Membangkitkan Budaya “Lapar Menulis”

Membangkitkan Budaya “Lapar Menulis”

Suatu ketika Putu Wijaya, penulis yang juga sutradara, diwawancarai oleh seorang wartawan. Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh wartawan itu adalah “Bagaimana Bung Putu bisa selalu menulis?” Dengan entengnya, Penulis yang telah meluncurkan “Klop” buku kumpulan cerpen terbarunya, menjawab: “Gampang, Din!”

Wartawan yang bernama Zaenuddin itu semakin bersemangat bertanya, “Apa itu Bung?”. “Selalu lapar, tepatnya lapar menulis..” Demikian lanjut dramawan yang identik dengan topi ini.

Petikan wawancara ini secara tak sengaja penulis temukan di salah satu situs webblog.”Timbulkan lapar menulis”, demikian judul artikel yang diposting beberapa tahun yang lalu itu. Judul yang rada nyeleneh ini mengingatkan penulis akan kekhawatiran yang pernah dilontarkan oleh Harris Efendi Thahar, cerpenis yang juga staf pengajar di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Padang. Dalam orasi ilmiah pengukuhan guru besarnya yang bertajuk  Merangkai Kata Membangun Indonesia: Membenahi Pembelajaran Menulis di Sekolah,” beberapa waktu lalu, ”Si Padang” menyatakan kegundahannya.

”Masihkah kita sekarang ini menulis surat kepada orang tercinta lalu mengirimkan surat itu melalui pos? Masih adakah gadis remaja kita sekarang yang menerima surat cinta dari kekasihnya seperti Hayati menerima surat cinta Zainuddin dalam roman Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka yang terkenal itu?”

”Begitu juga dengan surat-surat mahasiswa kepada orangtua di kampung, minta dikirimkan uang segera karena keperluan mendesak, juga tidak ada lagi sekarang. Tukang pos yang dulu sibuk mengantar surat dengan setia, kini tidak lagi sesibuk itu. Sekarang di abad XXI, sudah ada sms yang dapat ditulis, dikirimkan, dan diterima si alamat pesannya dalam hitungan detik”, demikian tulisnya.

Menulis merupakan salah satu bentuk komunikasi. Sebagai suatu proses kreatif, menulis merupakan sarana yang digunakan oleh penulis untuk menyampaikan pikiran, dan perasaan kepada para pembaca. Menulis menurut Syamsudin (Hasani, 2005:1) adalah aktivitas seseorang dalam menuangkan ide-ide, pikiran, dan perasaan secara logis dan sistematis dalam bentuk tertulis sehingga pesan tersebut dapat dipahami oleh para pembaca.

Menulis adalah suatu keterampilan yang bisa dikuasai dengan baik oleh siapapun.  Hanya saja untuk terampil dalam menulis diperlukan ketekunan dan latihan yang terus menerus, layaknya atlet dalam bidang olah raga.

Namun ketika seseorang ditanya mengapa tidak mau menulis, berbagai alasanpun mencuat. Mulai dari rasa malas, tidak ada minat, tidak mood, susah menuangkan ide, perbendaharaan kata yang kurang, hingga ketidakmampuan dalam penyusunan struktur kalimat yang efektif. Untuk yang terakhir ini, memang menjadi momok yang menakutkan bagi penulis khususnya penulis pemula. Selain itu paradigma berpikir bahwa menulis itu adalah sesuatu yang sulit telah mendarah daging bagi sebagian kita.

Hal-hal semacam itulah yang ditenggarai membuat seseorang enggan untuk menulis. Seseorang baru akan menulis apabila telah ada kewajiban mendatanginya. Seperti menulis skripsi, tesis, yang hanya satu kali untuk setiap jenjang pendidikan tinggi, atau paling tidak menulis makalah untuk tugas akhir setiap mata kuliah.

Sebenarnya banyak sekali media yang bisa digunakan sebagai ajang untuk latihan menulis, dan perkembangan teknologi informasi mendukung untuk itu. Jejaring sosial seperti facebook dan  twitter, sebenarnya menjadi ajang untuk melatih kemampuan menulis. Penulis sering membaca facebooker yang meng-update status mereka dengan untaian kata yang berbau puitis, selain ungkapan pikiran dan perasaan mereka. Halaman catatanpun sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk menulis apa saja yang ada dalam pikiran mereka.

Bagi mereka yang mulai rajin menulis, bisa memanfaatkan situs-situs yang menyediakan domain gratis, seperti wordpress, blogspot, dan sebagainya untuk membuat blog sendiri. Dengan memiliki blog sendiri, seseorang bisa secara bebas mengekspresikan kemampuan untuk menulis apa saja.

Untuk menambah motivasi, kenapa tidak mencoba untuk mengirimkan tulisan -artikel, opini, puisi, cerpen, ke media cetak. Jika dimuat ya, Alhamdulillah. Jika tidak, yang tak masalah. Tak perlu merasa malu. Jadikan itu sebagai pelecut untuk memperbaiki tulisan berikutnya.

Dengan membiasakan diri ”lapar menulis”, akan membuat kita untuk terus tekun berlatih, sehingga untaian kata mengalir begitu saja. Dan pada gilirannya nanti, tanpa disadari kualitas tulisan yang dihasilkan semakin meningkat.

2 Comments

  1. NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://uangtebal.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s