Mak Uwo

Alhamdulillah… semangat menulis cerpen terus mengalir. semoga semakin banyak ide yang muncul dalam pikiranku…

seperti halnya cerpen berikut ini:

Mak Uwo

Oleh: Yusrizal Firzal

Pagi itu langit cerah. Hanya sedikit awan putih menggumpal yang kelihatan. Dikejauhan terhampar perbukitan hijau yang berderet dari selatan menuju utara. Seolah menjadi tirai pemisah kota ini dengan kota-kota sekitarnya.

Sebuah titik kecoklatan dilereng perbukitan itu, sedikit mengganggu keindahannya. Jika difokuskan lagi, titik kecoklatan tersebut merupakan bagian perbukitan yang sudah gundul. Tanahnya menjadi santapan empuk ”suapan” eskavator untuk dibagikan ke dalam bak truk-truk besar, yang kemudian dibawa entah kemana.

Gunuang Sariak, demikianlah penduduk sekitar menyebutnya. Meskipun hanya perbukitan, namun tetap saja kami menyebutnya seperti itu. Entah bagaimana sejarahnya sehingga daerah itu bernama gunuang sariak.

Dari sebuah rumah yang kelihatan sudah tua, yang kusen pintunya sudah dimakan rayap, keluarlah sesosok wanita paruh baya. Dengan langkah gontai, wajah yang kelihatan pucat itu berjalan ke arah persawahan yang berada tak jauh dari rumahnya. Mengairi sawahnya yang hanya tinggal empat piring saja.

Sebenarnya hal itu sudah menjadi rutinitasnya di pagi hari. Namun sudah empat hari kegiatan itu tiada dilakukannya. Kabar terakhir yang terdengar dia demam dan hanya tergolek lemah di atas dipan tuanya.

***

Mak Uwo, demikian kami biasa memanggilnya. Usianya sudah menginjak angka lima puluhan. Suaminya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu, karena serangan jantung. Mak Uwo memiliki tiga orang anak perempuan. Anak sulungnya sudah berkeluarga dan memberinya dua orang cucu. Saat ini si sulung dan suami beserta kedua anaknya mengontrak rumah yang tidak jauh dari rumah Mak Uwo.

Anak keduanya yang bernama Lastri sudah tiga tahun tamat dari SMA. Saat ini dia bekerja di salah satu toko yang bergerak di bidang fotografi. Sedangkan anak bungsunya, saat ini tengah duduk di kelas dua SMA.

Setelah menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anaknya, jika musim tanam biasanya Mak Uwo akan pergi kesawah untuk mengairinya. Selepas itu iapun bersiap-siap untuk pergi bertanam bersama ibu-ibu yang lain. Namun dipagi itu, Mak Uwo tidak kelihatan. Mak Uwo yang biasanya lewat didepan jalan rumah kami tidak kelihatan batang hidungnya. Ada apakah gerangan?

***

Beberapa hari sebelumnya….

”One, awak baralek juo nyo!” demikian pinta Lastri sore itu tatkala ia membicarakan masalah kelanjutan hubungannya dengan Parman, pria yang dicintainya. Parman yang seorang supir angkot, sudah lama menjalin hubungan dengannya. Bahkan semenjak Lastri masih duduk di bangku sekolah. Karena sering naik angkot Parman itulah, mulai tumbuh benih-benih cinta diantara mereka.

Selesai sholat isya, Mak Uwo mencoba memejamkan matanya diatas dipan tuanya. Namun kepenatan setelah seharian pergi bertanam tidak mampu membuatnya tertidur. Pikirannya menerawang. Mak Uwo teringat kembali permintaan anak tengahnya itu. Dia hanya bisa diam. Tak ada reaksi sedikitpun dari Mak Uwo.

Mak Uwo mengerti keinginan anaknya itu. Perempuan Minang mana yang tidak senang menjadi anak daro. Memakai suntiang dan duduk dipelaminan bersama marapulai. Kemudian disalami satu persatu oleh tamu undangan yang datang sembari memberikan doa restu dan ucapan selamat.

Namun apa dikata, kondisi ekonomilah yang menjadi penghalang. Empat tahun yang lalu, ketika anak sulungnya menikah, dia terpaksa menggadaikan sawah kepada tetangganya. Akibatnya ketika musim panen datang, ia selalu menyisihkan uang hasil panen untuk mengangsur hutangnya itu. Sampai saat inipun hutang lamanya belum juga lunas. Hanya karena kebaikan tetangganya itulah, sampai saat ini sawahnya tidak disita dan dia masih bisa menggarap sawahnya itu.

Sesaat kemudian, Mak Uwo duduk di sisi sebelah kiri dipan.. Diteguknya air putih dalam mug kuriak yang memang biasanya dipersiapkan diatas meja kecil ketika ia hendak tidur. Mug itu dibelinya ketika suaminya masih hidup. Sebenarnya mug itu sepasang. Namun entah mengapa, beberapa bulan setelah kematian suaminya mug yang satu lagi hilang entah kemana. Tinggalah mug kuriak ini menjadi kenangannya bersama suaminya.

Ahh… mug ini membuat pikiran Mak Uwo kembali kepada suaminya. Seandainya saja saat ini suaminya masih hidup, mungkin keadaan akan lain. Tapi Tuhan memang kuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menjadi sutradara dalam kehidupan ini. Manusia hanyalah pemain yang harus mengikuti skenario yang telah disusun-Nya.

Mak Uwo kembali teringat pesan suaminya menjelang kematiannya dulu. ”Ida, kamu harus tabah menerima keadaan ini. Ini adalah takdir yang ditetapkan Allah atas kita. Maafkan aku. Besarkanlah anak-anak kita dengan sebaik-baiknya.”

Teringat pesan suaminya tersebut, sebulir air mulai menetes dari kelopak matanya. Diikuti oleh buliran-buliran lainnya hingga membasahi kedua pipinya yang sudah mulai keriput.

”Maafkan aku uda, tak sepenuhnya pesanmu itu dapat aku lakukan. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Beban ini terlalu berat untuk aku pikul sendiri.” lirih suaranya. Terbayang kembali olehnya berapa besar biaya yang harus dikeluarkannya dulu waktu pesta pernikahan anak pertamanya. Biaya maantaan tando, mambuek nasi lamak tunangan, hingga biaya pernikahan dan pesta perkawinan.

Mak Uwo kembali merebahkan tubuhnya di atas dipan. Dia merasakan dinginnya angin malam yang lewat disela-sela dinding kamarnya yang sudah mulai lapuk dan berlubang. Perasaannya tidak enak. Perutnya mulai terasa mual seperti hendak mau muntah. Tiba-tiba badannya terasa panas dingin, sesaat kemudian menggigil seperti orang kedinginan. Mak Uwo terserang demam.

***  

”Sudah sehat Mak Uwo”

”Alhamdulillah, sudah mendingan”

”Tidak pergi bertanam hari ini?”

”Mungkin tidak. Mak Uwo masih agak pusing” demikian jawab Mak Uwo sambil menjinjing bungkusan kecil, ketika seorang tetangga menyapanya. Sehabis dari sawah tadi, Mak Uwo pergi ke lapau untuk membeli lontong gulai.

Mak Uwo kembali masuk ke dalam rumahnya untuk sarapan pagi. Kedua anaknya sudah dari pagi tadi berangkat. Melakukan aktivitas masing-masing. Setelah sarapan, Mak Uwo kembali beraktivitas membersihkan rumah. Sudah empat hari aktivitas itu tidak dilakukannya.

***

Malam sebelumnya…

”Ida, mengapa kau terus-terusan seperti ini. Larut dengan beban pikiranmu. Lihatlah, badanmu kelihatan semakin kurus. Ini tidak akan menyelesaikan masalah” Suara itu, terdengar akrab ditelinganya.

”Kau… kau datang uda…. Ah.. sudah lama aku merindukanmu. Aku sangat mencintaimu.”

”Aku tahu itu Ida. Bukankah karena itu juga kau tidak mau menikah lagi? Aku juga mencintaimu. Tapi aku sedikit kecewa dengan sikapmu belakangan ini. Apa yang kau lakukan ini tidak akan menyelesaikan masalah.”

”Aku… aku tidak tau harus bagaimana lagi uda. Aku tidak punya tempat untuk mengadu dan berkeluh kesah. Terlalu berat rasanya permasalahan ini jika kutanggung sendiri.”

”Uda mengerti apa yang kamu rasakan itu. Tapi mengapa tidak kau serahkan saja semua urusan ini kepada Allah. Allah akan selalu bersama hambanya. Bukankah Dia telah berfirman bahwa tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hambanya? Kamu harus tetap tegar. Biarkanlah kehidupan ini mengalir seperti air. Kamu harus tegar Ida. Kamu harus tegar… harus tegar..” semakin lama suara itu semakin terdengar pelan. Semakin menjauh..

”Uda… tunggu uda… tunggu!!!”

Mak Uwo tersentak dari tidurnya. ”Astaghfirullah al azhim…” terdengar lirih suaranya. Dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Dia teringat kembali pesan suaminya dalam mimpinya tadi. Diraihnya mug kuriak yang terletak diatas meja. kemudian diminumnya air yang ada didalamnya barang dua teguk.

Sesaat kemudian Mak Uwo beranjak dari dipan dan pergi ke belakang untuk berwudhuk. Ditunaikannya sholat Tahajud 2 rakaat. Selepas itu, Mak Uwo larut dalam zikir dan doa…  hingga tertidur diatas sajadah.

***

Dua bulan kemudian

Keramaian begitu terasa di rumah Mak Uwo. Ibu-ibu sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ada yang memarut kelapa, ada pula yang memeras kelapa yang sudah di parut menjadi santan. Di bawah pohon rambutan, sebuah tunggu besar dibuat untuk menanak nasi ketan. Disampingnya terdapat kuali besar untuk membuat rendang. Di dapur, juga dibuat tungku untuk menggoreng berbagai masakan. Semuanya kelihatan sibuk.

Begitu pula dengan Mak Uwo. Sebagai yang punya hajatan, Mak Uwo sibuk mengatur apa yang harus dipersiapkan dan mengarahkan yang harus dikerjakan oleh ibu-ibu yang datang membantu kerumahnya.

Hajatan??? Ya hari ini merupakan hari untuk maantaan nasi lamak tunangan. Nasi lamak ini nantinya akan diantarkan ke rumah orang tua parman sebagai calon marapulai. Sedangkan malam harinya, akan diadakan mancari hari untuk tanggal pernikahan dan pesta perkawinan, sebagai rangkaian dari acara pernikahan adat Minang

Lantas bagaimana Mak Uwo bisa mengadakan hajatan ini? Darimana Mak Uwo mendapatkan biaya untuk ini?

Beberapa waktu lalu, salah seorang tetangga memberikan sejumlah uang kepada Mak Uwo. Pemberian ini merupakan bentuk syukuran dan sekaligus melepas nazar karena anak mereka telah diterima sebagai pegawai negeri sipil. Disamping itu, teman-teman Bertanam Mak Uwo juga ada yang memberikan bantuan. Ada yang membawa kelapa, beras ketan, ayam, dan sebagainya.

Sembari melepas penat setelah menyiapkan segala sesuatu yang akan di antar ke rumah calon besan, setelah satu persatu tetangga pulang ke rumahnya masing-masing, Mak Uwo duduk berselonjor di teras rumahnya. Ditemani oleh mug kuriak yang berisi air teh dingin, Mak Uwo mengenang kembali mimpinya saat itu. Sesaat kemudian dia membatin: ”Kamu benar uda, Allah selalu bersama kita. Terima kasih ya Allah”.

Tak berapa lama kemudian Mak Uwo bangkit dari duduknya dan bersiap-siap untuk berangkat ke rumah calon besannya. Yang ada dipikirannya sekarang adalah bagaimana acara maantaan nasi lamak tunangan dan mancari hari bisa berjalan lancar. Bagaimana pesta perkawinan nantinya, Mak Uwo belum mau memikirkannya. Biarkanlah hidup ini berjalan seperti air yang mengalir….

***

Padang, 19 Mei 2010

Cerpen ini pernah dimuat di Harian Haluan

Edisi Minggu, 30 Mei 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s