Seraut Wajah Anak Surga

Seraut Wajah Anak Surga

Oleh: Yusrizal Firzal

Malam semakin larut. Suasana hening semakin terasa. Nyanyian katak minta hujan terdengar lebih nyaring dari sebelumnya. Sahut menyahut, ditingkahi bunyi jangkrik yang bernada tenor. Rembulan masih saja menunjukkan keperkasaannya. Bak seorang raja yang dikelilingi bintang-bintang sebagai pengawal setianya.

Di sebuah pondok berukuran dua kali tiga meter, beralaskan papan dan beratapkan jerami tanpa sekat dinding sedikitpun, disanalah Dalimunthe duduk termenung. Pondok yang dibangunnya sendiri, di halaman samping rumah yang di kontraknya. Agak aneh, karena rumah itu berada di areal komplek perumahan. Menjadi tidak aneh karena areal komplek perumahan itu sendiri berada di tengah persawahan penduduk.

Bersandar pada salah satu tonggak, Dalimunthe menengadah ke atas. Bulan purnama terlihat putih bersih. Menandakan malam ini pertengahan bulan di tahun hijriah. Sedih, letih, kecewa, bercampur aduk dalam perasaannya. Sedih, anaknya telah dipanggil yang kuasa. Letih, sudah sehari semalam dia tidak tidur. Kecewa, dia tidak sempat melihat jenazah anaknya sebelum dikubur.

Dalimunthe menarik nafas panjang. Diraihnya cangkir berisi kopi hangat yang ada didepannya, diteguknya perlahan. Terasa pahit. Berbeda dari kopi-kopi yang pernah dibuatkan isterinya. Pahit seperti apa yang sedang dirasakannya saat ini. Dijumputnya sepotong biskuit yang tersedia di piring, coba dikunyahnya. Terasa hambar. Sehambar hidup yang dirasakannya saat ini.

Rumahnya baru saja kembali sepi. Beberapa saat yang lalu, para tetangga yang bertakziah pulang ke rumah masing-masing. Hanya tinggal beberapa orang ibu-ibu yang membantu isterinya membersihkan bekas tempat makanan dan minuman yang disediakan untuk pentakziah. Malam ini adalah malam ketiga semenjak kepergian Darius, putranya.

Darius merupakan putra ketiga Dalimunthe. Darius yang baru saja duduk di kelas satu SD lahir di kota Padang. Kota yang menjadi perantauannya. Sudah tujuh tahun dia bersama isteri dan anak-anaknya tinggal di kota bengkuang ini. Sebelum merantau ke Padang, Dalimunthe sudah dikaruniai dua orang anak. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Dalimunthe ia akan merantau ke Padang, meninggalkan pulau Nias kampung halamannya.

***

Saat itu, Dalimunthe muda baru saja tamat dari SMA. Oleh pamannya, diajak bekerja di perusahaan kapal milik induk semangnya, pengusaha dari Medan. Pamannya yang merupakan kapten kapal, mengajak Dalimunthe untuk turut dalam pelayarannya membawa barang hasil perkebunan dari pulau nias ke Sibolga. Itulah pengalaman pertama Dalimunthe menjadi ABK.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, bisnis induk semangnya semakin berkembang. Jumlah kapal bertambah. Pun dengan pengalaman Dalimunthe dibidang pelayaran yang semakin luas. Dia banyak belajar dari pamannya. Atas rekomendasi dari pamannya, dia mulai dipercaya sebagai kapten di salah satu kapal.

Lengkap sudah kebahagiaan Dalimunthe waktu itu. Ketika diberi kepercayaan sebagai kapten kapal, isterinya sedang mengandung anaknya yang ke dua. Beberapa tahun sebelumnya, Dalimunthe memperisteri Jum, gadis di kampungnya yang juga merupakan adik kelasnya di SMA. Dalimunthe muda berhasil memikat hati Jum dan meyakinkan orang tua Jum untuk mau menerimanya menjadi menantu.

”Rezki buat bakal anak ini,” kata Dalimunthe suatu ketika. Seraya mengelus lembut perut isterinya yang hamil tua. Dia dan isterinya tengah duduk santai di balai-balai depan rumahnya. Disamping mereka, si sulung sedang tertidur dengan dot yang masih menempel di mulut. Waktu itu dia baru saja pulang dari berlayar, dan tidak sabar memberi tahu isterinya tentang pengangkatan dirinya sebagai kapten.

Beberapa tahun kemudian, induk semangnya membuka rute pelayaran baru dari Padang ke Nias. Dedikasi dan prestasi kerja yang dimiliki Dalimunthe membuat induk semangnya tak ragu untuk memilihnya. Maka sejak saat itu, Dalimunthe memboyong keluarganya ke Padang.

***

”Bang, sudah malam. Masuklah lagi ke dalam.” panggilan Jum membuyarkan lamunan Dalimunthe. Suara itu terdengar parau. Kering, dipaksa terisak menangis dan meratap. Namun tetap dengan logat khas Nias. Ibu-ibu yang membantu Jum beres-beres, baru saja pulang.

Dalimunthe menoleh sejenak ke sosok yang berdiri di depan pintu itu. Dipandangnya wajah itu lamat-lamat. Raut letih dan guratan kesedihan masih saja terpancar dari wajah itu. Matanya sembab. Merah karena masih saja menghasilkan buliran-buliran bening, begitu teringat wajah Darius.

”Tidurlah kau dulu, aku belum ngantuk. Anak-anak sudah pada tidur?” Dalimunthe mengalihkan pandangannya ke jendela. Dari balik jendela kamar mereka, terlihat anak-anak yang tertidur pulas di ranjang. Heran, tidak biasanya anak-anak tidur di kamar mereka.

”Aku sudah suruh mereka tidur di kamar mereka, namun mereka merengek. Malam ini mereka ingin tidur bersama kita.” Jum melangkah ke arah pondok. Mengambil posisi duduk di sebelah dalimunthe. Memandang ke arah jendela kamar.

Sunyi semakin terasa. Sesekali terdengar bunyi jangkrik. Tak sepatah katapun terucap. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Memandang ketiga anak mereka yang tengah tidur lelap. Entah berapa kali Jum menguap, mengatupkan tangan ke mulut. Berusaha menahan kantuk.

”Masuklah kau dulu, nanti aku menyusul.” suara Dalimunthe memecah kesunyian.

Jum segera bangkit dari duduknya. Meraih tangan Dalimunthe dan menciumnya, sebelum beranjak ke dalam rumah. Meninggalkan Dalimunthe sendiri.

***

Siang itu, langit cerah.Matahari berdiri tegak di atas kepala, bersinar dengan garangnya. Membuat sakit setiap kepala yang tidak bertutup. Membakar kulit yang tidak berkrim pelindung. Mengeringkan setiap kerongkongan yang lewat dibawahnya.

Rasa cemas berasal dari sebuah rumah kontrakan dalam komplek. Anak laki-lakinya yang baru kelas satu SD itu belum juga pulang. Padahal jadwal pulangnya sudah lewat beberapa jam lalu.

Gelisah, gundah, cemas dan marah bercampur menjadi satu dalam diri Jum. Darius, anak ketiganya belum juga sampai di rumah. Rasa itu semakin bertambah begitu kedua kakak Darius yang satu sekolah dengannya sampai ke rumah. Tapi tidak bersama Darius. Awalnya Jum menyangka kalau Darius menunggu kakaknya untuk pulang bersama.

Jum panik. Firasat buruk mulai membayanginya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Kepergian suaminya berlayar dua hari yang lalu, membuatnya kehilangan tampek baiyo.

”Mak, abang terbenam dalam sungai.” Tiba-tiba si bungsu yang baru berumur tiga setengah tahun itu berkata spontan.

Jum tersentak mendengar ucapan anak bungsunya. ”Apa kau bilang?” Suaranya bergetar mengeras. Suara yang penuh nada kekhawatiran. Ingin ditamparnya si bungsu. Namun urung dilakukannya.

Firasat buruk itu semakin menyeruak. Seringkali sibungsu mengatakan hal yang tidak masuk diakal. Tapi benar pada kenyataannya. Indera keenam. Ya… si bungsu memiliki indera keenam.

Jum segera meminta bantuan ke salah seorang tetangga untuk mencari Darius di sungai dekat sekolah. Siapa tahu dia ada disana. Dua hari ini Darius juga pulang agak terlambat. Dia mengaku mandi-mandi dulu bersama kawan-kawannya di sungai dekat sekolah.

Firasat itu semakin mendekati kebenaran. Beberapa menit berselang, tetangganya kembali dengan membawa berita tak sedap. Dia bersama masyarakat yang ada di sekitar sungai menemukan sepatu, tas dan seragam sekolah milik dua siswa.

Komplekpun gempar. Kabar hilangnya Darius dan kemungkinan hanyut dibawa arus sungai, menyebar begitu cepat. Bak anak panah yang melesat dari busurnya. Jum dan beberapa orang tetangga segera ke sungai untuk memastikan keadaan.

Jum sampai di sungai ketika kerumunan masyarakat sudah bertambah ramai. Jum langsung menyeruak dari balik kerumunan masyarakat menuju titik tempat ditemukan barang-barang Darius dan kawannya. Masyarakat sudah dari tadi memulai pencarian. Dengan menyisiri daerah sekitarnya.

Hujan yang hampir seminggu tidak turun, membuat aliran air tidak begitu deras dan sungaipun dangkal. Namun di beberapa titik, terdapat lubuk yang agak dalam. Disanalah biasanya anak-anak mandi dan loncat dari jembatan buai yang melintas di atasnya.

Dada Jum berdegup kencang, ia langsung lemas begitu seseorang berteriak melihat dua sosok mayat dalam lubuk. Dengan nafas tersengal-sengal Jum segera menuju ke tempat dua sosok mayat itu dibaringkan, Sesaat setelah diangkat dari lubuk.

Dipandangnya lamat-lamat ke dua wajah bocah malang itu. Satu wajah asing baginya. Tapi wajah yang lain, begitu dikenalnya. Wajah itu…. wajah yang selama ini hadir dalam ruang matanya. Wajah polos yang sering dimarahinya, wajah lugu yang sering mengundang tawa, pengisi ruang waktunya. Wajah itu ….. firasat itu….

Seketika nafas Jum sesak. Dadanya berdegup lebih kencang, tangannya gemetaran, pandangannya berputar-putar ”Da.. da.. darius….” Tiba-tiba semua gelap.

***

Dari dalam kabin sebuah kapal, seorang lelaki paruh baya menatap kosong kelautan lepas. Perasaannya tidak enak, firasat buruk selalu membayanginya. Bahkan ketika keberangkatannya dari rumah. Karena tugasnya sebagai seorang kapten kapal, ditepisnya perasaan itu, hingga dia berada di sini. Memimpin kapal membawa muatan menuju pulau Nias.

Diteguknya capuccino hangat yang telah disediakan oleh awaknya sedari tadi. Dua jenak kemudian dia berkeliling untuk memeriksa keadaan kapal. Ketika hendak keluar dari ruang mesin, handphone di pinggangnya berbunyi. Di layar tertulis nama Induk semangnya.

”Halo.. Dali… haa…haa..lo..,  bi..biisa dengar suara sa..sa..ya” terdengar suara terputus-putus dari handphone

Lelaki yang biasa disapa Dali itu, kemudian memperbaiki posisi berdirinya. Mencari sinyal yang lebih kuat. ”Ya Pak… ada apa.”

Kali ini suara dari handphone terdengar lebih jelas. ”Maaf Dali. Keluargamu di Padang sudah berusaha menghubungimu sedari tadi. Tapi tidak masuk. Barangkali sinyal tidak bagus. Terpaksa aku yang harus menyampaikan berita buruk ini. Anakmu Darius……”

Kabar itu melemahkan seluruh persendian ototnya. Dalimunthe, si kapten kapal terduduk lemas setelah mendengar berita itu. Firasat itu benar adanya…

***

Udara dingin mulai terasa menusuk tulang. Dalimunthe yang sedari tadi bersandar segera meraih cangkir. Diteguknya kopi yang sudah mulai dingin itu hingga menyisakan ampasnya saja. Perlahan dia bangkit dari duduknya. Dipukul-pukul patatnya beberapa kali untuk membuang debu yang kemungkinan melekat di kain sarungnya.

Sesaat kemudian Dalimunthe sudah berada dalam rumah. Cangkir dan piring yang masih berisi beberapa potong kue, sudah diletakkannya di atas meja makan. Ia kembali ke ruang tengah.

Dipandangnya foto-foto dalam bingkai persegi yang terpaku di sepanjang ruang tengah itu. Ketika melihat foto Darius, darahnya tersirap. Segera diraihnya foto itu. Diusap-usapnya wajah Darius itu perlahan.

Tanpa terasa, setetes air jatuh membasahi wajah dalam foto itu. Diikuti oleh tetesan-tetesan berikutnya. Disekanya dengan jari tangannya. Namun tetesan lain kembali membasahinya.

Dalam isak, terdengar lirih ucapannya:”Anakku… maafkan bapakmu ini.. Sebenarnya bapak sudah punya firasat buruk sebelum pergi berlayar. Tapi bapak tidak tau apa musibah yang akan terjadi. Ternyata ini. Maafkan bapak, tidak berada di sampingmu. Jangankan untuk memandikanmu, mengkafanimu, mensholatimu, dan menguburkanmu, bahkan melihat jenazahmu pun Bapak tidak bisa. Selamat jalan anakku. Jadilah anak surga. Serulah kami untuk mendampingimu kelak”.

Beberapa menit kemudian, Dalimunthe tertidur di atas sofa di ruang tamu dengan tangan memeluk erat bingkai seraut wajah anak surga. [yf]

***

Padang, 31 Mei 2010

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s