Gadis dalam Kruistek

Gadis Dalam Kruistek

Oleh: Yusrizal Firzal

“Satu.. dua.. tiga.. empat..lima.. enam.. Buat enam buah. Kemudian naik ke kanan atas, buat sepuluh buah.” Demikian hitung Arman dalam hati ketika menunjuk susunan petak-petak kecil yang terdapat pada kertas di depannya. Kertas itu berukuran panjang delapan puluh dan lebar lima puluh sentimeter. Kertas itu seperti kertas milimeter yang biasa digunakan oleh mahasiswa teknik sipil untuk membuat suatu rancangan bangunan dengan skala tertentu.

Pada kertas yang terpampang di depan Arman terdapat simbol-simbol yang tersusun sedemikian rupa. Setiap simbol mengisi satu buah kotak kubus kecil. Ada pula beberapa kumpulan kubus kecil tanpa simbol yang dikurung oleh garis tebal, kemudian ditengah-tengahnya dituliskan angka. Entah bagaimana maksudnya. Hanya Arman dan mereka yang paham membuat kruistek lah yang tahu. Yang jelas, ketika kertas itu dilihat dari jauh, siluet sebuah gambar akan terlihat.

Kruistek, demikian karya ini dinamakan. Dengan menggunakan media yang terbuat dari plastik yang memiliki lubang kecil-kecil seperti kawat nyamuk, benang wol dengan berbagai warna kemudian disulam dengan menggunakan penjahit, mengikuti simbol-simbol yang ada pada kertas. Satu simbol mewakili satu jenis warna.

Arman terus saja menghitung sombol-simbol yang ada pada kertas, kemudian dibuatnya sulaman benang wol sebentuk tanda perkalian ke kain Satu persatu sulaman terbentuk. Disesuaikannya jumlah dan simbol dengan benang yang akan disulamnya.

Telah banyak kruistek yang dibuatnya. Pemandangan ngarai sianok, pemandangan sore di tepi pantai, hingga gambar seorang nona yang memangku kucing. Sekarang ini, Arman sedang mengerjakan kruistek dengan gambar seorang gadis yang tengah bermain di sebuah taman yang ditemani oleh seekor kucing persia.

Sebenarnya ini bukanlah pekerjaan Arman. Saat ini, Arman yang masih bujangan sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta. Baginya, membuat kruistek hanyalah sebuah hobi. Pengisi waktu senggang sepulang kerja atau pengisi waktu libur. Memang tidak lazim seorang laki-laki memiliki hobi seperti ini. Namun bagi Arman bukanlah suatu masalah. Yang jelas, dia suka melakukannya. Apalagi hobinya ini bisa mendatangkan pemasukan, sebab tak jarang hasil karyanya ini diminati dan ditawar orang.

***

Malam itu kruistek Arman sudah sampai sembilan puluh persen. Deretan pepohonan dalam gambar sudah diselesaikannya. Begitu juga dengan sekumpulan awan putih yang berarak di langit biru. Kucing persia dan taman yang dipenuhi bunga juga telah selesai dikerjakannya.

Arman berhenti sejenak untuk sekedar minum dan melepas kepenatan. ”Ahh.. hampir selesai. Tinggal gambar gadisnya saja.” demikian lirih suara Arman sembari membentangkan kruistek itu dilantai.

Sesaat kemudian Arman berdiri. Sembari menggaruk-garuk bagian depan telinganya yang gatal digigit nyamuk, ia perhatikan kruistek itu dengan seksama. Nampaklah sebuah pemandangan taman bunga yang indah. Dilatar belakangi oleh pepohonan yang rindang serta langit biru yang dihiasi oleh awan putih yang berarak. Lekukan tubuh gadis yang sedang memetik bunga terlihat jelas dari lubang-lubang kain yang belum diisi benang wol.

Diliriknya jam dinding yang bergambar logo Inter Milan, klub kesayangannya. Sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Arman memang seorang internisti, sebutan bagi fans penggemar klub sepakbola italia yang bermarkas di Giuseppe Meazza ini. Selain jam dinding, Arman juga memiliki beberapa buah baju kaus biru hitam yang merupakan warna khas dari Inter Milan.

”Sudah jam sebelas, tapi mata belum ngantuk. Tanggung, tinggal sedikit, lagian besok kan aku libur” Arman membatin.

Sesaat kemudian, Arman pergi ke dapur untuk membuat secangkir kopi. Dibukanya lemari makanan yang ada di pojok dapur. Masih ada beberapa potong gorengan di piring. Tadi, sepulang kerja ayahnya sempat singgah di tempat Mang Ujang. Penjual Gorengan yang mangkal dengan gerobaknya di simpang tiga.

Setelah menutup pintu kamarnya, Arman kembali duduk bersila di atas karpet. Sebelum melanjutkan pekerjaannya, diseruputnya kopi yang masih panas itu barang seteguk. Gorengan yang sudah agak dingin itu, juga tak luput dari sasarannya. Silih berganti, kopi seteguk lalu sepotong gorengan, kopi lalu gorengan, kopi lagi lalu gorengan, hingga dia merasa kenyang.

Diambilnya kruistek itu kembali. Benang wol pun sudah dimasukkan ke dalam penjahit. Sesat kemudian Arman larut kembali dengan hobinya. Satu persatu tanda silang dari berbagai warna benang wol terbentuk, menutupi lekuk tubuh gadis itu. Tak sampai satu jam kemudian, semua bagian badan dan kepala gadis itu juga sudah terisi.

Hingga ketika Arman menjahit bagian tangan gadis yang sedang memetik bunga itu, sesuatu terjadi….

***

Tangannya menjadi kaku. Tak bisa digerakkan sama sekali. Sesaat kemudian, Arman merasakan tangan kanannya seperti ditarik kedalam kain kruistek itu. Arman terkejut, ketika tiba-tiba jari dan pergelangan tangannya terbenam ke dalam kain kruistek itu. Arman mencoba menarik kembali pergelangan tangannya. Tapi sia-sia. Bahkan kini tangannya terbenam hingga siku.

Arman panik. Segera ia berdiri, satu kakinya bertumpu pada dinding kamarnya. Sedangkan tangan kirinya mencari pegangan ke lemari bajunya. Sekuat tenaga ia coba menarik tangannya kembali. Tapi tetap sia-sia. Arman berteriak sekuat tenaga: ”Tolooooong… , tolong aku….”

Arman heran, kenapa tidak seorangpun mendengar suaranya. Padahal kamar orang tuanya persis disebelah kamarnya. Biasanya, ketika ia menyetel musik agak keras saja, segera orang tuanya menghardiknya. Sekarang, sudah sekuat tenaga dia berteriak, tetapi tetap saja tidak ada yang mendengarnya.

”Toloooong…., tolong akuuuu…” kembali Arman berteriak sekeras-kerasnya, sembari kakinya terus bertumpu di dinding kamarnya. Sesaat kemudian Arman merasakan tarikan itu semakin kuat, membuatnya tidak mampu lagi bertahan. Sedikit demi sedikit bagian badannya hilang, masuk ke dalam kain kruistek. Hingga pada akhirnya, Arman merasakan suatu tarikan yang dahsyat yang membuat ia terpental, masuk kedalam kruistek.

Arman merasa tubuhnya melayang. ”Ohh… dimanakah aku ini? Mengapa aku seolah-olah terbang dalam lorong waktu. Tangan itu, tangan yang menarikku tadi, dimana dia sekarang? Apakah itu, tangan gadis itu?”

Sesaat kemudian, Arman merasa tubuhnya melayang kencang kebawah. Saking kencangnya membuat Arman menutup matanya.

***

Arman baru membuka matanya ketika ia merasakan sesuatu yang lembut berada dibawahnya. Dilihatnya langit biru dengan awan putih yang berarak. ”Ohhh… Langit itu.. awan itu… persis seperti dalam kruistik yang aku buat. Dimanakah aku sekarang? Apakah aku ada di…. ? tidak mungkin, tidak mungkin aku ada di…?”

Segera Arman duduk, melihat kesekelilingnya untuk memastikan dugaannya. Taman bunga yang berwarna-warni terhampar didepan matanya. ” Taman ini… bukankah taman yang aku buat dalam kruistek? Tapi… dimana gadis yang sedang memetik bunga?” secercah harap muncul dalam diri Arman.

”Gadis cantik itu, dimana dia mengapa aku tidak melihatnya. Kucingnya pun tidak kulihat!” Arman segera memutar pandangannya sekeliling, namun ia tidak melihat seorangpun. Sekali lagi disapunya pandangannya ke sekeliling. Hingga dari balik deretan pepohonan, dilihatnya sebuah bayangan.

Arman mencoba mendekati bayangan itu. Semakin dekat, bayangan itu semakin nyata. Membentuk siluet tubuh seorang gadis yang sedang menggendong sesuatu. ”Ahh, barangkali itu dia gadis yang memetik bunga itu.” katanya lirih.

Suara kucing yang mengeong semakin meyakinkannya. Segera ia percepat langkahnya menuju deretan pepohonan itu. Segera terbayang olehnya wajah gadis cantik. Wajah cantik yang seperti dibayangkannya ketika membuatnya dalam kruistek. Arman semakin dekat dengan gadis itu, namun gadis itu sedang menghadap kebelakang.

Ketika tinggal beberapa langkah lagi, Arman memberanikan diri menyapa gadis itu.

”Hai… Aku Arman. Bolehkan aku tahu namamu”?

”Na..namaku Juwita”. Jawab gadis itu tanpa melihat ke arah Arman.

”Bukankah tanganmu tadi yang menarikku kesini”?

”Ya. Memang aku yang menarikmu kesini. Aku kesepian. Hanya kucing ini yang menjadi temanku disini. Bukankah kau yang telah menciptakan aku disini bersama kucingku ini? Tapi mengapa kau tidak menciptakan seorang kawanpun juga untukku?”

”Maafkan aku… bukan aku yang merancangnya. Aku hanya menuruti apa yang telah dirancang. Sebagai gantinya, izinkan aku menemanimu disini.”

Terdengar ngeongan dari kucing yang digendong oleh Juwita. ”Kamu tidak akan sanggup menemaniku disini”

”Mengapa kamu berkata begitu”?

”Aku bukanlah gadis seperti yang kau bayangkan Arman. Wajahku tidaklah secantik yang kau idamkan”

” Aku tidak percaya” Arman mencoba mencuri-curi pandang ke wajah gadis itu. Namun dengan sigap gadis itu mengelak.

”Tidak Arman, kau tidak boleh melihatku. Kau akan lari ketakutan setelah melihat wajahku. Aku hanya minta kepadamu untuk menciptakan seorang teman untukku disini”

Arman menjadi penasaran dengan jawaban Juwita. Ia tak percaya juwita berwajah sejelek itu, sehingga membuatnya lari ketakutan. Segera diraihnya tubuh gadis itu. Sesaat kemudian dia putar tubuh gadis itu menghadapnya. Sesaat kemudian….

***

”Hantu…. Tolong… ada  hantu…..” Arman berteriak sekerasnya.

Teriakan keras Arman itu membangunkan seisi rumah. Ibunya segera menghampiri kamar Arman yang tidak terkunci.. Diikuti oleh ayahnya.

”Arman… Arman… ayo bangun.” Si ibu menepuk-nepuk pipi anaknya. Diulanginya sampai tiga kali hingga anaknya sadar dari mimpinya.

“Mimpi buruk kau ya Arman. Pasti belum sholat. Makanya, sholat dulu sebelum tidur. Ayo ke kamar mandi, cuci muka sekalian wudhu’.” Si ayah menimpali. Sesaat kemudian, suami isteri ini kembali ke kamarnya. Meninggalkan Arman yang masih bingung dengan mimpi buruknya.

Arman segera duduk di sisi kiri dipan. Dilihatnya lipatan kain kruistek yang ada di atas karpet. Sesaat kemudian, dibentangkannya lagi kain itu. Jarum masih tersangkut di kain itu pada bagian tangan gadis yang memetik bunga.

Pikiran Arman sejenak melayang. Teringat permintaan gadis dalam mimpinya. Gadis yang wajahnya dipenuhi jahitan-jahitan berbentuk silang. Gadis dalam kruistek yang meminta seorang teman.

Dilipatnya kembali kruistek itu. Besok, ia akan sedikit mengubahnya dengan menambahkan seorang teman bagi gadis itu. Setelah itu, Arman segera ke kamar mandi untuk cuci muka dan berwudhu’. [yf]

***

Padang, 22 Mei 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s