Di Suatu Petang yang Berdebu

Di Suatu Petang yang Berdebu
Yusrizal Firzal

“Siaaap, grak!”
“Lancang depaaan, grak!”
“Tegaaaak, grak!”
“Istirahat di tempaaat, grak!”
Angin kemarau yang jatuh di pelupuk mata tak digubrisnya. Menatap tajam satu persatu wajah-wajah yang berbaris di hadapannya. Wajah-wajah penuh corengan debu itu menyiratkan keberanian dan tekad yang bulat.
“Kawan-kawan, tentara Zionis itu semakin merajalela. Kedatangan mereka merupakan awal kesengsaraan bangsa kita. Mereka rampas dan kuasai jengkal demi jengkal tanah-tanah leluhur kita. Perlahan namun pasti, mereka dirikan pemukiman-pemukiman yahudi.”
“Kehidupan mereka sangat mapan. Mereka tak mengenal kemiskinan. Tak ada yang merasakan kekurangan makanan. Tapi mereka lupa. Semua itu mereka rampas dari tangan kita, milik kita, rakyat Palestina. Mereka nikmati kemapanan di atas genangan darah bercampur air mata keluarga kita yang terserak. Mereka berpesta di tumpukan tubuh-tubuh yang menggelepar meregang nyawa. Mereka menari di atas penderitaan kita. Sungguh biadab! Terkutuk zionis!”
Baca lebih lanjut

Gadis Bernomor Ujian 314-0104.XXX

Ini merupakan cerpenku yang dimuat di Harian Padang Ekspress, edisi Minggu, 24 Oktober.

 

Gadis Bernomor Ujian 314-0104.XXX

 

Oleh: Yusrizal Firzal

 

Aku masih saja membolak-balik halaman koran minggu di lapak salah satu agen koran yang mangkal di seputaran Ruang Terbuka Hijau Imam Bonjol, Padang. Dengan jantung deg-degan, tanganku langsung membuka lembaran yang memuat rubrik sastra. Lembaran yang sudah hafal dalam pikiranku. Tertanam dalam kepalaku. Satu persatu kubuka koran minggu itu. Memastikan apakah ada cerpenku dimuat oleh salah satu koran minggu tersebut.

Satu koran berlalu, nihil. Koran kedua, juga nihil. Ketiga, keempat, kelima. Ahh.. tak ada satupun. Aku menghela nafas. Kecewa kembali menyelimuti relung-relung hatiku. Sudah sebulan ini, tidak satupun cerpenku dimuat. Menggerutu, mendecis, mengumpat, ahhh… hanya itu yang bisa kulakukan.

Baca lebih lanjut

Air Mata Marapi

Air Mata Marapi

Oleh: Yusrizal Firzal

Kabut tebal masih saja menyelimuti Marapi. Melingkar laksana untaian berlian terkalung indah di leher jenjang empunyanya. Menutupi pekatnya ceruk, menggigilkan daun-daun yang terlelap di ranting-ranting pohon. Membasahi perdu yang tumbuh tak beraturan, membentuk semak menutupi setiap jengkal tanah di kaki gunung. Baca lebih lanjut

Cerpen Untuk Suamiku….

Cerpen Untuk Suamiku

Oleh: Yusrizal Firzal

Uda… Masih ingatkah pertama kali kita bertegur sapa? Saat itu kau tengah memperbaiki instalasi listrik di ruang tamu Dekanat. Kepalamu menengadah, memperhatikan lamat-lamat isi kap lampu yang sudah kau buka tutupnya sedari tadi. Sesekali tanganmu terjulur ke dalam kap, meneliti detail jalur elektrikal di dalamnya. Jakun-jakunmu naik-turun. Mengkilat, basah oleh keringat yang menderas dari pori-pori kulitmu. Kau seka dengan punggung tanganmu yang masih saja memegang tespen. Baca lebih lanjut

Seraut Wajah Anak Surga

Seraut Wajah Anak Surga

Oleh: Yusrizal Firzal

Malam semakin larut. Suasana hening semakin terasa. Nyanyian katak minta hujan terdengar lebih nyaring dari sebelumnya. Sahut menyahut, ditingkahi bunyi jangkrik yang bernada tenor. Rembulan masih saja menunjukkan keperkasaannya. Bak seorang raja yang dikelilingi bintang-bintang sebagai pengawal setianya.

Di sebuah pondok berukuran dua kali tiga meter, beralaskan papan dan beratapkan jerami tanpa sekat dinding sedikitpun, disanalah Dalimunthe duduk termenung. Pondok yang dibangunnya sendiri, di halaman samping rumah yang di kontraknya. Agak aneh, karena rumah itu berada di areal komplek perumahan. Menjadi tidak aneh karena areal komplek perumahan itu sendiri berada di tengah persawahan penduduk.

Bersandar pada salah satu tonggak, Dalimunthe menengadah ke atas. Bulan purnama terlihat putih bersih. Menandakan malam ini pertengahan bulan di tahun hijriah. Sedih, letih, kecewa, bercampur aduk dalam perasaannya. Sedih, anaknya telah dipanggil yang kuasa. Letih, sudah sehari semalam dia tidak tidur. Kecewa, dia tidak sempat melihat jenazah anaknya sebelum dikubur.

Baca lebih lanjut

Bukan Merantau

Bukan Merantau

Oleh: Yusrizal Firzal

Siang itu langit cerah. Warna biru muda menguasai cakrawala. Di beberapa titik, awan putih tipis terbentang bergerombolan. Tersusun tanpa pola, menyerupai suatu bentuk.  Matahari bersinar dengan garangnya. Menembus angin yang bertiup sepoi. Menyerap molekul-molekul air dengan rakusnya.

Sebuah bus baru saja memasuki jalan lintas sumatera yang membentang mulai dari utara hingga ke selatan pulau. Berlari dengan kencangnya laksana harimau yang sedang mengejar mangsanya. Sesekali mengeluarkan suara keras. Mengusir apa saja yang ada didepannya. Kadang terpaksa berjalan pelan, begitu mendapat kemacetan atau memasuki pasar tumpah. Bus itu bertuliskan Padang-Jakarta di kaca depannya.

Pada deretan ketujuh di belakang supir, duduklah seorang pemuda berbaju kaos coklat oblong dengan celana jeans. Hanya dia seorang yang duduk dalam deretan ini. Bus tidak terisi penuh oleh penumpang. Semenjak harga tiket kapal terbang murah, banyak calon penumpang yang lebih memilih menggunakan jasa transportasi udara itu ketimbang bus.

Baca lebih lanjut

Gadis dalam Kruistek

Gadis Dalam Kruistek

Oleh: Yusrizal Firzal

“Satu.. dua.. tiga.. empat..lima.. enam.. Buat enam buah. Kemudian naik ke kanan atas, buat sepuluh buah.” Demikian hitung Arman dalam hati ketika menunjuk susunan petak-petak kecil yang terdapat pada kertas di depannya. Kertas itu berukuran panjang delapan puluh dan lebar lima puluh sentimeter. Kertas itu seperti kertas milimeter yang biasa digunakan oleh mahasiswa teknik sipil untuk membuat suatu rancangan bangunan dengan skala tertentu.

Pada kertas yang terpampang di depan Arman terdapat simbol-simbol yang tersusun sedemikian rupa. Setiap simbol mengisi satu buah kotak kubus kecil. Ada pula beberapa kumpulan kubus kecil tanpa simbol yang dikurung oleh garis tebal, kemudian ditengah-tengahnya dituliskan angka. Entah bagaimana maksudnya. Hanya Arman dan mereka yang paham membuat kruistek lah yang tahu. Yang jelas, ketika kertas itu dilihat dari jauh, siluet sebuah gambar akan terlihat.

Baca lebih lanjut