Puisi untuk Unguku

Puisi ini tersusun sebagai rasa ungkapan perpisahan penulis dengan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang. Kampus Ungu, Kampus Selatan, demikian biasa kami menyebutnya. Sudah 15 tahun penulis mengabdi di kampus ungu.  Banyak kesan dan kenangan yang tersimpan di hati. Dan mulai april 2014, penulis pindah tugas ke sub bagian perencanaan fisik, Bagian perencanaan di bawah Biro Administrasi Perencanaan dan Sistem Informasi.

 

Puisi untuk Unguku…

 

Di sepertiga malam terakhir kuterjaga dari lelapku

Tak seperti biasa, kali ini lebih awal

Hatiku merayu-rayu tuk menggelar layar dengan tebaran tuts di depannya

begitu kulipat sajadahku

Memancing hasrat tuk menulis sesuatu buatmu, Unguku…

 

Kutapaki wajahmu awal maret 99 silam

Ya… tepat lima belas tahun yang lalu

Kau buka pelukmu tuk menyambutku

Sumringah senyum kau lempar padaku

Disaat kau rias wajah elokmu

 

Baca lebih lanjut

Kami Lepas Sukmamu pada malam di Lebaran Kedua. (mengenang ayah kami tercinta)

Kami Lepas Sukmamu pada malam
di Lebaran Kedua. (mengenang ayah kami tercinta)

oleh: Yusrizal Firzal

malam itu…
luka menganga
perih, pedih, menyakitkan

malam itu Syawal masih balita
rembulan masih malu-malu menampakkan diri
dicilukbai bintang-bintang

malam itu magrib tlah tunai
tak lagi diiringi takbir tahmid dan tahlil
timbang terima nyamuk dan lalatpun tlah usai

di ruangan itu…
luka menganga
perih, pedih, menyakitkan

di ruangan itu, aroma Izrail menyeruak
mengisi pori-pori udara

kepergianmu menggoreskan luka menganga
perih, pedih, menyakitkan
di hati kami, istrimu, anak-anakmu, menantu-menantumu, cucu-cucumu,
kemenakan-kemenakanmu, adik-kakakmu, semendamu,
ipar besanmu, dan sahabat-sahabatmu.

tak sepasang matapun luput dari buliran bening
basah, sembab, menggumpal, jatuh di pipi
puluhan isak membahana, mengiringi pasrahmu dijemput Izrail

kami lepas sukmamu pada malam di lebaran kedua
tawa menyambut kemenangan di hari yang fitri
berganti duka penuh deraian air mata
bayangan tentang dirimu melintas begitu saja
di setiap sudut kenangan kami

uda, ayah, kakek, adik, kakak, mak etek, dadang
tak ada lagi panggilan itu tersemat ke ragamu
biarlah panggilan itu tetap hidup dalam setiap kenangan kami
pengisi cerita tatkala kami terkenang akan dirimu, kebaikanmu.
kami lepas sukmamu pada malam di lebaran kedua.

Padang, 13 Mei 2011

Sayap Patah

Sayap Patah

Sayapku patah, begitu aku mulai terbang melayang
Menggapai asa menembus awan yang digerayangi surya.

Sayapku patah, sesaat aku lepas landas
Menggapai mimpi nan indah, melesap dalam  pori-pori udara yang mengambang bebas.

Sayapku patah, beberapa jenak setelah tegakku tuk melayang. Melanglang buana ke seantero raya. Jatuh, menggelepar di rerumputan.
 
Sayapku patah, ketika seorang tua melihatku. Terseok-seok di bawah dahan kayu rindang yang menyejukkan. Tersenyum getir, miris, dengan pandangan  penuh iba kepadaku.
 
Sayapku patah, perih menyakitkan. Menerbitkan lolongan ngilu yang memukul-mukul relung hatiku.
 
Sayapku masih saja patah, begitu malam sempurna menyapa. Sesaat setelah lembayung senja menyeruak di timur cakrawala. Menggigilkan tulang mungilku
 
Oh.. Sayapku sayang.
 
 
Padang, 11 Mei 2011

Dimuat di Padang Ekspress, Edisi Minggu 5 Juni 2011

Dua Malaikat Mungilku

Puisi pertamaku…

Layakkah di sebut puisi?

Terima kasih bagi Saudara yang mau mengomentarinya…

Dua Malaikat Mungilku

Yusrizal Firzal

Malam baru saja membentang

Mengganti siang yang telah menghilang

Sinaran sang rembulan membelai lembut wajah bumi

Menghapus jejak tamparan keras sang mentari

Aku masih saja terpaku di sini

Melepas penat siksa kerja

Kursi bambu dan secangkir teh hangat

Menjadi teman setia mengarungi malam

 

Perlahan hembusan angin mulai menerpa

Menina bobokan daun-daun yang lelah

Menahan sakitnya sengatan mentari

Memberi teduh jengkal-jengkal tanah

Baca lebih lanjut