Jurnal Ilmiah

Contoh Jurnal Ilmiah

Kontribusi Kecerdasan Emosional dan Budaya Organisasi terhadap Kualitas Pelayanan di Fakultas

Selingkungan Universitas Negeri Padang

 

Yusrizal

 

Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang

The aim of this research was to reveal the contribution of the emotional intellegency of the staffs and Culture of Organization collectively toward Services Quality at Faculties in State University of Padang. There were three hypoteses wich were tested in the research. First, the emotional intellegency had a contribution toward services quality. Second, culture of organization had a contribution toward services quality. Third, emotional intellegency and culture of organization collectively contributed toward services quality.

The population of the research was 247 administratif staff at faculties in State University of Padang. The samples of the research were 83 staff selected by using a stratified proportional random sampling technique. The data were analyzed by using a Likert scale questionnaire whose validity and reability had been tested. The cooficien were rtt = 0,92 for Service Quality, rtt = 0,92 for the emotional intellegency of the staffs, and rtt = 0,93 for culture of Organization.

The findings of the research showed that (1) there was 16,30% contribution of the emotional intellegency toward Services Quality, (2) there was 10% contribution culture of organization toward services quality, and (3) there was 25,40% contribution of the emotional intellegency and culture of organization collectively toward services quality. It is, therefore, concluded that staff’s emotional intellegency and Culture of Organization are two important factors that significantly contribute to the quality services provided by the administrative staff at faculties in State University of Padang.

Kata Kunci: Kecerdasan Emosional, Budaya Organisasi, Kualitas Pelayanan

Baca lebih lanjut

Iklan

Menjadi Manusia Pembelajar

Menjadi Manusia Pembelajar

Oleh: Yusrizal

“Tidak ada manusia yang tidak butuh belajar, sekalipun dia dekat dengan kematian”. Demikian ungkapan bijak yang pernah dilontarkan oleh ilmuwan besar Albert Einstein. Ungkapan ini ditulis oleh salah satu organisasi kemahasiswaan dalam sebuah mading di kampus, sehubungan dengan menyambut hari Pendidikan Nasional.

Esensi dari ungkapan bijak tersebut menyadarkan kita akan pentingnya belajar. Belajar bukan hanya sebagai suatu kewajiban, melainkan juga sebagai suatu kebutuhan. Layaknya kebutuhan hidup, belajarpun merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi. Meskipun manusia tersebut sudah berusia lanjut. Hanya kematianlah yang bisa menghentikan seseorang untuk belajar.

Jauh sebelum Albert Einstein mengeluarkan kalimat bijak tersebut, Nabi  Muhammad SAW dalam sebuah hadistnya mengatakan: ”tuntutlah ilmu dari buayan hingga ke liang kubur”. Dengan redaksi yang sedikit berbeda, agamapun menyuruh umat manusia untuk selalu belajar (menuntut ilmu). Tidak pandang usia, apakah bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa maupun orang-orang yang sudah berusia lanjut. Lagi-lagi hanya kematian yang menjadi batas seseorang untuk berhenti belajar.

Baca lebih lanjut

Ujian Nasional VS Pemerataan Pendidikan

Ujian Nasional VS Pemerataan Pendidikan

Oleh: Yusrizal

Semenjak minggu yang lalu hingga beberapa hari kedepan dunia pendidikan di tanah air kita di sibukkan dengan kegiatan Ujian Nasional (UN). Dimulai dari UN untuk tingkat pendidikan menengah atas, dilanjutkan dengan UN untuk tingkat pendidikan menengah pertama dan diakhiri dengan UN untuk tingkat pendidikan dasar.

Meskipun banyak ditentang oleh berbagai pihak, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional tetap bersikukuh melaksanakan UN. Pemerintah berpandangan bahwa untuk meningkatkan standar mutu pendidikan, diperlukan suatu standar penilaian yang sama untuk tingkat nasional. Pemerintah juga mengaitkan hasil UN sebagai standar kelulusan peserta didik di suatu tingkat pendidikan.

Munculnya polemik pelaksanaan UN, tak terlepas dari ketidakmerataan di dunia pendidikan. Banyak kalangan menilai pemerintah melakukan suatu kesalahan dengan menjadikan UN sebagai standar kelulusan peserta didik. Satu sisi pemerintah menerapkan suatu standar kelulusan yang sama bagi semua peserta didik untuk suatu tingkat pendidikan. Namun di sisi lain, pemerintah belum mampu memberikan pemerataan pelayanan yang sama bagi semua peserta didik.

Baca lebih lanjut

Pentingnya Mengetahui Gaya Belajar Peserta Didik

Tulisan ini telah pernah di posting sebelumnya. setelah diedit kembali dan dikirimkan ke media cetak, alhamdulillah tulisan ini dimuat di Harian Haluan edisi Senin, 22 Maret 2010.

Pentingnya Mengetahui Gaya Belajar Peserta Didik

Oleh : Yusrizal, S.Pd.

Mengapa sebagian peserta didik senang belajar dalam keadaan tenang, damai dan tidak berisik, sedangkan sebagian yang lain justru senang belajar dalam suasana hiruk pikuk yang diiringi dengan setelan musik yang begitu keras? Mengapa sebagian peserta didik lebih senang mendengar ceramah guru yang menerangkan pelajaran di depan kelas, sedangkan sebagian yang lain justru lebih senang jika pelajaran itu dicatatkan di papan tulis atau didiskusikan dalam kelas?

Fenomena-fenomena di atas sering kita jumpai dalam kegiatan pendidikan sehari-hari. Salah satu faktor utama yang menyebabkan perbedaan diantara peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran adalah gaya belajar yang mereka miliki. Peserta didik sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, memiliki keunikan masing-masing dalam mengikuti proses pembelajaran. Mereka memiliki gaya belajar yang tersendiri yang membedakannya dengan peserta didik lainnya. Minat dan bakat yang mereka miliki, pengalaman hidup yang mereka dapatkan, hobi yang mereka gemari, merupakan beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan gaya belajar diantara mereka.

Baca lebih lanjut

MASTER (Enam Langkah dasar Cara Belajar dipercepat)

MASTER

(Enam Langkah dasar Cara Belajar dipercepat)

“Teknik-teknik CBC ibarat program induk sebuah komputer. Teknik-teknik itu bukanlah program itu sendiri, tetapi Anda dapat menjalankan semua program lain atas program induk tersebut. Teknik-teknik adalah alat yang Anda pakai untuk mencapai tujuan Anda dengan lebih cepat dengan kepastian lebih besar”.

Brian Tracy

Dalam bukunya Accelerated Learning for the 21st Century (cara belajar cepat abad XXI), Rose dan Nicholl memaparkan kepada kita semua tentang suatu pendekatan baru dalam dunia pendidikan. Pendekatan ini lebih dititik beratkan kepada cara belajar cepat di abad ke-XXI. Inti dari pendekatan ini adalah belajar bagaimana cara belajar. Yang menarik dari pendekatan ini adalah adanya struktur cara belajar yang dibagi menjadi enam langkah dasar yang diakronimkan menjadi MASTER.  Keenam langkah dasar tersebut adalah:

1. Motivating your mind (memotivasi pikiran)

Untuk dapat belajar dengan baik, kita harus berada dalam keadaan yang “kaya akal”. Kita harus dalam keadaan rileks, penuh percaya diri dan dalam keadaan yang termotivasi untuk belajar. Apabila kita dalam keadaan stress, kurang percaya diri dan tidak memiliki motivasi untuk belajar, maka kita tidak bisa belajar dengan baik. Untuk memotivasi pikiran sebelum belajar, kita perlu memantapkan dalam pikiran kita, apa manfaatnya bagiku? Dengan mengetahui manfaat yang akan kita peroleh dengan mempelajari sesuatu, maka motivasi untuk belajar akan meningkat.

2. Acquiring the information (memperoleh informasi)

Dalam belajar kita akan menemukan informasi dan fakta-fakta yang baru.Kita perlu mengambil, memperoleh dan menyerap informasi dan fakta-fakta baru yang kita pelajari melalui cara yang paling sesuai dengan kita. Hal ini berkaitan erat dengan gaya belajar yang kita miliki. . Dengan mengetahui gaya belajar yang paling cocok, memungkinkan bagi kita untuk memperoleh informasi yang banyak dan mendalam.

Baca lebih lanjut

Mengenal Gaya Belajar

Mengenal Gaya Belajar

Oleh: Yusrizal, S.Pd.

Gaya belajar adalah kombinasi dari bagaimana informasi diserap, diatur serta diolah. Jadi, gaya belajar seseorang merupakan kombinasi dari bagaimana ia menyerap suatu informasi, kemudian mengatur dan mengolah informasi tersebut. (DePorter:2002)

imagesSebuah penelitian ekstensif, khususnya di Amerika Serikat, yang dilakukan oleh Profesor Ken dan Rita Dunn dari universitas St. John di Jamaica, New York, dan para pakar pemrograman Neuro Linguistik seperti, Richard Bandler dan John Grinder dan michael Grinder, telah mengidentifikasi tiga gaya belajar dan komunikasi yang berbeda.(Rose:2003)

1. Visual. Gaya belajar seperti ini lebih mengutamakan kekuatan imagespenglihatan(mata). Belajar melalui melihat sesuatu. Orang dengan gaya belajar visual menyukai gambar, diagram, pertunjukkan, peragaan, pemutaran film atau video sebagai media pembelajaran. Berikut beberapa kharakteristik pembelajar visual:

  • Suka membaca; menonton televisi, film; menerka teka-teki atau mengisi TTS; lebih suka membaca ketimbang dibacakan; lebih suka memperhatikan ekspresi wajah ketika berbicara dengan orang lain.
  • Mengingat orang melalui penglihatan(tak pernah melupakan wajah); mengingat kata-kata dengan melihat dan biasanya bagus dalam mengeja atau melafalkan; tetapi butuh waktu lama untuk mengingat susunan atau urutan abjad jika tidak disebutkan awalnya.
  • Kalu memberi/menerima penjelasan arah lebih suka memakai peta /gambar
  • Selera pakaian: bergaya, penampilan penting, warna pilihannya sesuai, tertata atau terkoordinasi
  • Menyatakan emosi melalui ekspresi muka.
  • Menggunakan kata da ungkapan seperti: melihat, menonton, menggambarkan, sudut pandang, mencerahkan, perspektif, mengungkapkan, tampak bagiku, meneropong, fokus, cemerlang, bersemangat, dan sebagainya.
  • Aktivitas kreatif: menulis, menggambar, melukis, merancang, melukis di udara.
  • Cenderung berbicara cepat, tetapi mungkin cukup pendiam di dalam kelas.
  • Berhubungan dengan orang lain lewat kontak mata dan ekspresi wajah
  • Saat diam suka melamun atau menatap ke atas.
  • Menjalankan bisnis atas dasar hubungan personal antarwajah
  • Punya ingatan visual bagus. (ingat dimana meninggalkan sesuatu beberapa hari yang lalu.
  • Merespon lebih bagus ketika diperlihatkan sesuatu ketimbang diceritakan sesuatu.

2. Auditori. Gaya belajar Auditory lebih mengutamakan kekuatan imagespendengaran (telinga) Belajar melalui mendengarkan sesuatu. Orang dengan gaya belajar auditory lebih menyukai kaset audio, ceramah perkuliahan, diskusi, debat dan instruksi dalam proses belajar mengajar. Kharakteristik pembelajar auditori yaitu:

  • Suka mendengar radio, musik, sandiwara, drama, debat; lebih suka cerita yang dibacakan kepadanya dengan berbagai ekspresi
  • Ingat dengan baik nama orang; bagus dalam mengingat fakta; suka berbicara dan mempunyai perbendaharaan kata yang luas
  • Menerima dan memberikan penjelasan arah dengan kata-kata (verbal); senang menerima instruksi secara verbal
  • Selera: yang penting label, mengetahui siapa perancangnya dan dapat menjelaskan pilihan pakaiannya.
  • Mengungkapkan emosi secara verbal melalui perubahan nada bicara atau vokal
  • Menggunakan kata-kata dan ungkapan seperti: kedengarannya benar, membangkitkan lonceng, mendengarkan apa yang anda katakan, ceritakan, dengarkan, panggil, lantang, jelas, lebih dari cukup, teguran, jaga lidah anda, ungkapkan diri anda, memberi perhatian, berkata benar, dan sebagainya
  • Aktivitas kreatif: menyanyi, mendongeng, mengobrol apa saja, bermain musik, membuat cerita lucu, berdebat, berfilosofi.
  • Berbicara dengan kecepatan sedang; suka bicara bahkan dalam kelas.
  • Berhubungan dengan orang lain lewat dialog, diskusi terbuka.
  • Dalam keadaan diam, suka bercakap-cakap dengan dirinya sendiri atau bersenandung,
  • Suka menjalankan bisnis melalui telepon.
  • Cenderung mengingat dengan baik dan menghafal kata-katadan gagasan-gagasan yang pernah diucapkan.
  • Merespons lebih baik tatkala mendengar informasi ketimbang membacanya.

3. Kinestetik. Gaya belajar kinestetik lebih mengutamakan keterlibatanimages aktivitas fisik secara langsung. Belajar melalui aktivitas fisik. Media pembelajaran yang disukai antara lain bermain peran, kunjungan wisata, lebih menyukai pelajaran praktek ketimbang teori. Berikut kharakteristik pembelajar kinestetik:

  • Menyukai kegiatan aktif, baik sosial maupun olahraga, seperti menari dan lintas alam.
  • Ingat kejadian-kejadian; hal-hal yang terjadi.
  • Memberikan dan menerima penjelasan arah dengan mengikuti jalan yang dimaksud-“lebih mudah apabila anda mengikuti saya saja”.
  • Selera: nyaman dan “rasa” bahan lebih penting daripada gaya.
  • Mengungkapkan emosi melalui bahasa tubuh-gerak/nada otot.
  • Menggunakan kata dan ungkapan seperti: merasa, menyentuh, menangani, mulai dari awal, menaruh kartu di meja, meraba, memegang, memetik dawai, mendidihkan bergandengan tangan, mengatasi, menahan, tajam laksana pisau.
  • Aktivitas kreatif: kerajinan tangan, berkebun, menari, berolahraga
  • Berbicara agak lambat.
  • Berhubungan dengan orang lain lewat kontak fisik, mendekat/akrab, menyentuh.
  • Dalam keadaan diam selalu merasa gelisah; tidak bisa duduk tenang.
  • Suka melakukan urusan seraya mengerjakan sesuatu.
  • Ingat lebih baik menggunakan alat bantu belajar tiga dimensi
  • Belajar konsep lebih baik dengan menangani objek secara fisik.

Seseorang bisa saja memiliki sebagian kharakteristik pelajar visual, auditori dan kinestetik sekaligus. Artinya, dia bisa saja menjadi pelajar visual, sekaligus menjadi pelajar auditori; atau pelajar kinestetik, yang juga mampu untuk belajar secara visual.. Kita bisa menggunakan salah satu gaya belajar dalam menyerap informasi. Kita juga bisa menggunakan kombinasi diantara ketiga gaya belajar tersebut. Namun, tentu saja ada suatu kecenderungan dalam diri kita, gaya belajar mana yang lebih cocok dengan kita. Jika seseorang mampu mengidentifikasi gaya belajar yang cocok dengan dirinya, maka dia akan mampu menyerap informasi secara efesien.

Dalam dunia pendidikan, mengenal dan mengetahui gaya belajar merupakan suatu hal yang penting. Guru harus bisa mengidentifikasi dan mengetahui gaya belajar muridnya. Apakah muridnya lebih tertarik dengan ceramah, atau diskusi dalam preses pembelajaran? Atau lebih menyukai bermain peran dan pelajaran yang lebih bersifat praktek? Karena dalam suatu kelas terdiri dari banyak siswa dengan gaya belajar yang berbeda-beda, maka dituntut kreativitas guru untuk lebih inovatif dan kreatif menggunakan metode mengajar serta media yang digunakan. Gunakanlah berbagai metode mengajar yang berbeda, serta pakailah media pembelajaran yang variatif, sehingga mampu mengakomodir semua siswa dengan gaya belajar yang berbeda.

Nah, gaya belajar mana yang cocok dengan Anda, Visual, Auditori atau Kinestetik? Selamat belajar!!

*****

Referensi: dari berbagai sumber

Profile Guru yang Sukses

Profile Guru yang Sukses

oleh: Yusrizal, S.Pd.

imagesGuru merupakan salah satu komponen pendidikan yang memegang peranan penting dalam dunia pendidikan. Bahkan bisa dikatakan bahwa maju atau tidaknya pendidikan di suatu negara ditentukan oleh kualitas guru-guru yang ada di negara itu. Oleh sebab itu, kesuksesan dunia pendidikan di negara kita dipengaruhi oleh kesuksesan seorang guru.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana profil dari guru yang sukses tersebut? Ada beberapa profil guru yang sukses yang diutarakan oleh siswa (Prayitno:2008)  yaitu:

1. Memandang bahwa pekerjaan mendidik/mengajar sebagai sesuatu yang menarik dan menantang. Guru yang sukses tidak memandang pekerjaan mendidik atau mengajar sebagai suatu pekerjaan yang membosankan, yang pada gilirannya akan menyebabkan hilangnya rasa tanggung jawab terhadap siswa yang dididik. Guru harus menyadari bahwa mendidik merupakan suatu pekerjaan yang memerlukan tanggung jawab pribadi untuk mendidik siswa.

2. Menganggap bahwa adanya masalah (baik dalam proses hubungan dengan siswa atau dalam proses pembelajaran) sebagai sesuatu yang harus ditangani dan dipecahkan. Guru tidak boleh menyerah terhadap masalah yang ada. Jangan jadikan masalah yang ada sebagai beban, namun jadikan sebagai tantangan yang harus diatasi dalam proses belajar mengajar.

3. Bersedia bekerja atau melayani siswa yang lambat. Guru yang sukses tidak boleh menolak melayani siswa yang lambat dalam menerima pelajaran. Berikanlah dukungan dan motivasi bagi siswa tersebut. Jangan sampai ada perasaan kurang nyaman dalam mengajar, hanya karena ada siswa yang lambat dalam menerima pelajaran.

4. Bersikap realistik terhadap siswa. Guru harus menyadari bagaimana kemampuan yang dimiliki oleh siswanya. Perbedaan kemampuan yang dimiliki oleh siswa merupakan suatu hal yang wajar. Jangan sampai adanya perbedaan tersebut membuat guru subjektif dalam melakukan proses belajar mengajar.

5. Suka melakukan hubungan antar pribadi dengan siswa. Guru yang sukses mampu untuk melakukan hubungan yang baik dengan semua siswa. Tidak boleh ada perlakuan yang berbeda antara siswa yang pandai dan  rajin dengan siswa yang malas dan kurang pintar. Jangan sampai guru membuat jarak yang tegas dengan siswa.

6. Menganggap siswa sebagai pribadi yang sedang belajar. Jangan jadikan siswa sebagai beban dalam proses belajar mengajar, namun hargailah mereka sebagai individu yang sedang belajar, yang memerlukan arahan dan bimbingan.

7. Hangat dan tampak istimewa di mata siswa. Guru yang sukses mampu memberikan kesan sebagai pribadi yang hangat dalam berhubungan dengan siswa. Jangan bersikap dingin terhadap siswa yang pada gilirannya nanti dapat berakibat hubungan dengan siswa menjadi pahit dan getir.

8. Melihat diri sendiri sebagai orang yang berperan memecahkan masalah yang timbul. Guru yang sukses mampu memecahkan masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar di sekolah. Jangan terlalu bergantung kepada kepala sekolah dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

Itulah beberapa ciri yang perlu dimiliki oleh seorang guru yang sukses. Permasalahannya adalah mampukah guru-guru kita untuk memiliki ciri-ciri tersebut? Pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab oleh guru-guru tersebut. Bagi guru-guru, mari berusaha meningkatkan kemampuan dalam proses belajar mengajar.

*****

Sumber: Prayitno. 2008.  Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Padang: UNP