjadi, ibu tetap menyayangimu”.

***

” Kamu lihat itu anak durhaka?”

Suara keras dan lantang itu membuat Johan terperanjat. Rasa capek setelah terus berteriak seketika hilang, digantikan oleh takut yang begitu sangat.

”Si… sii… siapa… kau? Me… mengapa aku hanya mendengar suaramu” jawab Johan terbata-bata.

Dalam kegelapan, Johan berusaha menggerak-gerakkan kedua tangannya ke semua arah. Mencari dari mana arah suara itu datang. Persis seperti tuna netra yang kehilangan tongkat dan tidak tau kemana harus melangkah.

” Jadi kamu tidak bisa melihat apa-apa? Apakah mata hatimu telah buta sehingga tidak bisa melihat adegan itu” Kembali suara keras dan lantang itu terdengar.

”Ba…. bagaimana aku bisa melihat, jika sekelilingku gelap seperti ini? Adegan yang mana yang kau maksud? dan… dan ….dimana aku ini? Lalu, siapa kau ini?

”Ha… ha… ha…  Jadi kau belum mengerti juga. Bukankah sayup-sayup kau telah mendengar syair nasyid tadi? Bukankah kau juga telah merasakan seperti apa yang diceritakan oleh syair itu? Akulah yang telah memanggilmu!!” Suara itu terdengar lebih keras dan lebih lantang.

Johan terkesiap. Wajahnya pucat pasi. ”Ja..ja…di kau adalah…. dan aku su…suu dah meninggal?”

Suara itu kembali tertawa. Kali ini lebih keras dan lantang. Membuat Johan berusaha menutup daun telinganya. Setelah itu dengan tenang dia berkata:”Belum Johan, kamu belum mati, tapi berada di ambangnya. Coba kau pejamkan matamu dan lihatlah dengan mata hatimu. Kamu akan melihat adegan itu.”

Sambil terengah-engah seperti orang yang habis berlari berkilo-kilo meter, Johan memejamkan matanya dan berusaha melakukan apa yang diminta oleh suara itu. Perlahan, meski kabur dia mulai melihat sebuah ruangan besar. Lama kelamaan semakin jelas.

”Kau sudah melihatnya?” Suara itu sedikit membuat Johan terkejut

”Ya. Aku lihat ruangan besar dengan deretan rapi tempat tidur dan masing-masing diatasnya terbaring orang-orang dengan berbagai bentuk slang terhubung ke tubuhnya. Selain itu aku juga melihat banyak orang mondar mandir. Sebagiannya berpakaian putih-putih. Eh.. bukankah ini rumah sakit?”

”Kau benar itu memang salah satu ruangan di rumah sakit. Sekarang coba kau lihat ke wanita berbaju biru itu. Perhatikanlah dengan seksama. Apakah kau mengenalnya?”

Johan segera memperhatikan apa yang ditunjukkan oleh suara itu. Begitu melihat wajah wanita itu, ia terkejut. ”Ehh.. wanita itu… wanita itu adalah ibuku. Mengapa dia disini, dan mengapa pula dia menangis”

Pandangannya segera beralih ke orang yang tidur tak berdaya di dekat wanita itu. Sebuah selang keluar dari hidungnya. Sebagian badannya terhubung dengan sebuah monitor yang berkedap-kedip. Johan semakin terkejut melihat tubuh yang terbaring itu adalah tubuhnya. Dengan terbata-bata ia berkata: ”itu… itu…”

”Ya itu adalah kamu. Dan wanita itu adalah ibumu. Tiada henti-hentinya dia menangis melihat keadaanmu. Dalam sholatnya, selalu dia mendoakan dirimu supaya sadar dari koma dan sembuh seperti sedia kala. Kamu tau apa yang baru digumamnya, ’Ibu tetap menyayangimu nak. Apapun yang telah terjadi, ibu tetap menyayangimu,’Dia mengatakan hal itu sambil menangis.”

Johan tersentak mendengar apa yang dikatakan suara itu. Tanpa terasa matanya mulai basah. Dia baru ingat bahwa dia baru saja mengalami kecelakaan setelah sebuah truk menyenggol sepeda motornya. Saat itu ia mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi, lari dari rumah karena ibunya tidak memenuhi permintaannya membeli knalpot yang baru.

”Kamu tahu Johan, waktu itu ibumu sudah tidak punya uang lagi. Dia baru saja membayar uang sekolah adikmu dan membawa ayahmu untuk mengecek gula darahnya, yang hampir enam bulan ini dia derita. Belum lagi warung kelontongnya yang sepi pembeli”.

”Apakah kamu lupa bahwa untuk membeli sepeda motormu itu, ibumu terpaksa menjual perhiasan yang dibelikan ayahmu sewaktu mereka menikah dulu? Dan itu belum cukup, sehingga ibumu terpaksa berhutang ke pamanmu?” Suara itu terdengar mengeras kembali.

Sebulir air mulai turun dari mata Johan. Diiringi dengan buliran-buliran berikutnya, sehingga tanpa terasa mulai membasahi pipinya. Menangis, ya Johan mulai menangis. Padahal selama ini tidak pernah dia menangis. Jangankan menangis, punya rasa kasihanpun tidak kepada ibunya. Yang dia tahu, apa yang dimintanya harus dipenuhi oleh ibunya.

”Apakah kamu tidak sadar Johan, bahwa kamu telah sering menyakiti hati kedua orang tuamu? Ibumu yang telah melahirkan dan menyusuimu. Ayahmu yang telah membanting tulang bekerja sebagai kuli bangunan, yang karena penyakitnya terpaksa berhenti dan hanya membantu ibumu berjualan di warung. Tidakkah kamu merasa kasihan kepada adikmu yang terpaksa harus melihat kesedihan di wajah ibumu, begitu kau hardik dan paksa ibumu memenuhi permintaannya?”

Johan semakin tersudut. Baru kali ini ia menyadari hal itu. Betapa ia telah menyusahkan ibu dan ayahnya. Betapa ia telah memaksa adiknya untuk menanggung kesedihan yang dirasakan oleh ibu dan ayah mereka. Air matanya terus menetes. Kali ini lebih deras dan sesekali diselingi oleh isakan.

”Sekarang kau telah melihat dan mengetahui semuanya. Sekarang ayo kita pergi.” Ajak suara lantang.

”Pergi kemana”

”Waktumu sudah habis. Aku akan mengantarmu menuju Tuhan.”

”Tunggu… Tunggu dulu… Aku mengakui semua kesalahan dan dosaku. Aku mohon berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku berjanji. Akan menebus semua dosa-dosaku kepada kedua orang tuaku. Terutama ibuku. Kelak jika aku sukses, aku akan membahagiakan mereka.” Dengan wajah pucat, Johan meminta sambil memelas.

Tanpa sepengetahuan Johan, suara itu mulai tersenyum. Dia hanya menggertak Johan. Dia tahu bahwa Tuhan belum memerintahkannya memanggil Johan. Belum waktunya untuk Johan. Apalagi suara itu terus mendengar doa tulus dari orang tua Johan. Tuhan pasti mengabulkan do’a orang yang berdoa kepadaNya.

”Baiklah”, suara itu kembali membuka pembicaraan. ”Mari kita buat perjanjian, bahwa kau mulai saat ini akan berbhakti kepada kedua orang tuamu. Kau tidak akan menyakiti hati mereka. Kau akan belajar dengan rajin. Kelak, jika kau sukses kau akan membahagiakan mereka. Jika kau langgar perjanjian ini, maka Aku akan segera memanggilmu, dan saat itu tidak ada lagi kesempatan bagimu”.

”Alhamdulillah. Terima kasih atas kesempatan ini. Saya akan menepati perjanjian suci ini. Saya akan pegang teguh janji yang telah saya ucapkan kepadamu.”

Seketika suara yang lantang itu lenyap. Johan mulai merasakan suasana yang berbeda. Sayup-sayup dia mendengar lirih suara orang berdoa. Suara itu… dikenalnya…

***
”Ya Allah, berikanlah kesembuhan pada anak hamba ini. Ampuni dosanya. Meskipun ia telah durhaka kepadaku, aku tetap menyayanginya. Berikanlah dia kesempatan ya Allah..”

Ibu itu baru selesai berdoa ketika tiba-tiba ia mendengar suara lembut dari belakangnya. Suara yang begitu dekat dan sangat dikenalnya.

”ahhh…..mmm…iiii.. bbuu…” perlahan Johan mulai sadar dan berusaha memanggil ibunya. Dicoba membuka matanya perlahan. Meskipun kabur, namun bayangan ibunya mulai terlihat.

”Alhamdulillah… Johan… Kau.. kau.. sudah sadar nak”. Ibu itu tak kuasa membendung air matanya. Segera ia kecup kening putranya itu.

”Sebentar nak ya.. ibu panggil dokter dulu…”

***

Beberapa tahun kemudian…

”Tiiiit.. tiiit.. ” Sebuah Avanza hitam berhenti di depan rumah. Seorang lelaki berusia tiga puluhan turun sembari menuntun seorang bocah lucu. Diikuti oleh seorang wanita cantik berjilbab modis yang menggendong bayi yang terlelap tidur dalam hangatnya selimut.

”Assalamualaikum.. Nenek… Kakek…. abang datang….”

”Waalaikum salam.” terdengar jawaban dari dalam rumah. Segera keluar seorang perempuan  paruh baya, yang telah berpakaian rapi seperti hendak pergi.

”Sudah sampai abang ya.” Perempuan itu jongkok sembari mencium cucu pertamanya itu. ”Ayo masuk..”

Johan segera bersalaman dan mencium tangan ibunya. Disusul oleh isterinya yang masih menggendong si kecil.

”Mana ayah dan Tika bu? Udah siap berangkat kan?”

”Sudah.. tuh ayahmu lagi asyik nonton berita. Tika masih di kamarnya. Biasa, kalau anak gadis mau bepergian, persiapannya bisa makan waktu satu jam” Terang si ibu sembari mengambil cucu keduanya dari gendongan menantunya.

Tak berapa lama kemudian mobilpun kembali meluncur di keramaian jalan raya. Para penumpangnya terlihat tertawa melihat dan mengamati tingkah lucu si abang. Sedangkan sopirnya, tersenyum sendiri… mengingat kembali perjanjian suci yang pernah dilakukannya. Sampai saat ini, perjanjian itu masih teguh di pegangnya.

***

Padang, 12 Mei 2010

Penulis adalah penikmat sastra

Saat ini bertugas di FBSS UNP Padang

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s