Padang di Hoyak Gempa

Padang di hoyak gempa

Sore itu, penulis baru saja sampai di Durian Taruang (Kampung Istri). Penulis bermaksud menjemput anak dan istri yang terlebih dahulu kesana.  Sebelumnya, penulis pulang dari kantor di FBSS UNP Padang, sehabis menunaikan sholat Ashar.  Penulis masih sempat mengkopi beberapa buah kaset untuk mahasiswa (untuk keperluan MK Listening di Jurs. Bahasa Inggris). Karena Istri menelpon agar segera ke Durian Taruang karena anak rewel, maka penulis langsung ke durian tarung dan menghentikan aktivitas mengkopi kaset.

Sampai di durian taruang, penulis bertemu dengan anak dan mengajaknya, melihat ikan di dalam kolam yang ada di depan rumah kakak.  Istri kemudian melanjutkan aktivitasnya membersihkan rumah orang tua. (kami tinggal di rumah sendiri). Ketika kami melihat ikan di kolam itulah tiba-tiba terasa gempa. Gempa terasa sangat kuat dari gempa yang pernah terjadi di padang sebelumnya. Orang-orang berlarian keluar dari rumahnya. (Gempa tercatat terjadi pada pukul 17.16 Wib dengan kekuatan 7,8 skala richter, pusat gempa di Pariaman Sumatera Barat.)

Setengah jam kemudian, penulis mendapati bahwa motor penulis sudah roboh dengan kaca spion dan kap depan yang pecah. Setelah dirasa kondisi cukup aman, dan memastikan bahwa keluarga di durian taruang semua baik-baik saja, maka penulis beserta anak dan istri bermaksud untuk pulang, melihat bagaimana situasi di rumah. Dalam perjalanan, penulis mendapati jalanan di sekitar by pass begitu macet. orang-orang dari arah barat yang hendak menyelamatkan diri, (karena takut akan terjadinya tsunami) membuat jalan by pass macet seketika.

Menjelang pulang itulah penulis melihat begitu banyak rumah-rumah penduduk yang rusak berat. Ada yang dindingnya roboh, bangunannya miring, bahkan ada yang atapnya mencium tanah (runtuh total). Hal ini membuat penulis dan istri semakin pingin cepat sampai di rumah untuk mengetahui bagaimana keadaan rumah. Begitu melihat rumah, Alhamdulillah, kami bersyukur karena rumah tidak apa-apa, walapun rak bunga di depan sudah hancur semua. Masuk ke rumah, kami tidak menemukan kerusakan yang berarti. Hanya barang-barang yang bertebaran di lantai yang jatuh dari tempatnya. Kami benar-benar bersyukur.

Listrik mati, jaringan rusak, tidak bisa menghubungi maupun dihubungi sama sekali. Penulis hanya bisa mendengar informasi dari radio. Dari informasi radio itulah penulis mengetahui bahwa kerusakan yang parah dialami oleh kota Padang dan Pariaman. Banyak orang-orang yang terperangkap di dalam bangunan berlantai lebih dari dua. Di tempat-tempat kursus pendidikan seperti Gama, LIA, guru beserta peserta didiknya terhimpit dengan beratnya bangunan diatasnya. Di Ambacang Plaza, banyak yang terperangkap, karena pada saat itu ada seminar yang tengah berlangsung. Pasaraya yang menjadi pusat jual beli pun terbakar dan salah satu bangunannya roboh.

Satu fenomena yang menarik adalah, semua SPBU di kota Padang ramai dengan antrian kendaraan bermotor. Mereka berbondong-bondong membeli bahan bakar. Entah apa sebabnya, takut kehabisan atau karena memang mau keluar kota untuk menghindar dari kota padang. Karena malas mengantri, penulis bahkan sempat membeli premium dengan harga Rp10.000,- perliter. yang dijual di kios-kios kecil.

Begitulah, keesokan harinya baru penulis bisa menuju rumah orang tua di sawahan, karena malamnya jalanan begitu macet, apalagi dari arah barat ke timur ke arah by pass. Alhamdulillah, orang tua dan keluarga lainnya juga selamat, termasuk rumah.

Padang… oh Padang…  Padang Kota Tercinta, kujaga dan kubela.

Semoga kita bisa bersabar dan belajar dari apa yang telah terjadi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s