Puisi untuk Unguku

Puisi ini tersusun sebagai rasa ungkapan perpisahan penulis dengan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang. Kampus Ungu, Kampus Selatan, demikian biasa kami menyebutnya. Sudah 15 tahun penulis mengabdi di kampus ungu.  Banyak kesan dan kenangan yang tersimpan di hati. Dan mulai april 2014, penulis pindah tugas ke sub bagian perencanaan fisik, Bagian perencanaan di bawah Biro Administrasi Perencanaan dan Sistem Informasi.

 

Puisi untuk Unguku…

 

Di sepertiga malam terakhir kuterjaga dari lelapku

Tak seperti biasa, kali ini lebih awal

Hatiku merayu-rayu tuk menggelar layar dengan tebaran tuts di depannya

begitu kulipat sajadahku

Memancing hasrat tuk menulis sesuatu buatmu, Unguku…

 

Kutapaki wajahmu awal maret 99 silam

Ya… tepat lima belas tahun yang lalu

Kau buka pelukmu tuk menyambutku

Sumringah senyum kau lempar padaku

Disaat kau rias wajah elokmu

 

Baca lebih lanjut

Mutasi dan Promosi

Promosi dan mutasi dalam pandangan saya bukanlah suatu hal baru dalam dunia kerja. Promosi dan mutasi diperlukan sebagai sarana untuk penyegaran dan pemulihan semangat kerja dan juga sebagai bentuk apresiasi terhadap prestasi kerja yang diraih karyawan/pegawai. Namun, promosi dan mutasi bukanlah suatu hal yang mudah diterima oleh seorang karyawan/pegawai. Suasana baru, kondisi kerja baru, rincian tugas yang baru, dan sebagainya merupakan tantangan tersendiri bagi karyawan/pegawai. Daya adaptasi seorang karyawan/pegawai tentu saja memegang peranan yang sangat penting. Di sisi lain, lingkungan kerja yang lama dengan rasa kekeluargaan yang telah terbentuk tentu terasa berat untuk ditinggalkan.

Baca lebih lanjut

Jurnal Ilmiah

Contoh Jurnal Ilmiah

Kontribusi Kecerdasan Emosional dan Budaya Organisasi terhadap Kualitas Pelayanan di Fakultas

Selingkungan Universitas Negeri Padang

 

Yusrizal

 

Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang

The aim of this research was to reveal the contribution of the emotional intellegency of the staffs and Culture of Organization collectively toward Services Quality at Faculties in State University of Padang. There were three hypoteses wich were tested in the research. First, the emotional intellegency had a contribution toward services quality. Second, culture of organization had a contribution toward services quality. Third, emotional intellegency and culture of organization collectively contributed toward services quality.

The population of the research was 247 administratif staff at faculties in State University of Padang. The samples of the research were 83 staff selected by using a stratified proportional random sampling technique. The data were analyzed by using a Likert scale questionnaire whose validity and reability had been tested. The cooficien were rtt = 0,92 for Service Quality, rtt = 0,92 for the emotional intellegency of the staffs, and rtt = 0,93 for culture of Organization.

The findings of the research showed that (1) there was 16,30% contribution of the emotional intellegency toward Services Quality, (2) there was 10% contribution culture of organization toward services quality, and (3) there was 25,40% contribution of the emotional intellegency and culture of organization collectively toward services quality. It is, therefore, concluded that staff’s emotional intellegency and Culture of Organization are two important factors that significantly contribute to the quality services provided by the administrative staff at faculties in State University of Padang.

Kata Kunci: Kecerdasan Emosional, Budaya Organisasi, Kualitas Pelayanan

Baca lebih lanjut

Di Suatu Petang yang Berdebu

Di Suatu Petang yang Berdebu
Yusrizal Firzal

“Siaaap, grak!”
“Lancang depaaan, grak!”
“Tegaaaak, grak!”
“Istirahat di tempaaat, grak!”
Angin kemarau yang jatuh di pelupuk mata tak digubrisnya. Menatap tajam satu persatu wajah-wajah yang berbaris di hadapannya. Wajah-wajah penuh corengan debu itu menyiratkan keberanian dan tekad yang bulat.
“Kawan-kawan, tentara Zionis itu semakin merajalela. Kedatangan mereka merupakan awal kesengsaraan bangsa kita. Mereka rampas dan kuasai jengkal demi jengkal tanah-tanah leluhur kita. Perlahan namun pasti, mereka dirikan pemukiman-pemukiman yahudi.”
“Kehidupan mereka sangat mapan. Mereka tak mengenal kemiskinan. Tak ada yang merasakan kekurangan makanan. Tapi mereka lupa. Semua itu mereka rampas dari tangan kita, milik kita, rakyat Palestina. Mereka nikmati kemapanan di atas genangan darah bercampur air mata keluarga kita yang terserak. Mereka berpesta di tumpukan tubuh-tubuh yang menggelepar meregang nyawa. Mereka menari di atas penderitaan kita. Sungguh biadab! Terkutuk zionis!”
Baca lebih lanjut

Dasar-Dasar Ilmu

Dasar-Dasar Ilmu

 

A.      Ontologi

Setelah mengutip beberapa pendapat ahli mengenai pengertian ontologi, Amsal Bakhtiar menyimpulkan sebagai berikut.

  1. Menurut bahasa, ontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu On/Ontos = ada, dan Logos = Ilmu. Jadi ontologi adalah ilmu tentang yang ada.
  2. Menurut istilah, ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakekat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani (kongkret) maupun rohani (abstrak).

Dalam pemahaman ontologi, ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran sebagai berikut. Baca lebih lanjut

Negara dan Pendidikan: Sentralisasi dan Desentralisasi Pendidikan dan Manajemen Berbasis Sekolah


A.      Konsep Sentralisasi Pendidikan

Sentralisasi adalah seluruh wewenang terpusat pada pemerintah pusat. Daerah tinggal menunggu instruksi dari pusat untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan yang telah digariskan menurut Undang-Undang. Menurut ekonomi manajemen sentralisasi adalah memusatkan semua wewenang kepada sejumlah kecil manager atau yang berada di suatu puncak pada sebuah struktur organisasi. Sentralisasi banyak digunakan pemerintah sebelum otonomi daerah. Kelemahan sistem sentralisasi adalah dimana sebuah kebijakan dan keputusan pemerintah daerah dihasilkan oleh orang-orang yang berada di pemerintah pusat sehingga waktu untuk memutuskan suatu hal menjadi lebih lama.

Indonesia sebagai negara berkembang dengan berbagai kesamaan ciri sosial budayanya, juga mengikuti sistem sentralistik yang telah lama dikembangkan pada negara berkembang. Konsekuensinya penyelenggaraan pendidikan di Indonesia serba seragam, serba keputusan dari atas, seperti kurikulum yang seragam tanpa melihat tingkat relevansinya bagi kehidupan anak dan lingkungannya.

Baca lebih lanjut