Maaf Lahir Batin

Maaf Lahir Batin

Seorang anak bertanya kepada bapaknya, “Yah, kenapa sebelum berpuasa orang pada bersalaman saling meminta maaf”? Saat itu, si anak melihat bapak dan ibuknya bersalaman dengan tetangganya..

Si Bapak kemudian menjawab, ” biar kita bersih dan suci dari dosa-dosa akibat kesalahan kita kepada orang lain “.

“Lantas, bagaimana jika kita tidak sempat bertemu dan bersalaman?” Tanya si anak selanjutnya.

“Tuliskan saja ‘Selamat menjalankan ibadah puasa, mohon maaf lahir dan batin’ dalam blog mu”. Jawab si Bapak sembari menulis di webblognya..
“ooo..ooo” si anakpun tersenyum polos, dan menyalin kembali kata-kata tersebut di blognya.

Timbulkan Lapar Menulis

Timbulkan Lapar Menulis

Pertengahan Oktober 2003, Putu Wijaya pernah diwawancarai oleh seorang wartawan yang juga penulis. Setelah ngalor ngidul bercerita, wartawan menyeret Putu ke sebuah pertanyaannya klasik, “bagaimana bung Putu bisa selalu menulis” Seperti diketahui dramawan yang tak pernah lepas topi ini menulis drama, cerita bersambung yang kala itu dimuat di Media Indonesia, menjadi wartawan Tempo, memimpin Teater Mandiri dan seabreg bujet kegiatan lainnya. “Gampang, Din!,” jawab Putu kepada Zaenuddin, nama wartawan tersebut. Terang saja Zaenuddin tambah bersemangat, “Apa itu Bung?”
“Selalu lapar, tepatnya lapar menulis..” sahut Putu enteng.
“Seperti orang yang selalu lapar, dia tidak pernah mengeluh menulis sesibuk apapun. Tidak pernah sambat kurang waktu, kurang tidur ataupun kurang fasilitas. Kalau ia berhenti menulis, laparnya timbul, kepalanya mumet. Benaknya selalu ingin cari dan curi kesempatan untuk menulis.” Wah sepertinya gampang betul, timbang menimbulkan perasaan lapar. Ada contoh yang lain?

Eep Syaifulah, menulis saat menyetir!

Yang betul dong, kalau bohong yang bener (ada orang bohong tapi jujur). Eep memang nyetir, tetapi istri setianya yang kemudian dilengserkan yang lalu diblowup oleh media sebagai pelaku fornikasi, bertugas mencatat, merekam segala loncatan bunga api dalam kepalanya agar sesampainya di kantor, kampus atau rumah ide tersebut tidak padam. Saat kebelet berhajat di toilet malahan ide cemerlangnya timbul sehingga kertas tisue menjadi sasaran tumpahan idenya.

Jadi kuncinya ya seperti kata Putu, “perasaan selalu lapar menulis..”

Sumber: http://mimbarsaputro.wordpress.com

Ketika Musibah Menimpa

Ketika Musibah Menimpa

Setiap kita tidak akan terlepas dari musibah. apapun itu bentuknya. Kehilangan keluarga, kehilangan harta, ditimpa persoalan yang pelik, merupakan contoh kecil dari musibah.

Yang jadi permasalahan adalah bagaimana kita bersikap dalam menghadapi musibah tersebut.

Dr. Aidh al-Qarni dalam bukunya “La Tahzan” memberikan suatu nasehat bahwasanya ketika kita sering di timpa musibah, hendaknya kita melakukan:

  1. Tanyakan pada diri Anda: apa kemungkinan terburuk yang akan terjadi?
  2. Persiapkan diri Anda untuk menerima dan menghadapinya.
  3. Kemudian, hadapi dengan tenang untuk menjadikan kemungkinan terburuk itu menjadi lebih baik.

Semoga kita kuat menghadapi musibah yang datang dan mengambil ikhtibar dari musibah tersebut. Amin…

Anand Krisna dan Mario Teguh juga Manusia

Anand Krisna dan Mario Teguh juga Manusia

Oleh: Yusrizal

Disamping kasus Bailout Bank Century yang telah sampai ke pandangan akhir atau rekomendasi pansus, Ada dua kasus menarik yang belakangan ini menjadi buah bibir dikalangan masyarakat. Pertama, Anand Krisna dengan kasus pelecehan seksualnya terhadap mantan muridnya, yang telah sampai ke pihak kepolisian. Kedua, Mario Teguh dengan tulisannya di status akun Twitter yang menyebutkan perempuan perokok dan yang suka dugem tidak layak untuk dinikahi.

Kedua kasus ini menjadi menarik mengingat Anand Krisna dan Mario Teguh merupakan dua tokoh yang telah lama di kenal masyarakat. Anand Krisna dikenal sebagai tokoh spiritualis lintas agama, nasionalis, humanis, budayawan, dan penuli

Adapun Mario teguh lebih dikenal sebagai motivator ternama, yang wajahnya sering tampil di salah satu televisi swasta nasional dalam acara yang bertajuk: “Mario Teguh Golden Ways”. Pria berkaca mata dan murah senyum ini populer dengan  “Salam Super”nya

s yang tinggal di Jakarta. Anand Krisna juga telah mendirikan sebuah yayasan yang bernama Anand Ashram  pada tahun 1991 yang berafiliasi dengan PBB sejak 2006.

Meskipun Anand Krisna lebih banyak bergerak di bidang spiritual dan Mario Teguh di bidang motivasi dengan kalimat-kalimat bijaknya, namun kedua tokoh ini memberikan pencerahan dalam kehidupan. Kedua tokoh ini mampu membakar semangat para pengikut dan orang-orang yang memiliki ketertarikan dengan dunia spiritual dan pengembangan diri.

Baca lebih lanjut

Menunggu Nasib Koalisi Pemerintahan

Menunggu Nasib Koalisi Pemerintahan

Oleh: Yusrizal

Menarik mendengar pernyataan Bambang Soesatyo, anggota tim Pansus Century dari Golkar. “Siapkan telur busuk dan sambit para politisi atau partai politik yang balik kanan atau yang tidak konsisten soal Century”, demikian tegasnya dalam sebuah diskusi di Universitas Paramadina beberapa waktu yang lalu. (Okezone.com)

Pernyataan ini dikeluarkan oleh Bambang, mengingat pada Rabu, 17 Februari mendatang sejumlah fraksi di DPR akan menyatakan sikap soal kasus bailout Bank Century sebesar 6,7 triliun.

Apakah ini merupakan sinyalemen bahwa koalisi besar pendukung pemerintahan SBY-Budiono bagaikan telur diujung tanduk? Mengingat Golkar merupakan salah satu partai besar pendukung pemerintahan dengan menempatkan tiga orang menterinya dalam kabinet.

Baca lebih lanjut

Menanti Kejujuran Pelaksanaan Ujian Nasional

Menanti Kejujuran Pelaksanaan Ujian Nasional

Alkisah, di Tiongkok kuno ada sebuah kerajaan yang besar dan makmur. Kerajaan ini dipimpin oleh Raja yang adil dan bijaksana. Seluruh rakyatnya sangat mencintainya. Namun sayangnya, Raja ini tidak dikaruniai seorang putera mahkota.

Setelah dibicarakan dengan perdana menterinya, maka Raja bermaksud untuk mengadakan sayembara untuk mencari penerus tahtanya. Segera semua rakyatnya dikumpulkan di istana untuk memberitahukan perihal sayembara tersebut.

“Besok pukul 10 pagi saya akan memberikan kepada setiap anak di seluruh negeri satu biji bunga. Barang siapa yang bisa menghasilkan bunga paling indah, maka saya akan mendidiknya untuk menjadi putera mahkota kerajaan ini. Kelak dialah yang akan menggantikanku,” demikian titah sang Raja. Rakyatpun kembali ke rumahnya masing masing dan tidak sabar menunggu datangnya hari esok.

Baca lebih lanjut