Jurnal Ilmiah

Contoh Jurnal Ilmiah

Kontribusi Kecerdasan Emosional dan Budaya Organisasi terhadap Kualitas Pelayanan di Fakultas

Selingkungan Universitas Negeri Padang

 

Yusrizal

 

Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang

The aim of this research was to reveal the contribution of the emotional intellegency of the staffs and Culture of Organization collectively toward Services Quality at Faculties in State University of Padang. There were three hypoteses wich were tested in the research. First, the emotional intellegency had a contribution toward services quality. Second, culture of organization had a contribution toward services quality. Third, emotional intellegency and culture of organization collectively contributed toward services quality.

The population of the research was 247 administratif staff at faculties in State University of Padang. The samples of the research were 83 staff selected by using a stratified proportional random sampling technique. The data were analyzed by using a Likert scale questionnaire whose validity and reability had been tested. The cooficien were rtt = 0,92 for Service Quality, rtt = 0,92 for the emotional intellegency of the staffs, and rtt = 0,93 for culture of Organization.

The findings of the research showed that (1) there was 16,30% contribution of the emotional intellegency toward Services Quality, (2) there was 10% contribution culture of organization toward services quality, and (3) there was 25,40% contribution of the emotional intellegency and culture of organization collectively toward services quality. It is, therefore, concluded that staff’s emotional intellegency and Culture of Organization are two important factors that significantly contribute to the quality services provided by the administrative staff at faculties in State University of Padang.

Kata Kunci: Kecerdasan Emosional, Budaya Organisasi, Kualitas Pelayanan

Baca lebih lanjut

Iklan

Kepemimpinan Resonansi

Kepemimpinan Resonansi

(Kepemimpinan berdasarkan Kecerdasan emosional)

Oleh Yusrizal, S.Pd,

Sebagaimana yang penulis kemukakan pada tulisan sebelumnya, (baca kecerdasan emosional) kecerdasan emosional dua kali lebih penting dari pada kecerdasan intelektual. Hal ini juga berlaku bagi kepemimpinan dalam manajemen. Seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi, mempunyai perencanaan yang bagus, visioner, namun tidak cakap dalam mengelola emosi, tidak ada artinya. Untuk itu, dalam tulisan kali ini, penulis akan mencoba untuk mengemukakan tentang kepemimpinan yang berdasarkan kecerdasan emosi. Pendekatan seperti ini biasa juga disebut sebagai kepemimpinan resonansi.

Dalam ilmu fisika, resonansi diartikan sebagai peristiwa bergetarnya suatu benda karena getaran benda lain. Artinya ada kesamaan antara kedua benda tersebut, yaitu sama-sama bergetar. Jika dikaitkan dengan kepemimpinan, resonansi yang dimaksud disini adalah bagaimana pemimpin mampu merasakan juga apa yang dirasakan oleh pengikutnya/bawahnnya. Pemimpin resonansi mampu memahami dan berempati terhadap apa yang dirasakan oleh bawahannya.

Seberapa baik pemimpin mengelola dan mengarahkan perasaan-perasaan bawahannya, tergantung kepada tingkat kecerdasan emosinya. Bagi pemimpin yang cerdas secara emosi, resonansi akan terjadi secara alamiah. Untuk itu, ada 4 kopentensi dasar yang perlu dimiliki oleh seorang pemimpin resonan ini:

  1. Kesadaran diri
  • Kecerdasan diri emosi

Pemimpin yang memiliki kesadaran diri yang emosi yang tinggi bisa mendengarkan tanda-tanda dalam diri mereka sendiri, mengenali bagaimana perasaan mereka mempengaruhi diri dan kinerja mereka. Pemimpin ini bisa tegas dan otentik, mampu bicara terbuka tentang emosinya atau dengan keyakinan tentang visi yang membimbing mereka.

  • Penilaian diri yang akurat

Pemimpin dengan kesadaran diri yang tinggi secara khas akan tahu keterbatasan dan kekuatannya. Penilaian diri yang akurat membuat seorang pemimpin tahu kapan harus meminta bantuan dan dimana ia harus memusatkan perhatian untuk menumbuhkan kekuatan kepemimpinan yang baru.

  • Kepercayaan diri

Mengetahui kemampuan dengan akurat, memungkinkan pemimpin untuk bermain dengan kekuatannya. Pemimpin yang percaya diri dapat menerima tugas yang sulit. Pemimpin seperti ini seringkali memiliki kepekaan kehadiran dirinya, suatu keyakinan diri yang membuat mereka menonjol di dalam kelompok.

  1. Pengelolaan diri
  • Pengendalian diri

Pemimpin yang memiliki kendali diri emosi akan menemukan cara-cara untuk mengelola emosi mereka yang sedang terganggu dari dorongan-dorongan diri, bahkan mampu menyalurkannya dalam cara-cara yang bermanfaat.

  • Transparansi

Pemimpin seperti ini secara terbuka mengakui kesalahannya, ia mengkonfrontasi perilaku yang tidak etis, pada orang lain, dan bukannya pura-pura tidak melihatnya.

  • Kemampuan menyesuaikan diri

Pemimpin yang bisa menyesuaikan diri bisa menghadapi berbagai tuntutan tanpa kehilangan fokus atau energi mereka. Pemimpin ini fleksibel dalam menyesuaikan diri dengan tantangan baru, cekatan dalam menyesuaikan perubahan yang cepat, dan berpikiran gesit ketika menghadapi data baru.

  • Prestasi

Pemimpin yang memiliki kekuatan prestasi memiliki standar pribadi yang tinggi yang mendorong mereka untuk terus mencari perbaikan kinerja, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang yang dipimpinnya. Ciri dari prestasi adalah terus belajar dan mengajar cara-cara untuk melakukan segala sesuatu dengan lebih baik.

  • Inisiatif

Pemimpin mampu menangkap kesempatan bahkan menciptakan peluangm bukan hanya menunggu. Pemimpin seperti ini tidak ragu menerobos halangan atau bahkan menyumpang dari aturan, jika diperlukan untuk menciptakan kemungkinan yang lebih baik untuk masa depan.

  • Optimisme

Pemimpin yang optimis bisa tetap bertahan ditengah kepungan, melihat kesempatan, bukan ancaman di dalam kesulitan. Pemimpin ini melihat orang lain secara positif, mengharap yang terbaik dari mereka.

  1. Kesadaran sosial
  • Empati

Pemimpin yang memiliki empati mampu mendengarkan berbagai tanda emosi, membiarkan diri merasakan emosi yang dirasakan. Pemimpin mendengarkan dengan cermat dan bisa menangkap sudut pandang orang lain. Dengan berempati, pemimpin bisa berelasi dengan baik dengan orang-orang dari berbagai latar belakang yang berbeda.

  • Kesadaran berorganisasi

Pemimpin yang memiliki kesadaran sosial yang tinggi bisa cerdas secara politis, mampu mendeteksi jaringan kerja sosial yang krusial da membaca adanya relasi-relasi yang penting.

  • Pelayanan

Pemimpin yang memiliki kompetensi pelayanan yang tinggi mampu menumbuhkan iklim emosi yang membuat orang-orangnya berkontak langsung dengan pelanggan, akan menjaga relasi di jalan yang benar. Pemimpin seperti ini memantau secara kontinu kepuasan pelanggan.

  1. Pengelolaan relasi
  • Inspirasi

Pemimpin yang menginspirasi akan menciptakan resonansi serta menggerakkan orang dengan visi yang menyemangati atau misi bersama.

  • Pengaruh

Pemimpin yang mahir mempengaruhi akan memiliki kemampuan membujuk, dan melibatkan orang lain dalam otgansasi, ketika menghadapi suatu kelompok.

  • Mengembangkan orang lain

Pemimpin ini mampu menumbuhkan kemampuan orang lain dengan menunjukkan minat yang murni kepada orang yang dibantunya. Mereka mampu memahami tujuan-tujuan, kekuatan serta kelemahan orang yang dibantunya.

  • Katalisator perubahan

Pemimpin ini mampu mengenali kebutuhan akan perubahan, menantang status quo, dan memenangkan aturan baru. Mereka mampu menemukan cara-cara praktis untuk mengatasi hambatan dalam perubahan.

  • Pengelolaan konflik

Pemimpin yang pandai mengelola konflik, mampu untuk mengumpulkan semua pihak, mengerti sudut pandang yang berbeda, kemudian mencari jalan keluar bersama yang disepakati oleh pihak yang bertikai.

  • Kerja tim dan kolaborasi

Pemimpin yang mampu bermain dalam tim akan menumbuhkan suasana kekerabatan yang ramah sekaligus memberikan contoh memberikan penghargaan, sikap bersedia membantu, dan bekerja sama. Mereka meluangkan waktu untuk menumbuhkan dan mempererat relasi yang akrab, lebih jauh dari sekedar kewajiban pekerjaan.

Dengan memiliki empat kompetensi dasar tersebut, diharapkan pemimpin mempunyai kecakapan emosi yang baik. Kecakapan emosi inilah yang pada gilirannya nanti akan diaplikasikan dalam melaksanakan tugas kepemimpinan nantinya. Pemimpin akan lebih peka terhadap perasaan dan harapan-harapan bawahannya. Di bawah bimbingan pemimpin yang cerdas emosi, orang-orang akan merasakan tingkat kenyamanan yang saling menguntungkan. Mereka saling berbagi ide, dan saling belajar satu sama lain. Disamping itu, mereka membuat keputusan bersama dan berkomitmen untuk meyelesaikan tugas bersama.

*****

Diolah dari : Buku Kepemimpinan berdasarkan kecerdasan emosional

Kecerdasan Emosional

Kecerdasan Emosional

oleh: Yusrizal, S.Pd.

Penulis buku kecerdasan emosional, Daniel Golemen memaparkan suatu penelitian yang menakjubkan yang dimulai oleh ahli psikologi Walter Mischel pada tahun 1960-an. Penelitian ini dilakukan di Taman Kanak-kanak di kampus Stanford University dengan melibatkan anak-anak para pengajar di Stanford, putra-putri mahasiswa pascasarjana dan anak pegawai lainnya. Mereka menyebut penelitian ini dengan tes Marshmallow. Tes ini diberikan kepada anak-anak yang berusia empat tahun dengan memberikan suatu tantangan yang menggiurkan bagi mereka. Peneliti mengajukan semacam pilihan kepada anak-anak tersebut. Jika mereka mau menunggu peneliti sampai menyelesaikan tugasnya, maka masing-masing mereka akan diberi dua bungkus marshmallow (sejenis permen) sebagai hadiah. Tetapi jika mereka tidak mau menunggu, mereka akan diberi sebungkus, dan mereka akan memperolehnya saat itu juga.

Beberapa anak umur empat tahun itu mampu menahan dorongan hati mereka untuk segera mendapatkan marshmallow dari peneliti. Mereka mampu menunggu peneliti menyelesaikan tugasnya dan mencoba melewati godaan dengan cara bernyanyi, berbicara sendiri, main bahkan berusaha untuk tidur sehingga mereka tidak terlalu memikirkan marshmallow yang diiming-imingkan itu. Tetapi anak-anak lain yang lebih menurutkan dorongan hati, segera saja menyambar marshmallow yang diiming-imingkan tersebut, walaupun hanya sebungkus, sebelum peneliti meninggalkan mereka untuk bertugas.

Pada saat anak-anak yang mengikuti tes marshmallow dilacak dua belas hingga empat belas tahun kemudian, terlihat perbedaan emosional dan tingkat sosial yang menyolok diantara dua kelompok anak-anak tersebut. Mereka yang mampu menahan dorongan hati untuk mendapatkan dua bungkus marshmallow tumbuh menjadi remaja yang memiliki kecakapan sosial yang baik. Mereka mempunyai rasa empati yang tinggi terhadap orang lain. Mereka tidak mudah putus asa atau menyerah terhadap permasalahan yang mereka hadapi, bahkan mereka mencari dan siap untuk menghadapi tantangan. Rasa percaya diri dan yakin akan kemampuan, tumbuh subur dalam pribadinya. Mereka menjadi remaja yang dapat dipercaya dan diandalkan.

Hal yang ironi justru terjadi pada kelompok anak-anak yang tergoda dengan marshmallow. Mereka kurang memiliki kecakapan sosial. Mereka sering menjauhi hubungan sosial dengan orang lain, mudah putus asa, lebih mudah iri hati. Mereka menanggapi gangguan dari luar dengan kasar dan dengan cara yang berlebihan. Mereka tidak memiliki rasa percaya diri dan ragu dalam menghadapi suatu permasalahan. Mereka menganggap dirinya tidak berharga, mudah terkalahkan, dan tidak dapat dipercaya oleh orang lain.

Penelitian ini merupakan salah satu dari berbagai bentuk penelitian yang mengacu kepada kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional (EQ) menurut Goleman merupakan seperangkat kemampuan yang dimiliki oleh manusia seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, dan bertahan menghadapi frustasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir; berempati dan berdoa. Mereka yang memiliki kecerdasan emosional mampu untuk mengelola emosi yang dimilikinya dengan baik. Mereka ini tidak mengenal putus asa, karena mereka memiliki kemampuan untuk memotivasi diri mereka. Mereka mampu mengelola emosi dalam pergaulan, termasuk di dalamnya rasa empati yang tinggi terhadap penderitaan orang lain.

EQ dua kali lebih penting dari IQ

Sebelum EQ di kenal luas oleh masyarakat, banyak di antara kita menganggap bahwa IQ adalah segala-galanya. Keberhasilan seseorang diukur dan ditentukan oleh tingkat IQ yang dimilikinya. Anastasi dan Willerman menyatakan bahwa dalam setiap kegiatan yang menuntut prestasi, baik itu prestasi belajar, prestasi kerja, olah raga, seni dan sebagainya, intelegensi memegang peranan yang sangat penting. Kita semua setuju bahwa pelajar/mahasiswa yang memiliki IQ yang tinggi akan lebih mudah dalam menerima pelajaran dibandingkan dengan mahasiswa yang IQnya rendah. Staf pengajar dan staf administrasi yang ber IQ tinggi akan mudah dalam melaksanakan tugasnya masing-masing jika dibandingkan dengan staf pengajar dan staf administrasi yang ber IQ rendah. Demikian pula halnya dengan bidang kerja lainnya.

Tetapi hal itu bukanlah satu-satunya kunci seseorang dalam meraih keberhasilan dalam kehidupannya. Keberhasilan pelajar/mahasiswa dalam belajar, staf pengajar dalam mengajar dan staf administrasi dalam bekerja, tidak saja ditentukan oleh IQ yang mereka miliki. Hal itu juga dipengaruhi oleh kemampuan mereka dalam mengelola emosi. Seseorang yang memiliki IQ yang sedang, namun mampu mengelola emosinya dengan baik, akan lebih berhasil dibanding dengan orang yang ber IQ tinggi, namun tidak mampu mengelola emosinya dengan baik. Pelajar/mahasiswa yang ber IQ sedang namun mampu mengelola emosi dengan baik, akan lebih berhasil dalam belajar dibandingkan dengan pelajar/mahasiswa yang ber IQ tinggi tetapi tidak mampu mengelola emosinya. Mereka cenderung egois dan mau menang sendiri dan kurang memiliki rasa sosial. Hal tersebut menunjukkan kepada kita bahwa kecerdasan emosional(EQ) yang dimiliki seseorang, dua kali lebih penting daripada kecerdasan intelaktual (IQ)nya.

Pengelolaan Emosi

Ada beberapa indikator yang dapat menunjukkan bahwa seseorang telah mampu mengelola emosinya. Pertama, kesadaran diri. Seseorang yang memiliki kesadaran diri mengetahui kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dan mampu menerima kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya. Hal ini dijadikan sebagai panduan untuk mengambil keputusan terhadap diri sendiri, sekaligus sebagai tolok ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat.

Kedua, pengaturan diri. Seseorang dapat dikatakan mampu mengatur dirinya jika dia memiliki kepekaan terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran. Disamping itu, pada saat dia mendapat tekanan emosi, dia mampu untuk pulih dan keluar dari tekanan tersebut.

Ketiga, motivasi. Adanya kemampuan kita untuk menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun kita menuju sasaran, dan membantu kita dalam mengambil inisiatif untuk bertindak secara efektif, menunjukkan bahwa kita memiliki motivasi. Adanya motivasi ini memungkinkan bagi seseorang untuk mampu bertahan dalam menghadapi kegagalan dan frustasi dalam kehidupan.

Keempat, empati. Mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain dan memahami cara pandang dan cara berpikir orang lain menunjukkan seseorang itu memiliki empati. Pelajar/mahasiswa yang mampu merasakan kesulitan yang dihadapi temannya dan membantunya untuk mengatasi kesulitan tersebut, berarti dia telah berempati. Disamping itu, dia mampu memahami cara pandang dan cara berpikir baik temannya, guru/dosennya yang mengajarnya. Dia tidak terlalu cepat menyalahkan teman yang memiliki cara pandang dan cara berpikir yang berbeda dengannya. Hal ini akan menumbuhkan rasa saling percaya di antara dia dengan temannya, dan mampu menyelaraskan dirinya dengan bermacam-macam orang yang memiliki cara pandang dan cara pikir yang berbeda.

Kelima, keterampilan sosial. Hal ini berkaitan dengan kemampuan untuk berempati. Seseorang yang memiliki keterampilan sosial mampu menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan mampu membaca dengan cermat situasi dan jaringan sosial kemasyarakatan yang ada. Pelajar/mahasiswa yang mampu menahan sikap individualis, mampu berempati, mampu mengembangkan sikap tenggang rasa, solidaritas dana mau bekerja sama dengan orang lain, menunjukkan bahwa dia memiliki keterampilan sosial. Adanya keterampilan sosial ini sangat memungkin bagi mereka untuk lancar berkonsultasi dengan guru/dosen, lancar berinteraksi dengan mahasiswa lain, mampu mengembangkan sikap kepemimpinan, mampu menyelesaikan suatu perselisihan dan bekerjasama dengan orang lain dalam suatu tim.

Kelima indikator diatas, dapat kita jadikan sebagai barometer untuk mengukur kemampuan kita dalam mengelola emosi. Jika kelima indikator tersebut telah menjadi milik kita, maka kita akan mampu mengelola emosi dengan baik. Jika belum, marilah kita berusaha untuk melatih diri untuk mengelola emosi dengan baik. Karena, pada dasarnya kecerdasan emosional merupakan  suatu kecakapan yang dapat dimiliki oleh siapa saja jika ia mau dan mampu untuk melatihkan indikator-indikator tersebut. Mudah-mudahan kita semua mampu memiliki kecerdasan emosional dan sukses dalam kehidupan.

Tulisan ini pernah di muat di SKK Ganto, UNP Padang