Cerpen Untuk Suamiku….

Cerpen Untuk Suamiku

Oleh: Yusrizal Firzal

Uda… Masih ingatkah pertama kali kita bertegur sapa? Saat itu kau tengah memperbaiki instalasi listrik di ruang tamu Dekanat. Kepalamu menengadah, memperhatikan lamat-lamat isi kap lampu yang sudah kau buka tutupnya sedari tadi. Sesekali tanganmu terjulur ke dalam kap, meneliti detail jalur elektrikal di dalamnya. Jakun-jakunmu naik-turun. Mengkilat, basah oleh keringat yang menderas dari pori-pori kulitmu. Kau seka dengan punggung tanganmu yang masih saja memegang tespen.

Sesekali terdengar bunyi berdecit,  jeritan tangga almunium yang setia mendampingimu setiap saat. Bergetar, bergerak, menahan degap tubuhmu yang naik turun mengambil isolasi dan perkakas lainnya. Atau sekedar menggerak-gerakkan kaki, melepas kepenatan dari posisimu yang menjulang di anak tangga yang keempat.

Aku masih saja duduk memperhatikanmu dari sini. Di Kursi yang jaraknya tak sampai sepelemparan batu dari tempat kau berdiri menjulang. Gesit kedua tanganmu mempermainkan obeng dan tang. Menelanjangi kabel-kabel berwarna, mengadu dan memilin erat, untuk kemudian menyelimutinya dengan kegelapan isolasi.

Uda… Peluhmu terus saja mengucur deras. Menganak sungai di keningmu. Sekaan punggung tanganmu tak lagi mempan membendung. Terbayang batinmu berontak, mengaduh peluh yang sedang asyik merecoki tubuh berdegapmu. Memukul-mukul lorong hatiku tuk sekedar mendekatimu, menyeka peluhmu dengan sapu tangan merah jambuku.

Saat itu akhirnya datang, Uda. Saat yang kutunggu-tunggu selama ini. Aku masih saja duduk terpaku di sini, menanti bimbingan dari dosen yang belum juga kelihatan batang hidungnya, ketika kau buyarkan lamunanku dengan sapaanmu. ”Lagi nunggu siapa dik?” Sapamu ramah tapi berwibawa, sikron dengan tubuhmu yang berdegap, sembari duduk di sampingku. Saat itu, kau baru saja selesai dengan elektrikalmu itu.

Aku terkesiap, darahku tersirap. Segera kuperbaiki posisi dudukku. ”La.. lagi nunggu Pak Agus, Uda. Sudah janji untuk bimbingan hari ini” jawabku gelagapan. Tanganmu masih saja bergerak bak wiper, mengelap wajah dan leher yang basah. Sebagian bajumu berubah menjadi lebih pekat, lembab. Sesekali terdengar engahan letih nafasmu. Melepas lelah.

”Maaf ya dek, agak bau”. Lanjutmu sembari melekatkan hidung dalam lingkaran oblong bajumu, mengendus-endus aroma bau peluh itu.

”Ndak apa-apa Uda. Namanya juga bekerja. Kok kerjanya sendirian Uda”.

”Gimana lagi, hanya Uda yang teknisi di Fakultas ini. Jadi ya, harus dikerjakan sendiri. Lagi pula, pekerjaannya tidak terlalu sulit.”

”Jam berapa janjinya dengan Pak Agus”?

”Sebenarnya lima belas menit yang lalu. Mungkin Bapak tu masih mengajar.”

***

Masih ingat percakapan kita waktu itu kan Uda? Memang gak lama. Tapi entah mengapa begitu berkesan bagiku. Pesonamu, wibawamu, kesantunan bicaramu itu, menawan hatiku. Aku penasaran Uda. Berjuta tanya bermain dibenakku. Sudah kawinkah kau? Sudah punya pacarkah kau? Masih bujangankah kau? Ohhh….. Uda, ingin sekali aku menanyakan hal itu kepadamu.

Uda… Sehari setelah itu, kembali aku duduk di kursi itu. Tahu tidak Uda, aku tidak menunggu dosen pembimbingku, karena memang tidak ada janji hari ini. Tidak juga untuk memenuhi kegiatan kampus yang lain. Perkuliahan tatap muka, sudah kuselesaikan semester lalu. Aku datang hanya untuk melihatmu, Uda. Hanya untuk melihatmu. Berharap kau datang menghampiri dan mengajakku bercakap-cakap lagi.

Tapi apa lacur Uda, Kau tidak juga menampakkan batang hidungmu. Sejenak, kuputar kepalaku ke belakang, menengadah melihat benda bulat penunjuk waktu. Sebentar lagi, kedua jarumnya segera berhimpitan, menunjuk setuju ke angka dua belas. Dia terus saja berdetak disetiap geraknya, membuat jantung lebih cepat berkerut. Menyentakkan hati yang diselubungi was-was dan harap. Lebih terasa detaknya, karena kesunyian yang mengerubungi. Lebih dari dua jam aku menunggumu, Uda.

Uda, aku masih saja memikirkanmu, ketika suatu pagi aku melihatmu menggendong seorang bocah kecil. Waktu itu, aku di atas bus kota hendak ke kampus. Kau kelihatan begitu akrab bermain dan bercanda dengan bocah itu. Ohhh… Uda, asa itu berpendar seiring kencangnya angin yang membelai wajahku dari kaca. Harap itu menguap, hilang mengiringi hilangnya bayangan dirimu dan bocah itu dari ruang mataku. Begitu cepat, secepat bus kota yang berlari membelah jalanan di pagi itu.

Tak sabar hati ini segera sampai ke kampus, sekedar mencari informasi siapakah bocah yang akrab bermain denganmu itu, Uda. Kutanya kepada Bang Adi, staf administrasi yang bertugas di jurusanku, yang saban hari selalu bercerita banyak denganku. ”Barangkali itu, kemenakannya, atau anak tetangganya. Dia itu belum menikah, bahkan setahu abang dia tu belum punya pacar.”

Sekabut halimun kesejukan telah turun melingkupi jiwaku yang tengah penasaran, Uda. Asa kembali muncul seiring dengan munculnya huruf-huruf di layar monitor tatkala aku memperbaiki skripsi yang telah diperiksa oleh pembimbingku.

Uda….  kamu masih ingat kue bawang yang ku basoan waktu itu? Ya… hari itu aku membawa sekantong kue bawang yang kubuat sendiri. Awalnya tak terpikirkan olehku untuk menawarimu kue bawang itu. Niatku membuatnya hanya tuk sekedar cemilan, selingan di saat menunggu dosen pembimbing, seraya bersenda gurau dengan teman-temanku. Entah angin apa yang meniupmu, tiba-tiba kau melintas di depanku. Seulas senyum, terlihat dari mulutmu. Tang, obeng dan beberapa perkakas lainnya, terkurung dalam erat genggaman tanganmu.

”Habis memperbaiki apa, Uda?” tanyaku spontan waktu itu. Entah mengapa keberanian untuk menyapamu tiba-tiba muncul ke permukaan.

”Listrik di labor korslet. Ada stop kontaknya yang terbakar”. Jawabmu sesaat setelah mengambil posisi duduk di hadapanku.

”Mau kue bawang, uda?” reflek tanganku menyodorkan bungkusan berisi kue bawang.

” Iyolah. Kebetulan, perut juga mulai lapar nih”

”Enak juga nih, beli di mana?”

”Aku yang buat sendiri, Da. Gini-gini, aku jebolan SMKK lho. Gimana rasanya, Uda?”

”Mmmhh.. mmmhh enak. Enak banget. Pintar bikin kue ya?”

”Katanya tamat SMKK, kok nyambung kuliah di jurusan ini?”

Uda… semenjak percakapan kita itu, sering kali kita bertemu dan bercakap. Tutur sapa lembut, semanis madu, sesejuk embun pagi, dilingkup kharisma dan wibawa, selalu mengucur dari bibirmu di setiap percakapan kita. Akupun tak canggung lagi, bertemu denganmu. Entah bagaimana dengan perasaanmu waktu itu, aku tak tahu uda. Namun di hati ini, ada sebuah perasaan lain. Perasaan yang begitu gundah, ketika tidak menemukan sosokmu di kampus.

”Lai ndak adoh nan ka berang ko, Uda?” Tanyaku suatu ketika. Aku yang semakin berlantas angan, memintamu mengantarku ke rumah pembimbing. Sebuah senyuman tulus mengambang di bibirmu. Senyum penuh arti, pemberi jawaban pasti. Senyuman itu samar-samar terlihat dari spion motormu, ketika aku mencuri pandang dari balik badanmu yang kekar. Duduk di belakangmu.

Kamu tahu Uda, garangnya matahari mengeluarkan panas, terasa sejuk bagiku. Kerasnya hembusan angin yang menerbangkan debu-debu jalanan dan asap-asap knalpot, terasa bak kabut tipis yang menyelimuti, membelai lembut pori-pori kulitku. Itu karena kau, uda. Ya… karena kau ada di dekatku.

***

Uda… Aku ingin buat sebuah pengakuan. Kau tentu masih ingat ketika aku mengajakmu menemaniku ke pesta pernikahan kakak sahabatku. Saat itu, aku kenalkan kau dengan kakak-kakaknya yang lain. Kau tentu saja telah mengenal sahabatku itu. Kau tahu uda, salah seorang kakaknya itu adalah mantan pacarku. Lelaki yang telah menyakiti dan mempermainkan hatiku.

Uda… Maafkan Aku. Aku telah menjadikanmu sebagai pelarian cintaku. Hubunganku dengannya sudah mulai merenggang tatkala aku melihatmu di ruang tamu Dekanat waktu itu. Sudah terlalu sering dia mempermainkan aku. Ku ambil keputusan berpisah dengannya, ketika aku mulai mengenalmu.

Uda… Please Forgive Me. Aku melibatkanmu dalam dendam pribadiku. Sengaja aku mengajakmu ke pesta itu, dan memperkenalkan mu dengan lelaki itu. Aku ingin menunjukkan kepadanya bahwa aku masih bisa berdiri tegar tanpanya. Ingin ku buktikan bahwa aku bukanlah wanita lemah, mengemis cinta dan berharap kembali kepadanya.

”Perempuan egois, perempuan licik”. Barangkali pikiran itu pernah terlintas dalam pikiranmu Uda. Lelaki mana yang mau dijadikan sebagai kambing congek, pelampiasan dendam cinta kepada lelaki lain. Kau berhak marah, Uda. Kau boleh lempar aku ke jalanan. Akan kuterima apapun kata-kata yang ingin kau lekatkan padaku. Aku pasrah Uda. Pasrah, disaat rasa cinta itu mulai bersemi di hati.

Tapi, lagi-lagi kau buktikan bahwa kau adalah sosok kharismatik yang berjiwa besar. Kau hanya tersenyum ketika aku ceritakan semua itu di suatu sore di Palanta Popoko. Satu persatu tahu brontak dan tahu sumedang kaukunyah, hilang dalam kerongkonganmu, sembari mendengarkan penjelasanku. Tak ada nada kesal dari bicaramu, tak ada kegigilan dari tubuhmu yang digoncang oleh badai amarah dan sakit hati. Tutur sapa lembut, semanis madu sesejuk embun pagi, masih saja mengucur dari bibirmu.

Uda… sore itu, sore yang paling indah dalam hidupku. Sore itu, pertama kalinya kau nyatakan kata cinta. Oh.. Uda, Ijab akhirnya terkabul. Asa terpenuhi sudah. Kau lambungkan aku kembali setelah dipurukkan ke dalam ceruk bumi oleh lelaki itu. Kau nyalakan lagi lilin cinta dalam hatiku yang telah padam, ditiup lelaki itu. Sore itu, langit merah merona, tapi masih kalah merona dari pipiku yang memerah.

***

Uda… Suamiku. Lima tahun sudah bakhtera kehidupan ini kita jalani. Seorang bocah telah pula menemani kebersamaan kita. Sekali kali, riak gelombang menghadang laju bakhtera itu. Mengombang-ambing kita di laut yang luas. Sebagai nakhoda, kau mampu mengatasi itu semua. Kau mampu membaca arah angin, mengontrol kecepatan, sehingga bakhtera tidak keluar dari tujuannya semula. Kau munculkan kharisma dan wibawamu begitu masalah menghadang. Kau tunjukkan kebesaran jiwamu, tuk memecahkan rumitnya persoalan yang kita hadapi dalam kehidupan berumah tangga.

Suamiku, Kau begitu bahagia manakala cerpenmu dimuat di sebuah surat khabar nasional, beberapa hari yang lalu. Melebihi kebahagiaan ketika cerpen pertamamu dimuat di surat khabar daerah, bulan lalu. Kebahagiaan yang diimpi-impikan seorang penulis, manakala goresan penanya dibaca oleh banyak orang. Kau, telah mencicipi itu, sayangku…

Kau begitu semangat dengan cerpen, dunia yang baru saja kaukenal. Percakapan di rumahpun tak pernah lepas dari dunia cerpen. Agus Noor, Asma Nadia, Gus tf Sakai, Randi F Daye, nama-nama itu semakin sering saja terdengar di telingaku. Kau koleksi karya mereka, Kau jadikan guru, pengisi ruang-ruang sastra yang tak pernah kau dapatkan di jalur formal. Sebagai langkah awal bagimu yang begitu mengimpikan, suatu saat kumpulan cerpenmu akan ada di toko-toko buku.

Kegigihanmu menampar hatiku. Kreativitasmu merobek-robek jiwaku. Aku yang lebih dahulu mengenal sastra, hanya bisa menjadi editor di setiap cerpen yang kautulis. Aku yang mengajari murid-muridku bagaimana menulis puisi, cerpen dan sajak, hanya bisa menikmati alur cerita yang kautulis.

Suamiku… Ingin kurangkai kata-kata di sela-sela jam mengajarku. Ingin kutulis sebuah cerita di tengah sibukku di rumah tangga. Cerita tentang cinta kita, kisah-kasih kita di masa lalu.

Malam ini, kan kuselesaikan cerita itu. Kan kukirim ke surat khabar manapun yang mau memuatnya. Kan kutunggu bila saatnya tiba. Kubingkai dan kupajang disamping karyamu. Kan kusandingkan mereka, dibawah foto kita yang duduk bersandingan di pelaminan.

Suamiku… aku tak ingin membangunkanmu. Tuk sekedar menjadi editor dari cerita yang kutulis. Biarlah cerita ini apa adanya. Sebagai kejutan di ulang tahun pernikahan kita. Aku ingin kau tetap pulas, dalam dekapan senyum indah impianmu yang menyelimuti. Gapailah impianmu itu. Ku kan selalu mendukungmu. Selamat malam suamiku… . [yf]

***

Padang, 10 Juni 2010

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s