Kelabu di Kampus Ungu

Kelabu di Kampus Ungu

Oleh: Yusrizal Firzal

Dilingkup pendopo berukuran enam ratus meter persegi, di salah satu bangku beton tak bersandaran yang menghadap ke jalan, disanalah Ardi duduk termenung. Sesekali matanya menatap kosong ke langit-langit pendopo. Kerangka baja tersusun sedemikian rupa membentuk zigzag yang saling bertautan. Menjadi landasan bagi ratusan potong multi roof merah maron yang disisik tak bertali. Bertopang tonggak-tonggak beton yang besarnya melebihi pagutan orang dewasa, menambah kokoh salah satu bangunan di kampus ungu ini.

Sesaat dialihkannya pandangan ke kiri. Bangunan berlantai lima yang lebih kokoh berdiri dengan pongahnya. Kokoh? Tidak juga. Lihatlah, dinding-dindingnya retak membentuk aliran-aliran bak benalu yang tumbuh menjalar menjadi parasit di pohon kayu. Di beberapa bagian membentuk luka yang mengaga, memerihkan! Seperih hati mereka yang terusir dari tempat mereka beraktivitas selama ini. Pun dengan Ardi.

Lindu!! Ya.. Lindu si pengundang sendu. Saban hari mengguncang. Meruntuhkan bangunan yang tak kuat, rata dengan tanah. Mengubur manusia-manusia lemah yang ada dilingkupnya. Memancing tangisan pilu orang-orang yang ditinggalnya. Sungguh menyayat hati.

Sejenak, pikirannya kembali ke senja itu. Warna lembayung yang memerah, terlihat di barat cakrawala. Mentari yang sepanjang hari bersinar dengan garangnya, mulai kelelahan. Bersiap kembali ke peraduan. Ardi yang sedari tadi sibuk menyapu lokal kuliah di lantai tiga, sejenak berhenti. Tangannya masih memegang sapu, bak tentara yang memegang senapan dalam keadaan istirahat di tempat. Dikejauhan, terlihat riak-riak ombak yang membasahi bibir pantai. Beberapa orang sibuk berlarian kian kemari berebut mengejar benda bulat yang terbuat dari karet. ”Oh… pemandangan yang sempurna” demikian lirihnya.

Lima jenak kemudian, bumi bergetar, lantai bergerak, lindu meradang. Ardipun lari puntang-panting menuju tangga.

Separuh jiwaku pergi… memang indah semua, tapi berakhir duka…  kau main hati dengan sadarmu, kau tinggal aku…  ” Nyanyian tanpa wajah dari sebuah benda berbentuk kotak persegi menyadarkan Ardi dari lindu si pengundang sendu. Segera diraihnya kotak yang masih bergetar itu dari sarangnya. Setelah beberapa pencetan, dari layar berwarna terang tertulis:

Sudah nyampe d

Lbk alung. Kamu lg

Dmana?

Pengirim:

Ayang

+6281363494XXX

Ardi diam sejenak. Sms dari Rani, kekasih hatinya. Hari ini akan ke Padang. Ada hal penting yang ingin dibicarakannya. Tak cukup ruang untuk ber-sms, butuh ribuan jenak untuk bertelepon. Menyangkut hubungan dengan dirinyakah? Sangka Ardi waktu menerima telpon dari Rani tadi malam.

Beberapa minggu semenjak diwisuda, memang ada perubahan sikap dalam diri Rani. Mulanya Ardi tak mengambil pusing. Dia mafhum. Pengaruh jarang bertemu melepas dahaga kerinduan yang menyesakkan. Bak bayi yang harus disapih dari puting susu bundanya, setelah dua tahun mecerupnya.

Demikian yang dirasakannya semenjak Rani tidak lagi kos di Padang. Bercinta jarak jauhpun dilakoni. Hanya sesekali mereka bertemu. Kadang, dia yang membawa diri ke kota Rani, tuk sekedar melepas kerinduan. Kadang, Rani yang ke kotanya tuk mengantarkan minuman pelepas dahaga kerinduan. Seperti saat ini. Seperti saat ini? Betulkah Rani ke Padang membawa minuman semanis madu itu? Atau justru membawa palu yang akan memecahkan gelas kerinduannya?

***

Ardi memencet tombol balas, sesaat kemudian mulai menulis sms:

Lagi di pendopo.

Klo smpai simp tgl

hitam, mc aja. Ku

tunggu di simp labor

Beberapa pencetan berlalu, terdengar kembali suara Anang Hermansyah dengan separuh nafasnya yang telah pergi. Dari layar berwarna terang tertulis:

terkirim:

ayang

Sesaat kemudian, Ardi menghela nafas panjang. Kotak yang bercahaya terang itu, telah  kembali ke sarangnya. Ardi kembali melayangkan pandangannya sekeliling. Tak banyak orang yang berkeliaran di kampus ungu di minggu pagi menjelang siang ini.

Di sudut tonggak arah timur, sejajaran dengan tempat duduknya sepasang kekasih tengah asyik bercengkrama sembari melihat ke layar berukuran tak lebih dari dua kali satu jengkal tangan. Lelakinya sibuk mempermainkan tangan di atas deretan huruf dan angka yang tersusun dengan pola yang baku. Entah siapa yang pertama kali menyusun pola itu. Sesekali tangannya memegang benda bulat lonjong bercahaya kedap-kedip yang ada di depannya. Yang wanita sumringah, sembari sesekali menunjuk-nunjuk ke layar.

”Ardi, kamu jangan terlalu berharap kepada mahasiswi-mahasiswi disini. Kebanyakan mereka dari luar kota, dan akan kembali ke kotanya setelah wisuda. Sedangkan kau, kau akan tetap di sini terpaku dengan sapu dan kemocengmu.” ucapan wanita paruh baya yang selama ini menjadi rekan kerja sekaligus tempat curhatnya, masih terngiang di kepalanya.

”Ingat Ardi, kita hanya cleaning servis disini. Sedangkan dia layaknya seorang tamu yang harus dihormati, dilayani, dan di penuhi segala keperluannya. Jangan sampai kau diperalatnya, dijadikan sebagai kusuik nan ka manyalasaian ketika dia bermasalah dengan dosennya. Kedekatanmu dengan dosen itu, yang dimanfaatkannya” nasehatnya pula suatu ketika. Waktu itu, Ardi bercerita panjang tentang jadiannya dengan Rani.

Kalau sudah begitu, dengan enteng dia menjawab:” Cinta itu buta uni, tak memandang status dan bla… bla… bla…. ”. Berpuitis, laksana pujangga yang mempertahankan cintanya.

Pikirannya terus menduga-duga. Apa hal penting yang ingin dibicarakan kekasihnya itu. ”Sudahkah kau berhasil mempertahankan cintamu itu, Ardi?” Sebuah suara mengejutkannya. Tak seorangpun berada disekitarnya.

”Kau bagaikan pungguk merindukan bulan, Ardi. Seperti peribahasa yang selalu saja menjadi soal ujian di sekolah dasar. Kau tahu artinya. Tapi, tetap saja kau berlaku laksana pungguk. Keras kepala, merindukan yang bukan-bukan.” Suara itu terus saja mencercanya.

”Kedatangannya kali ini, bukan untuk mengisi gelas kerinduanmu, Ardi. Bukan… bukan untuk itu….Tapi untuk memecahkan gelas yang selama ini kaugunakan menampung air pelepas dahaga kerinduanmu.”

”Ha… ha… ha….” Suara itu tertawa lebar. Keras, hingga reflek Ardi menutup telinganya. ”Aku berani bertaruh. Kedatangannya  kesini untuk memutuskanmu. Bagaimana, kau mau taruhan denganku? Kau akan menjadi seperti ketapang yang dibuang setelah diperas santannya. Menjadi sepah setelah manismu dihisap. Ha…. ha… ha…. Aku bertaruh untuk itu, Ardi. Bertaruh…. bertaruh… bertaruh…” Suara itu semakin lama semakin mengecil hingga hilang ditelan bumi. Tapi, tak seorangpun beranjak dari pendopo.

***

Ratusan detik telah berlalu, menyusul menit yang berangsur pelan. Sesaat Ardi berdiri melepas penat. Ditepuk-tepuknya katepong yang mulai terasa panas barang sejenak. Kemudian duduk kembali dengan kaki yang diselonjorkan.

Seraya menunggu suara dari kotak persegi yang berada dalam sarangnya, matanya mengarah ketengah-tengah pendopo. Memandang perpaduan batu-batu kecil yang berdiri tegak- katanya untuk pijat refleksi- dengan keramik yang dulu kelihatan indah. Sekarang sedikit menganga dan  membentuk garisan panjang searah dengan garis pantai. Lindu sipengundang sendu, yang menggarisnya.

Pikirannya kembali menerawang. Waktu itu hari sabtu, upacara wisuda dilakukan di pendopo ini. Di tengah sibuk membersihkan lantai pendopo dan menyusun tempat duduk wisudawan bersama panitia yang lain, sebuah suara memanggilnya. Suara yang sangat dikenalnya. Dia menoleh kebelakang, dan melihat Rani bersama dua orang paruh baya berjalan menuju ke arahnya.

”Da, ini ayah dan ibu Rani. Ayah, ibu, ini Uda Ardi” Ucap Rani mengenalkan Ardi kepada kedua orang tuanya. Ardi terkesiap, segera dimajukan tangannya untuk menyalami tangan orang tua Rani. Tangan satunya lagi masih saja memegang tangkai sapu. Ardi melihat firasat itu dari wajah kedua orang tua Rani ketika menatap wajah mereka. Wajah yang memberikan senyuman kecut. Wajah yang siapa saja melihatnya akan berpikiran sama dengan apa yang ada dalam pikiran Ardi. Wajah dingin kental dengan aroma ketidaksukaan.

Gabak dihulu pertanda hari akan hujan, cewang dilangit pertanda hari akan cerah. ”Ohhh…. Mengapa aku tidak bisa membaca gelagatnya waktu itu. Wajah dingin yang menyambut jabatan tanganku. Bau aroma ketidaksukaan yang melingkungi kami waktu itu. Firasat itu yang selalu kutepis begitu duduk berdekatan dengan Rani. Firasat itu, yang tidak pernah kukemukakan dalam setiap percakapan.” Batin Ardi berontak, namun terputus seiring keluarnya suara nyanyian dari sebuah sarang yang terselip di ikat pinggangnya.

”Ah… dia hampir sampai”. Lirih suaranya sembari berjalan menuju motor yang diparkirnya di belakang pendopo. Sesaat kemudian, Ardi hilang setelah belok kiri dari gerbang kampus menuju jalan raya.

***

”Da…. Maafkan aku. Kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini.” kata-kata itu menusuk ulu hatinya. Baru beberapa menit ini, mereka sampai di pendopo dan duduk di bangku beton tak bersandaran. Kali ini berlawanan arah dari bangku beton tempat duduknya tadi. Dua puluh meteran didepan mereka, sepasang kekasih itu masih saja asyik bercengkrama. Kali ini ditemani oleh dua gelas plastik berisi jus pokat.

Gelas itu akhirnya pecah, berserakan kemana-mana. Siap menancapkan luka siapa saja yang menindihnya. Gelas yang baru saja menampung air pelepas dahaga kerinduannya. Pecah sebelum sempat menyentuh bibirnya, walau tuk sekedar membasahi.

”Da… Uda jangan salah sangka dulu. Hubungan kita bukannya tidak direstui oleh orang tuaku. Mereka malah senang aku menjalin hubungan dengan lelaki yang pekerja keras, tak merasa minder dengan pekerjaan apapun. Yang penting halal. Meskipun waktu berkenalan dengan uda dulu, wajah ayah kelihatan dingin. Tapi begitulah beliau. Terkesan dingin bagi yang baru mengenalnya, namun akan terasa hangat begitu telah mengenalnya.”

Mendengar itu, setitik asa kembali terharap dalam hati Ardi. Firasat itu tidak benar sama sekali. ”Tapi mengapa kau… kau minta putus dariku”

”Minggu depan kami harus pindah ke Jakarta, tempat rumah Mak Etek. Usaha ayahku bangkrut karena ditipu oleh pegawainya sendiri. Rumahpun terpaksa di sita untuk membayar hutang-hutang yang tak pernah kami sadari.”

”Di Jakarta nanti, ayah berencana membuka usaha baru. Mak Etek yang akan meminjamkan modalnya.”

”Ta…tapi, mengapa harus putus? Kita kan masih bisa berkomunikasi? Bercinta jarak jauhlah seperti yang kita jalani saat ini”.

”Jakarta itu terlalu jauh untuk bercinta jarak jauh, uda. Aku tak ingin memberi uda harapan yang tidak mungkin. Aku tak ingin menggantung uda indak batali. Kita memang masih bisa berkomunikasi, tapi hanya sebagai kawan. Buanglah jauh-jauh rasa itu, uda”. Buliran-buliran bening mulai menggumpal disudut mata Rani. Jatuh perlahan membentuk sebuah aliran menuju pipinya.

Dialog yang mengharu biru itu, terus saja berlanjut. Sekali-kali diiringi oleh suara isakan dan buliran-buliran bening yang jatuh membasahi pipi yang langsung diseka oleh empunyanya. Merekapun larut dalam suasana yang romantis. Romantis? Romantis apaan? Suasana romantis mana yang diselingi isakan?

Matahari sudah semakin meninggi. Mengeluarkan teriknya yang garang. Tak memperdulikan siapapun, apapun, yang ada dibawahnya.

”Tak usah uda antarkan aku ke simpang labor. Biar aku jalan saja kesana. Aku tak ingin lagi meninggalkan kenangan buat uda, seperti kenangan selama aku di kampus ini.”. Rani berdiri dan mengecup kening Ardi. Kecupan perpisahan. Perlahan dia berjalan menuju pintu gerbang kampus.

Ardi membisu, diam tak bergerak sedikitpun. Mencoba meresapi kecupan terakhir di keningnya. Dia terus saja memandang Rani yang terus berjalan, hingga sebuah suara menyentakkannya. ”Lihat, dia pergi meninggalkanmu. Memutuskan dan mencampakkanmu. Jadi aku menang taruhan, ha… ha.. ha… Suara itu tertawa lebar.

”Dia tidak mencampakkannya. Dia hanya memutuskannya” suara yang lain datang mengejutkan Ardi dan menghentikan tawa suara tadi. ”kau dengarkan penjelasannya, dia tak ingin menggantung hubungan kalian. Rasa cinta itu masih ada dalam dirinya.”

” Persetan dengan cinta. Yang jelas sekarang dia kan sudah memutuskannya. Jadi aku menang taruhan. Ha… ha… ha… ” suara pertama tadi kembali tertawa.

”Tapi itu belum akhir segalanya, semua bisa saja berubah. Sekarang memang putus, bisa jadi esok…. ”

”Ah… pergi kalian dari sini. Aku muak dengan ucapan kalian berdua. Pergi!!! Pergi !!!!. Teriakan Ardi memutus suara yang kedua. Seketika kedua suara itu lenyap. Raib entah kemana. Tapi tak ada seorangpun yang beranjak dari pendopo. Hanya Rani yang beberapa saat lalu menghilang di balik pos satpam, berjalan menuju simpang labor.

***

Sepasang kekasih yang asyik bercengkrama itu terkejut mendengar teriakan seseorang yang berada tak jauh didepan mereka. Seseorang yang baru saja ditinggalkan oleh perempuan yang masih saja terisak menangis. Mereka saling memandang satu sama lain, sesaat kemudian tersenyum. Tangan mereka bergenggaman erat. Mencoba memahami apa yang baru terjadi. Berharap tidak terjadi pada mereka. [yf]

***

Padang, 3 Juni 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s