Membangkitkan Budaya “Lapar Menulis”

Membangkitkan Budaya “Lapar Menulis”

Suatu ketika Putu Wijaya, penulis yang juga sutradara, diwawancarai oleh seorang wartawan. Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh wartawan itu adalah “Bagaimana Bung Putu bisa selalu menulis?” Dengan entengnya, Penulis yang telah meluncurkan “Klop” buku kumpulan cerpen terbarunya, menjawab: “Gampang, Din!”

Wartawan yang bernama Zaenuddin itu semakin bersemangat bertanya, “Apa itu Bung?”. “Selalu lapar, tepatnya lapar menulis..” Demikian lanjut dramawan yang identik dengan topi ini.

Petikan wawancara ini secara tak sengaja penulis temukan di salah satu situs webblog.”Timbulkan lapar menulis”, demikian judul artikel yang diposting beberapa tahun yang lalu itu. Judul yang rada nyeleneh ini mengingatkan penulis akan kekhawatiran yang pernah dilontarkan oleh Harris Efendi Thahar, cerpenis yang juga staf pengajar di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Padang. Dalam orasi ilmiah pengukuhan guru besarnya yang bertajuk  Merangkai Kata Membangun Indonesia: Membenahi Pembelajaran Menulis di Sekolah,” beberapa waktu lalu, ”Si Padang” menyatakan kegundahannya.

Lanjutkan membaca “Membangkitkan Budaya “Lapar Menulis””

Iklan

CAMPUR KODE GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

CAMPUR KODE GURU

DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR

 

Oleh: Firdawati, S.Pd. *

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Bahasa adalah salah satu ciri yang paling khas yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi. Melalui bahasa manusia dapat bertukar pikiran, menyampaikan gagasan, dan berinteraksi dengan sesamanya. Hal ini sejalan dengan pendapat Atmazaki (2006:5) yang menyatakan bahwa bahasa adalah alat komunikasi yang dapat menyampaikan pikiran dan perasaan kepada orang lain secara lebih tepat.

Ilmu yang mempelajari kaitan antara bahasa dan hubungannya dengan masyarakat pemakai bahasa adalah sosiolinguistik. Sebagai objek dalam sosiolinguistik, bahasa tidak dilihat sebagai bahasa, melainkan dilihat sebagai sarana interaksi atau berkomunikasi di dalam masyarakat. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian bahasa adalah status sosial, tingkat pendidikan, umur, tingkat ekonomi dan jenis kelamin. Dalam penggunaan bahasa, faktor tersebut dapat mempengaruhi pemilihan kode.

Lanjutkan membaca “CAMPUR KODE GURU DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR”

Variasi Bahasa

Variasi Bahasa

(VARIASI REGIONAL, VARIASI SOSIAL, DAN STUDI VARIASI)

 

Oleh: Firdawati, S.Pd.

 

A.  Pendahuluan

Topik yang paling populer dan utama dalam sosiolinguistik adalah variasi bahasa. Berkembang pendapat bahwa sosiolinguistik adalah disiplin ilmu yang menelaah variasi bahasa atau bahasa dalam masyarakat.

Variasi bahasa dipandang sebagai suatu fenomena kebahasaan yang memiliki dua sisi. Dari sisi internal, variasi dianggap sebagai suatu varian yang tidak memberi pengaruh. Sementara dari sisi lainnya yaitu sudut sosiolinguistik, variasi ”dicurigai” karena mengandung makna tertentu.

Lanjutkan membaca “Variasi Bahasa”

Adverbia

Adverbia

 

Oleh: Firdawati, S.Pd.

 

1. Pengertian

Adverbia adalah kategori yang dapat mendampingi ajektiva, numeralia, atau proposisi dalam konstruksi sintaktis. (Kridalaksana, 1986 : 81). Dalam kalimat Ia sudah pergi, kata sudah adalah adverbia, bukan karena mendampingi verba pergi, tetapi karena mempunyai potensi untuk mendampingi ajektiva, misalnya dalam saatnya sudah dekat.

2. Ciri-ciri Adverbia

2.1.  Mendampingi ajektiva

Contoh:

1.  Anak itu terlalu kecil untuk mencari nafkah.

2.  Saya paling benci dengan orang yang suka berbohong.

Lanjutkan membaca “Adverbia”

SINTAKSIS BAHASA INDONESIA

SINTAKSIS BAHASA INDONESIA

Oleh: Firdawati, S.Pd.

Istilah sintaksis berasal dari bahasa Yunani (Sun + tattein) yang berarti mengatur bersama-sama. Manaf (2009:3) menjelaskan bahwa sintaksis adalah cabang linguistik yang membahas struktur internal kalimat. Struktur internal kalimat yang dibahas adalah frasa, klausa, dan kalimat. Jadi frasa adalah objek kajian sintaksis terkecil dan kalimat adalah objek kajian sintaksis terbesar.

1. Frasa

Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat (Chaer, 2003:222). Perhatikan contoh-contoh berikut.

  1. bayi sehat
  2. pisang goreng
  3. baru datang
  4. sedang membaca

Lanjutkan membaca “SINTAKSIS BAHASA INDONESIA”

Deiksis

Deiksis

oleh: Firdawati, S.Pd.

A. Pengertian Deiksis

Deiksis adalah kata atau frasa yang menghunjuk kepada kata, frasa, atau ungkapan yang telah dipakai atau yang akan diberikan (Agustina, 1995:40). Purwo (1984:1) menjelaskan bahwa sebuah kata dikatakan bersifat deiksis apabila referennya berpindah-pindah atau berganti-ganti, tergantung pada siapa yang menjadi sipembicara dan tergantung pada saat dan tempat dituturkannya kata itu.

Pengertian deiksis yang lain dikemukakan oleh Lyons (1977:637) dalam Djajasudarma (2010:51) yang menjelaskan bahwa deiksis adalah lokasi dan identifikasi orang, objek, peristiwa, proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang diacu dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak bicara. Dari penjelasan di atas disimpulkan bahwa deiksis adalah kata, frasa, atau ungkapan yang rujukannya berpindah-pindah tergantung siapa yang menjadi pembicara dan waktu, dan tempat dituturkannya satuan bahasa tersebut.

Perhatikan contoh kalimat berikut.

  1. Begitulah isi sms yang dikirimkannya padaku dua hari yang lalu.
  2. Hari ini bayar, besok gratis.
  3. Jika Anda berkenan, di tempat ini Anda dapat menunggu saya dua jam lagi.

Dari contoh di atas, kata-kata yang dicetak miring dikategorikan sebagai dieksis. Pada kalimat (1) yang dimaksud dengan begitulah tidak bisa diketahui karena uraian berikutnya tidak dijelaskan. Pada kalimat (2) kapan yang dimaksud dengan hari ini dan besok juga tidak jelas, karena kalimat itu terpampang setiap hari di sebuah kafetaria. Pada kalimat (3) kata Anda tidak jelas rujukannya, apakah seorang wanita atau pria, begitu juga frasa di tempat ini lokasinya tidak jelas.

Lanjutkan membaca “Deiksis”

Wacana

Wacana

Oleh: Firdawati, S.Pd.

A. Hakikat Wacana

Kata wacana adalah salah satu kata yang banyak disebut seperti halnya demokrasi, hak asasi manusia, dan lingkungan hidup. Seperti halnya banyak kata yang digunakan, kadang-kadang pemakai bahasa tidak mengetahui secara jelas apa pengertian dari kata yang digunakan tersebut. Ada yang mengartikan wacana sebagai unit bahasa yang lebih besar dari kalimat. Ada juga yang mengartikan sebagai pembicaraan. Kata wacana juga banyak dipakai oleh banyak kalangan mulai dari studi bahasa, psikologi, sosiologi, politik, komunikasi, sastra dan sebagainya.

1.      Pengertian Wacana

Istilah wacana berasal dari kata sansekerta yang bermakna ucapan atau tuturan. Menurut Alwi, dkk (2003:42), wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan sehingga membentuk makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu. Menurut Tarigan (dalam Djajasudarma, 1994:5), wacana adalah satuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat  atau klausa dengan koherensi dan kohesi tinggi yang berkesinambungan, yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata. Lebih lanjut, Syamsuddin (1992:5) menjelaskan pengertian wacana sebagai rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam satu kesatuan yang koheren, dibentuk dari unsur segmental maupun nonsegmental bahasa.

Lanjutkan membaca “Wacana”