Menyikapi Kecanduan Internet

Menyikapi kecanduan Online

Oleh: Yusrizal

Baru-baru ini sebuah studi yang dilakukan oleh ilmuwan Australia-China menghasilkan bahwa: remaja yang kecanduan internet punya kemungkinan lebih besar untuk melakukan perbuatan yang membahayakan diri mereka.

Peneliti mengkaji 1.618 remaja berusia 13-18 th di provinsi Guangdong, China mengenai perilaku nmemukul diri, menjambak, mencubit atau membakar diri. Para responden juga diberi tes guna mengukur tingkat kecanduan mereka terhadap internet. Hasil itu menunjukkan adanya hubungan yang kuat dan mencolok antara kecanduan internet dengan tindakan melukai diri sendiri. Bahkan jika dihitung bersama variabel lain yang berkaitan dengan depresi, ketidakpuasan pada keluarga, atau peristiwa hidup lainnya yang membuat stress. (kompas.com)

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, candu berarti sesuatu yang menjadi kegemaran, sedangkan kecanduan berarti kejangkitan suatu kegemaran (sehingga lupa pada hal-hal lain). Jadi kecanduan internet bisa diartikan sebagai suatu bentuk kegemaran yang sangat terhadap internet sehingga melupakan hal-hal lain diluar internet. Para ahli menafsirkan seseorang dapat dikatakan kecanduan internet jika dalam dirinya ada perasaan depresi, gelisah dan murung ketika tidak melakukan kegiatan internet (online). Semua perasaan itu akan hilang dengan sendirinya ketika pecandunya kembali melakukan online. Tanda lain yang terlihat pada seseorang yang kecanduan internet yaitu suka mengkhayal atau terlalu memikirkan kegiatan online.

Semenjak adanya internet, berbagai hal dapat dilakukan melalui kegiatan online. Mulai dari mencari informasi dan berita yang uptodate, artikel dan makalah untuk tugas sekolah dan perkuliahan, hingga  informasi bisnis dan dunia usaha. Selian itu, dengan online juga bisa menjalin persahabatan dengan orang lain melalui situs-situs jejaring sosial yang ada seperti facebook, twitter, friendster dan lain sebagainya. Berkirim email dan chatting juga merupakan hal yang mengasyikkan di dunia maya ini. Dan bagi sebagian orang, internet juga merupakan saran rekreasi dan hiburan untuk melepas lelah dengan melakukan games di internet.

Internet juga merupakan suatu lahan bisnis yang menjanjikan. Banyak pengusaha yang melirik bisnis internet ini dengan membuka dan mendirikan warnet-warnet di berbagai tempat. Biasanya, warnet-warnet tersebut selalu penuh dengan mereka yang melakukan kegiatan online, bahkan sampai hampir tengah malam. Disamping itu, melalui internet sebagian orang juga bisa menghasilkan uang yaitu dengan membuat website-website yang bisa berfungsi sebagai media untuk beriklan, sama halnya dengan stasiun televisi dan radio.

Memang, tidak semua orang yang menjadikan internet sebagai lahan untuk mencari uang. Bagi sebagian orang/instansi yang memiliki website / blog, media ini digunakan sebagai ajang untuk menampilkan diri mereka. Bagi instansi misalnya, dengan memiliki website memungkinkan bagi mereka untuk mengenalkan instansinya. Orang-orang bisa mendapatkan informasi tentang keadaan dan situasi suatu intansi dengan mengakses ke website instansi tersebut. Bagi orang perorangan, website/blog dijadikan sebagai media untuk melatih keterampilannya dalam membuat sebuah tulisan. Berbagai bentuk tulisan bisa dibuat mulai dari artikel, makalah, cerpen, puisi, sajak, bahkan hanya sekedar ajang untuk membuat buku harian.

Demikianlah, begitu banyak hal yang bisa kita lakukan dengan internet ini. Namun hasil penelitian yang dikeluarkan oleh ilmuwan Australia-China tersebut, merupakan warning bagi kita yang sudah terbiasa dengan aktivitas online. Memang yang menjadi responden dari penelitian tersebut merupakan remaja yang berusia antara 13 – 18 tahun. Namun jika kita lihat efek yang ditimbulkan dari kecanduan internet ini, bisa juga menyerang orang dewasa.

Untuk menyikapi dampak negatif yang ditimbulkan dari kecanduan online ini, khususnya bagi para remaja, dituntut peran aktif orang tua. Orang tua harus lebih pro aktif untuk melihat dan mewaspadai apakah anaknya termasuk yang kecanduan online atau tidak. Kembangkanlah komunikasi yang lebih intens dengan mereka. Tanya kepada mereka, hal-hal apa saja yang mereka lakukan pada saat online. Beri pengarahan kepada mereka jika selama ini mereka lebih memanfaatkan internet sebagai arena untuk permainan ketimbang mencari tugas untuk sekolah. Beri batasan kepada si anak berapa jam ia boleh on line setiap hari, diluar untuk mencari tugas untuk sekolah. Yang terpenting adalah orang tua perlu meluangkan waktu untuk kebersamaan dengan si anak. Dengan demikian perasaan depresi, gelisah dan murung yang dirasakan sianak pada saat tidak online, bisa diatasi.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s