Gadis Bernomor Ujian 314-0104.XXX

Ini merupakan cerpenku yang dimuat di Harian Padang Ekspress, edisi Minggu, 24 Oktober.

 

Gadis Bernomor Ujian 314-0104.XXX

 

Oleh: Yusrizal Firzal

 

Aku masih saja membolak-balik halaman koran minggu di lapak salah satu agen koran yang mangkal di seputaran Ruang Terbuka Hijau Imam Bonjol, Padang. Dengan jantung deg-degan, tanganku langsung membuka lembaran yang memuat rubrik sastra. Lembaran yang sudah hafal dalam pikiranku. Tertanam dalam kepalaku. Satu persatu kubuka koran minggu itu. Memastikan apakah ada cerpenku dimuat oleh salah satu koran minggu tersebut.

Satu koran berlalu, nihil. Koran kedua, juga nihil. Ketiga, keempat, kelima. Ahh.. tak ada satupun. Aku menghela nafas. Kecewa kembali menyelimuti relung-relung hatiku. Sudah sebulan ini, tidak satupun cerpenku dimuat. Menggerutu, mendecis, mengumpat, ahhh… hanya itu yang bisa kulakukan.

Akhirnya, dengan berat hati kupilih salah satu koran. Kulipat dan kuselipkan di ketiak. Kurogoh kocek, kemudian kuserahkan segepok uang ke agen koran itu. Ya. Aku harus membeli satu koran. Sebagai penebus dosa, membolak-balik koran jualannya.

Aku baru saja akan melangkah pergi dari tempat agen koran itu, ketika tiba-tiba mataku menangkap sesosok tubuh di depan sana. Tak terlalu jauh, hanya sepelemparan batu jaraknya. Sosok itu milik seorang gadis. Yang sibuk membolak-balik lembaran koran di lapak kepunyaan agen lain.

Banyak sosok yang kulihat di depan sana. Tapi, entah kenapa sosok yang satu ini menjadi pusat perhatianku. Karena dia berjilbab? I don’t think so. Beberapa gadis yang lalu lalang di trotoar ini memakai jilbab. Bahkan kelihatan lebih modis dibanding gadis itu. Dia, gadis itu, seperti kukenal. Tidak. Tidak kukenal, tapi pernah kulihat. Tapi… tapi dimana?? Kucoba memutar otak, merewind ingatan tentang gadis itu. Tapi sia-sia.

Rasa penasaran menyeret kedua kakiku. Perlahan, aku melangkah menuju gadis itu. Mataku tak lepas memandangi wajah gadis berjilbab itu. Hingga di suatu titik, seorang Bapak menyenggol lenganku dari belakang Aku terkesiap. Koran yang tadi bersembunyi di ketiakku mengaduh pendek ketika headlinenya terbentur trotoar.

”Maaf dik, Saya tidak sengaja. Saya buru-buru mau beli obat di pertokoan Nusantara Building depan sana. Maaf ya!” Bapak itu segera berlalu setelah anggukan kuberikan.

”Tidak Pak. Bapak tidak seharusnya minta maaf. Saya yang justru berterima kasih, karena Bapak telah mengingatkanku tentang keberadaan koran yang bersembunyi di ketiakku”. Aku berkata kepada diriku sendiri. Bapak itu telah sampai di ujung jalan sana. Hilang ditelan persimpangan jalan.

Segera kujumput koran itu, dan kuselipkan di bagian belakang celana jeans. Tertutup  kemeja yang menjuntai sepanjang punggung hingga bokong. Segan dengan agen tempat gadis itu berada? Bisa juga. Atau bagian kecil dari siasatku untuk mendekati gadis itu? Barangkali alasan kedua lebih mendekati kepada kebenaran.

Kulangkahkan lagi kedua kakiku menuju gadis itu. Kulihat senyum mengambang dari bibirnya. Membentuk lubang kecil di pipinya. Ohh.. gadis itu berlesung pipit. Manisnya. Kucoba menduga-duga. Menang undiankah dia? Atau dia juga sama seperti aku, yang selalu menyerbu agen koran terdekat dan terlengkap begitu minggu pagi menyapa? Tersenyum melihat cerpennya dimuat di koran itu?

Kami berjarak kurang dari lima meter ketika seorang laki-laki tinggi, berbadan besar sudah berada di samping gadis itu. Melihat dengan mata tajam ke arah koran yang berada di depan mereka. Mengikuti jejak telunjuk gadis itu, yang menunjuk salah satu barisan dari koran itu. Senyumpun mengambang dari bibirnya. Memperlihatkan susunan gigi putihnya. Entah dari mana datangnya sosok berdegap itu. Yang pasti, dia telah meluluhlantakkan siasatku.

Kini kami berdiri bersisian dengan laki-laki berbadan besar itu berada diantara kami. Iseng-iseng kuperhatikan headline setiap koran yang berjejeran di lapak. Semua berlalu saja, tanpa satupun menyangkut dalam pikiranku. Headline yang telah kulihat di lapak sebelumnya.

Kualihkan pandanganku ke cover majalah dan tabloid gosip yang letaknya agak ke tengah. Hampir semuanya memajang foto tiga artis ibukota yang tersandung video porno mirip mereka. Sungguh menjijikkan.

Mereka – gadis berjilbab dan laki-laki berbadan besar itu, masih saja melihat ke lembaran koran yang membuat hati mereka senang. Kucoba melirik ke lembaran koran itu. Kulihat sekilas deretan nama-nama dengan kombinasi angka di sampingnya. Terbagi menjadi tiga lajur besar. Di bagian atas, dengan tulisan yang lebih besar dan tebal tertulis: DAFTAR NAMA CALON MAHASISWA YANG LULUS UJIAN MASUK BERSAMA TAHUN 2010.

”Aha.” Pikiranku terjaga. Aku ingat sekarang. Gadis itu adalah salah seorang peserta ujian dari lokal yang aku menjadi salah satu pengawasnya. Ya. Dia adalah gadis yang duduk di pojok sebelah kanan bagian belakang. Gadis yang menarik perhatianku. Tak jarang aku berjalan ke arah tempat duduknya, tuk sekedar melihat wajahnya dari dekat. Atau tuk memastikan apakah dia sudah mengisi biodata dengan lengkap.

Ya Tuhan… Mengapa aku sampai lupa dengan gadis itu. Pada hal baru tiga minggu yang lalu ujian masuk bersama itu diadakan. Aku yang pengurus BEM Fakultas mendapat ”tugas” menjadi pengawas. Tugas yang menggembirakan dengan amplop di ujungnya.

Ayu! Ya… Gadis itu bernama Ayu. Lengkapnya Ayu Diah Putri. Begitu yang kulihat dari album daftar hadir peserta ujian. Gadis itu bernomor ujian 314 0104.XXX. Wajahnya ayu, sesuai dengan nama yang melekat pada dirinya. Wajah yang selalu kuperhatikan waktu itu. Bukan karena dia melakukan hal-hal yang mencurigakan dalam ujian. Bukan… bukan itu. Tapi keteduhan wajahnya memikat hati. Menarik-narik kedua bola mataku untuk selalu memandangnya.

Tapi, ada yang berbeda dari gadis itu. Lesung pipit. Ya… aku tak melihatnya waktu itu. Ahhh … tololnya aku. Bukannya lesung pipit baru akan terlihat jika si empunya lagi tersenyum atau tertawa. Mana mungkin seseorang menghadapi ujian dengan senyuman, bahkan masih mampu untuk tertawa. Kalau tidak mau dibilang gila oleh pengawas.

Kuurungkan niat untuk menyapanya. Sekedar berbasa-basi dan bertanya siapa namanya (lagian aku sudah ingat namanya). Laki-laki besar disampingku ini penyebabnya. Siapa dia, pacarnya? kakaknya? Atau malah bodyguard yang merangkap supir pribadinya? Sejuta tanya bermain dalam anganku.

Suara menggerutu dari perutku, memutus semuanya. Lapar mulai mendera. Kukeluarkan ponsel dari sarangnya tuk sekedar melihat waktu. Ohh.. hampir tengah hari. Aku segera berlalu dari tempat itu. Meninggalkan mereka yang masih senang melihat lembaran koran. Meninggalkan agen koran yang geleng-geleng kepala karena aku tidak membeli koran apapun darinya. Kesal.

Kumasuki kedai nasi ampera yang berada tak jauh dari agen koran itu. Setelah memesan nasi dengan rendang, aku duduk di kursi yang paling depan. Sengaja kupilih bagian depan, karena dari sini aku bisa leluasa melihat keluar. Melihat gadis itu – dengan laki-laki berbadan besar itu tentunya. Rasa penasaran masih bergelayut di pikiranku.

Air dalam ceret plastik berwarna biru, sebagian berpindah ke gelas tinggi. Singgah sementara. Pada akhirnya kualirkan ke kerongkongan menuju saluran pencernaan. Sekedar membasahi sebelum makanan melewatinya. Sesaat terasa kesejukan, menjalari sekujur tubuhku.

Kusapu pandangan ke sekeliling kedai. Tak seorangpun dari mereka yang kukenal. Pemilik kedai masih sibuk melayani orang-orang yang datang sebelumku. Kedai begitu ramai siang ini. Barangkali karena memang waktunya untuk mengisi sumatera tengah. Apalagi hari minggu, banyak keluarga membawa anak-anak bermain di arena permainan yang ada di seputaran RTH.

Sesekali terdengar teriakan tambuah ciek da dari belakang. Kalau sudah begitu, aku terpaksa lebih sabar menunggu. Karena pemilik kedai akan mendahulukan kepentingan orang yang minta tambuah itu. Belum lagi orang-orang yang sedari tadi antri meminta dibungkuskan ampera, untuk dibawa makan di bawah rindangnya pepohonan kayu yang tumbuh di dalam taman yang dulunya stadion sepakbola ini.

Kualihkan pandanganku ke lapak agen koran tadi. Kutemukan sosok laki-laki berbadan besar tadi. Disampingnya seorang ibu muda sedang membolak-balik halaman sebuah tabloid. Dengan orok yang menggelayut dalam gendongan. Program infotainment yang semarak di layar kaca, nampaknya belum mampu melepas dahaganya akan gosip seputar selebriti di tanah air ini.

Kemana perginya gadis itu? Hati ini bertanya-tanya. Kudongakkan kepala, menyapu ke sekeliling lapak. Tak juga kutemukan sosoknya. Kecewa! Tidak juga. Kenapa mesti kecewa? Aku bukan siapa-siapanya. Aku hanya seorang mahasiswa yang kebetulan waktu itu menjadi pengawas ruangan, tempat dimana gadis itu mengikuti ujian. Hanya itu.

Aku melihat gadis itu berdiri di bawah rindang pohon mahoni ketika nasi rendang telah terhidang di depanku. Dengan tangan memegang ponsel yang melekat erat di telinganya yang tertutup jilbab. Samar-samar terlihat lagi cekung lesung pipitnya, ketika dia mengulas senyuman. Barangkali mengabari orang tua tentang kelulusannya, kucoba menduga-duga. Entah mengapa, lega mulai merasuki perasaanku.

Kulupakan sejenak tentang gadis itu. Aroma khas rendang meliuk-liuk dalam lubang hidungku. Memancing lidah tuk segera melahapnya. Suap demi suap berlalu, hilang dalam gelap ceruk kerongkongan. Kuminta tambuah, begitu kenyang belum juga menghampiri. Suap demi suap terus berlanjut, hingga teriakan sendawa akhirnya  mengiringi gocekan tanganku dalam kobokan.

Aku merasa kehilangan begitu tidak lagi kutangkap sosok gadis itu, sesaat setelah ku sapu pandangan di antara lapak-lapak agen koran di sekitar taman ini. Rasa yang sama ketika dia keluar dari ruang ujian waktu itu. Kehilangan? Mengapa harus merasa kehilangan, kalau belum pernah memilikinya? Ahhh… ada apa dengan diriku ini? Apa aku kege-eran? Atau terlalu obsesif? Entahlah.

Kusimpan rasa itu dalam seret langkahku di tengah panas matahari yang membakar ubun-ubun, sesaat setelah beranjak dari meja kasir. Menuju Masjid Taqwa yang letaknya tak jauh dari sini. Sebuah koran lusuh tergenggam erat di tanganku. Berharap gadis berjilbab itu kuliah di Kampus Selatan semester depan. Kampusku. [yf]

***

Padang, 11 Juli 2010. (dini hari)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s