Di Suatu Petang yang Berdebu

Di Suatu Petang yang Berdebu
Yusrizal Firzal

“Siaaap, grak!”
“Lancang depaaan, grak!”
“Tegaaaak, grak!”
“Istirahat di tempaaat, grak!”
Angin kemarau yang jatuh di pelupuk mata tak digubrisnya. Menatap tajam satu persatu wajah-wajah yang berbaris di hadapannya. Wajah-wajah penuh corengan debu itu menyiratkan keberanian dan tekad yang bulat.
“Kawan-kawan, tentara Zionis itu semakin merajalela. Kedatangan mereka merupakan awal kesengsaraan bangsa kita. Mereka rampas dan kuasai jengkal demi jengkal tanah-tanah leluhur kita. Perlahan namun pasti, mereka dirikan pemukiman-pemukiman yahudi.”
“Kehidupan mereka sangat mapan. Mereka tak mengenal kemiskinan. Tak ada yang merasakan kekurangan makanan. Tapi mereka lupa. Semua itu mereka rampas dari tangan kita, milik kita, rakyat Palestina. Mereka nikmati kemapanan di atas genangan darah bercampur air mata keluarga kita yang terserak. Mereka berpesta di tumpukan tubuh-tubuh yang menggelepar meregang nyawa. Mereka menari di atas penderitaan kita. Sungguh biadab! Terkutuk zionis!”
Baca lebih lanjut

Iklan

Kado Istimewa untuk Habib

Kado Istimewa Untuk Habib

Oleh: Yusrizal Firzal

Habib baru saja pulang dari sekolah. Setelah mengucapkan salam, segera dia masuk ke rumah. Tanpa menunggu jawaban salam dari bundanya.

”Eh… anak bunda sudah pulang. Kok ndak ngucap salam dulu, sayang?” Protes Bunda yang baru keluar dari dapur.

”Sudah Bun. Habib tadi udah ucapkan salam. Bunda saja yang gak dengar.” Sahut Habib yang tengah duduk di kursi sembari membuka kaos kaki. Kemudian melemparnya begitu saja.

”Lho kok dilempar. Masukan dong ke dalam sepatu. Biar besok kamu gak susah mencarinya lagi. Nih sekalian bawa tas kamu ke dalam kamar.” Ucap Bunda seraya memungut tas yang tergeletak di sudut ruang tamu.

Dengan wajah cemberut, Habib memasukkan kaos kakinya ke dalam sepatu. Setelah meraih tas dari tangan Bunda dan meletakkan sepatu di rak, Habib kemudian masuk ke kamar.

”Sekalian, ganti bajunya ya sayang” terdengar suara bunda dari luar.

”Oke deh Bunda.” Jawab Habib sambil membuka kancing baju sekolahnya. Saat ini habib masih duduk di kelas satu SD. SD tersebut tidak jauh dari rumahnya, sehingga Habib bisa pergi dan pulang sendiri.

***

Baca lebih lanjut