Di Suatu Petang yang Berdebu

Di Suatu Petang yang Berdebu
Yusrizal Firzal

“Siaaap, grak!”
“Lancang depaaan, grak!”
“Tegaaaak, grak!”
“Istirahat di tempaaat, grak!”
Angin kemarau yang jatuh di pelupuk mata tak digubrisnya. Menatap tajam satu persatu wajah-wajah yang berbaris di hadapannya. Wajah-wajah penuh corengan debu itu menyiratkan keberanian dan tekad yang bulat.
“Kawan-kawan, tentara Zionis itu semakin merajalela. Kedatangan mereka merupakan awal kesengsaraan bangsa kita. Mereka rampas dan kuasai jengkal demi jengkal tanah-tanah leluhur kita. Perlahan namun pasti, mereka dirikan pemukiman-pemukiman yahudi.”
“Kehidupan mereka sangat mapan. Mereka tak mengenal kemiskinan. Tak ada yang merasakan kekurangan makanan. Tapi mereka lupa. Semua itu mereka rampas dari tangan kita, milik kita, rakyat Palestina. Mereka nikmati kemapanan di atas genangan darah bercampur air mata keluarga kita yang terserak. Mereka berpesta di tumpukan tubuh-tubuh yang menggelepar meregang nyawa. Mereka menari di atas penderitaan kita. Sungguh biadab! Terkutuk zionis!”
Baca lebih lanjut

Iklan