Proses Pengawasan

Proses Pengawasan

 

Menurut Handoko (1998), proses pengawasan biasanya terdiri dari paling sedikit lima tahap (langkah). Tahap-tahapnya adalah sebagai berikut:

1.    Penetapan standar pelaksanaan

Standar mengandung arti sebagai suatu satuan pengukuran yang dapat digunakan sebagai patokan untuk penilaian hasil-hasil. Tujuan, sasaran, kuota, dan target pelaksanaan dapat digunakan sebagai standar. Adapun bentuk standar yang lebih khusus antara lain target penjualan, anggaran, bagian pasar, marjin keuntungan, keselamatan kerja dan sasaran produksi.

Baca lebih lanjut

Iklan

Pembuatan Keputusan, Kerangka, dan Konteks Disipliner

Pembuatan Keputusan, Kerangka, dan Konteks Disipliner

 

Pengertian Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan adalah pekerjaan sehari-hari dari manajemen. Seorang eksekutif, manajer, kepala bagian, direktur, presiden, rektor, dekan, dan pejabat apapun, kehidupan mereka dalam organisasi selalu bergumul dengan keputusan. Sebagian waktu mereka harus dicurahkan pada penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan.

Berikut ini beberapa pendapat ahli mengenai pengertian pembuatan keputusan atau pengambilan keputusan.

  1. Baca lebih lanjut

Analisis Pekerjaan dalam Manajemen Sumber Daya Manusia

BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Organisasi pada dasarnya merupakan kerjasama dua orang atau lebih dalam rangka mencapai tujuan. Menurut Sutarto (dalam Usman, 2009:146) organisasi adalah kumpulan orang, proses pembagian kerja, dan sistem kerja sama atau sistem sosial. Defenisi yang dikemukakan Sutarto menekankan kepada tiga hal yaitu (1) adanya kumpulan orang, (2) ada proses pembagian kerja antara orang-orang tersebut, dan (3) ada sistem kerjasama atau sistem sosial di antara orang-orang tersebut.

Dalam mencapai tujuannya, organisasi memerlukan berbagai macam sumber daya. Mulai dari sumber daya manusia, peralatan, mesin, keuangan, dan sumber daya informasi. Setiap sumber daya memiliki tugas dan fungsinya masing-masing. Sebagai suatu sistem, sumber daya-sumber daya tersebut akan berinteraksi dan saling bekerja sama sehingga tujuan dapat tercapai dengan efektif dan efisien.

Baca lebih lanjut

Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System – DSS)

Sistem Pendukung Keputusan

(Decision Support System – DSS)

Konsep DSS

Konsep DSS dimulai pada akhir tahun 1960-an dengan timesharing komputer. Untuk pertama kalinya seseorang dapat berinteraksi langsung dengan komputer tanpa harus melalui spesialis informasi.

Baru pada tahun 1971, istilah DSS diciptakan oleh G. Anthony Gorry dan Michael S. Scott Morton. Mereka merasa perlunya suatu kerangka kerja untuk mengarahkan aplikasi komputer kepada pengambilan keputusan manajemen dan mengembangkan apa yang dikenal sebagai Gorry & Scott Morton Grid. Dimana Matriks Grid ini didasarkan pada konsep Simon mengenai keputusan terprogram dan tak terprogram serta tingkat-tingkat manajemen Robert N. Anthony.

Gorry dan Scott Morton mengembangkan jenis-jenis keputusan menurut struktur masalah, dari terstruktur hingga tidak terstruktur. Untuk menjelaskan tingkat manajemen puncak, menengah dan bawah, Anthony menggunakan nama perencanaan strategis, pengendalian manajemen dan pengendalian operasional.

Tahap-tahap pengambilan keputusan Simon digunakan untuk menentukan struktur masalah. Masalah terstruktur merupakan suatu masalah yang memiliki struktur pada tiga tahap yaitu intelijen, rancangan, dan pilihan. Masalah tak terstruktur, sebaliknya merupakan masalah yang sama sekali tidak memiliki tiga tahap di atas. Adapun masalah semi-terstruktur merupakan masalah yang memiliki struktur hanya pada satu atau dua tahap.

Baca lebih lanjut

Kami Lepas Sukmamu pada malam di Lebaran Kedua. (mengenang ayah kami tercinta)

Kami Lepas Sukmamu pada malam
di Lebaran Kedua. (mengenang ayah kami tercinta)

oleh: Yusrizal Firzal

malam itu…
luka menganga
perih, pedih, menyakitkan

malam itu Syawal masih balita
rembulan masih malu-malu menampakkan diri
dicilukbai bintang-bintang

malam itu magrib tlah tunai
tak lagi diiringi takbir tahmid dan tahlil
timbang terima nyamuk dan lalatpun tlah usai

di ruangan itu…
luka menganga
perih, pedih, menyakitkan

di ruangan itu, aroma Izrail menyeruak
mengisi pori-pori udara

kepergianmu menggoreskan luka menganga
perih, pedih, menyakitkan
di hati kami, istrimu, anak-anakmu, menantu-menantumu, cucu-cucumu,
kemenakan-kemenakanmu, adik-kakakmu, semendamu,
ipar besanmu, dan sahabat-sahabatmu.

tak sepasang matapun luput dari buliran bening
basah, sembab, menggumpal, jatuh di pipi
puluhan isak membahana, mengiringi pasrahmu dijemput Izrail

kami lepas sukmamu pada malam di lebaran kedua
tawa menyambut kemenangan di hari yang fitri
berganti duka penuh deraian air mata
bayangan tentang dirimu melintas begitu saja
di setiap sudut kenangan kami

uda, ayah, kakek, adik, kakak, mak etek, dadang
tak ada lagi panggilan itu tersemat ke ragamu
biarlah panggilan itu tetap hidup dalam setiap kenangan kami
pengisi cerita tatkala kami terkenang akan dirimu, kebaikanmu.
kami lepas sukmamu pada malam di lebaran kedua.

Padang, 13 Mei 2011

Sayap Patah

Sayap Patah

Sayapku patah, begitu aku mulai terbang melayang
Menggapai asa menembus awan yang digerayangi surya.

Sayapku patah, sesaat aku lepas landas
Menggapai mimpi nan indah, melesap dalam  pori-pori udara yang mengambang bebas.

Sayapku patah, beberapa jenak setelah tegakku tuk melayang. Melanglang buana ke seantero raya. Jatuh, menggelepar di rerumputan.
 
Sayapku patah, ketika seorang tua melihatku. Terseok-seok di bawah dahan kayu rindang yang menyejukkan. Tersenyum getir, miris, dengan pandangan  penuh iba kepadaku.
 
Sayapku patah, perih menyakitkan. Menerbitkan lolongan ngilu yang memukul-mukul relung hatiku.
 
Sayapku masih saja patah, begitu malam sempurna menyapa. Sesaat setelah lembayung senja menyeruak di timur cakrawala. Menggigilkan tulang mungilku
 
Oh.. Sayapku sayang.
 
 
Padang, 11 Mei 2011

Dimuat di Padang Ekspress, Edisi Minggu 5 Juni 2011

Membangkitkan Budaya “Lapar Menulis”

Membangkitkan Budaya “Lapar Menulis”

Suatu ketika Putu Wijaya, penulis yang juga sutradara, diwawancarai oleh seorang wartawan. Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh wartawan itu adalah “Bagaimana Bung Putu bisa selalu menulis?” Dengan entengnya, Penulis yang telah meluncurkan “Klop” buku kumpulan cerpen terbarunya, menjawab: “Gampang, Din!”

Wartawan yang bernama Zaenuddin itu semakin bersemangat bertanya, “Apa itu Bung?”. “Selalu lapar, tepatnya lapar menulis..” Demikian lanjut dramawan yang identik dengan topi ini.

Petikan wawancara ini secara tak sengaja penulis temukan di salah satu situs webblog.”Timbulkan lapar menulis”, demikian judul artikel yang diposting beberapa tahun yang lalu itu. Judul yang rada nyeleneh ini mengingatkan penulis akan kekhawatiran yang pernah dilontarkan oleh Harris Efendi Thahar, cerpenis yang juga staf pengajar di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Padang. Dalam orasi ilmiah pengukuhan guru besarnya yang bertajuk  Merangkai Kata Membangun Indonesia: Membenahi Pembelajaran Menulis di Sekolah,” beberapa waktu lalu, ”Si Padang” menyatakan kegundahannya.

Baca lebih lanjut