Di Suatu Petang yang Berdebu

Di Suatu Petang yang Berdebu
Yusrizal Firzal

“Siaaap, grak!”
“Lancang depaaan, grak!”
“Tegaaaak, grak!”
“Istirahat di tempaaat, grak!”
Angin kemarau yang jatuh di pelupuk mata tak digubrisnya. Menatap tajam satu persatu wajah-wajah yang berbaris di hadapannya. Wajah-wajah penuh corengan debu itu menyiratkan keberanian dan tekad yang bulat.
“Kawan-kawan, tentara Zionis itu semakin merajalela. Kedatangan mereka merupakan awal kesengsaraan bangsa kita. Mereka rampas dan kuasai jengkal demi jengkal tanah-tanah leluhur kita. Perlahan namun pasti, mereka dirikan pemukiman-pemukiman yahudi.”
“Kehidupan mereka sangat mapan. Mereka tak mengenal kemiskinan. Tak ada yang merasakan kekurangan makanan. Tapi mereka lupa. Semua itu mereka rampas dari tangan kita, milik kita, rakyat Palestina. Mereka nikmati kemapanan di atas genangan darah bercampur air mata keluarga kita yang terserak. Mereka berpesta di tumpukan tubuh-tubuh yang menggelepar meregang nyawa. Mereka menari di atas penderitaan kita. Sungguh biadab! Terkutuk zionis!”
Gemuruh menyeruak. Diiringi gelemetak senjata yang beradu. Membangkitkan semangat jihad dan patriotisme dalam setiap jiwa yang berbaris di lapangan penuh debu petang itu. Sang komandan yang bernama Habib itu, kemudian melanjutkan orasinya.
“Kita harus lanjutkan perjuangan mujahid-mujahid terdahulu. Jangan gentar dengan deru traktor dan buldozer yang telah menggilas tanah dan rumah kita. Kita tidak boleh takut dengan desingan peluru tentara zionis itu. Allah bersama kita. Allah akan membantu kita. Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” Habib mengangkat dan mengepalkan tangan kanannya ke udara.
Gemuruh kembali membahana. Seruan takbir sang komandan langsung diiringi pasukannya. Tangan-tangan terkepal ke udara. Semakin membangkitkan semangat jihad fi sabilillah dalam hati mereka. Merindingkan bulu-bulu tipis di sekujur tubuh mereka.
“Kita akan serang pos jaga mereka di ujung jalan itu!” perintah Habib, begitu suasana tenang kembali. Memecah kesiur angin petang yang mengalun di gendang telinga. Yang sesekali menerbangkan debu tipis ke udara.
“Pasukan akan kita bagi dua. Fatah, kau pimpin kawan-kawan dari arah timur! Serang mereka dari sektor kiri pertahanan mereka. Aku dan kawan-kawan lain akan menyerang dari barat. Kita serang mereka begitu sebagian dari mereka berangkat patroli.”
“Siap, komandan!” jawab lelaki berambut gimbal itu sembari mengambil posisi siap sesaat, kemudian kembali ke posisi istirahat di tempat.
“Ada pertanyaan?”
Suasana kembali hening. Mempertegas degupan kencang dari dada-dada yang membuncah. Meletup-letupkan jiwa iman dan semangat jihad. Tak sabar untuk melaksanakan penyerangan.
“Kalau tidak, mari sejenak kita menundukkan pandangan. Bermunajat kepada Allah, semoga perjuangan kita diridhoi-Nya dan membawa berkah.”
“Siaaap, grak! Berdoa, mulai!”
Jenak demi jenak berlalu dalam hati yang khusyuk. Merapal doa, berharap pertolongan Allah, Tuhan Semesta Alam. Pemilik langit dan bumi, yang tiada sekutu bagi-Nya.
“Selesai.”
“Bubar, jalan!”
Sebelum bergerak dalam dua kelompok besar, Habib memanggil Fatah dan beberapa orang lainnya untuk menjelaskan taktik penyerangan. Dengan ujung ranting, digoresnya pola penyerangan di tanah. Pola itu menggambarkan posisi awal, arah pergerakan, hingga titik pertemuan mereka ketika mengepung pos jaga. Di akhir penjelasan kembali Habib mengingatkan bahwa penyerangan dilakukan setelah sebagian tentara zionis berangkat patroli.
Merekapun membubarkan diri dari apel siaga di petang itu, dan bergerak dalam dua kelompok besar. Habib bergerak ke barat, diiringi beberapa orang. Sedangkan sebagian lagi bergerak ke timur di bawah pimpinan Fatah.
Perlahan mereka berjalan menyusuri jalan setapak yang membelah deretan rumah-rumah berdinding batu. Mengendap-ngendap dari satu rumah ke rumah lain, dengan mata awas ke sekeliling. Sesekali memberi isyarat tertentu kepada kawan di belakangnya untuk bergerak maju.
“Abbas, coba kau lihat apakah tentara zionis itu sudah berangkat patroli,” amar sang komandan begitu mereka sampai di belakang rumah terdekat dari pos jaga.
Dengan sigap, laki-laki berkepala plontos yang dipanggil Abbas itu segera meraih teropong yang bergelantungan di lehernya. Didekatkannya teropong itu ke matanya, menatap tajam ke arah pos jaga tentara zionis. Sesekali kepalanya bergerak mengikuti teropong, mengamati situasi sekitar pos jaga. Terlihat beberapa orang bersenjata lengkap sedang berbaris di lapangan. Apel siaga sebelum berpatroli.
“Komandan, mereka masih apel siaga!” dengan setengah berbisik, Abbas melaporkan situasi pos jaga kepada Habib yang berdiri di sampingnya.
Seperti kurang percaya, sang komandan lalu merebut teropong dari tangan Abbas. Ia pun mengulang apa yang telah diperbuat Abbas.
“Kamu benar, Bas. Mereka berjumlah puluhan. Semoga mereka segera berangkat patroli.” Sang komandan berbicara setengah berbisik dengan teropong yang masih melekat di mata.
Sejenak kemudian, diarahkannya teropong itu ke titik lain. Mencari posisi Fattah dan pasukannya. Didapatinya, Fattah juga sedang meneropong ke arah pos jaga. Entah kebetulan atau memiliki maksud yang sama, mereka beradu teropong. Sang Komandan pun memberikan isyarat untuk menunggu, sampai pasukan patroli itu berangkat.
Sementara menunggu pasukan zionis itu berangkat patroli, Habib kembali memberikan penjelasan mengenai taktik penyerangan dari arah barat, lengkap dengan posisi masing-masing. Dengan ujung ranting kayu, digambarnya pola penyerangan tersebut di tanah. Setelah itu, mereka kembali berdoa.
Tak lama kemudian terdengar sayup-sayup deru mobil. Habib kembali meneropong ke arah pos jaga. Dari kejauhan terlihat kepulan debu menutupi bayangan mobil yang bergerak. Pos jaga kelihatan mulai sepi.
Setelah memberi isyarat kepada Fatah di bagian timur, Habib segera berteriak lantang, “Majuuu! Dengan menyebut nama Allah, kita hancurkan pos jaga mereka. Jangan gentar, Allah bersama kita! Allahu Akbar!”
Mereka berhamburan keluar dari persembunyian, berlarian menuju pos jaga dari dua arah. Setelah berjarak sepelemparan batu, mereka segera melepaskan senjata. Tak lama kemudian, kelihatan bebatuan sebesar telapak tangan melayang di udara. Memenuhi cakrawala sore yang mulai melembayung. Mengarah ke pos jaga.
Batu-batu itu mendarat di atap, jendela, meja piket, dan halaman pos jaga. Sebuah batu melayang tepat di tiang bendera, merobek bendera negara zionis itu.
“Mereka harus enyah dari tanah kita! Jangan biarkan mereka menginjak-injak terus harga diri bangsa kita! Lebih baik mati syahid, dari pada melihat buldozer mereka meratakan rumah-rumah milik bangsa kita! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” Habib terus membakar semangat kawan-kawannya.
Kembali bebatuan melayang di udara memenuhi langit Palestina. Menegaskan perlawanan intifadah terhadap pendudukan negara zionis terhadap Palestina masih menggeliat.
Dada Habib bergemuruh. Semangatnya benar-benar berkobar. Semangat jihad fi sabilillah telah melingkupi hatinya. Ia terus bergerak maju sembari melepaskan lemparan batu ke pos jaga. Tak dihiraukannya teriakan kawan-kawannya yang menyuruh mundur, karena mereka melihat pasukan Zionis mulai menembaki mereka.
Hingga pada suatu titik, sebuah peluru meluncur deras ke arah jantungnya. Seketika pandangannya mengabur. Tubuhnya menggigil. Bayangan ayahnya yang telah meninggal berkelebat di pelupuk matanya. Wajah penuh senyum dengan tangan terbuka yang siap menyambutnya.
“Habib! Habib!” Samar-samar terdengar olehnya suara orang memanggil-manggil namanya. Dengan nafas tersengal dan tangan yang memerah di depan dada, ia memandang ke sekeliling. Sebagian kawannya jatuh terkapar, syahid di jalan Allah. Sebagian lagi lari menyelamatkan diri. Dijatuhkannya pandangan ke bajunya. Baju itu telah memerah. Tubuhnya terasa lunglai sesaat kemudian ambruk. Hingga suatu ketika, terasa olehnya seseorang menggerak-gerakkan tubuhnya.
“Habib, bangun nak. Hari sudah hampir magrib. Ayo pulang,” Habib terbangun begitu mendengar suara emak. Dikucek-kuceknya matanya. Perlahan dilihatnya wajah lusuh emak yang memakai caping. Sebuah senyum terpampang di sana. Dipenganginya dadanya. Tak ada apa-apa. Hanya sebagian saku bajunya memerah.
“Bagaimana dengan tumitmu, masih terasa sakit? Kamu ketiduran ya? Lihat tuh, obat merahnya sampai tumpah. Pasti tidak kamu tutup erat tadi.” Emak meraih botol obat merah yang tergeletak di samping Habib.
Habib segera menyadari bahwa ia baru saja jatuh dalam buayan mimpi. Tadi malam kakaknya yang seorang akhwat bercerita tentang perjuangan rakyat Palestina melepaskan diri dari cengkraman pemerintah zionis Israel. Ia begitu hanyut dalam cerita itu. Menumbuhkan empati di lorong hati kecilnya. Membangkitkan semangat jihad di tubuh bocahnya.
Karena itulah sebelum ketiduran tadi, ia bermain dengan tumpukan jerami. Dibuatnya bangunan sebentuk kotak yang lumayan besar dekat pondoknya. Persis seperti pos jaga. Lengkap dengan bendera yang dibuatnya dari kertas minyak berwarna putih dan biru. Meniru bendera negara Zionis, dari buku kepunyaan kakaknya. Bangunan dari tumpukan jerami itu kemudian dilemparnya dengan batu berkali-kali dari pondoknya, laiknya perlawanan rakyat palestina yang melakukan gerakan intifadah yang dilihatnya di televisi.
Dilayangkannya pandangan ke samping kanan. Bangunan kecil dari jerami itu telah hancur berantakan. Matanya menatap tajam ke sebuah kertas minyak kumal putih biru, yang tidak lagi berbentuk. Sebagian tersuruk di bawah tumpukan jerami. Bebatuan bertebaran di sekitarnya. Sebuah senyum mengambang di bibirnya.
Habib bangkit dari duduknya dan menyusul Emak yang menyusuri piring sawah yang baru saja dipanen. Langkahnya tertatih-tatih, tumitnya baru saja luka terkena pecahan kaca di salah satu piring sawah. Sesekali menghindari tunggul-tunggul padi yang terluka sayatan arit.
***
Padang, Februari 2012
Penulis adalah Staf Administrasi di FBS UNP Padang.
Penikmat sastra yang lahir dan tinggal di Padang

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s