Negara dan Pendidikan: Sentralisasi dan Desentralisasi Pendidikan dan Manajemen Berbasis Sekolah


A.      Konsep Sentralisasi Pendidikan

Sentralisasi adalah seluruh wewenang terpusat pada pemerintah pusat. Daerah tinggal menunggu instruksi dari pusat untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan yang telah digariskan menurut Undang-Undang. Menurut ekonomi manajemen sentralisasi adalah memusatkan semua wewenang kepada sejumlah kecil manager atau yang berada di suatu puncak pada sebuah struktur organisasi. Sentralisasi banyak digunakan pemerintah sebelum otonomi daerah. Kelemahan sistem sentralisasi adalah dimana sebuah kebijakan dan keputusan pemerintah daerah dihasilkan oleh orang-orang yang berada di pemerintah pusat sehingga waktu untuk memutuskan suatu hal menjadi lebih lama.

Indonesia sebagai negara berkembang dengan berbagai kesamaan ciri sosial budayanya, juga mengikuti sistem sentralistik yang telah lama dikembangkan pada negara berkembang. Konsekuensinya penyelenggaraan pendidikan di Indonesia serba seragam, serba keputusan dari atas, seperti kurikulum yang seragam tanpa melihat tingkat relevansinya bagi kehidupan anak dan lingkungannya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Ujian Nasional VS Pemerataan Pendidikan

Ujian Nasional VS Pemerataan Pendidikan

Oleh: Yusrizal

Semenjak minggu yang lalu hingga beberapa hari kedepan dunia pendidikan di tanah air kita di sibukkan dengan kegiatan Ujian Nasional (UN). Dimulai dari UN untuk tingkat pendidikan menengah atas, dilanjutkan dengan UN untuk tingkat pendidikan menengah pertama dan diakhiri dengan UN untuk tingkat pendidikan dasar.

Meskipun banyak ditentang oleh berbagai pihak, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional tetap bersikukuh melaksanakan UN. Pemerintah berpandangan bahwa untuk meningkatkan standar mutu pendidikan, diperlukan suatu standar penilaian yang sama untuk tingkat nasional. Pemerintah juga mengaitkan hasil UN sebagai standar kelulusan peserta didik di suatu tingkat pendidikan.

Munculnya polemik pelaksanaan UN, tak terlepas dari ketidakmerataan di dunia pendidikan. Banyak kalangan menilai pemerintah melakukan suatu kesalahan dengan menjadikan UN sebagai standar kelulusan peserta didik. Satu sisi pemerintah menerapkan suatu standar kelulusan yang sama bagi semua peserta didik untuk suatu tingkat pendidikan. Namun di sisi lain, pemerintah belum mampu memberikan pemerataan pelayanan yang sama bagi semua peserta didik.

Baca lebih lanjut

Menanti Kejujuran Pelaksanaan Ujian Nasional

Menanti Kejujuran Pelaksanaan Ujian Nasional

Alkisah, di Tiongkok kuno ada sebuah kerajaan yang besar dan makmur. Kerajaan ini dipimpin oleh Raja yang adil dan bijaksana. Seluruh rakyatnya sangat mencintainya. Namun sayangnya, Raja ini tidak dikaruniai seorang putera mahkota.

Setelah dibicarakan dengan perdana menterinya, maka Raja bermaksud untuk mengadakan sayembara untuk mencari penerus tahtanya. Segera semua rakyatnya dikumpulkan di istana untuk memberitahukan perihal sayembara tersebut.

“Besok pukul 10 pagi saya akan memberikan kepada setiap anak di seluruh negeri satu biji bunga. Barang siapa yang bisa menghasilkan bunga paling indah, maka saya akan mendidiknya untuk menjadi putera mahkota kerajaan ini. Kelak dialah yang akan menggantikanku,” demikian titah sang Raja. Rakyatpun kembali ke rumahnya masing masing dan tidak sabar menunggu datangnya hari esok.

Baca lebih lanjut

Mengenal Gaya Belajar

Mengenal Gaya Belajar

Oleh: Yusrizal, S.Pd.

Gaya belajar adalah kombinasi dari bagaimana informasi diserap, diatur serta diolah. Jadi, gaya belajar seseorang merupakan kombinasi dari bagaimana ia menyerap suatu informasi, kemudian mengatur dan mengolah informasi tersebut. (DePorter:2002)

imagesSebuah penelitian ekstensif, khususnya di Amerika Serikat, yang dilakukan oleh Profesor Ken dan Rita Dunn dari universitas St. John di Jamaica, New York, dan para pakar pemrograman Neuro Linguistik seperti, Richard Bandler dan John Grinder dan michael Grinder, telah mengidentifikasi tiga gaya belajar dan komunikasi yang berbeda.(Rose:2003)

1. Visual. Gaya belajar seperti ini lebih mengutamakan kekuatan imagespenglihatan(mata). Belajar melalui melihat sesuatu. Orang dengan gaya belajar visual menyukai gambar, diagram, pertunjukkan, peragaan, pemutaran film atau video sebagai media pembelajaran. Berikut beberapa kharakteristik pembelajar visual:

  • Suka membaca; menonton televisi, film; menerka teka-teki atau mengisi TTS; lebih suka membaca ketimbang dibacakan; lebih suka memperhatikan ekspresi wajah ketika berbicara dengan orang lain.
  • Mengingat orang melalui penglihatan(tak pernah melupakan wajah); mengingat kata-kata dengan melihat dan biasanya bagus dalam mengeja atau melafalkan; tetapi butuh waktu lama untuk mengingat susunan atau urutan abjad jika tidak disebutkan awalnya.
  • Kalu memberi/menerima penjelasan arah lebih suka memakai peta /gambar
  • Selera pakaian: bergaya, penampilan penting, warna pilihannya sesuai, tertata atau terkoordinasi
  • Menyatakan emosi melalui ekspresi muka.
  • Menggunakan kata da ungkapan seperti: melihat, menonton, menggambarkan, sudut pandang, mencerahkan, perspektif, mengungkapkan, tampak bagiku, meneropong, fokus, cemerlang, bersemangat, dan sebagainya.
  • Aktivitas kreatif: menulis, menggambar, melukis, merancang, melukis di udara.
  • Cenderung berbicara cepat, tetapi mungkin cukup pendiam di dalam kelas.
  • Berhubungan dengan orang lain lewat kontak mata dan ekspresi wajah
  • Saat diam suka melamun atau menatap ke atas.
  • Menjalankan bisnis atas dasar hubungan personal antarwajah
  • Punya ingatan visual bagus. (ingat dimana meninggalkan sesuatu beberapa hari yang lalu.
  • Merespon lebih bagus ketika diperlihatkan sesuatu ketimbang diceritakan sesuatu.

2. Auditori. Gaya belajar Auditory lebih mengutamakan kekuatan imagespendengaran (telinga) Belajar melalui mendengarkan sesuatu. Orang dengan gaya belajar auditory lebih menyukai kaset audio, ceramah perkuliahan, diskusi, debat dan instruksi dalam proses belajar mengajar. Kharakteristik pembelajar auditori yaitu:

  • Suka mendengar radio, musik, sandiwara, drama, debat; lebih suka cerita yang dibacakan kepadanya dengan berbagai ekspresi
  • Ingat dengan baik nama orang; bagus dalam mengingat fakta; suka berbicara dan mempunyai perbendaharaan kata yang luas
  • Menerima dan memberikan penjelasan arah dengan kata-kata (verbal); senang menerima instruksi secara verbal
  • Selera: yang penting label, mengetahui siapa perancangnya dan dapat menjelaskan pilihan pakaiannya.
  • Mengungkapkan emosi secara verbal melalui perubahan nada bicara atau vokal
  • Menggunakan kata-kata dan ungkapan seperti: kedengarannya benar, membangkitkan lonceng, mendengarkan apa yang anda katakan, ceritakan, dengarkan, panggil, lantang, jelas, lebih dari cukup, teguran, jaga lidah anda, ungkapkan diri anda, memberi perhatian, berkata benar, dan sebagainya
  • Aktivitas kreatif: menyanyi, mendongeng, mengobrol apa saja, bermain musik, membuat cerita lucu, berdebat, berfilosofi.
  • Berbicara dengan kecepatan sedang; suka bicara bahkan dalam kelas.
  • Berhubungan dengan orang lain lewat dialog, diskusi terbuka.
  • Dalam keadaan diam, suka bercakap-cakap dengan dirinya sendiri atau bersenandung,
  • Suka menjalankan bisnis melalui telepon.
  • Cenderung mengingat dengan baik dan menghafal kata-katadan gagasan-gagasan yang pernah diucapkan.
  • Merespons lebih baik tatkala mendengar informasi ketimbang membacanya.

3. Kinestetik. Gaya belajar kinestetik lebih mengutamakan keterlibatanimages aktivitas fisik secara langsung. Belajar melalui aktivitas fisik. Media pembelajaran yang disukai antara lain bermain peran, kunjungan wisata, lebih menyukai pelajaran praktek ketimbang teori. Berikut kharakteristik pembelajar kinestetik:

  • Menyukai kegiatan aktif, baik sosial maupun olahraga, seperti menari dan lintas alam.
  • Ingat kejadian-kejadian; hal-hal yang terjadi.
  • Memberikan dan menerima penjelasan arah dengan mengikuti jalan yang dimaksud-“lebih mudah apabila anda mengikuti saya saja”.
  • Selera: nyaman dan “rasa” bahan lebih penting daripada gaya.
  • Mengungkapkan emosi melalui bahasa tubuh-gerak/nada otot.
  • Menggunakan kata dan ungkapan seperti: merasa, menyentuh, menangani, mulai dari awal, menaruh kartu di meja, meraba, memegang, memetik dawai, mendidihkan bergandengan tangan, mengatasi, menahan, tajam laksana pisau.
  • Aktivitas kreatif: kerajinan tangan, berkebun, menari, berolahraga
  • Berbicara agak lambat.
  • Berhubungan dengan orang lain lewat kontak fisik, mendekat/akrab, menyentuh.
  • Dalam keadaan diam selalu merasa gelisah; tidak bisa duduk tenang.
  • Suka melakukan urusan seraya mengerjakan sesuatu.
  • Ingat lebih baik menggunakan alat bantu belajar tiga dimensi
  • Belajar konsep lebih baik dengan menangani objek secara fisik.

Seseorang bisa saja memiliki sebagian kharakteristik pelajar visual, auditori dan kinestetik sekaligus. Artinya, dia bisa saja menjadi pelajar visual, sekaligus menjadi pelajar auditori; atau pelajar kinestetik, yang juga mampu untuk belajar secara visual.. Kita bisa menggunakan salah satu gaya belajar dalam menyerap informasi. Kita juga bisa menggunakan kombinasi diantara ketiga gaya belajar tersebut. Namun, tentu saja ada suatu kecenderungan dalam diri kita, gaya belajar mana yang lebih cocok dengan kita. Jika seseorang mampu mengidentifikasi gaya belajar yang cocok dengan dirinya, maka dia akan mampu menyerap informasi secara efesien.

Dalam dunia pendidikan, mengenal dan mengetahui gaya belajar merupakan suatu hal yang penting. Guru harus bisa mengidentifikasi dan mengetahui gaya belajar muridnya. Apakah muridnya lebih tertarik dengan ceramah, atau diskusi dalam preses pembelajaran? Atau lebih menyukai bermain peran dan pelajaran yang lebih bersifat praktek? Karena dalam suatu kelas terdiri dari banyak siswa dengan gaya belajar yang berbeda-beda, maka dituntut kreativitas guru untuk lebih inovatif dan kreatif menggunakan metode mengajar serta media yang digunakan. Gunakanlah berbagai metode mengajar yang berbeda, serta pakailah media pembelajaran yang variatif, sehingga mampu mengakomodir semua siswa dengan gaya belajar yang berbeda.

Nah, gaya belajar mana yang cocok dengan Anda, Visual, Auditori atau Kinestetik? Selamat belajar!!

*****

Referensi: dari berbagai sumber

Profile Guru yang Sukses

Profile Guru yang Sukses

oleh: Yusrizal, S.Pd.

imagesGuru merupakan salah satu komponen pendidikan yang memegang peranan penting dalam dunia pendidikan. Bahkan bisa dikatakan bahwa maju atau tidaknya pendidikan di suatu negara ditentukan oleh kualitas guru-guru yang ada di negara itu. Oleh sebab itu, kesuksesan dunia pendidikan di negara kita dipengaruhi oleh kesuksesan seorang guru.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana profil dari guru yang sukses tersebut? Ada beberapa profil guru yang sukses yang diutarakan oleh siswa (Prayitno:2008)  yaitu:

1. Memandang bahwa pekerjaan mendidik/mengajar sebagai sesuatu yang menarik dan menantang. Guru yang sukses tidak memandang pekerjaan mendidik atau mengajar sebagai suatu pekerjaan yang membosankan, yang pada gilirannya akan menyebabkan hilangnya rasa tanggung jawab terhadap siswa yang dididik. Guru harus menyadari bahwa mendidik merupakan suatu pekerjaan yang memerlukan tanggung jawab pribadi untuk mendidik siswa.

2. Menganggap bahwa adanya masalah (baik dalam proses hubungan dengan siswa atau dalam proses pembelajaran) sebagai sesuatu yang harus ditangani dan dipecahkan. Guru tidak boleh menyerah terhadap masalah yang ada. Jangan jadikan masalah yang ada sebagai beban, namun jadikan sebagai tantangan yang harus diatasi dalam proses belajar mengajar.

3. Bersedia bekerja atau melayani siswa yang lambat. Guru yang sukses tidak boleh menolak melayani siswa yang lambat dalam menerima pelajaran. Berikanlah dukungan dan motivasi bagi siswa tersebut. Jangan sampai ada perasaan kurang nyaman dalam mengajar, hanya karena ada siswa yang lambat dalam menerima pelajaran.

4. Bersikap realistik terhadap siswa. Guru harus menyadari bagaimana kemampuan yang dimiliki oleh siswanya. Perbedaan kemampuan yang dimiliki oleh siswa merupakan suatu hal yang wajar. Jangan sampai adanya perbedaan tersebut membuat guru subjektif dalam melakukan proses belajar mengajar.

5. Suka melakukan hubungan antar pribadi dengan siswa. Guru yang sukses mampu untuk melakukan hubungan yang baik dengan semua siswa. Tidak boleh ada perlakuan yang berbeda antara siswa yang pandai dan  rajin dengan siswa yang malas dan kurang pintar. Jangan sampai guru membuat jarak yang tegas dengan siswa.

6. Menganggap siswa sebagai pribadi yang sedang belajar. Jangan jadikan siswa sebagai beban dalam proses belajar mengajar, namun hargailah mereka sebagai individu yang sedang belajar, yang memerlukan arahan dan bimbingan.

7. Hangat dan tampak istimewa di mata siswa. Guru yang sukses mampu memberikan kesan sebagai pribadi yang hangat dalam berhubungan dengan siswa. Jangan bersikap dingin terhadap siswa yang pada gilirannya nanti dapat berakibat hubungan dengan siswa menjadi pahit dan getir.

8. Melihat diri sendiri sebagai orang yang berperan memecahkan masalah yang timbul. Guru yang sukses mampu memecahkan masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar di sekolah. Jangan terlalu bergantung kepada kepala sekolah dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

Itulah beberapa ciri yang perlu dimiliki oleh seorang guru yang sukses. Permasalahannya adalah mampukah guru-guru kita untuk memiliki ciri-ciri tersebut? Pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab oleh guru-guru tersebut. Bagi guru-guru, mari berusaha meningkatkan kemampuan dalam proses belajar mengajar.

*****

Sumber: Prayitno. 2008.  Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, Padang: UNP

Apa Susahnya Mengucapkan Terima kasih???

Apa Susahnya Mengucapkan Terima Kasih??

By Yusrizal, S.Pd.

Anakku Habib, baru saja dibikini susu oleh Bundanya. “Ini sayang susunya, Hayoo.. bilang apa sama Bunda? Anakku pun menjawab: “Terima kasih bunda”! Dilain waktu, Habib dikasih sama neneknya sebuah balon. Lantas Bundanya berkata: “Hayoo bilang apa sama neneknya”?  “Makasih ya nek”! demikian jawab si habib kecil.

Barangkali hal seperti diatas, sudah sering kita dengar bahkan kita lakukan. Kita begitu bersemangat untuk mengajarkan si kecil untuk berterima kasih kepada orang-orang yang telah memberinya sesuatu. Kita ingin agar anak kita tumbuh menjadi anak yang mau berterima kasih jika diberi sesuatu maupun dibantu oleh orang lain. Bangga rasanya jika sang anak spontan mengucapkan terima kasih pada saat si nenek, atau yang lain memberikan suatu hadiah. Atau pada saat bolanya jatuh ke selokan, kemudian ada kawannya yang mengambilkan bola tersebut, dengan spontan dia berkata“makasih ya kak”!

Bagaimana dengan kita yang telah dewasa ini? Masihkah kita mengucapkan terima kasih pada seseorang yang telah memberikan sesuatu pada kita? Masihkan kita berterima kasih ketika seseorang telah membantu kita dalam menghadapi suatu masalah? Barangkali untuk dua hal diatas, jawaban kita tentu kita masih mengucapkan terima kasih. Tidak logis rasanya jika orang memberi kitasuatu hadiah, kemudian kita tidak berterima kasih. Mustahil rasanya jika kita tidak berterima kasih kepada orang yang telah membantu kita menyelesaikan masalah.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita pernah berterima kasih kepada petugas SPBU yang telah mengisi bahan bakar untuk kendaraan kita? Apakah kita pernah berterima kasih kepada kasir yang sudah menghitung belanjaan kita di supermarket? Pernahkah kita berterima kasih kepada cleaning servis yang telah membersihkan ruang kerja kita di kantor? Kalau kita seorang atasan, pernahkan kita berterima kasih kepada bawahan yang telah melaksanakan pekerjaan dengan baik?

Jawaban dari pertanyaan tersebut tergantung kepada kita sendiri. Jika sudah, alhamdulillah. Berarti kita telah menghargai jerih payah maupun hasil kerja seseorang, apapun bentuk pekerjaannya. Jika belum, apa salahnya kita mengucapkan terima kasih. Memang mengisi bbm merupakan tugas dari petugas SPBU, memang menghitung jumlah belanja konsumen adalah tugas kasir, membersihkan ruangan kerja memang tugas cleaning servis. Tapi apa salahnya kita berterima kasih atas apa yang telah mereka lakukan kepada kita? Mengapa kita begitu berat berterima kasih atas jasa yang telah mereka keluarkan kepada kita, meskipun mereka memang digaji untuk itu. Namun hargailah hasil kerja mereka dengan berterima kasih kepada mereka.

Bagaimana dalam keluarga? Pernahkah kita sebagai suami berterima kasih kepada istri yang telah membuat masakan lezat buat kita, atau secangkir teh hangat saat kita sarapan pagi? Sebaliknya, pernahkah kita sebagai seorang istri berterima kasih kepada suami yang pada saat pulang kerja masih sempat membawakan martabak Bandung atau makanan lainnya. Begitu juga dengan kegiatan di rumah tangga lainnya, apakah itu merapikan taman rumah, dan lain sebagainya.

Ada suatu kebanggaan tersendiri bagi mereka yang mana kita telah berterima kasih kepada mereka. Dalam Ilmu Psikologi, ucapan terima kasih yang diterima seseorang dapat meningkatkan semangat kerja orang tersebut. Petugas di SPBU, kasir supermarket, cleaning servis, bawahan maupun orang lain dengan profesi apapun akan bersemangat dalam bekerja jika pekerjaannya dihargai orang lain. Apalagi dalam rumah tangga. Suami yang sering berterima kasih kepada istrinya atas apa yang telah dilakukannya, akan membuat si istri bertambah sayang dan lebih bersemangat dalam melakukan hal lainnya dalam keluarga.

Dan yang lebih penting adalah berterima kasih kepada Allah SWT. Berterima kasih kepada Allah biasa kita sebut dengan bersyukur. Perbanyaklah bersyukur kepada Allah SWT, niscaya Dia akan menambah nikmat buat kita, apakah itu nikmat Iman, Islam, kesehatan, maupun nikmat berupa harta benda. Amin…

*****

Padang, 6 Okt 2009

Mengenal Gaya Belajar Anak Anda

Mengenal Gaya Belajar Anak Anda

Oleh : Yusrizal, S.Pd.

Mengapa sebagian pelajar senang belajar dalam keadaan tenang, damai dan tidak berisik, sedangkan sebagian yang lain justru senang belajar dalam suasana hiruk pikuk yang diiringi dengan setelan musik yang begitu keras? Mengapa sebagian pelajar lebih senang mendengar ceramah guru yang menerangkan pelajaran di depan kelas, sedangkan sebagian yang lain justru lebih senang jika pelajaran itu dicatatkan di papan tulis atau didiskusikan dalam kelas?

Fenomena-fenomena seperti di atas sering kita jumpai dalam kegiatan pendidikan sehari-hari, salah satu faktor utama yang menyebabkan perbedaan diantara pelajar dalam mengikuti proses pembelajaran adalah gaya belajar yang mereka miliki. Pelajar sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, memiliki keunikan masing-masing dalam mengikuti proses pembelajaran. Mereka memiliki gaya belajar yang tersendiri yang membedakannya dengan pelajar lainnya. Minat dan bakat yang mereka miliki, pengalaman hidup yang mereka dapatkan, hobi yang mereka gemari, merupakan beberapa faktor yang menyebabkan perbedaan gaya belajar diantara mereka.

Secara sederhana, gaya belajar dapat kita artikan sebagai kemampuan seseorang untuk menerima, menyerap, mengatur dan mengolah informasiyang diterimannya. Jika kita kaitkan dengan dunia pendidikan, gaya belajar seorang pelajar merupakan kemampuan kombinasi yang dimiliki oleh pelajar tersebut untuk menerima, menyerap, mengatur dan mengolah materi pelajaran yang diterimanya selama proses pembelajaran. Gaya belajar tersebut merupakan kunci untuk mengembangkan motivasi dan potensi belajar mereka dalam mengerjakan pekerjaan sekolah, pekerjaan rimah dan dalam situasi sosial kemasyarakatan.

Bagaimana mengetahui gaya belajar anak Anda

Pernahkan Anda meminta anak Anda untuk memasang suatu peralatan elektronik, atau mainan mereka yang baru Anda belikan dengan bagian yang terpisah satu sama lain? Biasanya peralatan atau piranti seperti itu dilengkapi dengan buku petunjuk pemasangannya. Apakah Anda memperhatikan bagaimana cara mereka merangkai peralatan tersebut? Dengan mengetahui bagaimana cara yang mereka gunakan untuk memasang peralatan tersebut, kita dapat mengetahui bagaimana cara belajar mereka.

Misalnya kita membelikan sebuah mobil-mobilan balap (mobil 4WD) untuk anak. Mobil-mobilan tersebut biasanya dibagi menjadi beberapa bagian yang terpisah. Untuk merakit mobil-mobilan tersebut, dapat digunakan petunjuk yang dituliskan dalam secarik kertas yang diberikan sewaktu membeli mobil-mobilan tersebut. Coba Anda perhatikan bagaimana mereka merakit mobil-mobilan tersebut. Apakah mereka membaca petunjuk dan memperhatikan gambar petunjuk yang ada? Atau apakah mereka meminta Anda untuk membacakan petunjuk tersebut dan menerangkannya kepada mereka? Atau apakah mereka langsung mencoba untuk merakit mobil-mobilan tersebut tnapa terlebih dahulu membaca petunjuknya?

Jika mereka membaca petunjuk dan memperhatikan gambar-gambar yang ada untuk merakit mobil-mobilandan berhasil melakukannya, maka gaya belajar mereka dapat dikategorikan sebagai gaya belajar visual. Pelajar visual mampu menerima, menyerap dan mengatur informasi yang didapatnya dengan menggunakan visual atau kekuatan matanya. Apakah itu dengan membaca petunjuk atau memperhatikan gambar yang ada.

Jika mereka meminta Anda untuk membacakan petunjuk tersebut dan menjelaskan bagaimana cara merakit mobil-mobilan tersebut dan baru bisa berhasil merakitnya, maka gaya belajar mereka bisa dikategorikan sebagai gaya belajar Auditorial. Pelajar Auditorial tidak dapat menerima, menyerap dan mengolah informasi hanya dengan membaca dan memperhatikan gambar. Mereka mengutamakan kekuatan telinga untuk menerima, menyerap dan mengolah informasi. Oleh sebab itu, setelah mereka mendengarkan penjelasan Anda tentang merakit mobil-mobilan, baru mereka dapat menyelesaikannya.

Jika dari pengamatan Anda, mereka langsung mencoba merakit mobil-mobilan tanpa membaca petunjuk dan mereka berhasil melakukannya, maka dapat kita katakan bahwa gaya belajar mereka cenderung kinestetik.  Dalam ilmu kebahasaan, kinestetik berarti bersifat mempunyai daya menyadari gerakan otot; berkemampuan psikomotorik. Pelajar yang memiliki gaya belajar seperti ini cenderung menyukai pelajaran praktek. Mereka ingin langsung mengerjakan segala sesuatu tanpa membaca petunjuk mengenai hal tersebut.

Contoh di atas hanyalah salah satu indikator yang dapat kita gunakan untuk mengetahui gaya belajar seorang anak. Masih banyak indikator yang lain yang dapat digunakan. Suatu hal yang penting adalah seorang pelajar bisa saja memiliki gaya belajar yang kombinatif. Ada diantara mereka yang memiliki gaya belajar visual dan auditorial, ada yang memiliki gaya belajar kinestetik dan auditorial, dan sebagainya. Bahkan ada juga sebagian yang memiliki ketiga jenis gaya belajar tersebut.

Manfaat mengetahui gaya belajar

Terlepas dari gaya belajar apa yang dilimiliki oleh seorang anak, apakah visual, auditorial, atau kinestetik, dengan mengetahui gaya belajar mereka, orang tua dapat membatu mereka dalam proses belajar. Bagi orang tua yang anaknya memiliki gaya belajar visual, dapat membantu dengan menyediakan buku-buku pelajaran bagi mereka. Mereka akan mudah memahami, menyerap dan mengolah informasi dalam buku tersebut.

Bagi orang tua yang gaya belajar anaknya auditorial, Anda harus lebih sabar dalam membantu mereka. Meskipun Anda sudah membelikan mereka buku-buku pelajaran, anda harus siap untuk menjelaskan kepada mereka hal-hal yang kurang mereka pahami dari bacaan tersebut. Mereka belum mampu menyerap informasi yang ada dibuku. Mereka memerlukan orang lain, khususnya Anda untuk menjelaskan informasi tersebut. Hal ini bisa juga Anda siasati dengan menyediakan bahan-bahan pelajaran yang bersumber dari kaset, cd, dan sebagainya yang bisa mereka simak.

Lain lagi dengan anak yang bertipe pelajar kinestetik.  Mereka lebih menyenangi pelajaran yang bersifat praktikal daripada teorikal belaka. Sebagai orang tua, kita harus menyediakan sarana dan fasilitas yang mereka perlukan untuk mengembangkan kreativitas mereka.  Anda harus mampu membimbing mereka dengan baik, karena pada umumnya mereka memiliki rasa keingintahuan yang tinggi. Mereka ingin mencoba apapun hal baru yang mereka temui.

Bagi guru dan tenaga edukati lainnya, mengetahui gaya belajar siswa merupakan suatu keharusan. Dengan mengetahui hal tersebut, guru dapat memvariasikan gaya dan metode mengajarnya, sehingga tidak membosan kan siswa. Guru yang selama ini hanya menggunakan metode ceramah tentu hanya memuaskan siswa yang memiliki gaya belajar auditorial, yang lain cenderung diabaikan. Oleh sebab itu, guru perlu menggunakan variasi metoda mengajar. Selain ceramah, guru dapat menggunakan media pembelajaran seperti ohp, media grafis, film, dan sebagainya bagi siswa yang memiliki gaya belajar visual. Untuk pelajar bertipe kinestetik, guru bisa menggunakan metode diskusi, bermain peran, praktek dilapangan, dan sebagainya.