Bukan Merantau

Bukan Merantau

Oleh: Yusrizal Firzal

Siang itu langit cerah. Warna biru muda menguasai cakrawala. Di beberapa titik, awan putih tipis terbentang bergerombolan. Tersusun tanpa pola, menyerupai suatu bentuk.  Matahari bersinar dengan garangnya. Menembus angin yang bertiup sepoi. Menyerap molekul-molekul air dengan rakusnya.

Sebuah bus baru saja memasuki jalan lintas sumatera yang membentang mulai dari utara hingga ke selatan pulau. Berlari dengan kencangnya laksana harimau yang sedang mengejar mangsanya. Sesekali mengeluarkan suara keras. Mengusir apa saja yang ada didepannya. Kadang terpaksa berjalan pelan, begitu mendapat kemacetan atau memasuki pasar tumpah. Bus itu bertuliskan Padang-Jakarta di kaca depannya.

Pada deretan ketujuh di belakang supir, duduklah seorang pemuda berbaju kaos coklat oblong dengan celana jeans. Hanya dia seorang yang duduk dalam deretan ini. Bus tidak terisi penuh oleh penumpang. Semenjak harga tiket kapal terbang murah, banyak calon penumpang yang lebih memilih menggunakan jasa transportasi udara itu ketimbang bus.

Pemuda itu menatap kosong ke pemandangan di luar sana. Menembus kebeningan kaca Bus yang memisahkannya. Pohon-pohon berkelebat, berlarian ke arah berlawanan. Sesekali terlihat hamparan hijau persawahan bak permadani yang terbentang diatas lantai bumi. Kadang ia melihat sebuah dangau di antara hijaunya persawahan itu. Mengingatkannya akan kampung halamannya yang baru saja ditinggalkannya.

Sorot wajahnya yang gelisah samar-samar terlihat dari pantulan kaca bening di sampingnya. Wajah tampannya tidak mampu menutupi kegelisahan yang dirasakannya. Kegelisahan seperti yang dirasakan oleh-orang-orang yang akan pergi merantau. Tapi, betulkah pemuda itu pergi merantau? Bukan.. Pemuda itu bukan pergi merantau.

***

Malam itu, Budiman pulang dari rumah Pendi, teman sekelasnya di SMA dulu.  Kebetulan Pendi baru kembali dari Padang karena libur semester. Pendi, mahasiswa  semester pertama di salah satu perguruan tinggi negeri di Padang, merupakan teman dekat Budiman. Kepada Pendi, Budiman banyak bercerita tentang apapun masalah yang dihadapinya. Pun sebaliknya, Budiman menjadi pendengar yang baik jika Pendi mengutarakan kesulitannya.

Jarak antara rumah mereka lebih kurang lima kilometer. Cukup jauh bagi mereka yang tidak terbiasa berjalan kaki. Tapi bagi Budiman, Pendi dan masyarakat jorong berjalan kaki sejauh itu, sudah menjadi hal biasa. Sewaktu masih sekolah, Budiman sering main ke rumah Pendi. Pendipun tak jarang berada di rumah Budiman sehabis jam sekolah.

Sambil bersiul-siul kecil, Budiman terus berjalan menelusuri jalan bebatuan yang menghubungan jorongnya dengan jorong Pendi. Obor ditangannya menyala kian kemari mengikuti irama angin yang berhembus pelan.

Hingga disebuah persimpangan kecil, dari kejauhan Budiman melihat sesosok tubuh berjalan tertatih-tatih sambil memegang sesuatu. Samar-samar benda itu terlihat seperti sebuah botol. Dibawah temaram sinar rembulan kelihatan sesosok tubuh itu berjalan mengarah kepadanya. ”Siapa itu ya? Lagaknya sepertinya orang mabuk”, demikian dia berkata kepada dirinya sendiri.

Makin lama jarak diantara keduanya semakin dekat. Budiman menggangkat obornya lebih tinggi. ”Apakah dia si Jen, pemuda jorong sebelah yang sudah biasa mabuk-mabukkan. Tidak mungkin. Si Jen bertubuh kecil. Yang ini postur tubuhnya lebih tinggi.” Budiman semakin penasaran.

”Heiii… Kauuuu… Buuudiiimaaannnn kan?” Suara seperti kaset maleo itu mengejutkan Budiman. Budiman berhenti melangkah.

Sesaat kemudian sosok yang setengah mabuk itu mendekati Budiman. Tangannya masih memegang botol yang isinya tinggal tak seberapa.

Budiman terkesiap, begitu menyadari sosok yang berdiri didepannya adalah adik bungsu ibunya. Aroma bau alkohol segera menyergap. Budiman yang tidak kuasa mencium bau alkohol segera menutup hidungnya.

”Uncu… ada apa ini… mengapa uncu mabuk seperti ini”, suara Budiman terdengar sengau.

”Hee.. heee.. Uncuuu tiiidak maaaabuk. Liiihaaatlah, uncuuu haanyaaa miiinum teh”. Pemuda yang dipanggil uncu itu mencoba mengangkat botol yang ada di tangannya. Suaranya masih saja maleo seperti kaset kusut.

”Seeemua iiiini saaalah iiiibumu. Meeengapa diiia tidak membooolehkan uncuuu tuk menjuuuual tanaaah yang diii beeelakang ruumah kaaalian! Aaapa hak iiiibu muuu meeelarang kuuu. Aaaku kan aaanak Paaandukoo juugaa.”

Sejenak budiman teringat kejadian sore kemarin. Selepas bermain bola di lapangan, ketika hendak menaiki rumah, sayup-sayup Budiman mendengar suara ribut-ribut dari dalam rumahnya. Seketika dia berhenti di bawah janjang.

Terdengar suara ibunya yang menjelaskan persoalan tanah pusako dalam adat Minangkabau.” Son, dalam adat kita, tanah pusako tidak bisa dijual begitu saja. Apalagi untuk kepentingan pribadi ninik mamak seperti kamu, yang tidak memiliki hak untuk itu. Kalian ninik mamak hanya boleh mengaturnya, tanpa memilikinya”.

”Ah persetan dengan adat. Di zaman sekarang ini, uni masih saja mempertahankan adat. Yang jelas aku ingin menjual tanah itu. Aku ingin beli sepeda motor”. Teriakan Son, si bungsu.

”Son, kamu tahukan, dua bulan lagi, uni Eti kau akan baminantu. Calon menantunya orang Pariaman pula, yang harus dijemput pake uang. Dia butuh uang banyak untuk acara perkawinan anaknya itu. Kau juga tahu kondisi ekonomi keluarga besar kita. Kami semua sudah sepakat untuk menjual tanah itu untuk membiayai acara itu”.

”Kalian semua sama saja. Pilih kasih. Tak mau mendengarkan permintaanku!” Teriak Son keras sembari pergi ke pintu untuk kemudian turun meninggalkan rumah. Meninggalkan Ibu Budiman yang hanya geleng-geleng kepala seraya menyapu wajahnya dengan tangan seperti orang berwudhu’.

Budiman yang sedari tadi berdiri di bawah janjang, mencoba menyapa uncunya yang baru turun dari janjang dengan wajah tersenyum. Namun dibalas dengan air muka yang masam oleh si uncu sembari ngeloyor pergi.

***

”Tapi dalam adat kan memang seperti itu, uncu. Kita laki-laki ini tidak berhak memiliki harta pusako. Apalagi untuk menjualnya. Kita hanya bisa mengatur pemakaiannya.”Ujar Budiman seolah mengulangi perkataan ibunya waktu itu.

”Taaau apaa kauu anak sialann.. Pandai puuulaaa kau mengguuuruikuuu. Aaakuuu iniii maaamakmuu!!” Son berteriak keras. Seluruh tubuhnya gemetar.. Nada suaranya meninggi, namun tetap saja maleo. Tangannya mengepal, siap-siap meninju.

”Sabar dulu uncu. Aku tak bermaksud mengguruimu. Tapi bukankah begitu adatnya. Tanah pusako baru boleh dijual jika ada keperluan yang sangat mendesak, seperti rumah gadang katirisan, jenazah yang terbujur di rumah gadang yang membutuhkan biaya menyelenggarakannya. Tanah pusako juga bisa dijual jika ada salah satu anggota keluarga besar yang akan baralek, tapi tidak punya biaya.seperti hal nya tek Eti yang dua bulan lagi menikah.” Budiman tetap saja mencoba menjelaskan tentang tanah pusako, lupa kalau lawan bicaranya dalam keadaan teler.

Mendengar itu, muka Son memerah. Matanya melotot. Dilayangkannya tinjunya sekuat tenaga kearah muka Budiman. Namun karena dalam keadaan mabuk, alih-alih tinjunya mengenai muka Budiman, Son justru terhuyung ke kiri. Badannya kehilangan keseimbangan. Tak lama kemudian jatuh ke tanah. Botol yang ada di tangan satunya lagi pecah. Berserakan di tanah.

Son benar-benar sudah hilang kesadaran. Dia tidak lagi menghiraukan kalau orang yang akan dilawannya adalah keponakannya sendiri. Perlahan dia bangkit kembali. Diambilnya salah satu ujung botol yang tajam. Dihunusnya potongan botol itu ke arah Budiman.

Budiman terkesiap. Dia mundur beberapa langkah kebelakang. Dia sadar yang dihadapinya adalah orang mabuk, yang seketika bisa menyerang membabi buta. Budiman tak mau menghadapinya. Sesaat kemudian, dia lari menuju jorong.

Melihat itu, Son berteriak” Heii.. Tungguuu anak sialan… Aaakan kuuu keeejar kau..” Suaranya masih saja terdengar maleo. Dia masih menghunus potongan botol itu di depan dadanya. Segera dikejarnya keponakannya itu.

Namun naas baginya. Baru beberapa langkah berlari, ia sempoyongan kehilangan keseimbangan. Akhirnya jatuh ke tanah. Sisi kanan badannya menghantam pecahan botol yang masih digenggam tangannya.

Son berteriak kencang. Sesaat kemudian ambruk. Diam tak bernyawa. Darah segar mulai mengalir membasahi bajunya.

Mendengar teriakan, Budiman menoleh kebelakang. Dia berhenti berlari. Sesaat kemudian kembali mendekati uncunya yang tergeletak bersimbah darah. ”Astagfirullah Al Azhim” refleks mulut Budiman mengucap.

Diam. Tiada gerak-gerik dari uncunya. Mati… Uncunya telah mati.

Budiman Panik. Dilihatnya sekeliling. Tidak ada tanda-tanda orang yang melihat. Dipadamkannya obor, kemudian berlari sekencang mungkin menuju rumahnya.

***

Dengan nafas terengah-engah, Budiman sampai juga di rumahnya. Segera ia menaiki janjang rumahnya. Diketuknya pintu tiga kali. Tidak ada jawaban dari dalam. Dibacanya salam sambil mengetuk pintu. Tetap tidak ada jawaban.

”Kok ndak ada yang jawab ya.. pergi kemana semuanya?” Tanya budiman kepada dirinya.

”Oh ya… mereka pergi ke rumah tek Eti untuk membicarakan masalah perkawinan anak gadisnya.” Jawab Budiman kepada dirinya.

Segera ia turun dari janjang rumahnya, sesaat kemudian ia memutar ke arah belakang menuju jendela kamarnya. Dipanjatnya dinding rumah untuk menggapai jendela. Tidak sulit baginya untuk mencongkel jendela, sehingga ia dapat masuk ke dalam kamarnya.

Sejenak dia duduk di sisi kiri dipannya. Menghela nafas pelan-pelan. Pikirannya mulai kembali berkecamuk. ”Aku tidak membunuh uncu. Dia sendiri yang salah. Dia mati karena pecahan botol minumannya sendiri. Tapi. Bagaimana jika waktu itu ada yang melihat mereka bertengkar.”

Segera ditepisnya pikiran itu. Tapi, bayangan uncunya yang mati bersimbah darah muncul dalam pikirannya. Dua jenak ia berpikir keras. Akhirnya dalam batinnya dia berkata” Hanya satu jalan keluarnya. Lari dari sini.”

Tanpa menunggu waktu lagi, dibuntalnya beberapa potong pakaiannya ke dalam kain sarung. Tidak lupa kopiah lusuh yang selama ini dipakainya ketika sholat, serta beberapa buah foto yang terpajang di kamarnya.

Ketika hendak keluar jendela, ia teringat ibunya. Bagaimana jika ibunya nanti mencari-carinya. Hatinya kembali bimbang. Di duduk kembali di sisi dipan.

”Tulis surat… ya tinggalkan pesan melalui surat.” Ide itu muncul tiba-tiba dalam pikirannya. Segera ia buka lemari mencari secarik kertas dan sebuah pulpen. Budiman pun mulai menulis. Entah darimana ia mulai menulis cerita. Tapi yang nampak, buliran bening mulai menggumpal di sudut matanya. Turun kebawah menyusuri pipinya. Sesekali terdengar suara isakan dari mulutnya.

Dilipatnya surat itu, kemudian diletakkannya diatas meja belajarnya. Segera ia keluar meloncat keluar jendela. Ditutupnya kembali jendela itu rapat-rapat. Sesaat kemudian ia mulai melangkah gontai meninggalkan rumahnya. Rumah dimana dia dibesarkan.

Begitulah, malam itu juga Budiman meninggalkan jorong nya. Semakin jauh melangkah, semakin kecil kelihatan rumahnya. Kerlap-kerlip obor yang menyala di dinding rumah-rumah semakin kecil. Terlihat seperti titik-titik api. Budiman pergi meninggalkan kampung halamannya. Pergi merantaukah Budiman? Bukan… Budiman bukan pergi merantau.

***

Bus itu baru saja turun dari kapal ferry yang berangkat dari pelabuhan Bakaheuni. Sesaat kemudian Bus itu telah melaju di jalan tol meninggalkan pelabuhan Merak jauh di belakangnya.

Pemuda itu masih saja duduk di deret ke tujuh di belakang supir. Pemuda berkaos coklat oblong bercelana jeans itu, masih saja menatap kosong ke luar jendela. Tapi kali ini yang berkelebat bukanlah pohon-pohon, melainkan gedung-gedung yang tinggi menjulang yang berlari berlawanan arah.

Secuil rasa kagum muncul dalam dirinya. Dipananya gedung-gedung tinggi itu. Jauh lebih tinggi dari gedung-gedung yang ada di kota Padang, yang dilihatnya bersama sahabatnya sewaktu ikut tes SPMB dulu. Dia gagal dalam tes itu, namun sahabatnya itu lulus dan di sudah kuliah satu semester.

Hari sudah menjelang sore. Perlahan Bus yang ditumpangi pemuda itu mulai memasuki terminal. Hingga berhenti persis di depan loket pembelian karcis. Satu persatu penumpang turun dengan bawaannya masing-masing. Demikian juga dengan pemuda berkaos coklat oblong, bercelana jeans tadi.

Namanya Budiman. Baru kali ini ia menjajaki kakinya di kota besar yang bernama Jakarta. Sejenak pikirannya tentang kejadian malam itu, terlupa. Dihimpit oleh pikiran tentang nasibnya di kota besar ini.

Seperti orang-orang minang yang pertama kali merantau, Budimanpun bergegas mencari Masjid untuk bersiap-siap menunaikan sholat Magrib. Menjelang azan magrib, ia sudah siap dengan sarung dan piyama. Pecipun sudah terpasang di atas kepalanya. Sesaat kemudian ia mencari pengurus masjid, minta izin menjadi muazin untuk mengumandangkan suara azan.

Setelah sholat isya berjamaah, Budiman memberanikan diri menemui pengurus masjid untuk tidur malam ini di masjid. Sebelum ia mencari tempat tinggal keesokan harinya. Persis seperti yang dilakukan oleh orang-orang minang dahulu ketika pertama kali sampai di daerah perantauan. Tapi merantaukah Budiman? Ya.. persis seperti merantau, tapi Budiman bukan merantau!!! [yf]

***

Padang, 25 Mei 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s