Di Suatu Petang yang Berdebu

Di Suatu Petang yang Berdebu
Yusrizal Firzal

“Siaaap, grak!”
“Lancang depaaan, grak!”
“Tegaaaak, grak!”
“Istirahat di tempaaat, grak!”
Angin kemarau yang jatuh di pelupuk mata tak digubrisnya. Menatap tajam satu persatu wajah-wajah yang berbaris di hadapannya. Wajah-wajah penuh corengan debu itu menyiratkan keberanian dan tekad yang bulat.
“Kawan-kawan, tentara Zionis itu semakin merajalela. Kedatangan mereka merupakan awal kesengsaraan bangsa kita. Mereka rampas dan kuasai jengkal demi jengkal tanah-tanah leluhur kita. Perlahan namun pasti, mereka dirikan pemukiman-pemukiman yahudi.”
“Kehidupan mereka sangat mapan. Mereka tak mengenal kemiskinan. Tak ada yang merasakan kekurangan makanan. Tapi mereka lupa. Semua itu mereka rampas dari tangan kita, milik kita, rakyat Palestina. Mereka nikmati kemapanan di atas genangan darah bercampur air mata keluarga kita yang terserak. Mereka berpesta di tumpukan tubuh-tubuh yang menggelepar meregang nyawa. Mereka menari di atas penderitaan kita. Sungguh biadab! Terkutuk zionis!”
Baca lebih lanjut

Dua Malaikat Mungilku

Puisi pertamaku…

Layakkah di sebut puisi?

Terima kasih bagi Saudara yang mau mengomentarinya…

Dua Malaikat Mungilku

Yusrizal Firzal

Malam baru saja membentang

Mengganti siang yang telah menghilang

Sinaran sang rembulan membelai lembut wajah bumi

Menghapus jejak tamparan keras sang mentari

Aku masih saja terpaku di sini

Melepas penat siksa kerja

Kursi bambu dan secangkir teh hangat

Menjadi teman setia mengarungi malam

 

Perlahan hembusan angin mulai menerpa

Menina bobokan daun-daun yang lelah

Menahan sakitnya sengatan mentari

Memberi teduh jengkal-jengkal tanah

Baca lebih lanjut

Bukan Merantau

Bukan Merantau

Oleh: Yusrizal Firzal

Siang itu langit cerah. Warna biru muda menguasai cakrawala. Di beberapa titik, awan putih tipis terbentang bergerombolan. Tersusun tanpa pola, menyerupai suatu bentuk.  Matahari bersinar dengan garangnya. Menembus angin yang bertiup sepoi. Menyerap molekul-molekul air dengan rakusnya.

Sebuah bus baru saja memasuki jalan lintas sumatera yang membentang mulai dari utara hingga ke selatan pulau. Berlari dengan kencangnya laksana harimau yang sedang mengejar mangsanya. Sesekali mengeluarkan suara keras. Mengusir apa saja yang ada didepannya. Kadang terpaksa berjalan pelan, begitu mendapat kemacetan atau memasuki pasar tumpah. Bus itu bertuliskan Padang-Jakarta di kaca depannya.

Pada deretan ketujuh di belakang supir, duduklah seorang pemuda berbaju kaos coklat oblong dengan celana jeans. Hanya dia seorang yang duduk dalam deretan ini. Bus tidak terisi penuh oleh penumpang. Semenjak harga tiket kapal terbang murah, banyak calon penumpang yang lebih memilih menggunakan jasa transportasi udara itu ketimbang bus.

Baca lebih lanjut